
Pak Jemari terus berjalan menuju ke kamarnya, dengan segera dia membuka pintu kamar tamu tersebut.
“Kok ya pakai sobek segala, padahal sedang seru serunya. Aku jadi kehilangan mendapat ilmu jurus tendangan jitu.” gumam Pak Jemari sambil melepas celana panjangnya yang sudah robek di bagian pantatnya.
“Kalau ada masalah seperti ini aku jadi kangen Mak Dinah. Dia yang biasa nambal dan jahit baju dan celanaku kalau robek atau bolong.” Ucap Pak Jemari sambil mengamati celananya yang sobek dibagian pantatnya.
“Aku mau segera pulang masih belum boleh sama Mas Angga, kasihan juga dia masih menunggu kabar tentang kesehatan Oma. Aku tidak tega kalau teringat saat dia mengigau.” ucap Pak Jemari sambil memakai celana gantinya. Dia lalu segera meninggalkan kamar berjalan cepat menuju ke halaman tempat latihan bela diri, dia ingin mengikuti meneruskan lagi latihannya. Namun saat sampai di halaman terlihat anak anak sudah bubar mereka sudah berhambur berjalan ke koridor yang menuju ke ruang makan.
“Aku ketinggalan pelajaran hmmm nanti minta Mas Angga yang mengajari ha.. ha... seperti Mas Angga kalau mengajari pelajaran sekolah pada Marginah dan Nesya itu.” gumam Pak Jemari sambil tertawa kecil lalu ia juga turut berjalan menuju ruang makan.
Mereka semua sudah duduk rapi di ruang makan. Makanan sudah tersedia di meja mereka masing masing. Opor ayam yang mereka masak kemarin malam tadi pagi tinggal dihangatkan oleh anak anak yang piket memasak pagi hari. Anak anak merasa senang makan pagi dengan lauk ayam opor yang dicampur dengan potongan umbi talas yang juga dibawa oleh Mbah Parjan.
Mbah Parjan yang juga ikut makan bersama mereka hanya memilih mengambil potongan potongan umbi talas di dalam mangkok sayur yang tersaji di meja.
“Mbah ambil ayamnya juga.” ucap Ibu Sari yang duduk satu meja dengan Mbah Parjan sambil menyodorkan mangkok sayur.
“Buat yang lain saja, meskipun gigiku masih kuat tapi aku sudah puas makan ayam saat muda. Di bawah bukit juga banyak ayam liar di sana, aku ingin makan ayam tinggal tangkap saja.” ucap Mbah Parjan. Suara lantang Mbah Parjan di dengar oleh seorang yang berada di ruang makan tersebut. Marginah yang juga mendengar lalu berjalan menuju ke tempat Pak Jemari duduk.
“Bapak sudah puas makan ayam saat muda, buat yang lain saja.” bisik Marginah di dekat telinga Pak Jemari.
“Belum Nah, saat muda Bapak puas makan ikan asin sampai saat sekarang. Jadi biarkan Bapakmu ini mengambil ayamnya ya.. dikit saja nih yang ujung sayap yang aku ambil.” ucap Pak Jemari sambil menunjukkan lauk di atas piringnya dan memang Pak Jemari memilih ujung sayap yang kecil biar yang lain untuk anak anak. Marginah lalu kembali menuju ke meja makannya. Bapaknya memang jarang makan ayam. Di rumah memang memelihara ayam, tetapi ayamnya sering dijual untuk tambah tambah biaya hidup. Kadang hasil penjualan ayam buat biaya sekolah, beli buku, beli minyak kayu putih atau keperluan lainnya.
Setelah makan anak anak terlihat mengikuti langkah kaki Mbah Parjan. Mbah Parjan lalu duduk di bawah pohon rambutan yang rindang yang berada di halaman panti.
“Mbah nanti latihan lagi ya.” ucap Angga dengan semangat. Anak anak yang lain juga menyetujui jika nanti dilanjut latihannya.
“Ya, nanti sore latihan lagi.” jawab Mbah Parjan sambil tersenyum memandang wajah polos anak anak.
“Mbah katanya rumahnya jauh kok masih kuat jalan kaki?” tanya Marginah.
“Sudah biasa jalan kaki, dan Mbah tidak merokok tidak minum minum yang aneh aneh, makan juga dari hasil kebun sendiri dan nangkap hewan yang ada di kali dan bukit.” jawab Mbah Parjan sambil menatap wajah Marginah lalu menatap wajah anak anak laki laki bagai memberi penekanan agar mereka mengikuti cara hidup Mbah Parjan agar tidak merokok dan minum minum yang aneh aneh.
“Ada tapi harus ijin sama Mbah dulu kalau tidak ijin sama Mbah akan tahu akibatnya.” jawab Mbah Parjan.
“Aku tahu pasti akan Mbah.... ciat... ciat....” ucap Marginah sambil memperagakan jurus yang tadi diajarkan.
“Ha... ha... kamu pinter. Coba kalian tunjukan pada Mbak gerakan gerakan yang sudah Mbah ajarkan tadi.” ucap Mbah Parjan saat melihat gerakan Marginah.
“Ayo Nga kita tampil di depan Mbah, kalau salah biar dibetulkan.” ucap Marginah sambil menarik tangan Angga. Angga juga dengan senang hati menuruti ajakan Marginah. Mereka berdua tampil dihadapan Mbah Parjan. Pak Jemari yang melihat tidak tahan lalu ikut ikut berdiri dan mencontoh gerakan Marginah dan Angga. Anak anak yang lain ingin tertawa melihat gerakan Pak Jemari yang tidak bisa sebebas Marginah dan Angga karena pengaruh celananya. Namun mereka semua menahan tawanya karena takut dimarahi Mbah Parjan. Setelah Marginah dan Angga selesai beraksi dilanjut oleh anak anak yang lain karena ingin diperbaiki oleh Mbah Parjan jika ada yang salah. Sedangkan Pak Jemari sudah terkapar tiduran di bawah pohon rambutan.
“Ayo sekarang mandi istirahat biar segar lagi. Nanti sore kita lanjut.” ucap Mbah Parjan lalu dia bangkit berdiri berjalan menuju ke kamar tamu bersama Angga. Angga sangat senang sekali bisa mendapat cerita dan nasehat dari Mbah Parjan. Sedangkan Pak Jemari masih tertidur di bawah pohon rambutan. Dia bermimpi menjadi jagoan yang bisa mengalahkan pencuri pencuri ayam di desanya.
“Ibu Ratu saya yang sudah berhasil membekuk dan menangkap pencuri pencuri ayam itu. Bolehkah saya mengambil ayam panggang ini.” ucap Pak Jemari dengan mata terpejam. Ibu Sari yang sedang membangunkan Pak Jemari mengeryitkan dahinya. Ibu Sari lalu menyuruh Mas Budi yang membangunkan, sedangkan Ibu Sari berjalan meninggalkan Pak Jemari dan Mas Budi, beliau berjalan menuju ke ruangannya.
“Pak.. Pak...” suara Mas Budi menepuk nepuk paha Pak Jemari.
“Panglima, saya pahanya saja tidak apa apa, tapi kalau boleh dadanya.” ucap Pak Jemari masih dengan mata terpejam saat Mas Budi yang membangunkan.
“Pak... Pak... ini ayamnya.” ucap Mas Budi sambil memberikan ranting kering rambutan yang jatuh. Pak Jemari lalu mengigit ranting itu.
“Bah... bah... bah......” Pak Jemari melepeh ranting yang sudah digigit dan langsung bangkit dari tidurnya.
“Ha.... ha.... Pak Jemari mimpi apa makan ayam panggang.” ucap Mas Budi sambil merangkul tubuh Pak Jemari dan masih tertawa kecil.
“Iya minta paha atau dada dikasih ceker gosong.” jawab Pak Jemari sambil menepuk pundak Mas Budi.
“Maaf Pak, habis Pak Jemari tidak bangun bangun malah memanggil aku panglima, memanggil Ibu Sari dengan sebutan Ibu Ratu.. ha.... ha...” ucap Mas Budi sambil tertawa dan berjalan di samping Pak Jemari. Pak Jemari yang mendengar terlihat kaget tidak menyangka alam mimpinya bercampur dengan alam nyata.
“Benar apa Mas, kok tidak ada Ibu Sari?” tanya Pak Jemari
“Tanya saja ke Ibu Sari.” jawab Mas Budi, wajah Pak Jemari terlihat memerah karena malu.