
Emak Baru terus berjalan dengan cepat sambil menggendong Abi yang masih menangis dengan kejer. Hingga Ibu Sari yang berada di dalam ruang kerjanya masih sibuk menyelesaikan laporan mendengar suara tangis Abi yang begitu kencang.
“Ada apa anak itu tidak biasanya dia menangis dengan begitu kencang.” gumam Ibu Sari lalu bangkit berdiri. Beliau lalu segera berjalan menuju ke pintu dan dengan segera dia membuka pintu kemudian berjalan keluar dari ruangannya. Saat Ibu Sari menoleh ke arah suara tangis Abi. Terlihat Emak Baru berjalan dengan cepat di sepanjang koridor dari dapur menuju ke arah kamar Emak Baru yang berdampingan dengan ruangan Ibu Sari. Ibu Sari berjalan cepat mendekati Emak Baru.
“Mak.. ada apa dengan Abi..?” tanya Ibu Sari dengan suara lebih keras sebab mereka masih berjarak beberapa meter jauhnya. Emak Baru tidak menjawab akan tetapi dia sudah mulai terisak isak dan air mata mulai mengalir di kedua pipinya sambil terus berjalan.
“Mak.. ada apa?” tanya Ibu Sari saat sudah semakin dekat dan melihat Emak Baru menangis. Ibu Sari yang tidak mengikuti berita yang baru saja terjadi, dalam hati hanya menduga menduga apa Abi mendapat musibah saat di dapur.
“Bu... Bu... itu... itu.....” ucap Emak Baru di antara isakan tangisnya. Dan Emak Baru terus berjalan dan dengan segera dia langsung membuka pintu kamarnya saat dia sudah berada di depan kamarnya. Ibu Sari terus mengikuti langkah kaki Emak Baru, Ibu Sari pun mengikuti Emak Baru masuk ke dalam kamarnya.
Terlihat Emak Baru langsung duduk di tempat tidurnya, dia membuka kerudungnya yang sudah basah oleh air matanya. Dia lalu membuka kancing baju bagian depan untuk memberi asi kepada Abi. Terlihat Abi agak susah untuk meminum asi nya, dia masih terus menangis dengan kejer. Emak Baru lalu menutup lagi kancing bajunya. Ibu Sari lalu mendekati Abi dan meraih tubuh Abi. Kini Abi ada di dalam gendongan Ibu Sari, Ibu Sari melihat dengan teliti seluruh tubuh Abi.
“Abi kenapa Sayang.. tenang ya.. ada Ibu dan Emak.” ucap Ibu Sari sambil menepuk nepuk pantat Abi memberi ketenangan dan sesekali tangan Ibu Sari mengusap usap kepala Abi. Lama lama Abi pun terlihat tenang.
“Ada apa Mak, apa yang membuat Emak dan Abi menangis?” tanya Ibu Sari sambil duduk di samping Emak Baru di tepi tempat tidur Emak Baru.
“Bu... tolong Ibu Sari lihat berita tentang tangkap tangan dan kasus pelecehan... hiks.. hiks... “ ucap Emak Baru sambil terisak isak dia lalu menarik kain gendong Abi dan digunakan untuk menghapus air matanya. Sedangkan Ibu Sari terlihat mengambil hapenya dari saku di rok panjangnya.
Ibu Sari lalu mengusap usap layar hapenya dan mencari cari berita tentang yang diminta oleh Emak Baru.
“Majikan Emak Baru?” tanya Ibu Sari sambil menoleh menatap Emak Baru saat sudah membaca berita di layar hapenya. Emak Baru menganggukkan kepalanya.
“Bu.... bagaimana dengan Abi, dia besok akan malu jika suatu saat tahu bapaknya seorang penjahat... meskipun kemarin menjadi pejabat tetapi sekarang sudah terbukti menjadi penjahat, korupsi merampok uang rakyat dan juga sebagai penjahat kelamin.” ucap Emak Baru dengan nada emosi
“Bu... Abi anak penjahat Bu... hiks.. hiks....” ucap Emak Baru kini mulai terisak isak lagi memikirkan nasib Abi.
“Mak... Abi tidak punya dosa Mak...” ucap Ibu Sari sambil mengusap usap kepala Abi, lalu Ibu Sari menoleh ke arah Emak Baru.
“Bu, saya takut jika Abi juga memiliki sifat seperti bapaknya... saya takut Bu... hiks... hiks....” ucap Emak Baru kini sudah mulai menangis sesenggukan.
“Mak, Abi kita rawat sejak kecil dan kita berusaha memberi pendidikan yang baik pada Abi, juga Abi berada di lingkungan orang orang baik di sekitar Abi. Semoga Abi akan menjadi anak yang baik.” ucap Ibu Sari sambil menciumi wajah Abi.
“Bayi itu suci Mak, bagai kertas putih tergantung bagaimana kita akan menulis atau menggambar pada kertas putih itu.” ucap Ibu Sari sambil membelai rambut kepala Abi.
“Emak harus berpikir positif, berpikir yang baik baik buat Abi, agar yang terjadi pun yang baik baik, yang positif pada Abi.” ucap Ibu Sari masih terus membelai belai kepala Abi.
“Apa yang kita pikirkan akan menjadi kenyataan Mak.” ucap Ibu Sari kini menoleh menatap pada Emak Baru.
“Iya kah Bu..?” tanya Emak Baru meminta kepastian.
“Iya maka kita pikirkan yang baik baik buat anak kita, kita ucapkan hal yang baik baik buat anak kita.” jawab Ibu Sari sambil menatap Emak Baru
Namun tiba tiba, terdengar suara langkah kaki anak anak di sepanjang koridor di depan kamar Emak Baru. Ya, mereka sudah waktunya pulang. Mas Budi yang sudah memiliki SIM B sudah mulai menggantikan Ibu Sari mengantar jemput anak anak.
“Emak hapus air mata mu dan senyum agar orang tidak bertanya tanya dan curiga. Bukannya ini adalah rahasia kita berdua.” ucap Ibu Sari sambil mengusap usap punggung Emak Baru.
“Iya Bu, saya mudah terbawa emosi. Pengen rasanya bisa tenang seperti Ibu Sari.” ucap Emak Baru sambil menghapus air matanya dan berusaha tersenyum sambil menatap wajah Ibu Sari.
“Nanti lama lama Emak akan bisa, pengalaman hidup Mak akan membuat hati kita sedalam dan seluas samudra... sabar dan bisa menampung semua masalah hidup.” ucap Ibu Sari sambil tersenyum menatap Emak Baru
“Begitu ya Bu?” tanya Emak Baru
“Air yang tenang menghanyutkan karena dalam ya Bu?” tanya Emak Baru lagi sambil tersenyum
“Iya Mak, orang yang banyak ilmu, pengalaman hidup dan wawasannya biasanya tenang. Dan kalau hati kita sudah sedalam dan seluas samudra kita mendapat kebahagiaan juga tenang saja, mendapat musibah juga tenang tetapi berpikir bagaimana mengatasinya he... he... seperti laut itu apa apa masuk airnya tetap tenang, ” jawab Ibu Sari sambil tertawa kecil.
“Beda dengan saya Bu, dapat mesin jahit langsung terlihat senang tertawa tawa setelah mendengar berita saja langsung bingung menangis sesenggukan.” ucap Emak Baru sambil tersenyum malu.
“Iya padahal Emak kan harusnya senang dengan berita itu. Berarti majikan Emak sudah tidak punya kuasa.” ucap Ibu Sari sambil menatap tajam wajah Emak Baru.,
“Iya Bu, semoga Abi tidak akan bertanya siapa bapaknya. Saya tidak siap kalau memikirkan hal itu Bu..” gumam Emak Baru dan ekspresi wajah terlihat sedih lagi.
“Sudah jangan sedih, kita berusaha dan berdoa agar Abi menjadi anak yang baik. Ayo Mak juga berusaha tenang tidak sedih dan gelisah.” ucap Ibu Sari sambil menatap Emak Baru
“Iya Bu, saya akan berusaha tenang bagai samudra menghadapi gelombang hidup.” ucap Emak Baru sambil berusaha tersenyum. Emak Baru berusaha menetralkan ekspresi wajahnya karena jam makan siang akan tiba. Dia melihat mesin jahit barunya agar terbit rasa senangnya untuk menghalau rasa sedih dan gelisah hati nya.