
Ibu Sari dan Sandra berjalan berdampingan menyusuri koridor menuju ke ruang kerja Ibu Sari. Di sepanjang perjalanan dari ruang makan menuju ke ruangan kerja Ibu Sari, mereka berdua berbincang bincang tentang Nyonya Naura yang akan terbang nanti sore.
Sesampai di depan pintu ruang kerjanya, Ibu Sari segera membuka kunci pintu ruang kerjanya.
“Silahkan masuk Kak Sandra.” ucap Ibu Sari kemudian dengan nada sopan dan ramah sambil beliau melangkah masuk dan seterusnya beliau duduk di kursi tamu yang ada di dalam ruang kerjanya.
“Terima kasih Bu, maaf pintu saya tutup ya..” ucap Sandra sambil menatap Ibu Sari. Dan Ibu Sari pun mempersilahkan, Sandra segera menutup rapat pintu ruangan Ibu Sari lalu dia berjalan masuk dan duduk di kursi berhadapan dengan Ibu Sari.
“Ada masalah apa Nona?” tanya Ibu Sari kemudian dengan lirih, sebab dia menyebut Sandra dengan sebutan Nona sebagai kode kalau Ibu Sari sudah tahu identitas asli Sandra, dengan maksud agar Sandra menyampaikan semua permasalahannya tanpa ditutup tutupi.
“Ibu Sari, Tante Naura sudah cerita ke saya, kalau Ibu Sari sudah tahu siapa sebenarnya saya.” ucap Sandra dengan santun sambil menatap wajah Ibu Sari.
“Benar Nona, jadi Nona tidak perlu ragu ragu jika Nona memiliki suatu masalah sampaikan saja kepada Ibu, Ibu akan berusaha membantu. Karena Nyonya Naura sudah menitipkan Nona kepada saya jadi anggap saja saya adalah wali dari Nona.” ucap Ibu Sari, dia tidak mau mengatakan agar Sandra menganggapnya sebagai orang tua, sebab Ibu Sari tahu siapa orang tua gadis berkaca mata tebal itu.
“Iya Ibu, di sini Ibu Sari yang saya anggap orang tua saya.” ucap Sandra sambil tersenyum.
“Begini Ibu, meskipun Tante Naura sudah menyampaikan pada Ibu tentang identitas saya yang sebenar nya, akan tetapi Tante belum mengatakan banyak tentang diri saya. Ibu, saya memiliki keahlian di bidang teknologi informasi.” ucap Sandra kemudian.
“Ooo saya sangat senang mendengarnya. Bisakah Nona membantu anak anak..” ucap Ibu Sari dengan mata yang berbinar binar.
“Maaf Ibu, tapi kan saya sedang menyamar menjadi Sandra sebagai anak jalanan yang ditemukan oleh Nyonya Naura. Jadi nanti malah mencurigakan kalau anak anak melihat saya pinter teknologi. Saya akan membantu tetapi saya ingin Ibu tetap menyembunyikan identitas saya. Saya akan membantu di belakang layar. Dan saya akan membantu dengan cara saya, dan semoga ada gunanya.” ucap Sandra sambil menatap Ibu Sari dan Ibu Sari mengangguk angguk paham dan menyetujui niat Sandra.
“Bu, kaca mata saya ini, ada alat yang bisa mengirim radar sesuai dengan program yang saya atur. Dan dari radar dan data yang terkirim, saya mendapatkan ada penghuni panti yang sedang dalam kegelisahan.” ucap Sandra dengan nada serius sambil terus menatap Ibu Sari
“Ha? Bagaimana kamu bisa tahu? Ibu awam untuk teknologi yang modern seperti itu Nona.” ucap Ibu Sari dengan ekspresi wajah heran dan terkejut ternyata kaca mata tebalnya ada alat canggih.
“Radar kamu bisa bekerja dengan tepat. Nesya dan Emak Baru memang sedang dalam masalah.” ucap Ibu Sari dengan ekspresi wajah terlihat kaget namun juga kagum pada alat Sandra. Lalu Ibu Sari menceritakan masalah yang menimpa pada Nesya yang sudah merupakan rahasia umum. Akan tetapi Ibu Sari masih menyimpan rapat rapat rahasia tentang Emak Baru dan Abi. Sandra pun tidak bertanya tentang masalah Emak Baru, dia tetap menghargai privasi jika Ibu Sari tidak menceritakan, Sandra tidak akan menanyakan, dia hanya memberikan suatu informasi yang mungkin akan berguna untuk penanganan masalah yang menimpa penghuni panti.
“Ibu Sari jika itu masalah Nesya nanti saya akan buatkan alat yang dipasang pada diri Nesya, dan nanti hand phone Ibu Sari saya program saya kasih aplikasi agar selalu bisa terhubung dengan Nesya, Ibu Sari akan mendapatkan informasi jika Nesya dalam bahaya dan di mana Nesya berada meskipun Nesya tidak menghubungi Ibu Sari lewat alat telekomunikasi.” ucap Sandra.
“Terima kasih Nona itu sangat membantu keselamatan Nesya. Meskipun Nesya selalu dalam pengawasan kami, tetapi kami juga sangat was was sebab bapaknya Nesya selalu mencari celah celah saat di mana Nesya dan kami lengah. Padahal semakin hari Nesya tumbuh menjadi gadis yang manis dan cantik.” ucap Ibu Sari selanjutnya yang sedih dan prihatin memikirkan nasib Nesya yang bapaknya masih saja terus ingin menjualnya.
“Terus alat apa yang dipasang pada tubuh Nesya, apa itu akan menyakitinya?” tanya Ibu Sari kemudian.
“Tidak Bu, itu nanti bisa dalam wujud gelang atau anting. Jadi orang tidak akan mencurigainya.” jawab Sandra.
“Ooo apa Ibu bisa minta dua alat itu, terus bagaimana jika itu untuk anak laki laki kan tidak mungkin pakai anting. Maaf Ibu orang kolot, tidak begitu suka jika laki laki pakai anting di telinga, Ibu melarang anak anak panti yang laki laki memakai anting. Maaf Ibu memang kolot, kuno, jadul... .” ucap Ibu Sari sambil tersenyum, dia memikirkan itu untuk Abi, Ibu Sari juga ingin Abi mendapatkan alat seperti yang akan Sandra berikan pada Nesya.
“Ibu, tenang saja jika Ibu Sari menginginkan alat alat demi keamanan panti dan penghuninya Ibu bilang saja pada saya. Untuk anak laki laki bisa cincin atau gelang atau terserah nanti maunya Ibu.” jawab Sandra sambil tersenyum.
“Saya sangat senang Nona mendengar berita ini. Terima kasih Nona.” ucap Ibu Sari sambil tersenyum senang.
“Sama sama Ibu, tapi saya juga ingin belajar tentang hidup yang benar dari Ibu, maaf saya tadi mendengar Ibu berbicara dengan para pegawai masak.” ucap Sandra sambil tersenyum
“Saya akan dengan senang hati Nona mulai besok pagi Nona boleh datang ke ruang doa lebih awal, saya sudah berada di situ.” ucap Ibu Sari sambil tersenyum menatap Sandra. Beliau sangat senang jika anak seorang pengusaha besar mau belajar tentang hidup dan kehidupan.
“Baik Bu, Terima kasih. Dan jika Ibu berkenan di malam hari saya akan membantu Ibu Sari cara membuat laporan dengan cepat. Nanti saya kasih aplikasinya.” ucap Sandra kemudian dan Ibu Sari terlihat sangat senang dan berkali kali mengucapkan terima kasih.