MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 87. Membaca Bahasa Alam


Ibu Sari tetap saja tidak bisa menghubungi mereka. Sambil menggendong Abi dan menenangkan Abi yang terus saja menangis, Ibu Sari lalu duduk di kursi di dalam ruang kerjanya. Sambil bibir Ibu Sari melantunkan doa, ditepuk tepuk pantat Abi dengan pelan pelan agar Abi merasakan ketenangan,


Namun tiba tiba di antara suara derasnya air hujan dan desau angin ada suara ketukan pintu ruangan Ibu Sari dan suara Nyonya Naura memanggil manggil namanya. Ibu Sari lalu bangkit berdiri dan berjalan untuk membukakan pintu.


“Bu Sari... hujan deras sekali, saya menghubungi Sandra tidak bisa. Padahal jadwal mereka sehabis makan siang mereka wisata di wahana air.” ucap Nyonya Naura dengan nada dan ekspresi wajah kuatir lalu dia menyelonong masuk ke dalam ruangan Ibu Sari saat pintu sudah dibuka oleh Ibu Sari.


“Saya menghubungi biro wisata yang mengurusi mereka juga tidak bisa terhubung. Stres saya, mana hujan semakin deras lagi.” ucap Nyonya Naura lagi yang kini sudah duduk di kursi di dalam ruang kerja Ibu Sari. Tangannya masih sibuk dengan hand phone nya mencoba untuk menghubungi biro wisata yang mengurusi piknik anak anak, tetapi tetap saja tidak bisa.


“Iya Bun, saya mencoba menghubungi nomor anak anak juga tidak bisa, mungkin jaringan di sini yang sedang eror, di daerah sering begitu Bun, jika cuaca buruk jaringan ikut buruk.” ucap Ibu Sari sambil ikut duduk di dekat Nyonya Naura sambil masih menepuk nepuk pantat Abi yang semakin hari semakin gembul. Kini Abi pun sudah mulai tenang dan tidak lagi menangis.


“Bu, maaf saya tidak tahu jika cuaca menjadi buruk seperti ini. Saya kok jadi kuatir dengan keadaan anak anak yang sedang berwisata. Maaf ya Bu... sungguh niat saya untuk memberi kebahagiaan buat mereka.” ucap Nyonya Naura masih dengan nada kuatir.


“Iya Bun, Saya percaya niat baik Bunda Naura. Kita serahkan saja pada perlindungan Allah, agar mereka semua selalu dalam lindungan Nya meskipun dalam keadaan terburuk sekalipun. Semoga mereka selalu baik baik di dalam lindungan Nya.” Doa tulus Ibu Sari


“Aaaminnnnn..” ucap Nyonya Naura mengamini doa tulus Ibu Sari.


Namun tiba tiba listrik padam suasana semakin gelap. Abi kembali menangis. Ibu Sari lalu bangkit berdiri sambil menepuk nepuk lagi pantat Abi. Ibu Sari berjalan menuju ke dalam kamarnya untuk mengambil lampu emergency.


“Bun, kita hanya bisa menunggu mereka sambil berdoa.” ucap Ibu Sari selanjutnya saat sudah kembali berada di dekat Nyonya Naura sambil meletakkan lampu emergency di ruang kerjanya.


“Jam berapa jadwal mereka selesai?” tanya Ibu Sari pada Nyonya Naura


“Sebelum maghrib jadwalnya harus sudah sampai panti.” jawab Nyonya Naura.


“Bis akan sekalian mengambil pesanan makan malam anak anak.” ucap Nyonya Naura kemudian.


“Mari Bun kita berdoa untuk keselamatan kita semua. Kita berdoa di ruangan sini saja. Angin dan hujan masih lebat, kasihan Abi kalau saya harus keluar ruangan.” ucap Ibu Sari sambil menatap wajah Nyonya Naura.


Mereka berdua lalu berdoa di dalam ruangan Ibu Sari. Abi pun lama lama mulai merasakan ketenangan dan akhirnya tertidur.


Waktu terus berlalu sore pun tiba, listrik masih padam hujan pun masih turun meskipun tidak lagi sederas tadi. Sayup sayup terdengar suara mobil dan semakin lama semakin mendekat menuju ke panti.


Terlihat Nyonya Naura melambai lambaikan tangannya ke arah bis, agar bis parkir di dekat bangunan panti sehingga anak anak tidak terlalu jauh dalam berjalan dari pintu bis menuju panti. Benar bis berjalan pelan pelan mendekati bangunan panti. Ibu Sari dan Nyonya Naura terlihat bahagia sambil mengucapkan syukur alhamdulillah.


Ibu Sari berjalan sambil membawa payung besar menuju ke arah pintu bis. Saat pintu bis terbuka muncul kedua ibu pegawai masak sudah berdiri di depan pintu bis mereka berdua lalu turun dan ikut berteduh di payung besar Ibu Sari. Ibu Sari pun mengulurkan satu payung yang belum dibuka ke orang yang ada di dalam bis. Ternyata tangan Emak Baru yang menerima payung yang diulurkan oleh Ibu Sari.


“Kok gelap Bu?” tanya mereka berdua saat berjalan pada Ibu Sari.


“Iya mati listrik, hanya dua payung yang ada di dalam ruanganku.” jawab Ibu Sari. Di belakang mereka Emak Baru berjalan bersama Nita dan Vany. Akan tetapi belum juga Ibu Sari dan Emak Baru akan menjemput yang lain memakai payung, anak anak yang ada di dalam bis sudah berhambur keluar sambil berhujan hujan mereka tidak sabar menunggu jemputan payung.


“Bu.. Mak.. mana pinjam payung nya.” ucap Mas Budi dan Angga secara bersamaan mereka sudah basah kuyup mengulurkan tangannya meminta payung yang masih dioegang oleh Ibu Sari dan Emak Baru. Tadi Ibu Sari dan Emak Baru pun bermaksud untuk menjemput lagi anak anak yang masih ada di dalam bis.


“Lah sudah basah kuyup mau pakai payung buat apa?” tanya Emak Baru sambil mengulurkan payung itu.


“Biar kotak makannya tidak basah nanti tambah kuah air hujan Mak.” jawab Angga.. lalu dia dengan mas Budi kembali ke dalam bis untuk mengambil kotak makan untuk makan malam nanti. Mereka berdua mengambil kotak makanan itu bergantian dengan anak anak laki laki lainnya.


Sementara anak anak yang lain sudah sibuk berlarian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Ibu Sari terlihat memberikan lilin dan korek api kepada mereka untuk memberi penerangan di dalam kamar mandi.


“Bu, anak saya mana?” tanya Emak Baru pada Ibu Sari.


“Masih tidur, Emak mandi dulu baru boleh pegang Abi.” jawab Ibu Sari sambil menatap Emak Baru di dalam kegelapan.


“Iya Bu.. Saya kangen nya pada Abi sudah sampai ubun ubun istilahnya dari Marginah he... he...” ucap Emak Baru sambil tertawa kecil, tadi dia di sepanjang perjalanan pulang sudah curhat pada Marginah kalau sudah kangen pada Abi.


“Tadi kehujanan tidak saat di tempat wisata?” tanya Ibu Sari


“Tidak Bu, saat langit mulai mendung kita semua langsung bubar membersihkan diri cepat cepat dan langsung masuk ke dalam bis. Angin mulai bertiup kencang itu kita semua sudah masuk di dalam bis Bu. Kita sudah diperingati oleh Mas Budi harus hati hati dan waspada. Katanya harus bisa membaca bahasa alam. Saya bingung saat itu, bagaimana cara membaca bahasa alam.... owalah kalau langit sudah mulai gelap sedikit saja harus segera berlindung dan benar Bu tidak lama setelah itu angin kencang datang langit semakin gelap hujan deres banget kilat menyambar nyambar.. untung semua sudah ada di dalam bis.“ ucap Emak Baru panjang lebar sambil menatap wajah Ibu Sari.


“Syukurlah kalian semua selamat. Sudah sekarang cepat mandi. Nanti setelah semua mandi kita ke ruang doa untuk sembayang mengucapkan syukur atas nikmat dan perlindungan dari Nya.” ucap Ibu Sari