
Pak Jemari berusaha memejamkan matanya. Akan tetapi gagal hanya mata yang terpejam namun pikirannya masih berputar putar teringat akan cerita Mbah Parjan tentang makhluk halus.
“Tadi saat mendengarkan cerita Mbah Parjan tampak seru. Mbah Parjan bisa melihat banyak makhluk halus di sungai dekat rumahnya, di bukit, di kebun... hiii .. kok sekarang aku mrinding kalau ingat cerita Mbah Parjan.” gumam Pak Jemari sambil membolak balikkan badannya karena tetap tidak bisa tidur.
“Mbah Parjan ilmunya sudah tinggi sampai bisa berbicara dengan makhluk halus dan tidak takut malah makhluk halusnya yang takut. Kata Mbah Parjan hati harus bersih agar makhluk halusnya takut. Kata Mbah Parjan kalau hati bersih jadi Allah yang menguasai. Aku akan sembahyang biar hatiku bersih.” gumam Pak Jemari lalu dia bangkit berdiri lalu menuju ke kamar mandi dan seterusnya dia melakukan sembahyang.
“Kok aku masih takut ya, apa hatiku belum bersih.” gumam Pak Jemari saat sudah selesai sembahyang.
“Ah tapi aku percaya Allah bersamaku. Berani berani aku tidak takut.” ucap Pak Jemari lalu dia membaringkan tubuhnya dan lama lama sudah terlelap dan kembali bermimpi menjadi jagoan yang bisa mengalahkan makhluk halus. Pagi harinya Pak Jemari terbangun karena suara ketukan pintu yang bertubi tubi.
“Pak bangun Pak aku mau segera mandi, aku mau ke sekolah.” teriak Angga dengan lantang. Pak Jemari lalu segera bangun dan membukakan pintu.
“Mas Angga, aku kira makhluk halus yang mengetuk ngetuk pintu.” ucap Pak Jemari saat melihat sosok Angga di depan pintu.
“Makhluk halus apa, kalau mau masuk makhluk halus tidak usah ketuk ketuk pintu Pak, langsung saja menerobos.” ucap Angga langsung menerobos tubuh Pak Jemari dan segera masuk ke kamar.
“Mas, mana Mbah Parjan?” tanya Pak Jemari yang tidak melihat sosok Mbah Parjan saat melongok lombok ke luar kamar.
“Sudah pulang.” jawab Angga lalu masuk ke kamar mandi.
Beberapa hari kemudian, Angga mendapat kabar bahagia kalau Oma sudah selesai operasi dan operasi berhasil. Kondisi Oma berangsur membaik.
“Pak, operasi Oma sudah berlancar lancar dan kondisi Oma sudah membaik. Terimakasih ya Pak sudah mau menemani Angga.” ucap Angga pada suatu hari sepulang dia dari sekolah.
“Sama sama Mas Angga, jadi saya boleh pulang ya?” ucap Pak Jemari sambil menatap Angga dengan tatapan sendu. Dia senang mendengar kabar berita tentang kemajuan kondisi kesehatan Oma tetapi juga ada rasa sedih berpisah dengan Angga dan kehidupan di panti. Apalagi dia sangat bersedih tidak bisa melanjutkan belajar pada Mbah Parjan. Akan tetapi dia tahu tidak mungkin akan terus tinggal di panti meninggalkan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.
“Iya Pak, kasihan Mak dan adik adik Marginah. Juga tanaman Pak Jemari, kalau Pak Jemari terlalu lama di sini.” ucap Angga.
“Iya Mas, terimakasih kasih ya uang sepuluh jutanya, sebagian sudah dibelikan anak sapi, saya juga ingin segera melihatnya.” ucap Pak Jemari, yang sudah diberi tahu Pak Kades dan Mak Dinah kalau sebagian uangnya dibelikan anak sapi agar bisa berkembang dan kotorannya bisa untuk pupuk organik.
“Syukurlah Pak, kalau uangnya bermanfaat aku turut senang.” jawab Angga sambil merangkul pundak Pak Jemari yang duduk di tepi tempat tidur. Lalu mereka berdua berjalan menuju ke ruang makan untuk makan siang bersama.
Setelah acara makan siang Pak Jemari menyampaikan kepada Ibu Sari kalau dia akan pamit pulang.
“Bu, saya mau pamit beneran, Oma sudah membaik kesehatannya. Saya nitip Marginah ya Bu.” ucap Pak Jemari yang mendekat di meja makan Bu Sari.
“Iya Pak, alhamdulillah kalau kondisi Oma sudah membaik. Dan Pak Jemari tenang saja, kami akan menjaga Marginah dengan baik. Pak Jemari pulang besok pagi pagi saja. Sekarang sudah siang kalau berangkat sekarang nanti sampai sananya tengah malam Pak Jemari kesulitan cari bis ke terminal kecilnya.” ucap Ibu Sari sambil menatap Pak Jemari.
“Iya Pak sama sama.” ucap Ibu Sari dan tiba tiba anak anak yang sudah meninggalkan ruang makan kembali berduyun duyun datang lagi mendekati Pak Jemari, karena mereka baru saja mendengar dari Angga kalau Pak Jemari akan pulang.
“Sepi kalau tidak ada Pak Jemari.” ucap salah satu dari mereka. Dan tiba tiba Nesya dengan wajah berurai air mata berjalan membelah kerumunan teman temannya terus mendekat ke tempat Pak Jemari.
“Bapakkkk.” ucap Nesya sambil memeluk Pak Jemari. Pak Jemari yang paham Nesya merindukan sosok seorang bapak lalu memeluk tubuh Nesya. Marginah juga segera mendekat dan ikut memeluk keduanya.
“Bapak bisa datang lagi ke sini.” ucap Ibu Sari menghibur mereka.
“Ongkosnya mahal Bu.” gumam Marginah yang paham kondisi keuangan keluarganya. Pak Jemari yang mendengar menepuk nepuk pundak Marginah.
“Pak Jemari kapan pulangnya?” tanya salah satu dari anak anak yang mengerumuni Pak Jemari.
“Besok pagi.” jawab Ibu Sari
“Bu, nanti kita buat acara malam perpisahan ya.” usul salah satu dari mereka. Ibu Sari menyetujuinya. Lalu mereka diminta menyiapkan aula yang biasa dipakai untuk acara bersama. Ibu Sari pun lalu pergi meninggalkan ruang makan akan menyiapkan semua yang akan digunakan untuk acara perpisahan. Kini hanya ada Pak Jemari, Marginah dan Nesya.
“Nah, akan ada acara apa?” tanya Pak Jemari pada Marginah, Marginah hanya mengangkat kedua bahunya.
“Mana aku tahu Pak.” jawab Marginah kemudian, lalu Marginah menatap Nesya butuh penjelasan dari Nesya yang sudah lama menjadi penghuni panti.
“Nanti kita ada acara perpisahan di aula. Ayo ke sana ikut membantu menyiapkan.” ucap Nesya sambil bangkit berdiri.
“Aula kayak waktu acara penyambutan Papinya Angga?” tanya Marginah dengan wajah kuatir. Nesya tampak mengangguk.
“Nanti Bapak harus tampil ke depan untuk pidato gitu kayak Papinya Angga itu. Mana Bapakku bisa. Belum latihan lagi.” ucap Marginah dengan menatap Nesya.
“Haduh mau pulang saja kok harus pidato to Nah. Nanti kamu yang mewakili Bapak saja. Bapak gemetar kalau omong di depan banyak orang.” ucap Pak Jemari dengan wajah kuatir
“Aku juga belum bisa Pak.” ucap Marginah.
“Aku pulang secara diam diam saja sekarang ya.” usul Pak Jemari.
“Jangan Pak, nanti Ibu Sari marah kalau Pak Jemari pulang diam diam sekarang. Ayo kita ke aula. Senang pokoknya nanti malam. Kita happy happy. Aku nanti mau spontanitas baca puisi khusus untuk Bapakku Pak Jemari.” ucap Nesya sambil menarik tangan Marginah dan Pak Jemari. Telapak tangan Marginah dan Pak Jemari sudah terasa dingin karena takut akan acara nanti malam.
“Kamu senang tidak harus pidato.” gumam Pak Jemari sambil mengikuti langkah Nesya menuju ke aula panti.