MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 52. Doa Ibu Sari


Marginah dan Nesya tersenyum sambil menepuk pundak Angga, akan tetapi kali ini tidak tepukan memakai tenaga dalam. Marginah dan Nesya langsung berjalan menuju ke pintu mobil depan. Sedangkan Angga berjalan akan naik ke atas bak mobil. Teman teman yang lain sudah duduk manis di bangku.


“Angga kamu bisa tidak hari Sabtu sepulang kita sekolah.” Teriak salah satu sambil menarik baju seragam Angga.


“Bisa.” jawab salah satu anak panti yang duduk di bak mobil yang tidak lain adalah teman sekelas siswi yang menarik baju seragam Angga.


“Asyiiiiikkkkk.” teriak siswi siswi fans Angga lompat lompat kegirangan.


Marginah dan Nesya yang bisa melihat dari spion tersenyum lalu mereka berdua menoleh ke arah Angga.


“Baru kali ada siswi siswi anak orang kaya mau bermain ke panti.” gumam Ibu Sari lalu menjalankan mobilnya.


“Ooo biasanya mereka tidak pernah main ke panti ya Bu?” tanya Marginah sambil menoleh menatap ke Ibu Sari.


“Ya main hanya untuk acara resmi, misalnya kunjungan kunjungan, memberi bantuan terus foto foto diposting di akun media sosialnya.” jawab Ibu Sari


“Padahal yang donatur tetap malah tidak melakukan hal itu ya Bu.” saut Nesya. Dan Ibu Sari hanya tersenyum.


“Sebenarnya bantuan sedikit atau banyak kita terima dengan senang hati dan kita syukuri asal tulus tidak membantu hanya untuk riya saja. Kita malah jadi tidak enak, turut menjadi obyek mendukung orang berbuat riya.” ucap Ibu Sari sambil tetap fokus pada kemudi mobilnya.


“Tapi ya sudahlah masing masing orang punya pandangan sendiri sendiri ada yang melakukan itu katanya untuk memotivasi yang lain.” ucap Ibu Sari lagi sambil tersenyum.


“Mungkin itu hanya pembenaran Bu, bukannya pamer dan menyombongkan diri itu tidak baik.” ucap Marginah dengan nada serius sambil menatap Ibu Sari dari samping.


“Iya, aku harap kalau kalian sudah menjadi orang sukses tetap rendah hati.” ucap Ibu Sari dengan nada serius.


“Aamiinnn..” jawab Marginah dan Nesya.


“Nah kamu itu pinter jangan sombong ya.” ucap Nesya sambil menyikut pinggang Marginah.


“Heleh Nes apa yang mau aku sombongkan, semua itu kata Nenekku hanya titipan, bisa diambil yang Kuasa sewaktu waktu.” jawab Marginah .


“Emang bisa kepintaran hilang?” tanya Nesya kepo.


“Bisa Nes, banyak juga orang tiba tiba jatuh, sakit atau kecelakaan kepala cidera. Apa yang ada di dunia itu hanya sementara. Maka gunakan dengan baik baik.” ucap Ibu Sari sambil sekilas menoleh menatap Nesya dan Marginah.


Tidak lama kemudian mobil sudah sampai di halaman panti. Setelah mobil berhenti anak anak segera turun dari mobil dan berlari menuju ke kamarnya masing masing setelah mengucapkan terimakasih kepada Ibu Sari. Sedangkan Angga malah berjalan mengikuti langkah kaki Ibu Sari. Ibu Sari yang merasa diikuti oleh Angga dia menoleh ke arah Angga.


“Angga kenapa tidak ke kamar? Taruh tas, ganti baju cuci tangan dan kaki terus ke ruang makan kan jadwalnya.” ucap Ibu Sari sambil memeluk pundak Angga dari samping .


“Kenapa Ibu Sari mengijinkan mereka main ke panti?” tanya Angga dengan pelan.


“Mereka kakak kelas dan saya tidak begitu kenal. Saya malas Bu. Saya dulu juga tidak suka main Bu. Pulang sekolah langsung ke rumah, istirahat terus ikut jadwal les , les pelajaran les musik les melukis, les komputer , kalau tidak ada jadwal les ya saya main game aja di rumah.” ucap Angga. Ibu Sari menoleh menatap Angga.


“Ya besok biar teman teman sekelas mereka yang menemui dan dengan Ibu Sari. Mereka tadi juga bilangnya hanya akan main ke panti tidak bilang akan menemui kamu.” ucap Ibu Sari sambil tersenyum menatap Angga.


“Benar Bu?” tanya Angga sambil tersenyum lebar, Ibu Sari menganggukan kepalanya.


“Baiklah Bu, saya hari Sabtu pulang sekolah mau ke kebun obat saja. Sudah subur subur Bu tanamannya. Papi dan Oma bilang kalau sudah bisa dipanen minta dikirimi, katanya nanti Oma juga mau tanam jika sudah pulang ke Indonesia.” ucap Angga dengan bersemangat. Ibu Sari tersenyum dan menyetujui rencana Angga.


Saat Angga berlari menuju ke kamarnya tidak lama kemudian motor yang dikendarai Mas Budi masuk ke halaman panti. Dan setelah diparkir, Mas Budi pun berlari menuju ke Ibu Sari yang masih berdiri di halaman panti.


“Bu... Bu...” ucap Mas Budi saat di dekat Ibu Sari.


“Bagaimana Bud, sudah selesai urusan daftarnya?” tanya Ibu Sari sambil menatap Mas Budi yang wajahnya berkeringat karena kepanasan naik motor.


“Sudah Bu, akhirnya saya mengambil fakultas ilmu sosial dan politik. Biar bisa jadi pejabat Bu, he...he...” ucap Mas Budi sambil malu malu dan tertawa kecil.


“Mau ambil yang ilmu pemerintahan juga tapi bingung akhirnya disarankan petugas ambil yang ilmu sosial dan politik.” ucap Mas Budi selanjutnya dengan nada serius.


“Ibu serahkan pilihan pada kamu, yang penting kamu sungguh sungguh belajar dan nanti ilmunya buat kepentingan masyarakat. “ ucap Ibu Sari dan Mas Budi menganggukkan kepalanya.


“Dan tadi saya juga sudah mampir ke kantor polisi sudah melaporkan Bu. Dan maaf jika nanti suatu saat Pak Polisi datang meminta keterangan dari Ibu Sari.” ucap Mas Budi sambil tertunduk, dia kuatir jika Ibu Sari marah sebab harus keluar energi dan waktu lagi sementara hasilnya belum pasti apa orang itu yang membuang bayi, dan belum pasti juga orangnya ketemu .


“Iya, kalau datang ke sini Ibu temui.” jawab Ibu Sari sambil menepuk nepuk pundak Mas Budi. Mas Budi setelah mengucapkan terimakasih lalu berjalan menuju ke kamarnya. Ibu Sari masih berdiri menatap punggung Mas Budi.


“Ya Allah berilah hambaMu ini kekuatan, kemampuan dan kesabaran dalam merawat dan membimbing anak anak agar mereka menjadi orang orang kesayanganMu... aamiinnn.. “ doa tulus Ibu Sari, lalu Ibu Sari membalikkan badannya akan melangkah menuju ke ruangannya. Saat berjalan tampak Ibu Perawat mengendong Abi sedang berjalan di koridor bersama pegawai panti lain mereka sudah selesai makan siang, jadwal mereka sebelum jam makan siang anak anak.


“Abi rewel tidak Bu?” tanya Ibu Sari saat mereka berjarak beberapa meter.


“Tidak Bu, sudah kenyang minum susu dia tidur nyenyak. “ jawab Ibu Perawat lalu dia berjalan menuju ke ruang pengobatan. Selain melayani anak anak dan penghuni panti terkadang ada beberapa masyarakat sekitar yang juga berobat di ruang pengobatan panti. Ibu Sari terus berjalan menuju ke ruangannya dan setelah membersihkan tangan dan kaki dia berjalan menuju ke ruang makan untuk makan bersama anak anak.


Sesampai di ruang makan terlihat Marginah dan Nesya berbicara menggoda Nita, Vani dan Angga.


“Nit, Van kamu masih nge fans Angga?” tanya Nesya.


“Ya iya lah .” jawab Kita dan Vani secara bersamaan dengan wajah serius namun tetap saja imut.


“Nit, Van kamu sekarang punya rival lho...” ucap Marginah sambil menatap ke arah Angga yang mejanya berlainan.


“Rival itu apa Mbak Nah?” tanya Vani yang memang tidak tahu rival. Namun saat Marginah akan menjawab Ibu Sari sudah duduk di kursi makam, mereka semua lalu terdiam.