MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 68. Jangan Mengkuatirkan yang Belum Pasti


Waktu terus berlalu, semua penghuni panti tidur dengan nyenyak karena mereka kecapekan siangnya kerja bakti dan sehabis makan malam setelah belajar mereka membahas rencana kegiatan penyambutan tamu donatur dari ibu kota.


Jam tiga dini hari Emak Baru sudah terbangun karena tidur lebih awal. Abi pun tidak rewel karena malamnya sudah dikasih susu dengan kenyang oleh Ibu Sari dan pempers nya juga sudah diberi yang baru yang bisa menyerap air seni lebih banyak.


“Abi sepertinya bisa diajak kerja sama tidak membuat aku terbangun di malam hari.” gumam Emak Baru lalu dia mulai bangkit berdiri. Dia lalu berjalan menuju ke kamar mandi untuk cuci muka dan membuang air kecil yang sudah tidak bisa dia tahan.


Beberapa menit kemudian Emak keluar dari kamar mandi dia lalu meringkasi peralatan dan kebutuhan Abi di taruh ke dalam tas yang memang khusus untuk keperluan Abi. Tas warna biru yang terlihat sangat bagus, kata Ibu Sari itu tas yang membelikan Angga. Emak Baru lalu mengambil baju yang sudah menjadi miliknya, dia hanya mengambil beberapa lembar saja.


“Ambil tiga saja cukup yang penting keperluan Abi. Sebenarnya aku suka semua baju baju ini. Tapi nanti akan berat membawanya.” gumam Emak Baru dalam hati sambil melihat lihat baju yang sebenarnya dia sayang untuk meninggalkannya.


Setelah selesai menaruh semua keperluan di dalam tas. Emak Baru bangkit berdiri dan berjalan menuju ke tempat tidur di mana Abi masih tertidur.


“Nak, ganti pampersnya dulu ya..” ucap Emak Baru sambil meraih tubuh Abi lalu melepas pempers yang menempel di tubuh bagian bawah Abi. Abi yang merasa tidurnya terganggu lalu merengek menangis.


“Jangan nangis Nak, kita mencari tempat yang aman buat kamu. Aku tak ingin ada orang yang mengetahui jati dirimu dan nyawamu terancam.” gumam Emak Baru terus melepas pempers Abi dan menggantinya dengan yang baru. Sedangkan Abi terus saja menangis, karena selain tidurnya terganggu kini dia juga sudah merasakan haus dan lapar.


Emak Baru lalu terlihat membuatkan susu buat Abi setelah selesai memakaikan pempers. Setelah selesai dia segera memberikan botol dot susu itu ke mulut mungil Abi. Emak Baru sudah menyoba mengeluarkan Asi nya akan tetapi belum bisa keluar sudah disuruh oleh Ibu Sari untuk melalukan pemijatan pelan pelan dan mengambil daun ketuk di kebun belakang untuk dibuat sayur, tetapi Emak Baru belum sempat melakukan malah ada berita tamu donatur dari Ibu kota.


“Anak pintar sudah tidak menangis lagi. Besok kita main lagi ke sini ya.. menengok Ibu Sari dan kakak kakak, sekarang kita cari tempat yang aman.” ucap Emak Baru sambil tersenyum menatap Abi yang terlihat sudah diam sambil meminum susunya. Dan tidak lama kemudian susu satu botol dot sudah masuk ke dalam perut kecil Abi.


“Ayo Nak, mumpung belum terdengar adzan subuh. “ ucap Emak Baru sambil mengangkat tubuh Abi. Lalu Emak Baru mengendong Abi dengan kain gendongan selanjutnya dia mengambil tas yang sudah dia siapkan.


“Ibu Sari terimakasih banyak dan maafkan saya.” ucap Emak Baru sambil meleleh air matanya. Dia lalu berjalan menuju ke pintu kamar. Dia buka pelan pelan kunci pintu, lalu dia putar handel pintu kemudian dia dorong pelan pelan daun pintu tersebut akan tetapi daun pintu itu tetap rapat menutup. Emak Baru lalu terlihat memutar mutar lagi kunci.


“Kayaknya kalau gini malah terkunci.” gumam Emak Baru setelah memutar lagi kunci. Dia berkali kali memutar mutar kunci dan mendorong daun pintu tetapi gagal.


“Kok tidak bisa dibuka ya, apa kunci rusak.” gumam Emak Baru yang tidak tahu kalau pintu digembok Ibu Sari dari luar dan belum dibuka oleh Ibu Sari.


“Apa lewat jendela saja ya, tapi kok kayak pencuri.” gumam Emak Baru lalu berjalan menuju ke arah jendela kamar itu.


Emak Baru pelan pelan membuka selot penutup salah satu jendela yang lebar lebar itu. Setelah Emak Baru menarik dengan kuat selot penutup jendela, Emak mendorong kuat kuat daun jendela yang sangat lebar, meskipun daun jendela terbuat dari kayu akan tetapi terasa sangat berat. Setelah daun jendela itu terbuka terasa hembusan angin dingin menerpa wajah Emak Baru. Abi pun terdengar merengek mungkin merasakan terpaan dingin angin mengenai wajahnya.


“Sabar ya Sayang.” ucap Emak lalu menutup wajah Abi dengan ujung kain gendong. Emak melihat situasi luar kamar dari jendela yang sudah terbuka itu. Dalam kegelapan pagi terlihat banyak tanaman tanaman di luarnya.


“Hmmm sepertinya itu hanya taman di dalam panti, ada pintu di seberang sana tetapi sepertinya itu pintu sebuah ruangan.” gumam Emak lalu menutup lagi daun jendela itu sebab di luar kamar yang terhubung dengan jendela sebuah taman di dalam lingkungan panti yang di keliling oleh tembok tembok kamar kamar dan ruangan ruangan, ada satu pintu untuk masuk ke dalam taman itu adalah pintu belakang ruang aula. Dan pintu itu ditutup dari dalam aula.


Emak Baru lalu menutup lagi daun jendela itu. Dia lalu melangkah lagi menuju ke pintu kamar.


“Dicoba lagi mungkin sekarang bisa.” gumam Emak Baru lalu mencoba membuka kunci pintu itu lagi. Dia sekarang mendorong dengan sangat kuat. Dan kini pintu sudah bisa terbuka. Emak Baru tampak lega. Saat membuka pintu lebih lebar betapa terkejutnya dia karena melihat sosok Ibu Sari di depan pintu, Ibu Sari berdiri tegak. Ibu Sari baru saja membuka gembok yang tadi malam dia kaitkan di pintu luar.


Emak Baru terlihat mengucek ucek matanya, untuk memastikan dia halusinasi atau sebuah kenyataan ada Ibu Sari di depan matanya.


“Mak mau pergi ke mana pagi pagi masih gelap begini?” tanya Ibu Sari lalu masuk ke dalam kamar tamu itu, sambil mengandeng tangan Emak Baru agar ikut kembali masuk ke dalam kamar tamu. Emak Baru tidak bisa berkata kata hanya bisa terisak isak menangis, dan melangkah mengikuti Ibu Sari.


Ibu Sari lalu duduk di salah satu tempat tidur itu, dan Emak Baru pun didudukkan di samping Ibu Sari. Ibu Sari menatap tajam ke wajah Emak Baru, sedangkan Emak Baru tidak berani menatap wajah Ibu Sari dia hanya menunduk sambil terisak isak menangis.


“Maaf Bu saya takut saya bingung saya kuatir dengan keselamatan Abi ke depannya, takut dengan tamu tamu donatur panti kalau lama lama tahu jati diri Abi.. .” ucap Emak Baru masih tertunduk dan terisak isak, sekarang ujung kain gendongan sudah tidak untuk menutup wajah Abi tetapi untuk menghapus air mata yang terus meleleh.


“Mak, kenapa Emak mengkuatirkan hal yang belum pasti.” ucap Ibu Sari sambil mengusap usap punggung Emak Baru.


“Waspada itu harus Mak, tetapi jangan terlalu mengkuatirkan sesuatu yang belum pasti, hingga Emak malah salah dalam mengambil tindakan.” ucap Ibu Sari dengan nada serius dan penuh penekanan agar Emak paham.


“Sekarang jawab pertanyaanku Emak mau kemana?” tanya Ibu Sari sekali lagi.