MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 32. Ada Bapaknya Nesya di Pasar Malam


“Haduh... Bapak kemana sih.. “ gumam Marginah sambil kepalanya celingak celinguk mencari sosok Bapaknya. Yang lainpun melakukan hal yang sama seperti yang Marginah lakukan. Namun mereka semua tidak menemukan sosok Pak Jemari. Anak anak laki laki yang besar yang sudah duduk di SMK berjalan mengitari pohon beringin namun juga tidak menemukan Pak Jemari.


“Fatima, Mawarni dan yang besar besar jaga adik adiknya ya. Kalian sudah boleh pergi untuk melihat lihat hiburan. Ibu akan mencari Pak Jemari dengan Marginah.” ucap Ibu Sari sambil menatap anak anak.


“Bu saya ikut mencari Pak Jemari ya.” pinta Angga


“Saya juga Bu.” pinta Nesya. Ibu Sari mengijinkan Angga dan Nesya ikut mencari Pak Jemari. Mereka berempat berjalan meninggalkan pohon beringin untuk mencari Pak Jemari.


“Ditelpon saja Nah. Bapakmu.” usul Angga.


“Ttidak membawa hapenya katanya biar tidak dicopet.” jawab Marginah sambil kepalanya masih celingak celinguk mencari sosok Bapaknya. Mereka terus berjalan mencari Pak Jemari tetapi belum juga menemukan.


“Bu, apa diumumkan saja.” usul Angga.


“Dicari duku aja Nga, malu didengar orang satu desa. Orang tua hilang. Kalau Nita dan Vani mending kalau diumumkan ada anak hilang.” ucap Marginah masih terus berjalan sambil menoleh kiri dan kanan celingukan mencari Bapaknya. Mereka berempat terus berjalan.


“Bu, saya haus pengen beli es cendol.” ucap Angga saat melihat ada pedagang es cendol dan es campur beberapa meter di depannya.


‘Sebentar Nga, nyari Pak Jemari dulu.” Jawab Ibu Sari karena belum tenang hatinya.


“Tapi aku haus banget.”


“Ya sudah ayo beli minum dulu, diplastik ya Nga.” Ucap Ibu Sari karena tidak tega pada Angga.


Akhirnya mereka berjalan menuju ke gerobak es cendol dan es campur. Di bawah ada tikar yang terhampar di sediakan untuk pembeli yang akan menyantap di tempat. Di dekat gerobak es cendol ada gerobak bakso di bawah juga ada tikar yang terhampar. Mendadak mata Angga menangkap sosok laki laki yang sedang duduk bersila sambil menghadap satu mangkok bakso dan sibuk menyendoki isi mangkok tersebut. Angga merasa baru saja tadi melihat baju laki laki itu.


“Itu Pak Jemari.” teriak Angga kemudian setelah yakin yang duduk bersila itu Pak Jemari.


“Bapak... Bapak itu bikin bingung orang,bikin capek orang, malah enak enak makan bakso di sini. Kami semua bingung mencari Bapak.” teriak Marginah


“Hmmmm?” gumam Pak Jemari dengan mulut penuh makanan, sambil mendongakkan kepalanya dengan tatapan mata sedikit melotot karena kaget anaknya Marginah marah marah di dekatnya bersama Ibu Sari, Angga dan Nesya.


“Bapak tadi lihat gerobak bakso lewat baunya bakso segar menggoda terus aku ikuti gerobaknya berhenti di sini. Ya sudah aku makan di sini baksonya enak, ayo ikut makan sini.” ucap Pak Jemari setelah menelan makanannya.


“Aku makannya nanti saja, takut nanti malam lapar ga bisa tidur kalau masih sore makannya.” jawab Marginah


“Iya sekarang beli es saja sama jajan gorengan saja.” usul Nesya


“Bu kita duduk di tikar sini ya ga usah diplastik.” ucap Angga yang tergoda melihat Pak Jemari yang duduk santai di tikar sambil menyendoki bakso dari dalam mangkok. Akhirnya mereka berempat turut duduk di tikar di dekat Pak Jemari. Ibu Sari memesankan es cendol dan es campur pesanan mereka berempat. Pak Jemari pun tergoda minta dipesankan.


“Bu, saya beli gorengan dulu ya.” Ijin Nesya


“Ayo Nah.” ajak Nesya sambil menarik tangan Marginah. Mereka berdua berjalan menuju ke arah pedagang gorengan. Letak tempat pedagang gorengan tidak jauh, masih bisa dilihat oleh Ibu Sari keberadaan mereka berdua.


Namun tidak lama kemudian tampak banyak orang berduyun duyun melewati di dekat mereka sehingga pandangan mata Ibu Sari terhalang oleh banyaknya orang orang yang sedang lewat. Ibu Sari tidak bisa lagi melihat sosok Marginah dan Nesya. Dan saat orang orang sudah lewat , Ibu Sari tidak melihat lagi Marginah dan Nesya yang tadi berdiri di depan pedagang gorengan. Ibu Sari tampak panik.


“Kemana mereka sudah dibilang untuk cepat kembali kenapa malah tidak terlihat.” gumam Ibu Sari lalu dia bangkit berdiri dari duduk lesehannya.


“Pak, Nga jangan pergi pergi, Ibu cari Marginah dan Nesya kok di depan pedagang gorengan tidak terlihat tetapi anaknya belum balik ke sini.” ucap Ibu Sari, lalu dia segera melangkah menuju ke tempat pedagang gorengan untuk menanyakan kemana dua anak perempuan yang baru saja membeli gorengan.


Saat Ibu Sari sudah mendekat di depan pedagang gorengan tampak Marginah dan Nesya berjalan juga menuju ke tempat itu. Ibu Sari tampak lega


“Dari mana kalian, membuat Ibu kuatir saja.” ucap Ibu Sari sambil menatap Marginah dan Nesya.


“Dari nukar uang Bu, pedagangnya tidak punya uang kembalian.” jawab Nesya sambil berjalan untuk membayar gorengan pesannya. Nesya lalu mengambil satu plastik gorengan yang sudah ia bayar baru saja. Ibu Sari lalu menggandeng tangan Marginah dan Nesya berjalan menuju ke tempat semula.


“Ngatain Bapak tapi kamu sendiri juga membuat Ibu Sari kuatir.” ucap Pak Jemari sambil menatap Marginah.


“Maaf Bu.” Ucap Marginah dan Nesya secara bersamaan.


Mereka lalu duduk di tikar sambil menyantap pesanannya. Sedangkan Pak Jemari hanya menonton mereka sebab mangkok bakso dan mangkok es campurnya sudah bersih tak bersisa masuk ke dalam perut semua.


Saat Nesya sedang menikmati makan gorengan mendadak matanya menangkap sosok Bapaknya. Tubuh Nesya mendadak gemetar karena takut.


“Bu, ada Bapak.” ucap Nesya dengan lirih dan wajah sudah mulai pucat. Marginah yang mendengar juga ikut takut lalu dengan segera mendekat ke arah Bapaknya.


“Jangan panik dan jangan melihat ke arahnya.” ucap Ibu Sari sambil mendekati Nesya. Angga yang mendengar juga mendekat ke arah Ibu Sari.


“Bu kita pulang saja.” ucap Marginah pelan karena ia masih trauma dengan kejadian waktu itu.


“Kita di sini dulu, jangan berdiri dulu. Marginah dan Nesya jangan memandang ke arah sana. Ibu saja yang mengamati dia , Ibu lihat dulu dia mau ke mana.” ucap Ibu Sari sambil mengamati Bapaknya Nesya yang sedang berjalan dengan temannya.


“Bu.. pulang saja Bu, beli bakso diplastik dibawa pulang saja Bu.” ucap Marginah


“Tapi aku pengen naik komedi putar. Sudah lama banget aku tidak naik komedi putar, sampe lupa rasanya. “ ucap Angga


“Aku pengen nonton dangdut. Kalau kita pulang aku gagal nonton dangdut dan goyang goyang.” ucap Pak Jemari


“Bapak nonton dangdut di teve saja, goyang sampai pagi tidak apa apa. Ayo kita pulang.” ucap Marginah sekali lagi