MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 76. Anomali


Setelah acara gladi bersih selesai anak anak berjalan keluar dari ruangan aula. Emak Baru dan Ibu Sari pun lalu ikut bangkit berdiri, mereka berdua juga berjalan keluar ruangan aula. Terlihat Mas Budi dan Mbah Parjan yang terakhir keluar dari ruang aula. Mbah Parjan akan tidur di kamar Mas Budi. Sedang kamar tamu sudah disiapkan untuk tamu donatur dari Ibu kota.


“Mak. Besok ikut ya.. lihat aku pakai kebaya yang sudah dipermak oleh Emak he.. he...he...” ucap Marginah sambil memeluk pinggang Emak Baru saat mereka berjalan di sepanjang koridor. Marginah dan Nesya tadi memang berjalan pelan pelan di koridor menunggu Emak Baru dan Ibu Sari.


“Iya ya Mak lihat aku besok akan baca puisi. Aku tidak latihan di aula Mak, sebab puisiku khusus buat Emak Baru. Jadi harus surprise harus fresh... he... he...” ucap Nesya sambil menoleh ke arah Emak Baru. Wajah Emak Baru terlihat kaget tidak menyangka Nesya akan membuatkan puisi khusus buat dirinya.


“Iya besok Emak Baru akan ikut menyambut tamu..” saut Ibu Sari yang mendengar perkataan Marginah dan Nesya. Marginah dan Nesya pun lalu terlihat tersenyum senang sambil menoleh menatap wajah Emak Baru. Dan mereka terus berjalan.


Emak Baru lalu mohon diri untuk masuk ke dalam kamarnya sebab kamar dia adalah yang pertama mereka lewati. Emak Baru membuka pelan pelan pintu kamarnya. Dia lalu masuk ke dalam kamar dan Abi masih di dalam gendongannya. Kini Emak Baru sudah dipercaya oleh Ibu Sari untuk selalu bersama dengan Abi di malam hari dan pintu kamarnya pun sudah tidak digembok lagi. Sebab selain Emak Baru sudah berniat memantapkan hati tetap tinggal di panti dan juga kamar Emak Baru yamg sekarang tidak ada kamar mandi di dalam jadi jika digembok akan kesulitan jika Emak Baru malam malam merasa perlu buang air seni.


Emak Baru setelah mengunci pintu kamarnya lalu berjalan menuju ke tempat tidur untuk membaringkan Abi.


“Besok, Abi kalau sudah besar juga tampil seperti kakak kakak ya...” ucap Emak Baru sambil membelai dengan lembut kepala Abi.


Emak Baru lalu terlihat berjalan menuju ke lemari pakaiannya. Dia buka pelan pelan pintu lemari itu. Dia sangat terharu melihat isi di dalam lemari itu, karena sudah ada banyak isi di dalamnya. Baju baju dan perlengkapan Abi, juga baju baju dan perlengkapan dirinya.


“Aku yang awal datang tidak membawa apa apa, sekarang isi lemari sudah banyak.” gumam Emak Baru lalu dia memilih milih baju panjang dan kerudung yang rencana akan dipakai untuk besok dalam acara menyambut tamu. Akhirnya Emak Baru memutuskan akan ikut hadir di acara menyambut tamu donatur besok. Selain dia sendiri sebenarnya juga ingin melihat dia juga tidak sampai hati jika mengecewakan Ibu Sari dan anak anak.


“Hmm aku pakai ini saja..” ucap Emak Baru sambil mengambil setelan baju panjang yang ada motif bunga bunga kecil berwarna ungu terong dan warna dasar baju itu lavander muda.


“Cantik anak anak pinter pilihkan buat aku.” gumam Emak Baru sambil tersenyum lalu dia mengambil kerudung warna senada. Dia lalu mencoba memakai baju dan kerudung itu.


“Andai mereka dulu kenal diriku pasti sekarang sudah tidak mengenal dengan diriku jika aku sudah berpenampilan seperti ini. Tinggal buat penutup wajah." gumam Emak sambil mengatur letak kerudung di wajahnya.


“Hmmm ada kain potongan dari kebaya Mawarni yang berwarna ungu, aku buat masker saja.. dalamnya bisa pakai kain apa saja nanti.. kalau perlu pakai popoknya Abi he....he....” ucap Emak Baru sambil tertawa lalu dia memandang Abi yang tidur nyenyak di tempat tidur.


Emak Baru lalu melepas baju panjang dan kerudung dia lipat lagi dengan rapi. Lalu dia mulai mencari kain potongan kebaya Mawarni dan Marginah yang belum dia buang. Peralatan jahit punya Marginah pun masih berada di kamar Emak Baru. Lalu dia dengan kreatifitasnya lembur untuk membuat masker guna menunjang penampilannya.


“Bener kata Ibu Sari, belum tentu mereka kenal aku. Rugi jika tidak ikut acara besok selain bisa melihat penampilan anak anak juga dapati bingkisan he...he..” ucap Emak Baru sambil mulai memotong motong kain.


“Yang penting waspada harus selalu waspada..” ucapnya lagi sambil terus memotong motong kain.


“Nesya mau buat puisi seperti apa ya.. kasihan juga anak itu punya bapak tetapi mau menjual dirinya kok sama kayak Abi punya bapak tetapi malah justru membikin was was, membikin kuatir, membikin takut..” ucap Emak Baru yang kini mulai menjahit masker untuk penutup wajahnya.


“Bapak yang harusnya bisa menjaga, melindungi malah membikin sengsara. Sudah tidak menafkahi malah bikin susah lahir dan batin.. Orang orang aneh, tidak normal..” ucap Emak Baru lagi dan sambil terus menjahit dengan tangannya.


“Marginah kalau bilang ada anomali cuaca, katanya cuaca yang tidak seperti biasanya cuaca yang menyimpang. Berarti bapaknya Abi dan bapaknya Nesya adalah bapak bapak anomali he.. he...” ucap Emak sambil tertawa kecil, dia suka mendengarkan jika Marginah sedang belajar bersama Angga dan Nesya. Sementara dia sambil mengendong Abi mendampingi Nita dan Vany belajar.


“Sabar ya Nak.. kamu punya bapak anomali.. Emakmu ini sebenarnya juga tidak mau kamu punya bapak anomali tetapi sudah takdirmu Nak kamu punya bapak anomali.” ucap Emak Baru sambil menepuk nepuk pantat Abi karena maskernya sudah selesai pengerjaannya.


“Besok kalau Abi sudah bisa bertanya siapa bapaknya aku jawab saja bapaknya, bapak anomali.” gumam Emak dalam hati lalu dia ikut membaringkan tubuhnya di samping Abi anaknya.