MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 61. Curiga


Ibu Sari berjalan mendekati mereka. Tampak mereka berenam terlihat sangat posesif melindungi Abi. Takut diambil oleh Ibu Sari dan perempuan Ibunya Abi.


“Kalian jangan bersedih Abi akan tetap tinggal di sini.” ucap Ibu Sari sambil mendekat dan mengulurkan tangannya untuk mengambil Abi dari pangkuan Mawarni.


“Ibu akan membohongi kami.” teriak Nesya sambil melindungi Abi dengan menghalangi tangan Ibu Sari dengan tubuhnya. Ibu Sari lalu mengusap usap kepala Nesya.


“Apa kamu pernah lihat Ibu berbohong?” tanya Ibu Sari dan Nesya menggelengkan kepalanya. Mawarni lalu mengulurkan tubuh Abi yang masih tenang minum susu dari botol dot susunya.


“Kalian sekarang pergi ke ruang makan. Biar Abi digendong oleh Ibunya.” ucap Ibu Sari sambil menerima tubuh Abi. Keenam anak perempuan itu lalu menuruti kata kata Ibu Sari mereka berjalan meninggalkan kamar akan tetapi sebelum keluar dari pintu kepala mereka terus menoleh melihat Abi. Rasanya tidak rela berpisah dengan Abi sebab antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ibu Sari.


Kini di dalam kamar anak anak itu, hanya ada Ibu Sari yang mengendong Abi dengan perempuan itu yang masih menangis sambil memandangi Abi yang minum susu dengan tenang di dalam gendongan Ibu Sari.


“Bu, apa boleh saya membawanya. Saya takut dia menangis tahu kalau saya sudah menyia nyiakannya.” ucap perempuan itu dengan nada kuatir


“Ucapkan doa dan niat kalau sampeyan akan benar benar menyayangi dan merawatnya.” ucap Ibu Sari. Lalu terlihat perempuan itu menganggukan kepalanya dan terlihat bibirnya mengucapkan kalimat kalimat doa dan selanjutnya Ibu Sari menyerahkan Abi ke dalam tangan perempuan itu. Perempuan itu mendekap Abi di dalam pelukannya sambil berurai air mata. Abi pun terdengar menangis entah menangis karena terharu bertemu dengan Ibunya, atau menangis karena botol susunya terlepas dari mulutnya.


“Apa Abi sudah pernah minum Asi?” tanya Ibu Sari sambil meletakkan lagi botol susu di mulut Abi.


“Sudah Bu, saat akan saya tinggalkan itu juga sudah saya kasih minum Asi.” jawab perempuan itu.


“Syukurlah. Sekarang mari kita ke ruang makan. Ibu nanti makan sambil memangku Abi. Biasa begitu kami lakukan.” ucap Ibu Sari. Perempuan itu tersenyum sambil menganggukan kepalanya. Mereka berdua lalu berjalan meninggalkan kamar itu. Tidak lupa Ibu Sari menutup pintu kamar itu dengan rapat rapat. Saat Ibu Sari dan perempuan itu masih berjalan di sepanjang koridor yang menuju ke ruang makan terlihat dua orang Bapak Polisi berjalan bersama Mas Budi dari arah rumah makan. Mereka lalu bertemu di tengah koridor yang sedang mereka lalui.


“Ibu Sari maaf kami makan lebih dulu tadi sebab kami terburu buru tidak menunggu Ibu Sari.” ucap Bapak Polisi saat mereka berada di depan Ibu Sari. Mereka pun berhenti di tengah koridor.


“Iya Pak, tidak apa apa tadi kami masih harus menjelaskan kepada anak anak jadi saya juga minta maaf tidak bisa menemani Bapak Bapak makan malam. Saya mengucapkan banyak terima kasih dari hasil kerja keras Bapak Bapak, Abi bisa bertemu dengan Ibunya. Sekali lagi saya pribadi dan penghuni panti mengucapkan terima kasih.” ucap Ibu Sari dengan sopan.


“Saya juga Pak Polisi saya benar benar terharu melihat Ibu Sari dan anak anak panti sangat menyayangi Abi, saya mengucapkan terima kasih juga saya bisa tinggal di panti ini gara gara dijemput Pak Polisi. Awalnya saya benar benar takut kalau saya akan dipenjarakan.” ucap perempuan itu sambil menatap Bapak Bapak Polisi dan memandang sekilas ke wajah Mas Budi. Perempuan itu masih merasa takut pada Mas Budi. Takut jika Mas Budi ingin memenjarakan dirinya.


Waktu pun berlalu anak anak panti sudah selesai makan lalu mereka berjalan menuju ke ruang doa. Sedangkan Ibu Sari masih bersama perempuan itu yang masih mengendong Abi.


“Ayo Bu, saya tunjukkan kamarnya. Sementara tidur di kamar tamu dulu ya. Nanti akan saya pikirkan kamar buat Ibu dan Abi.” ucap Ibu Sari lalu mengajak perempuan itu berjalan keluar dari ruang makan menuju ke kamar tamu yang akan digunakan untuk perempuan itu.


“Ini Bu, sementara di sini dulu. Nanti perlengkapan Abi yang ada di kamar saya , akan saya pindah ke sini.” ucap Ibu Sari. Terlihat perempuan itu berkali kali mengucapkan terima kasih. Ibu Sari lalu berjalan menuju ke kamarnya untuk mengambil semua perlengkapan Abi. Ada perasaan senang dan sedih yang ada di hati Ibu Sari. Dia senang karena Abi sudah bertemu Ibunya tetapi dia juga sedih karena sudah terbiasa jika malam bersama Abi hingga pagi hari. Tidak terasa air mata Ibu Sari meleleh saat mengambil barang barang perlengkapan Abi.


“Makanya anak anak tadi menangis, aku berpisah dengan barang barang Abi saja sedih.” gumam Ibu Sari. Ibu Sari lalu membawa barang barang perlengkapan Abi untuk dibawa ke kamar tamu. Memang belum semua dibawanya, terutama yang diperlukan untuk malam ini dan besok pagi.


Sementara itu Marginah dan Nesya setelah selesai belajar. Mereka berdua berbicara serius di ruang perpustakaan saat di ruang itu sudah sepi dan hanya ada mereka berdua.


“Nah, Ibu Sari kok percaya begitu saja ya. Abi tidur dengan perempuan itu di kamar tamu. Kalau nanti malam malam atau besok pagi pagi saat semua belum bangun, terus Abi dibawa pergi bagaimana coba.” ucap Nesya dengan serius sambil menatap Marginah


“Kok sama Nes, aku juga kuatir kalau Abi dibawa pergi.” ucap Marginah


“Bagaimana kalau kita nanti ikut tidur di kamar tamu saja. Kan ada dua tempat tidur. Kita tidur di tempat tidur satunya berdua.” usul Marginah


“Aku setuju Nah. Kita tidak usah bilang Ibu Sari. Pasti tidak diijinkan. Kita bilang pada Mbak Mawarni dan Kak Fatima saja.” ucap Nesya.


“Ayo sekarang kita cepat cepat ke sana sebelum perempuan itu tidur.” ucap Marginah lalu mereka berdua berlari keluar dari ruang perpustakaan menuju ke kamarnya untuk ijin pada Mawarni dan Fatima. Akan tetapi saat baru beberapa langkah Marginah berhenti.


“Nes, lupa belum mengunci pintu perpustakaan. Untung ingat. Sudah kamu terus saja. Aku saja yang balik mengunci pintu” teriak Marginah lalu dia buru buru balik ke perpustakaan mengunci pintu perpustakaan dan dengan segera dia berjalan cepat menuju ke ruangan Ibu Sari untuk menyerahkan kunci pintu perpustakaan. Saat Ibu Sari membuka pintu ruangannya terlihat wajah Ibu Sari sembab.


“Ibu Sari habis menangis?” tanya Marginah.


“Menangis bahagia karena Abi sudah bersama Ibunya.” ucap Ibu Sari padahal dia menangis karena kangen Abi sebab sudah beberapa waktu bersama terasa sepi dan ada yang hilang, meskipun dia juga senang Abi sudah bersama dengan Ibunya.