MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 45. Kalimat yang Viral


“Bu... Ibu Sari apa sakit?” tanya Mas Budi sekali lagi dengan ekspresi wajah kuatir sebab dia melihat wajah lelah Ibu Sari


“Ooo kamu Bud, sudah pulang.. Aku tidak sakit. Ini sedang mencari data perempuan desa sini yang baru melahirkan akan tetapi tidak sepertinya bayi itu bukan dari desa sini.” jawab Ibu Sari masih berdiri di dekat pintu mobil.


“Bayi itu memiliki golongan darah langka. Penghuni panti tidak ada yang memiliki golongan darah sama seperti dirinya. Semoga saja sampai besar tidak kenapa kenapa.” ucap Ibu Sari lalu membuka pintu mobil.


“Bu, memang sepertinya bukan dari desa sini. Tadi waktu saya mengantar Pak Jemari ada perempuan naik ojek dari arah jalan panti dan turun di jalan raya sama seperti Pak Jemari nunggu bis. Ojeknya tadi berjalan di depan saya pas saya keluar panti. Mungkin bayi itu di taruh sebelum saya keluar Bu.” ucap Mas Budi dengan nada serius.


“Kamu pagi pagi dengar suara motor tidak di depan panti?” tanya Ibu Sari sambil menatap Mas Budi.


“Sepertinya ada Bu, tapi saya tidak begitu perhatikan saya pikir tukang ojek ngantar orang ke pasar. Yang saya curiga saat di jalan raya perempuan itu wajahnya sembab seperti habis nangis.” jawab Mas Budi.


“Kamu hafal tukang ojeknya tidak. Tukang ojek pangkalannya di toko Mekar bukan?” tanya Ibu Sari lagi.


“Sepertinya bukan Bu, habis menurunkan perempuan itu, tukang otaknya tidak mangkal tapi terus berjalan ke jalan raya.” jawab Mas Budi


“Coba nanti saya ke pangkalan ojek saya tanya ke sana Bu.” ucap Ibu Sari, lalu Ibi Sari membuka pintu mobil dan selanjutnya masuk ke dalam mobil.


Sedangkan Mas Budi lalu menyalakan lagi mesin motornya. Dia lega karena Ibu Sari tidak sakit, namun juga kepikiran dengan bayi yang baru saja di panti. Mas Budi menjalankan motornya meninggalkan puskesmas.


“Hmmm apa seperti itu dulu repotnya Ibu Sari saat menemukan aku, harus pontang panting ke sana ke mari untuk mengurus kesehatan dan dokumen kependudukan bayi. Belum lagi merawat dan mencari biayanya.” gumam Mas Budi dalam hati. Namun tiba tiba Mas Budi juga teringat wajah sembab perempuan yang dijumpainya tadi di jalan raya. Mas Budi lalu menambah kecepatan laju motornya dia berjalan menuju ke pangkalan ojek di dekat toko Mekar.


Dalam perjalanan Mas Budi juga merenungi nasibnya merenungi orang tuanya yang tidak dia ketahui. Meskipun Mas Budi sering dinasehati oleh Ibu Sari agar tidak ada rasa benci pada orang tuanya akan tetapi kadang terbersit rasa benci dan sakit hati kepada orang tuanya, apalagi banyak masyarakat yang bilang kalau orang tuanya hanya mau enaknya tidak mau anaknya. Kalimat itu terdengar sangat menyakitkan hati Mas Budi. Dia merasa benar benar sebagai anak yang tidak dikehendaki.


“Tapi perempuan tadi terlihat sedih dan sembab wajahnya karena menangis, kalau dia yang menaruh bayi tadi kalau dia ibu dari bayi tadi mungkin dia juga bersedih membuang anaknya. Apa Ibuku dulu juga bersedih saat membuang aku.” ucap Mas Budi dalam hati. Mas Budi terus melajukan motornya menuju ke pangkalan ojek ia ingin membantu Ibu Sari mencari siapa Ibu dari bayi yang di buang di dekat tempat sampah panti.


Seiring berjalannya waktu, jam pulang sekolah pun tiba. Di halaman sekolah anak anak sudah mulai ramai. Marginah dan teman temannya berdiri di bawah pohon yang ada di halaman sekolah menunggu jemputan Ibu Sari. Akan tetapi tiba tiba ada beberapa karyawan sekolah yang berjalan dan mendatangi mereka.


“Berita yang beredar itu benar ya?” tanya salah satu dari mereka.


“Berita apa?” tanya balik dari Angga dengan nada suara dan ekspresi wajah dinginnya yang kambuh. Marginah, Nesya dan yang lain menatap Angga.


“Kok banyak orang hari ini omong mau enaknya tidak mau anaknya sih. Maksudnya gimana tuh Nes?” bisik Marginah di telinga Nesya. Nesya hanya mengangkat bahunya kode kalau dia juga tidak tahu.


“Cuma mau hubungan badannya saja tetapi tidak mau merawat anaknya.” ucap salah seorang kakak kelas yang ikut berdiri di dekat mereka karena mendengar bisikan Marginah pada Nesya. Terlihat wajah Marginah memerah karena malu.


“Kalian kalau mau cari informasi yang bener.” ucapnya lagi sambil menatap pada Marginah dan Nesya.


“Iya Kak kalau tanya ke Ibu Sari dan Ibu Perawat he...he.. jangan tanya ke aku ya.” ucap Angga sambil tertawa karena mendengar perbincangan mereka. Marginah dan Nesya langsung memukul pundak Angga dengan tas mereka. Angga kemudian berlari meninggalkan mereka sebab dia sudah melihat mobil jemputan sudah berjalan menuju ke sekolah.


“Selamat siang Ibu Sari.” teriak Angga pada Ibu Sari yang sudah menghentikan mobilnya. Angga lalu membuka pengkait pintu bak mobil, lalu dia naik ke atas bak mobil dan duduk di bangku paling depan.


“Maaf menunggu lama ya Nga? Kamu kok lari lari apa sudah lapar?” tanya Ibu Sari sambil tersenyum.


“Tidak Bu, saya lari dari mereka. Mereka sedang membahas mau enaknya tidak mau anaknya.” jawab Angga. Marginah dan Nesya yang sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Ibu Sari terlihat malu dan juga takut jika di marah oleh Ibu Sari. Marginah menoleh ke belakang menatap Angga.


“Awas.” gumam Marginah sedangkan Angga hanya tersenyum menyeringai. Sementara itu Ibu Sari yang mendengar hanya membatin sudah saatnya memberi penjelasan pada anak anak remaja agar mereka tidak mencari informasi di tempat yang salah.


Ibu Sari lalu menjalankan mobilnya meninggalkan sekolah, mobil terus melaju namun beberapa menit mobil berhenti di suatu mini market.


“Ibu mau beli untuk keperluan adik baru kalian.” ucap Ibu Sari lalu dia mematikan mesin mobilnya.


“Bu, saya ikut ya.. “ ucap Angga lalu dia juga turun dari mobil. Angga dan Ibu Sari lalu berjalan masuk ke dalam mini market, sedangkan yang lain menunggu di mobil. Anak anak yang duduk di dalam bak mobil tidak kepanasan sebab Ibu Sari memarkir mobilnya di bawah pohon.


“Angga mau beli apa?” tanya Ibu Sari


“Angga mau membelikan keperluan adik bayi Bu.” jawab Angga sambil terus berjalan di belakang Ibu Sari. Angga lalu mengambilkan keranjang kereta.


“Ibu Sari ambil saja yang diperlukan nanti saya bayar pakai kartu debit saya.” ucap Angga. Ibu Sari tersenyum lalu memeluk pundak Angga dari samping.