
Waktu terus berlalu dan kini merupakan malam persiapan terakhir kali buat anak anak. Setelah mereka selesai makan malam mereka berjalan menuju ke ruang aula. Kursi dan persiapan panggung sudah mereka kerjakan tadi siang sepulang sekolah. Mereka semua kali ini tidak tidur siang karena menyelesaikan persiapan ruangan.
Sementara itu Emak Baru masih membantu membereskan ruang makan bersama anak anak panti yang bertugas. Dia tidak menggendong Abi sebab Abi yang setelah selesai menyusu Emak, diambil alih oleh Ibu Sari agar Emak tidak terlalu repot bekerja. Setelah selesai membantu membereskan ruang makan Emak berjalan menuju ke ruangan Ibu Sari untuk mengambil Abi.
“Sepi, semua anak berada di aula.” gumam Emak Baru saat berjalan di sepanjang koridor dari ruang makan menuju ke ruangan Ibu Sari. Biasanya ada anak hilir mudik entah dari kamar menuju ke ruang perpustakaan, dari kamar menuju ke kamar mandi atau mereka berjalan ke antar kamar. Saat ini benar benar sepi tadi anak anak yang bertugas membereskan ruang makan setelah selesai juga segera menghambur ke ruang aula.
Tidak lama kemudian Emak Baru sampai di depan ruangan Ibu Sari. Emak Baru mengetuk ngetuk pintu dengan pelan pelan. Tetapi sudah berkali kali Emak Baru mengetuk ngetuk, pintu tetap tertutup rapat.
“Bu.. Bu Sari.” teriak Emak Baru namun tetap saja pintu tertutup.
“Bu... saya mau ambil Abi .. Bu..” teriak Emak Baru lagi, namun tetap tidak ada sautan suara dari dalam.
“Apa Ibu Sari juga ikut di aula.” gumam Emak Baru lalu dia membalikkan tubuhnya dan berjalan dengan cepat setengah berlari menuju ke aula. Dia sedikit takut dengan suasana panti tempat yang begitu luas dengan banyak ruangan dan bangunan tetapi sepi tidak ada tanda tanda kehidupan.
Emak Baru tampak lega saat mendengar suara anak anak di dalam ruangan aula. Pintu aula yang lebar dan tinggi terbuka lampu di dalam ruang aula bersinar terang benderang. Emak Baru belum pernah menginjakkan kakinya memasuki ruangan aula itu.
“Hmm besok tidak ikut, sekarang saja melihat anak anak latihan yang terakhir.” gumam Emak Baru lalu pelan pelan dia berjalan masuk. Di panggung tampak Nita dan Vany sedang bernyanyi sambil diiringi gitar oleh Angga dan Mas Budi, terlihat sambil bernyanyi Nita dan Vany bergoyang goyang tubuhnya dan mereka berdua bernyanyi dengan ekspresi wajah tersenyum ceria.
“Pinter juga ternyata mereka berdua.” gumam Emak Baru sambil memandang ke arah panggung. Emak Baru lalu akan berjalan menuju ke tempat Ibu Sari duduk, akan tetapi Emak Baru tampak ragu ragu sebab terlihat Ibu Sari sedang duduk dan berbicara serius dengan seorang laki laki yang memakai baju hitam hitam.
“Siapa dia.” gumam Emak Baru lalu dia duduk di kursi di belakang agak jauh dari Ibu Sari dan laki laki yang berbaju hitam hitam itu. Dan beberapa saat kemudian Ibu Sari menoleh ke arah Emak Baru sebab laki laki yang berbaju hitam hitam terlihat memberi tahu Ibu Sari kalau ada Emak Baru duduk di kursi di belakangnya.
“Ooo Mak sini, baru kita omongi kamu Mak.” ucap Ibu Sari yang duduk mengendong Abi sambil menoleh dan melambaikan tangan pada Emak Baru agar Emak Baru mendekat.
“Haduh ngomongin aku apa ya.. bikin kuatir saja.” gumam Emak Baru yang mau tak mau bangkit berdiri dan berjalan mendekat ke arah tempat duduk Ibu Sari.
“Sini Mak, kenalkan ini Mbah Parjan. Beliau yang mengajar anak anak ilmu bela diri. Beliau besok pagi mau mengajar anak anak, dan besok juga sekalian ikut di acara menyambut tamu donatur.” ucap Ibu Sari sambil memberikan kursi pada Emak Baru agar duduk di dekatnya.
“Sama sama, anak anak semua juga saya ajari bagaimana membuat jamu dan memijit he... he...” ucap Mbah Parjan, Emak Baru terlihat mengangguk anggukan kepalanya jadi paham kenapa Nesya juga pinter memijit. Emak Baru lalu duduk di dekat mereka. Kini hatinya tenang tidak kuatir lagi, sebab laki laki yang berbaju hitam hitam itu Mbah Parjan yang baik hati.
“Mak, tadi Mawarni dan Marginah cerita katanya Emak bisa menjahit.” ucap Ibu Sari sambil menatap wajah Emak Baru.
“Iya Bu, saya belum sempat cerita ke Ibu Sari, tapi ya saya belum begitu pintar Bu, hanya sebisa nya saja. Dulu kan waktu Sekolah di SMP ada pelajaran menjahit dan saya suka terus sering coba coba dan kalau dapat baju kebesaran kalau dikasih Majikan juga saya kecilkan sendiri.” ucap Emak Baru sambil meminta Abi agar dia yang berganti mengendong, Ibu Sari pun memberikan Abi kepada Emak Baru.
“Mak, kalau buat baju kayak punya Mbah Parjan begini bisa tidak?” tanya Ibu Sari sambil menatap sosok Mbah Parjan.
“Bisa Bu.” jawab Emak Baru penuh semangat.
“Apa Mbah Parjan mau buat baju baru, saya buatkan Mbah kalau ada kainnya.” ucap Emak Baru sambil tersenyum , dia ingat perkataan Marginah dan Mawarni kalau keahlian menjahit bisa membantu masyarakat sekitar.
“Bukan Mak, tetapi buat seragam latihan bela diri anak anak, selama ini mereka hanya pakai celana training dan kaos saja. Kalau punya seragam jika suatu saat ada tamu lagi mereka juga bisa menampilkan pertunjukan ilmu bela dirinya.” ucap Ibu Sari, dan Emak Baru pun mengerti dan dengan senang hati dia menyanggupi. Wajah Emak terlihat tersenyum senang, hatinya sangat bahagia karena mendapat tugas untuk membuat seragam anak anak.
“Terima kasih ya Bu, saya senang sekali tidak menyangka saya bisa menjahit yang biasa biasa saja menurut saya ternyata bisa membantu anak anak, saya kok bahagia ya Bu..” ucap Emak Baru dengan tersenyum dan matanya berkaca kaca karena sangat bahagia
“Iya Mak, Kalau kita bisa menolong, membantu dan bermanfaat buat orang lain itu rasanya senang, bahagia... he... he... mungkin itu yang namanya kebahagiaan sejati.. “ ucap Ibu Sari, Mbah Parjan yang mendengar mengangguk anggukan kepalanya tanda setuju.
“Iya Bu, kemampuan saya yang selama ini rasanya tidak ada apa apanya kok bisa berguna itu Bu bikin saya senang..” ucap Emak Baru sambil tersenyum dan menatap Ibu Sari.
“Syukurlah, besok ikut menemui tamu kan?” ucap Ibu Sari lalu bertanya pada Emak Baru.
“Ayo ikut saja.. Mbah Parjan juga datang, belum tentu juga mereka mengenal kamu. Kamu lihat dulu jika sekiranya mereka mengenal kamu baru kamu sembunyi. Kamu sudah ambil baju panjang dan kerudung kan, tinggal pakai masker sudah aman.” ucap Ibu Sari sambil menepuk nepuk pundak Emak Baru