MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 54. Ancaman Nesya


“Nes, Bapak Polisi hanya minta keterangan tidak akan membawa Abi.” ucap Ibu Sari sambil menatap Nesya


“Tapi kan Bapak Polisi akan mencari orang tuanya Abi, terus akan ke sini dan mengambil Abi. Kasihan Abi ..” ucap Nesya dengan serius dan wajahnya sudah bersemu merah.


“Saya tidak mau kasih keterangan Bu.” ucap Nesya lagi dengan mantap sambil menatap Ibu Sari.


“Nes itu tidak boleh itu melawan hukum katanya warga harus memberikan keterangan sejujur jujurnya jika dibutuhkan sebagai saksi.” ucap Marginah sambil menatap Nesya.


“Awas kalau kamu memberi keterangan aku tidak mau lagi bersahabat dengan kamu.” Ancam Nesya sambil menatap tajam ke arah Marginah. Sampai Marginah terlonjak kaget lalu Marginah menatap wajah Ibu Sari.


“Baiklah.” ucap Ibu Sari lalu dia mengusap usap pundak Nesya dan selanjutnya Ibu Sari berjalan meninggalkan mereka, beliau berjalan ke luar ruang makan. Beliau juga menyuruh anak anak bubar pergi istirahat ke kamarnya. Ibu Sari terus berjalan menuju ke ruang tamu dan diikuti oleh Mas Budi. Tidak lama kemudian sesampai di ruang tamu Ibu Sari langsung masuk ke dalam ruang tamu.


“Pak maaf, tolong ditunda saja ya kalau Bapak minta keterangan pada anak anak yang menemukan bayi itu. Bapak bisa minta keterangan pada saya. Tetapi untuk kedua anak itu ditunda dulu saja. “ ucap Ibu Sari sambil duduk di kursi.


“Kenapa Bu?” tanya salah satu Bapak Polisi


“Salah satu anak yang menemukan bayi itu adalah anak yang dulu diculik Bapaknya yang kami pernah melaporkan kejadian tersebut pada pihak kepolisian. Anak itu ada rasa kekuatiran jika bayi itu juga akan dijual oleh Bapaknya jadi dia merasa bayi itu aman di sini. Takut kalau Ibunya mengambil malah berbahaya bagi bayi tersebut.” Jawab Ibu Sari.


“Oooo kita malah tidak berpikir sampai seperti itu.” ucap Bapak Polisi dengan ekspresi wajah kaget.


“Iya Pak, anak anak kami bermacam macam latar belakang mereka mempunyai cara pandang sendiri sendiri sesuai latar belakangnya. Nanti saya jelaskan pelan pelan agar tidak ada konflik diantara kami.” ucap Ibu Sari kemudian.


“Ibu sangat hebat bisa mengurus anak anak dengan segala latar belakang.” ucap Bapak Polisi memuji Ibu Sari


“Hanya doa kekuatan saya Pak. Baiklah sekarang apa yang ingin Bapak tanyakan.” ucap Ibu Sari. Lalu mereka selanjutnya tampak berbicara serius. Bapak Polisi tanya banyak hal tentang penemuan bayi dan Ibu Sari menjawab sesuai dengan apa yang ia ketahui.


Tiba tiba di saat Ibu Sari masih menemui Pak Polisi ada dua mobil bagus bagus masuk ke halaman panti. Dan tidak lama kemudian dari dua mobil itu keluar delapan anak perempuan yang cantik cantik dengan memakai baju yang bagus bagus. Mereka berjalan dengan pandangan celingukan mencari cari orang. Mereka lalu melihat pintu ruang tamu yang terbuka, mereka semua lalu berjalan menuju ke ruang tamu.


“Permisi...” ucap beberapa gadis muda itu secara bersamaan.


Ibu Sari yang masih memberikan keterangan kepada Bapak Polisi menoleh ke arah suara.


“Mas Budi, tolong temui mereka ajak mereka ke aula dan panggil teman teman mereka anak kelas dua dan tiga SMP.” ucap Ibu Sari sambil menoleh ke arah Mas Budi yang masih duduk di samping Ibu Sari. Mas Budi menganggukkan kepala lalu bangkit berdiri, dan berjalan menuju ke luar pintu.


“Ayo, ikut aku.” ucap Mas Budi lalu berjalan menuju ke aula. Karena ruang tamu hanya ada satu sehingga mereka di bawa ke aula.


“Mas, kenapa kita dibawa ke aula kita mau main biasa tidak mau memberi bantuan.” ucap salah seorang dari mereka saat Mas Budi sudah membuka pintu aula. Sebab dia pernah datang secara resmi bersama rombongan memberi bantuan diterima di aula dan ditemui oleh pengurus dan anak anak panti. Mas Budi hanya diam saja sebab dia tidak tahu acaranya, hanya patuh pada perintah Ibu Sari.


“Silahkan duduk dulu.” ucap Mas Budi sambil menata kursi kursi yang semula masih dilipat berada disandarkan di dinding aula. Setelah kursi cukup untuk mereka Mas Budi berhenti menata kursi.


Tidak lama kemudian beberapa anak panti yang duduk di kelas dua dan tiga SMP datang memasuki aula sambil tersenyum ramah. Akan tetapi gadis gadis itu tampak kaget. Namun tidak bisa berkata kata hanya senyum di wajahnya sudah tidak ada.


“Tumben kalian main ke panti.” ucap Fikri yang tadi disuruh Angga untuk menemui gadis gadis remaja itu.


“Aku ga bawa bantuan ga bawa sumbangan.” ucap salah satu rombongan gadis itu dengan ketus.


“Jangan dikira ya kalau datang ke panti harus bawa sumbangan dan bantuan.” ucap Fikri tidak kalah ketus, sebenarnya dia mau bIlang sumbangan tidak seberapa tapi hebohnya di media sosial hingga sampai seantero penjuru dunia. Akan tetapi Fikri hanya menyimpan itu di dalam hati.


“Betul kalian boleh main tidak harus membawa bantuan kok.” ucap salah satu anak panti yang lain membenarkan ucapan Fikri.


“Kami ke sini mau ketemu Ibu Sari dan Angga. Yok kita tungguin Ibu Sari saja.” ucap salah satu dari mereka lalu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke luar aula.


Anak anak panti hanya saling pandang sambil mengangkat kedua bahu mereka. Fikri yang sudah mendapat mandat dari Angga lalu bangkit berdiri dan selanjutkan keluar aula juga mengikuti langkah kaki gadis gadis remaja itu.


Gadis gadis itu menoleh karena merasa langkah kakinya ada yang mengikuti.


“Kamu ngapain sih ngikuti kami.” teriak salah satu dari mereka dengan nada tinggi.


“Suka suka aku dong pakai kaki kakiku sendiri.” ucap Fikri santai dan terus mengikuti mereka.


Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di dekat ruang tamu. Tampak Ibu Sari sudah berada di luar mengantar Bapak Bapak Polisi yang sudah pamit akan pulang.


“Bu.. Bu Sari kami mencari Angga bukan orang kribo ini.” teriak salah satu dari mereka sambil menunjuk ke arah Fikri yang memang memiliki jenis rambut keriting.


Ibu Sari dan kedua Bapak Polisi itu menoleh ke arah teriakan gadis muda itu. Kedua polisi itu tampak heran sekaligus turut prihatin dengan banyaknya masalah masalah yang muncul yang harus dihadapi oleh Ibu Sari.


“Bu, kami pamit ya, terimakasih dan semoga Ibu selalu diberi kekuatan dan kesabaran.” ucap salah satu polisi itu lalu mereka berjabat tangan dan bapak bapak Polisi itu berjalan menuju ke mobilnya.


“Bu, kami mencari Angga, kami ke sini mau mencari Angga.” ucap salah satu gadis gadis itu saat sudah berada di dekat Ibu Sari.


“Baiklah ayo kita temui Angga.” ucap Ibu Sari.


“Asyikkkkk.” teriak mereka semua.


“Ayo Fikri kamu ikut.” ucap Ibu Sari kemudian lalu Ibu Sari mengunci pintu ruang tamu terlebih dahulu. Sedangkan Mas Budi sudah keluar dari ruang tamu lebih dahulu sambil membawa gelas kosong jamuan untuk Bapak Bapak Polisi.


Ibu Sari lalu berjalan menuju ke kebun belakang di sampingnya Fikri, sedangkan gadis gadis muda itu mengikuti berjalan di belakang Ibu Sari.