MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 81. Tak Bisa Tidur


Emak Baru terus saja meleleh air matanya. Maskernya pun sudah mulai basah karena air matanya. Ibu Sari dan Mbah Parjan yang duduk di dekatnya menepuk nepuk pundak Emak Baru.


“Bu, kira kira masih ada tamu lagi tidak ya?” tanya Emak Baru sambil menghapus air matanya agar tidak lagi semakin membuat maskernya basah.


“Ada apa Mak?” tanya Ibu Sari sambil menatap Emak Baru.


“Kalau tidak ada tamu lagi saya mau buka masker Bu.” jawab Emak Baru. Dia kuatir jika membuka masker lalu ada tamu lagi dan mengenal dirinya akan berbahaya.


“Tidak ada, buka saja.. mau makan ya.” ucap Ibu Sari karena terlihat beberapa anak anak sudah membagikan box makanan. Ibu Sari tidak begitu memperhatikan masker Emak Baru yang sudah basah oleh air mata.


“He... he... juga sama itu Bu, tapi ini masker saya basah, saya terharu dengan puisi Nesya, ini kalau diperas satu ember air mata saya.” ucap Emak Baru lalu membuka maskernya.


Sedang kan kedua tamu masih menikmati hiburan dari anak anak. Marginah pun maju ke panggung tidak menjadi MC tetapi tampil pentas secara spontanitas dia menyanyi lagu gundul gundul pacul sambil menari diiringi oleh gitar Angga namun Angga tetap duduk di bawah panggung. Marginah yang memakai kain batik dan kebaya juga menari dengan gestur tubuh kocak Marginah, membuat tertawa seluruh isi aula. Emak Baru pun kini juga sudah mulai tertawa melihat gerakan Marginah.


“Heleh Nesya dan Marginah satu orang bikin menangis satu orang bikin tertawa.” ucap Emak Baru sambil terus terbawa melihat gerakan Marginah.


Nyonya Naura pun terlihat tertarik dengan penampilan Marginah, tampak dia menoleh ke arah Ibu Sari untuk menanyakan nama Marginah.


“Anak itu terlihat pintar dan percaya diri juga lucu.” ucap Nyonya Naura kemudian sambil. Kembali menoleh menatap Marginah yang masih menari. Dan tidak.lama kemudian aksi Marginah sudah selesai lalu dia melanjutkan tugasnya sebagai MC.


“Hah.. capek juga.. begitulah penampilan spontanitas dari saya, mohon maaf jika tidak berkenan. Acara selanjutnya..... “ ucap Marginah menggema di ruang aula dan nafasnya yang tersengal sengal juga terdengar karena dia habis menari.


“Kita nikmati makan malam yang sudah tersaji, terimakasih buat Bunda Naura dan Kak Sandra.” ucap Mawarni yang sudah berdiri di samping Marginah.


“Menunya apa?” tanya Marginah yang masih di atas panggung sambil tersenyum.


“Sate.....” teriak anak anak dengan gembira. Mereka semua lalu melakukan doa sebelum makan dipimpin oleh Fatima. Dan setelahnya mereka menikmati makan malam dan beberapa anak masih ada yang tampil di panggung.


Acara penyambutan tamu donatur pun akhirnya berakhir dengan waktu yang tidak begitu larut. Sebab pagi harinya ada acara latihan ilmu bela diri yang sekaligus sebagai acara yang ditampilkan untuk tamu. Dan setelah sarapan anak anak dan pegawai panti akan menikmati hadiah istimewa rekreasi di tempat tempat pariwisata.


“Mak, besok Emak ikut saja pikniknya, tetapi Abi ditinggal saja. Saya dan Nyonya Naura tidak ikut, ada hal penting yang akan kami bicarakan.” ucap Ibu Sari saat berjalan meninggalkan ruang aula.


“Kalau Abi ikut saya bagaimana Bu. Saya juga bingung pengen ikut tapi kasihan Abi. Saya juga pengen rekreasi Bu.. kemarin kemarin stres dengan masalah saya.” ucap Emak Baru sambil berjalan di samping Ibu Sari.


“Kasihan kalau Abi ikut Mak, nanti kena angin, kena udara ac bis, ketemu banyak orang. Nanti kalau sakit malah kasihan anaknya. Biar ikut saya saja .” ucap Ibu Sari sambil terus berjalan.


“Kamu sekarang pompa asimu. Nanti di taruh di kulkas, besok pagi Abi kamu kasih asi sampe kenyang.” ucap Ibu Sari saat sudah berdiri di depan kamar Emak Baru. Emak Baru menganggukkan kepalanya. Dia ingat ucapan Marginah yang penting nurut pada Ibu Sari. Emak Baru lalu mohon diri untuk masuk ke dalam kamar.


Marginah dan teman temannya pun sudah masuk ke dalam kamar. Meskipun sudah dipesan oleh Ibu Sari agar mereka semua segera pergi tidur agar besok pagi bisa bangun dalam keadaan segar akan tetapi mereka semua tidak bisa tidur karena begitu bahagianya.


“Aku tuh tidak menyangka besok kita akan dapat hadiah wisata. Bagai mimpi saja.” ucap Marginah meskipun mereka semua sudah terbaring di tempat tidur masing masing.


“Besok kemana ya... kata Bunda Naura surprise.” ucap Nesya


“Aku sih inginnya ke pantai atau wahana wisata air lainnya bosen kalau ke gunung aku sejak bayi sudah di gunung.” ucap Marginah.


“Tapi besok kan Ibu Sari dan Bunda Naura tidak ikut, kemungkinan kecil kalau wisata ke pantai Nah.. pasti mereka kuatir.” ucap Mawarni yang juga sudah berbaring di tempat tidurnya tapi juga tidak bisa terpejam matanya.


“Ya tidak apa apa tidak ke pantai yang penting wisata... wisata.... ha... ha... ke gunung juga tidak apa apa kan tempatnya beda.. pasti bagus kalau tempat wisata tidak seperti sawah Bapakku.” ucap Marginah menghibur diri.


“Tapi sawah Bapakku juga bagus loh kalau pagi pagi atau sore itu.. seger dan ada latar belakang puncak gunung .....hmmm jadi kangen juga.” gumam Marginah.


“By the way kenapa Ibu Sari dan Bunda Naura tidak ikut ya, katanya akan ada urusan penting.” ucap Fatima yang tadi terpejam matanya akan tetapi juga belum bisa tidur.


“Mungkin akan mendaftar anak anak yang akan dapat tabungan.” ucap Marginah dengan sangat berharap.


“Kamu pasti dapat Nah, kamu kan ranking terus. “ ucap Nesya


“Semoga Nes, kalau masuk fakultas kedokteran kata Kak Fatima mahal kalau sejak sekarang aku dapat tabungan beasiswa kan lumayan.” ucap Marginah dengan pandangan mata menerawang jika mengingat biaya untuk kuliah di kedokteran sangat mahal dia kadang pesimis.


“Iya semoga pembicaraan yang membahagiakan bukan pembicaraan yang membuat Ibu Sari tambah masalah.“ ucap Fatima selanjutnya.


Sementara itu Ibu Sari di dalam kamar nya pun juga belum bisa memejamkan matanya.. Dia juga sedang memikirkan ada masalah apa dengan Sandra kenapa Nyonya Naura harus berbicara empat mata dengan dirinya.


“Apa gadis itu juga bernasib seperti Emak Baru, hamil karena menjadi korban.” gumam Ibu Sari. Beliau hanya membolak balikkan tubuhnya di tempat tidur belum bisa tidur.


“Gadis itu memang sekilas tampak tidak menarik tetapi saat aku perhatikan matanya sangat indah, akan tetapi tertutup kaca mata tebal. Tubuhnya pun terlihat indah meskipun tertutup oleh baju yang longgar. Kalau laki laki buaya pasti bisa melihat kelebihan gadis itu. Hmmm semoga saja tidak terjadi hal buruk pada gadis itu.” gumam Ibu Sari, lalu dia melantunkan doa demi kebaikan semua....