
Pak Jemari dan Mas Budi terus berjalan, Mas Budi menepuk nepuk pundak Pak Jemari sambil tersenyum sebab Mas Budi tahu kalau Pak Jemari sedang menahan malu.
“Sepertinya Pak Jemari mimpinya seru sampai ada Ibu Ratu dan Panglima he... he... mimpi berada di kerajaan mana Pak?” tanya Mas Budi masih tertawa kecil.
“Kerajaan Atas Angin.” jawab Pak Jemari dengan nada kesal.
“Kerajaan Atas Angin harusnya makannya burung panggang dong di atas kan adanya burung burung.... he... he....” ucap Mas Budi sambil berlalu berjalan menuju ke kamarnya. Sedangkan Pak Jemari berbelok untuk menuju ke kamarnya. Dia membuka pintu dengan cepat. Saat pintu dibuka dilihatnya Mbah Parjan dan Angga duduk bersila dengan posisi tubuh yang tegak, posisi orang sedang bermeditasi.
“Aku murid tertua malah ketinggalan pelajaran.” gumam Pak Jemari lalu segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Pak Jemari mandi dengan cepat cepat. Dan setelah selesai mandi dia segera menyusul mengikuti Angga yang duduk bersila. Pak Jemari duduk di belakang Angga dengan mengambil posisi yang sama.
“Sudah cukup.” ucap Mbah Parjan sambil terlihat beliau melepas nafasnya. Angga pun terlihat juga melepas nafas.
“Bagaimana sudah ada perasaan berbeda atau masih sama?” tanya Mbah Parjan.
“Benar Mbah ada terasa damai hati Angga.” jawab Angga.
“Sering lakukan dan bagus kalau dilakukan pagi atau malam hari setelah sembahyang. Sudah pokoknya serahkan semua kepada Allah yang penting kamu belajar yang rajin nurut nasehat guru dan orang tua.” ucap Mbah Parjan selanjutnya.
“Terimakasih Mbah.” ucap Angga lalu Mbah Parjan dan Angga bangkit berdiri sedangkan Pak Jemari masih duduk bersila.
“Guru saya sudah belum ini nafas saya belum saya buang.”
“Buang lewat tempat yang celananya robek tadi Pak.” jawab Angga.
“Mas Angga sekarang begitu ke aku, tadi aku ditinggal tidak dibangunkan. Setelah ada Guru, Mas Angga melupakanku.” ucap Pak Jemari lalu bangkit berdiri.
“Bukan begitu Pak, aku tidak akan melupakan Pak Jemari, tadi aku mau bangunkan tetapi tidak boleh sama Mbah Parjan katanya tidak baik membangunkan orang yang sedang tidur nyenyak.” ucap Angga sambil menoleh ke arah Mbah Parjan.
“Iya tidurmu tadi nyenyak sekali.” ucap Mbah Parjan sambil menatap Pak Jemari. Mereka bertiga lalu pergi keluar kamar. Mbah Parjan akan mengajak jalan jalan Angga di kebun orangtuanya. Angga minta ijin pada Ibu Sari, ibu Sari mengijinkan sebab Angga didampingi Pak Jemari dan juga ada Mbah Parjan, Ibu Sari tenang hatinya.
“Mas, nanti kita makan siang di warung yang dulu ya...” ucap Pak Jemari sambil memeluk pundak Angga sambil keluar halaman panti.
“Guru nanti mau makan apa, sate, gule , soto, bakso..?” tanya Pak Jemari.
“Nanti kita lihat saja. Kita sekarang mau ke kebun milik orang tua saya. Aku akan tunjukkan pada Angga tentang tanaman obat obatan.”
“Iya Pak, tadi aku cerita pada Mbah Parjan tentang sakit Oma dan kesibukan Papi. Terus Mbah Parjan mau kasih tahu tanaman obat obatan yang bisa digunakan untuk kesehatan Oma dan untuk kebugaran Papi.”
“Manusia kan harus ikhtiar segala cara dicoba sambil terus berdoa. Nanti Mas Angga bisa cari informasi di hapenya dan di buku buku. Kalau Mbah tahunya ya dari informasi orang tua dulu.” ucap Mbah Parjan sambil terus berjalan di samping Angga dan Pak Jemari.
Setelah berjalan beberapa menit mereka sampai pada suatu kebun yang sangat luas. Suatu kebun dengan berbagai jenis tanaman. Sudah mirip bagai hutan kecil.
“Iya ini kebun milik orang tuaku, aku banyak menanam tanaman di sini dari anakan tanaman yang aku ambil dari bukit. Saudara dan kerabat kalau butuh obat obatan tidak perlu ke bukit cukup ambil di kebun sini saja.” ucap Mbah Parjan lalu dia berjalan dan menuju ke tempat tanaman yang akan ditunjukkan pada Angga.
“Ini namanya apa Mbah?”
“Mbah tahunya ya nama daerah dari orang orang dulu yang menamakan.”
“Iya nanti saya cari namanya di internet dan di buku.” ucap Angga sambil memotret tanaman yang ditunjuk oleh Mbah Parjan. Mereka terus berjalan keliling kebun. Mbah Parjan menunjukkan tanaman tanaman yang bermanfaat untuk kesehatan.
“Wah... banyak sekali Mbah ternyata ini kayak pabrik obat.” ucap Angga
“Mbah kalau obat haus dan obat lapar apa?” tanya Pak Jemari.
“Ha...ha...ha...” mereka bertiga tertawa lepas.
“Iya ayo sekarang kita cari makanan dan minuman.” jawab Mbah Parjan namun Mbah Parjan tidak berjalan keluar kebun, dia justru berjalan menuju ke pohon kelapa. Dengan cekatan Mbah Parjan naik ke atas pohon, lalu mengambil beberapa buah kelapa muda. Angga dan Pak Jemari sampai heran saat melihat dengan cepat Mbah Parjan naik ke atas pohon.
“Awas minggir aku mau jatuhkan kelapa ini.” teriak Mbah Parjan dari atas. Angga dan Pak Jemari lalu segera menjauh dan tidak lama kemudian beberapa buah kelapa sudah jatuh di tanah. Mbah Parjan dengan segera turun dari atas pohon. Pak Jemari dan Angga mengambil buah kelapa itu. Mbah Parjan lalu mengambil parang yang dia taruh di pinggangnya. Lalu membuka buah kelapa muda itu dan diberikan kepada Angga dan Pak Jemari. Sedangkan Mbah Parjan sudah pergi dan menghilang berjalan lebih masuk ke dalam kebun. Pak Jemari dengan segera menegak air buah kelapa itu.
“Manis segar Mas, ayo diminum.”
“Ga bisa Pak, bisanya pakai sedotan.”
“Sini saya ajari.” ucap Pak Jemari lalu mengajari Angga cara minum air buah kelapa tanpa sedotan. Angga tersenyum sambil mengelap air kelapa yang mengenai wajahnya dengan tangan.
Tidak lama kemudian Mbah Parjan datang dengan membawa beberapa ubi yang habis dia cabut dari pohonnya dan seekor ayam liar.
“Angga sudah pernah makan ubi bakar?” tanya Mbah Parjan dan Angga menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Pak Jemari yang tahu hal itu lalu membuat tempat pembakaran.
“Guru, aku tidak bawa korek api.” Teriak Pak Jemari. Mbah Parjan lalu berjalan mengambil dua buah batu. Lalu dia kembali, diketuk ketuk dua buah batu itu dan akhirnya keluar api. Angga dan Pak Jemari melihat dengan tatapan heran.
“Mbah hebat.” teriak Angga.
“Guru memang hebat. Ternyata Guru mempunyai banyak rahasia...”
Mereka bertiga lalu makan ubi, ayam bakar dan kelapa muda sampai kenyang. Setelahnya mereka kembali ke panti, sambil membawa anakan tanaman tanaman obat yang akan mereka tanam di kebun panti.
Sementara itu Marginah yang memdapat informasi dari Ibu Sari kalau Bapaknya sedang keluar dengan Angga dan Mbah Parjan untuk melihat kebun obat merasa kesal karena tidak turut serta diajak. Marginah menunggu mereka datang di ruang perpustakaan. Saat melihat mereka bertiga masuk halaman panti Marginah langsung berlari menghampiri mereka.