MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 55. Ide Angga


Mereka terus berjalan menuju ke kebun belakang. Fikri yang berjalan di samping Ibu Sari ekspresi wajahnya kini terlihat tegang. Dia tadi santai santai saja menghadapi delapan gadis gadis remaja anak orang kaya. Tetapi kini dia merasa kuatir jika Angga marah kepada dirinya. Meskipun kini Angga sudah tidak lagi menggebrak meja akan tetapi saat ingat Angga menggebrak meja dulu bagaimanapun dia masih merasa ciut hatinya.


“Kalau aku dilempar alat alat buat berkebun dia lumayan juga.” gumam Fikri dalam hati. Dia lalu memegang lengan bawah Ibu Sari. Ibu Sari menoleh merasakan telapak tangan Fikri yang dingin.


“Kenapa?” tanya Ibu Sari pelan sambil menoleh ke arah Fikri dan mereka terus berjalan.


“Kalau Angga marah bagaimana Bu?” ucap Fikri balik bertanya.


“Ibu yang akan bicara pada Angga.” ucap Ibu Sari. Dan tidak lama kemudian mereka sudah sampai di kebun belakang yang terletak di belakang dapur kotor.


Delapan gadis itu terlihat berjalan berjingkat jingkat karena takut sepatu dan kaki mereka kotor oleh tanah kebun yang terlihat becek karena terkena aliran air pembuangan dari dapur.


“Pasti mereka membohongi kita mana mungkin Angga berada di kebun. Ngapain coba Angga cowok keren dan kaya berkebun, kotor kotor kayak gini.” Bisik salah satu dari mereka dengan nyinyir. Mereka semua sudah tahu kalau Angga anak orang kaya karena keluarga sakit di Singapura maka dia dititip di panti.


Sementara itu Ibu Sari dan Fikri mencari keberadaan Angga namun tidak terlihat batang hidungnya. Sedangkan Angga yang tadi melihat ada orang orang mendekat ke arah kebun, dia buru buru ke arah pojok kebun dan duduk.jongkok diantara rimbunnya tanaman tanaman. Angga bisa melihat Ibu Sari dan Fikri mencari cari dirinya Akan tetapi lama lama Angga tidak tega melihat Ibu Sari.


Dan dia juga melihat gadis gadis itu menutup hidungnya karena aroma kotoran ternak yang dibawakan Mbak Parjan untuk pupuk tanamannya. Dan Angga pun lalu di otaknya muncul sebuah ide buat delapan gadis gadis remaja itu.


Pelan pelan Angga berdiri sambil membawa beberapa anakan tanaman agar dikira dia sedang mencari bibit tanaman untuk di tanam.


“Itu Angga... ih... tambah bikin gemes deh Angga keringatan gitu.” Teriak salah satu dari mereka saat melihat sosok Angga.


Ibu Sari dan Fikri lalu menoleh ke arah Angga.


“Kalau orang ganteng dan tampan keringatan dibilang ngemesin, coba orang jelek yang keringatan pasti dibilang menjijikkan... owh.. nasib nasib.” gumam Fikri dalam hati. Dia dan Ibu Sari lalu mendekati Angga.


“Nga kamu jangan marah ya, nanti mereka malah semakin terpesona padamu. Kamu keringatan aja dibilang ngemesin, nanti kamu kalau marah dibilang berkarakter lho.. kalau kamu diam dibilang cool..” bisik Fikri dengan hati hati saat di dekat Angga. Fikri juga merasa tenang sebab tangan Angga membawa anakan tanaman bukan membawa alat alat berkebun yang benda tajam atau benda keras. Ibu Sari yang mendengar ucapan Fikri tersenyum dalam hati.


“Nga tamui mereka sebentar yang penting tidak menganggu kamu.” ucap Ibu Sari.


“Kalau mereka melakukan pelecehan lapor ke aku, aku yang akan membalas.” ucap Fikri sambil senyum menyeringai.


“Iya Bu.” jawab Angga lalu Angga juga menepuk pundak Fikri sebagai kode agar mengikuti langkah kaki Angga. Angga dan Fikri terus berjalan menghampiri mereka.


“Hai.” sapa Angga saat sudah berada di dekat mereka para gadis muda.


“Hai juga Angga.” teriak mereka serempak sambil tersenyum manis.


“Kalian mau bantu aku tidak?” tanya Angga


“Bantu aku buat kompos ya.” ucap Angga. Ucapan Angga itu membuat Ibu Sari kaget namun juga tersenyum. Ternyata Angga sudah bisa mengontrol emosinya dan memanfatkan keadaan.


“Kompos itu apa?” tanya salah satu dari mereka.


“Pupuk. Oneng.” jawab salah satu dari mereka sambil menoyor kepala yang tanya tadi.


“Tapi ga bisa buatnya.” ucap beberapa dari mereka. Angga lalu menjelaskan cara membuatnya. Dia sudah pernah dijelaskan oleh Pak Jemari dan Angga juga sudah pernah membuat bersama Pak Jemari dan Mbah Parjan.


“Ihhh nanti kotor dong tanganku yang selalu aku rawat ini.” ucap salah satu dari mereka yang lain mengiyakan.


“Kalau tidak mau yang silahkan pulang. Aku mau membuat kompos.” ucap Angga lalu dia berjalan dan diikuti oleh Fikri.


“Mau... Nga.” ucap mereka.


Akhirnya mereka menuruti semua apa yang diperintahkan oleh Angga. Ibu Sari mengamati apa yang mereka kerjakan sambil beliau juga merawat tanaman obat yang sudah ditanam anak anak. Ibu Sari dalam hati tersenyum melihat gadis gadis itu dalam bekerja. Mereka takut tangan, kaki dan tubuhnya kotor akan tetapi tetap saja terkena kotoran. Sedangkan Angga dan Fikri saling tetap sambil tersenyum.


“Gadis cantik kalau kotor tetap ngemesin.” ucap Fikri sambil menatap mereka yang masih mengangkut kotoran dan daun daun daunan yang di taruh di tempat prosses pengomposan.


“Diam kamu atau aku lempar dengan kotoran ini.” ucap salah satu dari mereka.


“Lempar aja kalau berani.” ucap Fikri sambil berlindung di belakang Angga.


“Fikri.” ucap Ibu Sari memberi peringatan pada Fikri agar tidak menggoda memancing emosi. Ibu Sari lalu mendekat pada gadis gadis yang sedang membuat kompos itu. Terlihat sudah hampir selesai mereka bekerja.


“Terimakasih ya, kalian sudah membantu Angga. Bantuan kalian sangat berguna bagi suburnya tanaman obat kami nanti. Bisa kalian ingat ingat bantuan juga bisa dalam wujud tenaga seperti saat ini jadi tidak harus dalam wujud materi yang berupa uang atau makanan.” ucap Ibu Sari sambil menatap mereka yang wajahnya berkeringat.


“Kalau sudah selesai silahkan cuci tangan dan kaki dan setelahnya bisa masuk ke ruang makan, minum minum sebentar bersama kami.” ucap Ibu Sari. Terlihat Ibu Sari lalu berjalan meninggalkan mereka. Angga pun lalu bertepuk tangan dan selanjutnya diikuti oleh tepuk tangan Fikri.


“Sudah. Ayo cuci tangan dan cuci kaki.” teriak Angga lalu dia berjalan menuju ke kran air yang tidak jauh dari kebun. Fikri masih melihat gadis gadis itu, sepertinya Fikri tampak puas melihatnya.


“Apa lihat lihat.” Bentak salah satu dari mereka. Fikri tidak menjawab hanya tertawa lalu mengikuti Angga untuk mencuci tangan dan kaki. Gadis gadis itupun lalu juga dengan segera mencuci tangan dan kakinya.


Setelah tangan dan kaki mereka semua bersih mereka lalu berjalan menuju ke ruang makan. Terlihat Ibu Sari dan pegawai panti sudah menyiapkan minuman dan kudapan. Dan waktu itu bersamaan dengan jam snack sore anak anak. Anak anak panti yang sudah selesai piket sore segera menuju ke ruang makan untuk minum dan makan kudapan. Beberapa anak yang tadi melihat delapan gadis tadi terlihat kaget, sebab penampilan mereka sudah tidak seperti saat mereka datang tadi. Kini baju meeeka tampak kusut dan ada bercak bercak kotoran. Wajahnya juga kusut rambutnya tampak lepek berkeringat. Sedangkan delapanan hadis itu tidak menghiraukan mereka langsung meminum dan memakan yang sudah ada didalamnya karena kehausan dan kelaparan.


Sementara Angga malah celingukan mencari sosok Marginah dan Nesya akan tetapi tidak menemukan.


“Marginah dan Nesya kok tidak ke sini, akan aku ceritakan kejadian di kebun barusan. Apa Nesya masih marah.” gumam Angga dalam hati sambil pandangan matanya tertuju ke pintu untuk melihat jika Marginah dan Nesya datang.