MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 72. Emak Baru Kepo


Selanjutnya mereka bertiga melanjutkan pekerjaannya sambil berbincang bincang ringan. Emak Baru kini sudah tidak lagi terlihat sedih ada garis senyuman di bibirnya. Hingga tidak terasa masakan mereka pun sudah akan matang. Terlihat ibu pegawai masak yang tidak janda membuat adonan kue yang akan dipakai untuk snack sore hari.


“Sudah selesai Mak, ini tinggal nunggu adonan mengembang terus nanti digoreng di dapur belakang. Emak boleh istirahat kasih susu dulu Abi itu anaknya sudah melek.” ucap ibu itu sambi menyimpan adonan yang sebanyak dua baskom besar.


“Emak tidak usah bantu di dapur belakang kasihan Abi kalau kena asap.” ucapnya lagi.


“Iya Bu, saya mau ke kebun belakang dulu mau cari daun ketuk nanti saya masak sendiri kalau semua kompor sudah tidak dipakai.” ucap Emak sambil bangkit berdiri. Dia akan menuruti saran Ibu Sari untuk membuat sayur daun ketuk agar Asi nya keluar lagi.


“Sini Abi saya gendong dari pada nanti kena ulat di kebun.” ucap Ibu Pegawai masak yang bukan janda. Dia ingat pesan Ibu Sari untuk ikut mengawasi Emak Baru, kuatir jika nanti kalau dari kebun belakang terus melarikan diri. Emak lalu menyerahkan Abi dia percaya Ibu itu meminta Abi karena takut jika Abi akan terkena ulat bulu.


“Hati hati Mak jangan sampai kena ulat bulu. “ ucap Ibu Pegawai masak yang janda sambil tersenyum. Emak Baru tersenyum sambil berjalan menuju ke kebun belakang. Dia belum pernah menuju dan masuk ke dalam kebun belakang. Dia hanya tahu ditunjukkan oleh Ibu Sari lokasinya dekat dapur belakang


“ini dapur belakangnya, tadi Mas Budi di sini belah belah kayu.” gumam Emak lalu dia penasaran dengan apa yang sudah dibuat oleh Mas Budi tadi. Emak lalu berjalan menuju ke dapur belakang. Dilihat di dapur belakang ada banyak kayu bakar dan juga peralatan masak yang sangat besar besar.


“Ooo buat nasi dan air minum di sini pakai kayu bakar.” ucap Emak saat membuka peralat masak yang besar besar berisi nasi dan air Putih yang sudah matang. Emak memang belum pernah masuk ke dapur belakang, dia baru membantu memasak di dapur samping ruang makan.


“Apa aku masak sayur ketuk di sini saja, biar tidak pakai gas. Kasihan Ibu Sari. Nanti aku bantu goreng goreng kue di sini. Abi aku titip ke Mawarni kalau sudah pulang atau dititip ke Ibu Perawat dulu.” gumam Emak Baru lalu dia berjalan meninggalkan dapur belakang untuk menuju ke kebun belakang.


Sesampai di kebun Emak mencari cari tanaman ketuk. Dia melihat banyak tanaman obat di kebun.


“Apa Marginah mengambil jahe dan serai nya di sini juga, Jamunya apa saja ramuannya enak rasanya dan bener bener pusing jadi hilang.” gumam Emak Baru masih terus berjalan di kebun untuk mencari tanaman ketuk. Dia akhirnya menemukan tanaman katuk di pagar pembatas kebun.


“Ooo belakang ada jalan, menuju ke mana ya itu luas sekali lokasi panti ini. Apa panti ini punya Ibu Sari ya..” gumam Emak Baru yang belum juga memetik daun katuk tetapi masih melihat melihat kebun.


Dan tiba tiba terdengar suara


KRUSEK KRUSEK KRUSEK...


Mendengar suara krusek krusek di bagian bawah dekat kakinya Emak Baru langsung meloncat karena kaget.


“Ulat... ulat... ulat..” teriak Emak sambil meloncat


“Eh ular..” teriak Emak yang sudah meloncat sambil melihat ke arah bawah dengan ekspresi wajah yang kuatir. Emak mencari cari apa yang menyebabkan suara krusek krusek. Akan tetapi Emak sedikit lega saat yang dilihat di bawah adalah ayam.


“Kok lama Mak, ini Abi sudah merengek minta minum.” ucap Ibu yang mengendong Abi.


“Maaf Bu.” ucap Emak sambil mengambil Abi dari gendongan setelah menaruh daun ketuk.


“Cuci tanganmu dulu. Dan nanti biar aku yang masak kan daun katukmu itu. Kamu istirahat sambil kasih minum Abi saja.” ucap Ibu pegawai masak yang janda yang sudah selesai memasak buat anak anak panti. Emak hanya menuruti perkataan ibu ibu senior itu dan mengucapkan terimakasih.


Emak lalu berjalan menuju ke kamar nya untuk membuatkan susu buat Abi. Sambil mengendong Abi dan memberikan susu pada Abi. Emak berjalan menuju ke ruang pengobatan. Dia akan bertanya pada Ibu Perawat bagaimana caranya memijat agar asi nya bisa keluar lagi.


“Mumpung sepi tidak ada yang berobat.” gumam Emak kemudian melangkah menuju ke ruang pengobatan. Kemarin dia akan datang akan tetapi sedang ada masyarakat sekitar yang berobat jadi ditunda. Sesampai di depan ruang pengobatan Emak lalu mengetuk ngetuk pintu.


“Masuk.” suara ibu perawat dari dalam. Emak lalu membuka pelan pelan daun pintu ruang pengobatan itu.


“E... Abi, ada apa Mak? Katanya Emak tadi pusing ya?” tanya Ibu Perawat saat melihat siapa yang masuk. Emak lalu duduk di depan Ibu Perawat.


“Iya Bu, tapi sudah sembuh diobati mbak Marginah dan mbak Nesya. Begini Bu, maaf mengganggu saya mau tanya bagaimana caranya memijat ini agar Asi nya keluar.” ucap Emak Baru sambil malu malu.


“Kalau asi saya keluar kan lumayan Bu, bisa hemat ibu Sari dan Mas Angga tidak usah beli susu yang mahal mahal.” ucap Emak Baru lagi.


“Bagus kalau Emak berniat memberi asi lagi buat Abi. Asi itu bagus buat bayi selain hemat Mak. Nanti Abi jadi sehat tidak mudah sakit, jika minum asi juga ada kedekatan jiwa nanti antara Emak dan Abi.” ucap Ibu Perawat sambil mengambil alat peraga.


“Selain dipijat, Emak juga harus banyak makan sayur dan yang penting juga pikiran harus rileks, tenang, jangan pusing pusing.. Sini aku ajari cara mijitnya, aku tidak punya anak tapi aku tahu dari ilmu yang aku dapat.” ucap Ibu Perawat lalu memperagakan cara memijit dengan alat peraga.


“Ooo ibu belum punya anak?” tanya Emak Baru dengan ekspresi kaget karena tidak menyangka kalau ibu perawat belum punya anak padahal dilihat bagai wanita yang sudah cukup umur.


“Belum atau tidak Mak he.. he.. orang bilang aku itu perawan tua Mak, aku belum nikah.” jawab Ibu Perawat sambil terus memperagakan cara memijit dengan alat peraga.


“Ooo maaf Bu.” ucap Emak dengan ekspresi wajah sedih merasa turut berempati.


“Tidak perlu minta maaf Mak, maka Emak tidak usah pusing pusing, di sini itu banyak temannya yang nasibnya tidak seperti yang diharapkan oleh orang pada umumnya.” ucap Ibu Perawat, Emak Baru menganggukkan kepala sambil memandang wajah Ibu Perawat, dia kepo kenapa Ibu Perawat belum menikah, padahalnya wajahnya cantik, kulit putih bersih, postur tubuh juga tinggi semampai dan tentu saja dia pasti pintar, pasti saat muda sangat cantik dan menarik.


“Emak lihat tanganku, katanya tanya cara memijit agar Asi keluar. Kok malah melihat wajahku, aku sudah tua Mak.” ucap Ibu Perawat karena melihat wajah Emak bengong tidak melihat tangannya yang memperaga cara memijit di alat peraga.