
Marginah yang perutnya sudah sangat lapar ditambah ketakutan membuat dirinya benar benar tidak berdaya. Baru kali ini dia merasakan ketakutan yang teramat sangat. Tubuhnya gemetar, dia akan berusaha untuk berdirioun tidak mampu. Hanya air mata yang meleleh namun tidak ada suara tangis yang keluar. Sementara Bapaknya terus berjalan menuju ke tempatnya.
“Hmmm kamu cantik kulitmu bersih meskipun aku tahu kamu pasti juga anak panti. Jika dirawat pasti kamu lebih cantik dan tubuhmu lebih cerah bersinar.” ucap Bapaknya Nesya sambil mengulurkan tangannya untuk membangunkan Marginah yang masih terduduk lemas.
“Jangan Pak.” tolak Marginah menyembunyikan tangannya tidak mau disentuh. Bapaknya Nesya malah berusaha untuk mengendong Marginah. Orang orang yang lewat tidak begitu memperhatikannya. Sekilas memang terlihat bagaikan suatu adegan orang dewasa akan membantu anak yang jatuh dari sepedanya.
“Tolong.... Tolong....” teriak Marginah dengan sisa tenaganya.
“Jangan teriak teriak, aku akan menolong.” ucap Bapaknya Nesya lebih keras dari suara Marginah. Marginah terus meronta berusaha agar tubuhnya dilepaskan oleh tangan Bapaknya Nesya.
“Aku mau diculik!” teriak Marginah sekuat tenaga bersamaan dengan adanya seorang petani yang lewat pulang dari sawahnya dengan mendarai sepeda Orang itu lalu memperlambat sepedanya sambil menoleh. Dia melihat Marginah yang masih meronta ronta. Orang itu lalu menghentikan sepedanya. Ditaruh sepedanya dekat dengan sepeda Marginah agar masih dalam jangkauannya. Sebab dia kuatir sepedanya diambil orang.
“Pak, lepaskan dia.” ucap orang itu.
“Kamu jangan ikut ikut kalau tidak mau menanggung akibatnya.” ancam Bapaknya Nesya sambil mengendong tubuh Marginah akan dibawa ke motornya. Marginah terlihat masih meronta ronta. Orang itu terlihat bingung.
“Pak kalau tidak dilepas aku pacul sepeda motormu.” teriak orang itu sambil mengarahkan paculnya ke arah sepeda motor bapaknya Nesya. Bapaknya Nesya terlihat sangat emosi. Dan tidak lama kemudian ada beberapa orang petani yang juga lewat di jalan itu. Mereka segera berlari menuju ke tempat temannya yang mengarahkan masuk ke sepeda motor Bapaknya Nesya.
“Ada apa?” tanyanya saat sudah mendekat.
“Penculik.” Jawabnya. Bapaknya Nesya menyalakan mesin motornya namun berkali kali gagal. Marginah sudah bisa melepaskan diri dari Bapaknya Nesya namun dia masih gemetar sambil berjongkok di dekat motornya Bapaknya Nesya.
“Sini Nak, minggir sini dulu.” ucap salah satu Petani sambil membantu Marginah. Sedangkan dua orang petani lainnya berusaha menahan Bapaknya Nesya agar tidak pergi. Akan tetapi hasilnya sia sia karena akhirnya Bapaknya Nesya bisa menyalakan mesin motornya lalu segera tarik gas dan kabur.
“Wah kabur, orang mana dia itu?” tanya salah satu dari Petani yang belum mengenal Bapaknya Nesya. Sebab Bapaknya Nesya memang bukan orang dari desa itu. Motor yang dipakai Bapaknya Nesya juga sering berganti ganti. Dan dalam usahanya menculik Nesya juga sering menggunakan orang orang suruhannya.
“Bagaimana keadaanmu Nak, rumahmu dimana?” tanya salah seorang Bapak Petani.
“Biar kami antar.” ucapnya selanjutnya sambil menatap tubuh lemas Marginah.
“Apa kamu orang baru, kok sepertinya kami belum lihat kamu?” tanya yang lain sambil mengamati wajah Marginah.
“Panti Pak.” jawab Marginah dengan suara masih bergetar.
“Kamu jangan takut lagi. Akan kami antar kamu ke panti. Kamu bonceng dia saja. Sepedamu rusak biar kami tuntun saja.” ucap Bapak Petani sambil mendirikan sepeda Marginah yang masih roboh.
Sedangkan Angga langsung menuju ke kamar tamu mencari Pak Jemari namun hasilnya juga tidak ada sosok Pak Jemari. Angga keluar kamar dan masih mencari cari Pak Jemari.
“Apa Pak Jemari sudah pulang, tapi baju bajunya masih di kamar.” gumam Angga dalam hati. Angga lalu berjalan menuju ke ruangan Ibu Sari. Angga melaporkan kejadian yang baru saja menimpa dia dan kedua temannya. Ibu Sari terlihat sangat kuatir.
“Aku sudah bilang pada Mas Budi untuk mengantar jemput Nesya dan Marginah. Hari pertama masuk sekolah pasti bapaknya Nesya beraksi.” ucap Ibu Sari lalu keluar dari ruang kerjanya. Angga mengikutinya.
“Apa tidak ada kakak kakak yang lain saat Marginah jatuh?” tanya Ibu Sari sambil terus berjalan.
“Tidak ada Bu. Mungkin kelas lain sudah lebih dulu keluar. Kami tadi melihat lihat dulu ruangan ruangan di sekolah dan letak lapangan olah raga.” jawab Angga.
“Ya sudah kamu istirahat, ibu akan melihat Marginah.” jawab Ibu Sari sambil berjalan menuju ke tempat motornya terparkir. Angga menganggukan kepala lalu berjalan mencari Pak Jemari.
Saat Ibu Sari menjalankan motornya keluar dari halaman panti, beliau melajukan motornya dengan kencang namun saat di jalan di depan matanya terlihat ada seorang bapak petani mengendarai sepeda sambil memboncengkan seorang anak perempuan memakai seragam sekolah. Ibu Sari lalu menghentikan motornya sambil mengamati anak perempuan yang berada di boncengan sepeda. Benar Marginah. Ibu Sari terlihat lega hatinya. Ibu Sari menjalankan motornya lalu memutar balik arah lalu mendekati bapak petani yang memboncengkan Marginah.
“Terimakasih ya Pak.” ucap Ibu Sari sambil memelankan laju motornya menyeimbangi jalannya sepeda Bapak Petani.
“Bu....” teriak Marginah sambil menoleh dengan wajah yang masih terlihat ketakutan.
“Ooo iya Bu, ini saya antar sampai panti apa biar Ibu bonceng?” tanya bapak petani sambil menghentikan sepedanya. Ibu Sari pun menghentikan motornya.
“Saya boncengkan saja, tapi Bapak mampir panti dulu. Makan dulu bersama kami.” jawab Ibu Sari yang melihat wajah Marginah masih ketakutan.
“Iya Bu, terimakasih dua teman saya juga menuju ke sini membawa sepeda anak ini.” ucap Bapak Petani itu. Marginah lalu turun dari boncengan sepeda dan berjalan sambil terpincang pincang menuju ke arah motor Ibu Sari. Marginah lalu mendudukkan pantatnya di jok belakang motor Ibu Sari.
“Bu .. saya takut...” ucap Marginah sambil menyandarkan tubuhnya di punggung Ibu Sari sambil terisak.
“Iya iya, sekarang sudah aman, ayo pulang.” ucap Ibu Sari sambil tangan kirinya mengarah ke belakang menepuk nepuk tubuh Marginah, untuk memberi ketenangan. Dan selanjutnya Ibu Sari menjalankan motornya dan diikuti oleh Bapak Petani yang menjalankan sepedanya.
Tidak lama kemudian motor Ibu Sari sudah memasuki halaman panti. Terlihat Pak Jemari, Mas Budi dan anak anak lainnya sudah menunggu mereka di halaman panti. Pak Jemari langsung berlari menuju motor Ibu Sari yang baru saja diparkir. Dia segera menghampiri Marginah anaknya. Pak Jemari langsung mendekati tubuh Marginah. Marginah langsung turun dari motor dan memeluk Pak Jemari.
“Pak... kita pulang saja aku takut Pak, aku tidak sekolah tidak apa apa Pak.” ucap Marginah sambil menangis dalam pelukan Pak Jemari.