
“Pak, kita pulang saja Pak... aku takut Pak.... aku takut dijual Bapaknya Nesya, aku takut Pak.. ” ucap Marginah lagi di sela sela isak tangisnya. Tangannya masih memeluk erat tubuh Pak Jemari. Pak Jemari terlihat bingung sambil memandangi kaki dan tangan Marginah yang lecet lecet dan biru legam. Pak Jemari hanya bisa mengusap usap punggung Marginah agar lebih tenang. Ibu Sari juga terlihat mengusap usap kepala Marginah.
“Nah ayo ke ruang pengobatan dulu kita obati dulu luka lukamu.” ucap Ibu Sari selanjutnya beliau kuatir akan terjadi infeksi jika tidak segera diobati.
“Nesya juga masih di sana.” ucap Angga pada Marginah.
“Ayo aku gendong kamu, digendong kayak ngendong kibot (maksudnya Pak Jemari keyboard ) atau kayak bawa karung.” ucap Pak Jemari berusaha bercanda agar Marginah tersenyum namun Marginah yang masih ketakutan tidak menghiraukan candaan Pak Jemari. Marginah masih terus menangis minta pulang.
“Nah kalau pulang percuma aku mengantar kamu ke sini, aku sudah meninggalkan tanaman dan sapi. Terus kalau kamu kembali ke rumah, kalau tidak sekolah kamu mau jadi apa? katanya kamu mau jadi anak yang pintar, sekolah tinggi bisa jadi dokter, bisa ngobati adik adik kalau sakit, mengobati Nenek kalau sakit, mengobati kalau ada tetangga sakit...” ucap Pak Jemari mengingat ngingat alasan Marginah ingin sekolah tinggi.
“Kalau pulang bapak tidak bisa nyekolahkan kamu, sekolah SMP jauh harus ngojek kamu berangkat pagi pagi sekali nanti pulang sampai rumah sudah sore hari, uang untuk ojek banyak Nah kalau ngekost apalagi bapak tidak punya uang, adik adikmu juga butuh biaya.”ucap Pak Jemari selanjutnya
“Ayo Nah diobati dulu, Pak digendong saja, sepertinya masih lemes tubuhnya.” ucap Ibu Sari. Lalu Ibu Sari berjalan meninggalkan mereka karena melihat bapak bapak petani yang mengantar Marginah dan mengantar sepeda Marginah sudah datang. Ibu Sari terlihat menyambut mereka dan selanjutnya mengajak mereka ke ruang makan. Angga dan anak anak yang lain juga ikut ke ruang makan. Sedangkan Mas Budi membawa sepeda Marginah yang masih rusak. Setelah makan siang Mas Budi akan memperbaikinya.
Sementara itu Marginah masih menangis dan menyembunyikannya wajahnya di dada Pak Jemari. Pak Jemari menghapus air mata Marginah yang terus berderai. Pak Jemari lalu mengendong tubuh Marginah di bawa ke ruang pengobatan. Ruang pengobatan berada di samping ruang doa. Ada seorang petugas panti yang selalu berada di ruang itu. Tetapi Ibu Perawat itu hanya datang di pagi dan pulang sore hari sekitar jam tiga. Tidak menginap di panti.
“Pak langsung ditidurkan di tempat pembaringan.” ucap Ibu Perawat saat melihat Pak Jemari yang mengendong Marginah berada di depan pintu. Terlihat Nesya masih duduk di kursi terlihat luka lukanya sudah selesai diobati oleh Ibu Perawat. Nesya masih terus duduk menunggui Marginah sampai selesai diobati.
Pak Jemari lalu dengan segera menidurkan Marginah di tempat pembaringan yang berada di ruang pengobatan tersebut. Ibu Perawat membuka sedikit kancing baju Marginah lalu menempelkan alat stetoskop untuk mengecek kesehatan Marginah. Dan selanjutnya dengan telaten Ibu Perawat membersihkan luka luka di tubuh Marginah. Beberapa kali Marginah meringis kesakitan dan merasakan perih.
“Kalau kamu sekolah di sini kamu bisa belajar pada Ibu Perawat, Nah” ucap Pak Jemari memberi semangat Marginah yang sedang menurun semangatnya.
“Ooo pengen jadi perawat ya, Ibu senang jika kamu jadi perawat nanti bisa belajar dan membantu tugas Ibu di panti ini.” ucap Ibu Perawat yang masih dengan sabar mengobati luka luka Marginah.
“Wah itu sangat bagus, Ibu senang, terharu dan kagum dengan cita cita luhurmu. Kalau sedang libur bisa membantu Ibu di sini kamu sekalian belajar.” ucap Ibu Perawat sambil mengambil alat tensi. Ibu Perawat lalu mengecek tekanan darah Marginah setelah selesai mengobati luka luka Marginah.
Ibu Perawat lalu membuka kulkas yang berada di dalam ruang tersebut. Ibu Perawat mengambil satu kotak besar susu cair yang berada di dalam kulkas. Lalu menuangkan pada dua buah gelas, selanjutnya diberikan pada Marginah dan Nesya yang masih setia menunggui Marginah. Pak Jemari hanya bisa melihat sambil menelan air liurnya.
Setelah kedua anak itu selesai menghabiskan susunya. Ibu Perawat memberikan obat buat mereka berdua, sambil memberikan petunjuk aturan minum dan mengaplikasikan pada lukanya. Pak Jemari dan kedua anak itu lalu mengucapkan terimakasih pada Ibu Perawat dan selanjutnya mereka berjalan meninggalkan ruang pengobatan menuju ke ruang makan.
“Nah, maaf ya karena aku, kamu jadi begini.” ucap Nesya saat berjalan di samping Marginah. Mereka berdua berjalan masih terpincang pincang. Pak Jemari yang berjalan di belakang mereka melihat kedua anak itu jalannya terpincang pincang lalu Pak Jemari menggandeng tangan Marginah dan Nesya, dia berada di tengah di antara mereka berdua. Marginah masih terlihat diam saja.
“Nah maafin aku ya....” ucap Nesya sekali lagi sambil menoleh ke arah Marginah. Kali ini Marginah malah menangis lagi. Di depan mereka terlihat Ibu Sari dan Angga berjalan menuju ke arah mereka. Melihat Marginah yang menangis langkah kaki mereka dipercepat.
“Nah ojo nangis tho, aku bingung.” ucap lirih Pak Jemari yang sudah kehilangan akal untuk membujuk Marginah.
“Pak kita pulang saja... aku takut Pak, takut dikejar kejar dan dijual. Nesya ikut kita saja hua... hua... hua.... “ ucap Marginah yang sekarang pecah lagi tangisnya dengan suara yang lebih keras sambil menyandarkan kepalanya di tubuh Pak Jemari. Marginah masih takut dan kasihan pada Nesya maka dia ingin Nesya juga ikut pulang ke rumahnya.
Ibu Sari lalu dengan segera menghampiri Marginah. Ibu Sari menyuruh Nesya dan Pak Jemari segera makan ke ruang makan. Dan menyuruh Angga mengambilkan makan buat Marginah dan membawanya ke ruang kerja Ibu Sari. Ibu Sari lalu memapah Marginah untuk berjalan menuju ke ruang kerjanya. Ibu Sari tahu jika Marginah merasakan trauma akan kejadian yang baru saja menimpanya. Ibu Sari membuka pintu ruang kerjanya dengan pelan pelan lalu membawa masuk Marginah. Didudukkannya Marginah di kursi panjang lalu Ibu Sari duduk di sampingnya. Dipeluk tubuh Marginah dari samping.
“Nah... kami akan menjaga kalian dengan lebih ketat. Besok kamu dan Nesya ijin dulu. Kamu dan Nesya belajar di panti dulu, sampai kamu siap berangkat ke sekolah lagi. Dan itupun akan diantar jemput Mas Budi.”
“Ingat cita citamu Nah, anggap kejadian ini sebagai ujian awal dalam kamu meraih cita cita. Kamu harus kuat. Mana Marginah yang kuat, bersemangat dan selalu menjadi juara. Mosok kalah dengan orang jahat. Jangan sampai cita cita luhurmu dikalahkan oleh orang jahat, ayo semangat.”
“Iya Nah ayo semangat, aku sudah akan semangat belajar loh aku akan belajar sama kamu, kalau kamu pulang gimana coba.” ucap Angga yang sudah nyelonong masuk ke dalam ruang kerja Ibu Sari sambil membawa satu piring nasi lengkap dengan sayur dan lauk pauk buat Marginah. Angga memberikan piring nasi itu pada Marginah namun Marginah masih diam saja. Dia diam mencerna omongan Ibu Sari dan Angga.