MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 57. Dilancarkan Urusannya


Pak Jemari sesaat hanya terdiam saja. Dia ingin dan senang hati bisa membantu pihak kepolisian. Akan tetapi Pak Jemari benar benar tidak tahu nama tempat di mana perempuan itu turun dari bis.


“Pak, Pak Jemari apa teleponnya rusak lagi, kok tidak ada suaranya.” ucap Mas Budi


“Tidak Mas, tidak rusak, tapi aku bingung mau bikang apa, aku benr benar tidak tahu nama tempat perempuan itu turun. Hanya di suatu tempat di pinggir jalan ada pohon pohon besar besar di pinggir jalan itu. Perempuan itu tidak turun di terminal atau di pasar atau di lampu merah.” ucap Pak Jemari kemudian.


“Ya sudah Pak, aku nanti kirim nomor pak Jemari ke pak polisi ya. Nanti biar Pak Polisi yang tanya tanya ke Pak Jemari. “ ucap Mas Budi


“Lha daladah terus aku mau diwawancara gitu mau interpiyu gitu Mas. Aku kok sudah deg deg an Mas.” jawab Pak Jemari dengan nada kaget dan kuatir menjadi satu karena Mas Budi menyebut kata polisi.


“Santai saja Pak, hanya ditanya tanya, mungkin Pak Polisi mancing mancing Pak Jemari terus nanti Pak Polisi jadi tahu nama tempat di mana perempuan itu turun.” ucap Mas Budi menenangkan Pak Jemari


“Lha dalah kopiah habis diwawancara kok malah aku akan dipancing tho Mas. Terus seberapa besar pancingnya, aku kok mumet dulu Mas.” ucap Pak Jemari yang tambah bingung.


“Maksudnya dipancing dengan pertanyaan, misalnya perempuan itu turun sebelum terminal besar apa setelah terminal besar. Kira kira berapa jam sebelum atau setelah terminal besar.” ucap Mas Budi memberi penjelasan pada Pak Jemari


“Haduh aku harus belajar ini, harus mengingat ingat dulu. Tidak sekolah kok malah pakai di test segala, Pak Polisi lagi yang akan mengetes. Kalau lulus terus aku jadi apa Mas?” tanya Pak Jemari sambil tersenyum nyengir


“Jadi Pak Jemari. He... he...” jawab Mas Budi sambil tertawa kecil.


“Sudah ya Pak, aku mau menghubungi Pak Polisi. “ ucap Mas Budi selanjutnya lalu memutus sambungan telponnya, dan segera mengirim nomor kontak Pak Jemari ke nomor kontak Pak Polisi.


“Jangan dulu, aku belajar dulu, aku ingat ingat dulu. Weleh kok yo harus duduk sebelah dengan perempuan itu to yo.. yo.. Mas.. mas..." ucap Pak Jemari, akan tetapi Mas Budi sudah menutup sambungan teleponnya.


"Kok sudah ditutup, aku yang nelpon dia main tutup saja." gumam Pak Jemari.


Mak Dinah yang berada di dekat Pak Jemari sejak tadi mendengarkan pembicaraan Pak Jemari yang sedang telepon.


“Masalah apa pak, masalah perempuan?” tanya Mak Dinah sambil memangku Sofa anaknya yang bungsu.


“Iya Mak, tapi kamu jangan cemburu lagi ya nanti salah paham lagi.” jawab Pak Jemari sambil menatap wajah Mak Dinah.


“Masalah apa to Pak, kok aku dengar ada perempuan ada polisi, sampeyan buat masalah apa? Membawa kabur perempuan orang?” tanya Mak Dinah sambil menatap tajam ke arah Pak Jemari suaminya.


“Jangan aneh aneh to Pak, orang kita tidak buat masalah saja, masalah akan datang dengan sendirinya, apa lagi kalau kita buat masalah.” ucap Mak Dinah selanjutnya.


“Nah itu Mak yang bener, aku itu tidak buat masalah. Tetapi masalah datang sendiri, duduk di sebelahku waktu di dalam bis aku pulang dari panti.” ucap Pak.Jemari dengan ekspresi wajah serius.


“Perempuan itu namanya Masalah?” tanya Mak Dinah lagi


“Bukan Mak, tidak tahu siapa nama perempuan itu. Masalahnya ya perempuan itu yang tahu tahu duduk di sebelahku dan ada kemungkinan dia yang membuang bayi di panti. Bayi itu ditemui oleh Marginah dan Nesya. Mas Budi lapor polisi. Jadi Pak Polisi akan mewawancarai aku.” Jawab Pak Jemari


“Oooo lha jadi pusing sampeyan Pak harus berurusan dengan Polisi.” ucap Mak Dinah


“Ya sudah Pak, dibantu selagi kita bisa membantu. Katanya kalau kita membantu orang lain, Allah juga akan membantu kita. Kalau kita memudahkan dan melancarkan urusan orang lain, Allah juga akan memudahkan dan melancarkan urusan kita.” ucap Mak Dinah


“Iya Mak. Kita menitipkan Marginah di panti bukan kita melepas tanggung jawab kita, kita berusaha untuk kelancaran pendidikan Marginah. Dan aku dapat rejeki nomplok dari Mas Angga, itu besok kalau sapi sudah beranak berapapun anaknya separo dijual akan aku berikan ke panti Mak.” ucap Pak Jemari


“Kalau beranak satu bagaimana Pak?’ tanya Mak Dinah


“Ya dijual satu, uangnya separo aku transfer.” jawab Pak Jemari


Yo wis Mak aku mau belajar mengingat ingat dimana perempuan itu turun. “ ucap Pak Jemari selanjutnya lalu dia bangkit dari tempat duduknya lalu melangkahkan kaki.


“Awas lho jangan mengingat ingat perempuannya.” ucap Mak Dinah sambil menoleh menatap Pak Jemari.


“Tidak Mak, hanya kamu yang selalu kuingat." ucap Pak Jemari lalu dia berjalan menuju ke belakang. Dia mencari cari pakaian yang dulu dia pakai saat pulang dari panti akan tetapi sudah tidak ada. Dia akan mencari selembar tiket bis yang dia masukkan ke dalam saku bajunya.


“Pasti sudah dicuci Mak Dinah.” gumam Pak Jemari lalu dia berjalan menuju ke kamarnya. Dia lihat ada tumpukan baju menggunung yang sudah dicuci Mak Dinah akan tetapi belum dilipat karena belum sempat. Pak Jemari mencari cari baju yang dulu dia pakai. Akhir nya ketemu, dia langsung mencari sakunya dan mencari tiket di saku masih ada atau sudah dibuang oleh Mak Dinah.


“Cari apa tho Pak, mau bantu nyetrika apa?” tanya Mak Dinah yang sudah ikut masuk ke dalam kamar.


“Katanya mau belajar mengingat ingat tempat kok malah membongkar bongkar pakaian.” ucap Mak Dinah selanjutnya sambil melihat apa yang dilakukan Pal Jemari.


“Ini aku mau belajar Mak, mencari ini nih tiket bis, untuk tidak kamu buang. Ini ada tulisan kota kota dan desa desa yang dilalui bis. Untuk masih bisa dibaca meskipun sudah kusut.” Ucap Pak Jemari sambil menunjukkan selembar kertas pada Mak Dinah


“Iya Pak, aku tidak rogoh rogoh saku bajumu, karena aku tahu selama bertahun tahun jadi istrimu tidak ada uang nyelip di saku bajuku saat aku cuci cuci he....he....” ucap Mak Dinah sambil tertawa kecil.


"Hanya hati yang terselip ha...ha..ha." ucap Pak Jemari sambil tertawa.


“Pak, mbok sekalian itu dilipati bajunya, membantu pekerjaan domestikku Pak, aku kan sudah membantu sampeyan juga kerja di sawah di kebun, ke sana ke mari waktu sampeyan di panti.” ucap Mak Dinah selanjutnya.


“Iya iya Mak, kok pinter kamu sekarang Mak, setelah rajin ikut kumpulan Ibu Ibu.” jawab Pak Jemari


Pak Jemari menyimpan tiket bis yang sudah ditemukan dan dia baca baca sekilas kota kota dan desa desa yang tertulis di sekembar tiket bis itu. Pak Jemari sambil mengingat ingat kira kira di desa mana perempuan itu turunnya, dia melipat lipat baju yang sudah menggunung itu. Marginah sekarang sudah tidak tinggal di rumah, pekerjaan Mak Dinah yang biasanya dikerjakan Marginah memang jadi sering tertunda dikerjakan. Dulu kalau Marginah pulang sekolah dia mengambilkan jemuran jemuran pakaian lalu langsung dilipatnya. Sekarang Stela hanya bisa membantu mengangkat jemuran.


Sementara itu beberapa hari kemudian, Nesya dan Marginah pun juga sudah diantar oleh Ibu Sari ke kantor polisi. Marginah dan Nesya yang awalnya takut takut tetapi akhirnya mereka merasa rileks dan bisa menjawab semua apa yang ditanyakan oleh Pak Polisi. Pak Polisi menanyakan dengan cara yang santai dan dengan nada suara yang ramah, tidak dengan nada suara serius dan ketus jadi Marginah dan Nesya bisa lancar dan tenang dalam menceritakan kejadian yang dilihat dan dilalukannya.


Pak Jemari pun juga sudah di telepon oleh Pak Polisi untuk dimintai keterangan. Sama halnya dengan Marginah dan Nesya, yang awalnya Pak Jemari takut takut, namun dengan cara Pak Polisi yang memintai keterangan dengan nada yang ramah, sopan dan santai akhirnya rasa takut Pak Jemari hilang dan bisa lancar memberikan keterangan yang diminta oleh Pak Polisi.


Dan...


Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Dan pada suatu hari, dua orang Polisi membawa seorang perempuan datang menuju ke panti.


Saat itu di sore hari di saat anak anak panti sedang bertugas mengerjakan jadwal piket sorenya. Anak anak yang menyapu di halaman melihat ada mobil polisi sambil membawa seorang perempuan terlihat kaget dan salah satu dari mereka berlari untuk memberi tahu pada Ibu Sari. Sementara yang lain mempersilahkan ketiga tamu tak diundang itu untuk menunggu di ruang tamu.