
Mobil terus melaju menuju ke lokasi panti. Marginah mencerna kalimat yang diucapkan dari Ibu Sari
“Belajar dari pengalaman hidup orang lain. Hmmm harus mengamati orang lain.. atau bagaimana sih.. Kapan kapan saja aku tanya pada Ibu Sari agar lebih jelas, aku juga ingin seperti Ibu Sari besok kalau sudah besar bisa menjadi perempuan kuat dan berguna buat orang lain.” gumam Marginah dalam hati dia mau bertanya tanya sekarang sepertinya waktunya tidak tepat sebab mobil sudah hampir sampai di lokasi panti dan dia sendiri juga merasakan tubuhnya sangat capek karena kurang tidur.
“Aku dan Nesya menganggukkan kepala pasti hanya tahu kalimatnya saja tetapi tidak paham bagaimana cara belajar dari pengalaman hidup orang lain he...he...” gumam Marginah dalam hati sambil tersenyum melirik ke arah Nesya yang tenang duduk di sampingnya. Sementara mobil sudah memasuki halaman panti.
Tidak lama kemudian mobil sudah sampai di halaman panti. Ibu Sari menghentikan mobilnya. Anak anak turun dari mobil. Mereka langsung masuk ke dalam kamarnya berganti baju dan membersihkan diri lalu segera menuju ke ruang makan.
Ibu Sari pun setelah menaruh kunci mobil dan membersihkan diri, beliau juga segera berjalan ke ruang makan. Dia akan menyampaikan pengumuman setelah makan siang. Saat memasuki ruang makan terlihat Ibu Narimah perempuan Ibunya Abi berjalan hilir mudik dari dapur menuju ke ruang makan sambil mengendong Abi, dengan tangan membawa mangkok lauk dan sayur untuk disiapkan di meja makan anak anak panti. Sejak pagi dia sudah membantu memasak di dapur sambil mengendong Abi. Wajahnya terlihat tersenyum senang.
“Tuh... Ibu dan kakak kakak sudah pulang dari sekolah. Abi besok kalau sudah besar juga sekolah sama seperti mereka ya... sekarang ikut masak di dapur bersama Emak dulu.” ucap Ibu Narimah saat berpapasan dengan Ibu Sari dan beberapa anak panti yang masuk ke dalam ruang makan. Beberapa anak panti menoel noel pipi Abi, kaki atau tangannya karena gemas pada Abi.
“Sini, Abi ikut Ibu...” ucap Ibu Sari sambil mengambil Abi dari gendongan Ibu Narimah. Ibu Narimah pun melepas gendongan yang menempel di tubuhnya untuk diberikan pada Ibu Sari. Ibu Narimah lalu berjalan lagi ke dapur sebab pekerjaan belum selesai.
“Bu... Ibu Sari aku tadi juga ikut membantu Emak ...” ucap Nita saat masuk ke ruang makan sambil memegang kaki Abi.
“Aku juga Bu, sekarang punya Emak baru.. “ ucap Vany yang tidak mau kalah. Ibu Narimah memang diberi tugas membantu masak dan ikut mengasuh dan mengawasi anak anak yang masih kecil. Anak anak yang masih kecil pulang sekolah lebih awal dari kakak kakaknya. Dan Ibu Narimah menyuruh anak anak memanggil dirinya Emak, meskipun masih muda dia lebih senang dipanggil Emak dari pada Mbak. Agar Abi anaknya pun besok juga memanggil dirinya Emak. Dan memanggil Ibu buat panggilan Ibu Sari.
“Bagus.. tadi belajar masak apa kalian?” tanya Ibu Sari sambil membelai kepala Nita dan Vany.
“Membuka bungkus tempe Bu...” ucap Nita sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya ... Ibu Sari tampak tersenyum sambil masih membelai kepala dua anak tersebut secara bergantian. Dan selanjutnya mereka semua duduk di tempatnya masing masing sebab makanan sudah siap semua.
Setelah acara makan siang selesai, terlihat Ibu Narimah alias Emak langsung bangkit berdiri ikut membantu anak anak memberesi meja makan. Sambil mendengarkan pengumuman dari Ibu Sari.
“Anak anak, kita akan kedatangan tamu donatur dari Ibu Kota. Nanti anak anak laki laki yang besar membantu Mas Budi memindah barang barang yang berat dari gudang makanan di samping ruangan Ibu menuju ke gudang pakaian. Anak anak perempuan yang besar membersihkan gudang makanan dan memindah makanan yang bisa segera digunakan ke dapur. Atur yang rapi semua. Dan selanjutnya rapikan gudang makanan, ambil satu tempat tidur kosong yang berada di belakang taruh di situ.” ucap Ibu Sari dengan suara lantang.
“Ibu Narimah maaf kamar tamu akan dipakai oleh tamu, jadi Ibu Narimah pindah ya di gudang samping ruangan saya itu nanti menjadi kamar Abi dan Ibu Narimah.” ucap Ibu Sari kemudian sambil menatap Ibu Narimah yang masih sibuk membereskan piring piring kotor.
“Iya Bu, Emak mah tidur dimana saja mau.. malah senang jika kamar nya berdekatan dengan Ibu.” jawab Ibu Narimah alias Emak sambil tersenyum dan menoleh ke arah Ibu Sari.
“Kalian berdua tadi tidur di kelas ya?” tanya Fatima dengan suara lirih. Sedangkan Marginah hanya menjawab dengan mulut tertawa kecil.
Mereka semua lalu melakukan pekerjaan seperti apa yang diperintahkan oleh Ibu Sari. Anak laki laki memindah barang barang yang berat dari gudang makanan menuju ke gudang pakai yang ruangannya lebih luas. Mereka mengatur semua dengan rapi.
Sementara itu Marginah dan Nesya berada di kamarnya untuk tidur siang. Namun Marginah belum bisa tidur, terlihat Nesya juga hanya membolak balikkan badannya.
“Tadi di kelas mengantuk tetapi sekarang disuruh tidur tidak bisa ya Nes.” bisik Marginah agar tidak menganggu Nita dan Vany yang sudah tidur.
“Iya Nah, aku tadi di kelas kayaknya sudah banyak tidur apalagi kamu, tadi kamu lebih dulu tidur nyenyak he.... he...” ucap Nesya dengan lirih pula.
“Eh Nes, aku suatu saat akan tanya pada Ibu Sari bagaimana caranya belajar dari pengalaman orang lain. Aku pengen seperti Ibu Sari yang bisa pintar dan bijaksana, bisa mengatasi banyak masalah yang dihadapinya dengan kuat dan tegar.” ucap Marginah sambil memiringkan tubuhnya menghadap ke tempat tidur Nesya.
“Kalau menurut pengertianku sih belajar dari pengalaman orang lain, ya misalnya aku belajar dari pengalaman Ibu ku, kalau besok memilih laki laki sebagai suami harus benar benar tahu sifatnya harus orang yang benar benar baik dan tanggung jawab. Gitu sih menurut aku.. entah benar atau tidak. Kalau besok kamu mau tanya ke Ibu Sari aku ikut ya... Aku juga ingin menjadi wanita pintar dan kuat dalam menjalani hidup.” ucap Nesya yang juga memiringkan tubuhnya menghadap tempat tidur Marginah.
“Kamu pinter Nes.” gumam Marginah.
“Mungkin Nah he.... he... untuk masalah seluk beluk kehidupan mungkin sejak kecil sudah banyak pelajaran aku lewati.. kalau kamu kan keluarga bahagia hanya ekonomi saja yang kurang tetapi kamu terlindungi di dalam keluarga.” ucap Nesya lalu dia membalikkan badannya selanjutnya memeluk gulingnya dan memejamkan matanya berusaha untuk bisa tidur, dari pada ingat kelakuan Bapaknya.
“Kalau dari Emak Baru apa pelajaran yang bisa kamu ambil Nes?” tanya Marginah
“Tidak membuang begitu saja apa yang sudah menjadi miliknya harus tanggung jawab, dan apa ya..” jawab Nesya sambil berpikir
“Mau mengakui kesalahan dan memperbaiki. Benar tidak?” ucap Marginah yang tidak yakin dengan dengan ucapannya sendiri namun Nesya hanya diam saja.
“Nes...” panggil Margjnah
“Entahlah Nah, besok tanya Ibu Sari.”