MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 94. Rahasia


“Maaf ya Bu...” ucap Nesya lagi sambil menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah Ibu Sari sebab dia menolak pemberian Ibu Sari.


“Nes, alat ini sangat membantu kamu dan Ibu. Kamu semakin besar kamu semakin menjadi gadis yang cantik. Dan bapakmu masih terus berusaha untuk menjualmu. Ibu sangat kuatir dengan keselamatan kamu.” ucap Ibu Sari sambil menoleh menatap wajah Nesya namun tetap dengan tatapan mata yang lembut dan teduh tidak ada kemarahan sedikitpun pada suara dan ekspresi wajah Ibu Sari.


“Dan nanti saat usiamu terus bertambah tidak mungkin juga kamu akan selalu bersama sama dengan Marginah dan Angga.” ucap Ibu Sari lagi untuk memberi pengertian pada Nesya.


“Mas Budi juga mungkin ke depan sibuk dengan kegiatannya. Ibu juga tidak mungkin akan bisa mengawal kamu terus.” tambah Ibu Sari


“Hiks... hiks... Apa semua sudah capek dan bosan melindungi saya Bu?” ucap Nesya yang kini malah menangis karena salah paham.


“Hiks.. hiks.... hiks... saya akan menghubungi Ibu saya agar Ibu pulang saja, tidak usah mencari uang banyak banyak.. saya tidak usah kuliah tidak apa apa. Yang penting saya tidak merepotkan banyak orang hiks... hiks...” ucap Nesya yang semakin terisak isak tangisnya, airmata nya pun sudah mulai banyak meleleh dan membasahi wajahnya.


“Nes, bukan begitu... semua sayang kepada kamu.. yakinlah tidak ada yang namanya bosan dan capek dalam kamus Ibu untuk melindungi kamu.” ucap Ibu Sari sambil memeluk tubuh Nesya dari samping.


“Alat ini juga wujud kasih dan perlindungan dari orang orang yang menyayangi kamu Nes. Dengan alat ini bisa memberi ketenangan pada kamu juga. Keberadaan dan kondisi kamu terpantau oleh Ibu.” ucap Ibu Sari selanjutnya sambil terus memeluk tubuh Nesya dan tangan satunya menghapus air mata Nesya yang terus meleleh di pipinya.


“Tapi Bu, anting ini?” tanya Nesya sambil memegang anting yang menempel di kupingnya.


“Kalau Ibu saya marah bagaimana?” tanya Nesya lagi.


“Ibu nanti akan menghubungi Ibu kamu.” jawab Ibu Sari sambil tersenyum lega sebab dirasa Nesya sudah mulai paham.


“Kalau kamu takut anting kamu hilang, biar Ibu yang simpan. Barang barang berharga Ibu simpan di safe deposit box. Anting kamu aku ikut amankan di sana.” ucap Ibu Sari dan terlihat Nesya berpikir pikir.


“Bagaimana?” tanya Ibu Sari sambil menatap Nesya.


“Baiklah Bu.” ucap Nesya kemudian akhirnya dia menurut pada Ibu Sari. Dia juga teringat akan pesan dari Ibu nya agar dia menurut pada Ibu Sari. Ibu Sari lalu dengan lembut membuka anting yang menempel di telinga Nesya. Dan selanjutnya beliau memasang anting baru yang juga berfungsi sebagai alat untuk mendeteksi keberadaan dan kondisi dirinya.


“Cantik.” gumam Ibu Sari sambil menatap wajah Nesya sambil tersenyum.


“Bu, boleh saya lihat di cermin Ibu Sari?” tanya Nesya karena dia ingin melihat tampilan wajahnya dengan anting barunya.


“Boleh, masuklah ke kamar Ibu.” ucap Ibu Sari sambil tersenyum menatap Nesya. Nesya pun akhirnya bangkit berdiri dan berjalan menuju ke kamar Ibu Sari untuk melihat tampilan wajahnya dengan anting barunya.


Dan tidak lama kemudian Nesya sudah berjalan keluar dari kamar Ibu Sari dengan wajah tersenyum.


“Bagus Bu, cantik.” ucap Nesya lalu duduk lagi di samping Ibu Sari.


“Kamu jangan cerita pada siapa pun jika anting ini adalah suatu alat untuk melindungi dirimu.” ucap Ibu Sari sambil membelai rambut kepala Nesya.


“Kalau bilang sama Marginah boleh tidak Bu. Pasti nanti dia akan banyak bertanya.” ucap Nesya kemudian sambil menoleh menatap Ibu Sari.


“Jangan dulu, bilang saja kamu mendapat kiriman anting baru dari Ibumu dialamatkan pada Ibu Sari.“ jawab Ibu Sari. Nesya pun tersenyum dan mengangguk setuju.


Waktu pun terus berlalu. Dan tiba saatnya Sandra untuk mohon diri, dia akan kembali ke Ibu Kota untuk melaksanakan misinya. Pagi pagi Sandra keluar dari kamarnya dia berjalan menuju ke ruangan Ibu Sari untuk pamit.


Sebelum Sandra mengetuk pintu Ibu Sari sudah membuka pintu ruangannya. Karena Ibu Sari sudah diberi tahu oleh Sandra tadi malam, kalau dia akan meninggalkan panti pagi pagi sebelum subuh.


“Silahkan masuk dulu.” ucap Ibu Sari. Dan Sandra pun masuk ke dalam ruangan Ibu Sari.


“Ibu, saya ucapkan terima kasih karena sudah sangat membantu saya dalam mengawali misi saya.” ucap Sandra dengan sopan dan ramah, surat keterangan yang dia butuhkan pun sudah dia simpan rapi di dalam tasnya.


“Sama sama Nona. Kami juga sangat mengucapkan terima kasih.” ucap Ibu Sari sambil tersenyum menatap Sandra. Sandra pun sudah membuatkan alat buat perlindungan pada Abi dan Emak Baru. Dan dia menyanggupi akan membuatkan alat lagi jika Ibu Sari membutuhkan.


“Bu, mohon doakan misi saya berhasil dan jika nanti ke depan nya anak anak panti membutuhkan pekerjaan, silahkan menghubungi perusahan keluarga saya.” ucap Sandra kemudian.


“Ibu sudah mulai mendoakan Nona. Dan Ibu yakin pasti berhasil.” ucap Ibu Sari sambil tersenyum menatap Sandra, dan memang beliau sudah mendoakan untuk kelancaran urusan Sandra.


“Terima kasih atas tawaran itu dan itu akan sangat membantu anak anak nantinya.” ucap Ibu Sari kemudian.


“Sama sama Ibu, sekali lagi saya juga mengucapkan banyak terima kasih. Dan saya mohon diri, sampaikan terima kasih saya pada penghuni panti. Saya harus pergi pagi pagi agar bisa segera mendapatkan bis.” ucap Sandra sambil bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya pada Ibu Sari.


“Baik Nona, Ibu akan mengantar Nona sampai ke jalan raya.” ucap Ibu Sari lalu bangkit berdiri membeeikan tangannya pada Sandra mereka berdua berjabat tangan dan saling berpelukan. Ibu Sari lalu berjalan untuk mengambil kunci motornya. Dan selanjutnya mereka berdua berboncengan untuk menuju ke Toko Mekar. Karena Sandra akan naik bis dari sana untuk menuju ke terminal.


Beberapa menit kemudian motor yang dikendarai oleh Ibu Sari sudah sampai di depan toko Mekar, motor di parkir di halaman toko Mekar. Ibu Sari akan membantu Sandra untuk menyeberang jalan raya dan akan menunggu hingga Sandra mendapatkan bis. Ibu Sari benar benar tidak tega meninggalkan Sandra seorang diri di tepi jalan raya pada pagi hari yang masih gelap.


Mereka berdua berdiri sambil menoleh untuk melihat kalau kalau bis yang akan ditumpangi lewat. Dan tidak lama kemudian bis yang dimaksud terlihat dari kejauhan..


“Nona hati hati ya....” ucap Ibu Sari


“Baik Bu, dan mohon simpan rahasia saya ya Bu...” ucap Sandra..


“Baik Nona Alexa...” bisik Ibu Sari dan tidak lama kemudian bis berhenti di depan mereka berdua.


..