MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 50. Menjadi Orang Miskin bukan Takdir


Mas Budi lalu berjalan menuju ke kamarnya. Saat melewati kamar tamu dia teringat lagi Pak Jemari. Mas Budi membelokkan langkahnya dia berjalan menuju ke pintu kamar tamu itu. Dia membuka pelan pelan pintu itu, tidak dikunci kamar tamu tampak gelap. Mas Budi berjalan menuju ke tempat saklar lampu berada dia pencet tombol saklar lampu itu, tidak ada satu orang pun di sana. Kamar juga sudah tampak bersih tidak ada lagi barang barang Angga. Sepertinya Angga sudah benar benar berada di kamar bersama anak anak panti yang lain. Mas Budi lalu mematikan lagi lampu yang berada di kamar tersebut. Dia lalu berjalan meninggalkan kamar tamu itu.


“Hmm Angga yang mempunyai orang tua lengkap dan kaya raya akhirnya juga harus mau menerima kenyataan hidup bersama anak anak panti yang lain.” gumam Mas Budi dalam hati lalu dia berjalan menuju ke kamarnya.


Mas Budi masuk ke dalam kamar. Dia duduk di tepi tempat tidurnya. Masih merenungi kata kata Marginah dan juga kata kata Ibu Sari.


“Apa jika aku sudah menjadi orang sukses akan ada orang yang mengaku sebagai orang tuaku.” gumam Mas Budi lagi. Mas Budi lalu meraih sebuah map yang isi berkas berkas formulir pendaftaran masuk Universitas Terbuka. Dia memang sudah menyampaikan keinginannya kepada Ibu Sari untuk bisa kuliah tetapi tetap masih punya waktu membantu mengurus panti. Akhirnya dia akan mendaftar masuk di Universitas Terbuka.


Mas Budi lalu mengisi lembar lembar formulir itu. Di saat harus mengisi data diri dia memang merasakan sakit di dadanya, sebab harus mengisi tanggal dan tempat lahir juga nama orang tua kandung. Benar benar pembuat formulir itu tidak memahami orang orang yang bernasib seperti Mas Budi. Mas Budi lalu mengisi formulir itu sesuai akta yang sudah dia punya.


“Apa Abi besok juga akan merasakan hal yang sama.” gumam Mas Budi sambil terus mengisi formulir formulir itu.


“Nesya juga pernah mengatakan kalau dia benci harus mengisi formulir, sebab di akta nya tertulis namanya Bapaknya sebagai orang tua. Padahal itu adalah nama orang yang selalu membuatnya ketakutan.” gumam Mas Budi lagi. Dia lalu segera menyelesaikan pengisian formulir formulir itu, lalu dia segera menutup map dan ditaruhnya map di.meja. Mas Budi lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


Pagi harinya seperti biasanya anak anak Sudah siap berangkat ke sekolah mereka sudah berdiri di halaman panti yang akan numpang mobil antar jemput sekolah. Sedangkan yang naik sepeda dan jalan kaki sudah mulai keluar dari pintu gerbang pagar panti.


Pagi ini giliran kelas Marginah yang akan ada test di pagi hari.


“Sudah siap test kamu Nes? Kalau aku tidak akan tanya pada Marginah sebab dia di test sewaktu waktu juga siap.” ucap Angga yang berdiri di dekat Nesya dan Marginah.


“Perasaanku sudah Nga, tapi entahlah nanti saat test.” jawab Nesya.


“Aku juga heran sama Marginah padahal kita makan makanan yang sama di panti, tapi dia cepet nyantol kalau diajar guru. Ngerjain soal soal juga wes wes selesai dan benar.” ucap Nesya selanjutnya.


“Kalau aku wes wes selesai dan salah...” ucap anak yang lain yang juga berdiri di dekat mereka.


“Pagi pagi itu aku baca baca yang akan diajar guru. Terus kalau ada soal soal latihan segera dikerjakan dan babat habis semua soal.soal latihan.” ucap Marginah sambil matanya melihat pintu ruangan Ibu Sari, dia kuatir jika Ibu Sari masih sibuk mengurus Abi dan membuat nanti tergesa gesa lagi dan ngebut lagi.


Tidak lama kemudian pintu terbuka dan muncul sosok Ibu Sari sudah berpakaian rapi tidak memakai daster panjang lagi seperti kemarin. Abimana pun sudah berada di dalam gendongan Ibu Sari. Beberapa anak berlari mendekati Ibu Sari lalu mencium pipi Abi yang sudah wangi.


“Sudah Kakak Kakak cium nya nanti lagi, keburu telat. Abi ikut Ibu Perawat dulu. “ ucap Ibu Perawat yang sudah berdiri di dekat mereka. Ibu Perawat segera mengambil alih Abi dari tangan Ibu Sari, lalu dibawa ke ruang pengobatan. Di dalam ruang pengobatan ada satu buah kamar tidur yang biasa dipakai istirahat Ibu Perawat, dan Abi pun dibaringkan di tempat tidur itu.


Ibu Sari yang sudah berada di dalam mobil segera menjalankan mobil menuju ke sekolah.


“Marginah tadi malam bilang apa ke Mas Budi?” tanya Ibu Sari sambil menoleh ke arah Marginah.


“Bilang apa ya Bu, kok saya lupa.” jawab Marginah malah balik tanya.


“Takdir gimana Nah?” tanya Ibu Sari menyelidik.


“Oooo takdir yang sudah menentukan kita jadi anak siapa dan itu tidak bisa memilih Bu. Kata Bapak saya, sudah takdirnya saya jadi anaknya Pak Jemari. Kalau sudah takdir tidak bisa diubah.” jawab Marginah dengan serius sambil menatap Ibu Sari.


“Tapi menjadi orang miskin itu bukan takdir, jadi bisa diubah. Sekarang saya miskin, saya ingin mengubah, maka saya rajin belajar biar jadi dokter kata Ibu Sari kemarin nanti kalau jadi dokter sudah diangkat jadi pegawai dapat uang banyak ha...ha...” ucap Marginah selanjutnya sambil tertawa.


“Iya tapi kamu kan mau membantu orang orang katamu.” saut Nesya sambil menyikut tubuh Marginah.


“Iya Nes, tetep bisa tenang saja buat kamu dan keluargamu gratis tidak akan aku punggut bayar, aku sudah dikasih tahu strateginya sama Ibu Sari, ya Bu.. ya..” ucap Marginah sambil menoleh menatap Ibu Sari. Ibu Sari mengangguk sambil tersenyum dan tetap fokus mengendalikan kemudi mobilnya.


“Iya kalau kalian sungguh sungguh berusaha dan berdoa pasti akan tercapai cita cita kalian. Dan Ibu akan ikut senang dan bahagia.” ucap Ibu Sari beberapa saat kemudian dan mobil pun sudah sampai di depan halaman sekolah. Tidak seperti kemarin yang mereka tiba pas bel tanda masuk berbunyi kini waktu mereka tiba masih ada waktu buat anak anak mencium tangan Ibu Sari.


“Belajar sungguh sungguh ya.” ucap Ibu Sari pada mereka semua.


“Iya Bu...” jawab mereka semua.


Ibu Sari lalu segera melajukan mobilnya kini dia pulang dengan tenang sebab Abi sudah aman di tangan Ibu Perawat.


Sesampai di halaman panti, Ibu Sari melihat Mas Budi berada di depan ruangannya. Terlihat Mas Budi sudah tampil rapi. Ibu Sari segera memarkir motornya.


“Bud, kursus kan agak siang, pagi pagi kok sudah rapi?” tanya Ibu Sari saat sudah berada di depan ruangannya.


“Mau menyerahkan formulir pendaftaran Bu, saya pakai daftar yang tidak on line, sekalian mau tanya tanya.” jawab Mas Budi


“Ooo bagus.” ucap Ibu Sari lalu membuka pintu ruangannya.


“Bu saya juga akan ke kantor polisi nanti pulangnya.” ucap Mas Budi sambil mengikuti langkah Ibu Sari.


“Apa kamu tidak terlambat pergi ke kursusmu nanti. Kantor Universitas Terbuka kan di kota.” ucap Ibu Sari sambil menoleh ke arah Mas Budi


“Sekalian pulang kan lewat Bu, hanya melaporkan sebentar.” jawab Mas Budi.


“Ya sudah yang penting tetap hati hati jangan ngebut naik motornya.” ucap Ibu Sari sambil menyerahkan kunci motor ke Mas Budi.