MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 44. Mencari Ibu Sang Bayi


Anak anak melihat Mas Budi yang masih duduk terdiam, mereka semua berpikir Mas Budi teringat akan masa lalunya. Marginah lalu berjalan mendekati Mas Budi.


“Mas, terimakasih ya sudah mengantar Bapak saya.” ucap Marginah berusaha agar Mas Budi tidak terbawa perasaan ingat ke masa lalu.


“O iya Nah sama sama, sudah kamu sekarang bersiap ke sekolah, aku juga akan bersiap kursus mengemudikan mobil, biar besok aku yang mengantar kalian. Kasihan Ibu Sari terlalu banyak yang harus dipikir dan dikerjakan.” ucap Mas Budi lalu bangkit berdiri.


Anak anak pun lalu dengan segera berangkat ke sekolah. Ada yang naik sepeda ada yang jalan kaki. Ada yang naik ke mobil yang akan diantar oleh Ibu Sari. Marginah dan teman temannya sudah duduk manis di dalam mobil. Dan tidak lama kemudian tampak Ibu Sari berjalan dari ruang pengobatan menuju ke mobil. Dengan segera Ibu Sari membuka pintu kemudi, dan selanjutnya duduk di jok kemudi. Ibu Sari menyalakan mesin mobil lalu mobil berjalan pelan pelan meninggalkan halaman panti. Wajah Ibu Sari terlihat serius seperti memiliki banyak beban pikiran. Marginah dan Nesya yang duduk di samping Ibu Sari hanya diam saja tidak berani bertanya apapun, padahal sebenarnya mereka berdua ingin bertanya tanya tentang keadaan adik bayi barunya.


Tidak lama kemudian mobil sudah berhenti di depan pintu gerbang sekolah.


“Kalian tunggu Ibu jemput ya. Ibu nanti akan ke balai desa dulu melaporkan panti ada bayi baru.” ucap Ibu Sari. Anak anak menganggukkan kepalanya. Lalu mereka segera masuk ke halaman sekolah.


Berita tentang adanya bayi di panti segera menyebar ke desa. Anak anak di sekolah bercerita pada teman temannya dan para gurunya.


“Kamu tidak foto tadi Nah?” tanya salah seorang teman sekolah Marginah.


“Aku ga bawa hape, ga kepikiran juga buat motret motret apalagi selfi selfi. Yang ada tuh antara rasa takut, kuatir, kasihan. Aku langsung bawa ke ruang Ibu Sari. Apalagi saat Ibu Sari tanya hidup apa mati. Ya Nes ya..... takutnya minta ampun.” jawab Marginah


“Kalau ada foto kan aku kirim beritanya lebih meyakinkan.” ucap salah satu teman Marginah yang bukan anak panti, dia sudah menginformasikan berita ada bayi di panti.


Sementara itu Ibu Sari dari mengantar anak anak, beliau langsung ke Balai Desa. Saat di Balai Desa para pegawai sudah mulai berdatangan. Ibu Sari turun dari mobil lalu berjalan menuju ke tempat penerima tamu.


“Bu, ada bayi baru ya Bu? Saya baca di group chatting. Katanya dibuang di tempat sampah panti ya Bu, kok tidak ditaruh di dalam, apa pintu gerbang masih digembok Bu?” tanya pegawai penerima tamu.


“Iya Bu, dapat berkah. Benar Marginah dan Nesya yang menemukan saat mereka mengantar Bapaknya yang mau pulang. Pagar sudah dibuka Bu, Mas Budi pagi pagi kan pergi mengantar Bapaknya Marginah pulang. Mungkin yang naruh malam atau mau masuk ada orang panti takut ketahuan lalu ditaruh di luar.” jawab Ibu Sari sambik duduk di kursi.


“Untung tidak digondol anjing atau digerogoti tikus atau kucing. Kok tidak ada rasa kasihan orang hanya mau enaknya tidak mau anaknya.” ucap pegawai penerima tamu itu lagi


“Siapa yang hanya mau enaknya?” tanya Pak Kades yang sedang lewat karena baru saja datang. Ibu penerima tamu langsung terdiam.


“Iya ya Bu... Eh Ibu Sari mau lapor Pak Kades kan, sudah sana Bu langsung masuk saja ke ruangannya. Keburu nanti banyak tugas Pak Kadesnya. Banyak acara di minggu ini. Banyak jadwal untuk sosialisasi subsidi.” saran pegawai penerima tamu kepada Ibu Sari.


Ibu Sari lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke ruangan Pak Kades. Setelah mengetik pintu dan dipersilahkan masuk oleh Pak Kades, Ibu Sari lalu berjalan masuk dan duduk di kursi di depan meja Pak Kades.


“Bagaimana keadaan anak anak panti Bu? Apa Nesya masih dikejar kejar Bapaknya?” tanya Pak Kades mengawali pembicaraan. Pak Kades tahu masalah Nesya sebab Ibu Sari pernah melaporkan kasus penculikan Nesya.


“Baik baik Pak, beberapa waktu lalu masi, untung masih bisa terselamatkan. Sekarang pengawalan diperketat.” jawab Ibu Sari, terlihat ekspresi wajah Pak Kades turis prihatin mendengar jawaban Ibu Sari.


“Pak maksud kedatangan saya, akan melaporkan ada bayi yang ditaruh di depan panti. Bayi merah itu sudah kami rawat.” ucap Ibu Sari selanjutnya.


“Baik Bu, terimakasih nanti kami akan membantu dalam pengurusan surat surat anak tersebut.”


“Selain itu Pak, saya ingin melihat data orang hamil di desa ini yang kemungkinan melahirkan dalam minggu ini. Kalau itu anak dari orang desa ini, mungkin dibutuhkan pendekatan pada orang tua bayi itu Pak. Kasihan anaknya. Jika memang tidak bisa merawat kami siap merawat akan tetapi akan lebih baik jika anaknya mengetahui orang tua kandungnya.” ucap Ibu Sari lagi.


“Baiklah Bu, kami akan membantu segala data yang Ibu Sari perlukan. Ibu bisa langsung ke bagian kependudukan bisa juga meminta data dari puskesmas Bu. Nanti kalau Ibu Sari mendapat kesulitan silahkan menghubungi saya, saya siap membantu.” ucap Pak Kades.


“Terimakasih Pak, saya akan segera ke bagian kependudukan.” ucap Ibu Sari lalu dia mohon diri. Setelah dari ruangan Pak Kades. Ibu Sari lalu masuk ke ruang bagian kependudukan dia melaporkan ada bayi baru di panti lalu mencari data ibu hamil yang kemungkinan melahirkan dalam minggu terakhir. Ada beberapa ibu di desa yang melahirkan dalam minggu terakhir. Akan tetapi dari Ibu ibu yang melahirkan itu kecil kemungkinan untuk membuang bayinya.


“Sepertinya tidak mungkin Bu bayi itu anak mereka.” ucap pegawai yang membantu melihat data data. Karena di data itu yang melahirkan dalam minggu terakhir adalah orang orang terpandang.


“Coba Ibu Sari cek data ke puskesmas ya, siapa tahu data terakhir belum masuk ke sini.” ucap pegawai itu lagi. Ibu Sari menganggukkan kepala lalu dia mohon diri agar bisa segera pergi ke puskesmas. Ibu Sari melajukan mobilnya ke puskesmas. Sesampai di puskesmas banyak orang yang sudah mendengar berita bayi di panti. Ibu Sari segera menuju ke ruangan untuk mendapatkan data yang dibutuhkan akan tetapi hasilnya sama tidak ada.


“Apa dari orang luar desa.” gumam Ibu Sari lalu dia segera meninggalkan puskesmas. Ibu Sari segera berjalan menuju ke mobil bak yang sudah berfungsi sebagai mobil antar jemput. Saat Ibu Sari akan membuka pintu, tampak Mas Budi sedang lewat mengendarai motor Ibu Sari, dia baru selesai pulang dari tempat kursus. Mas Budi lalu menghampiri Ibu Sari.


“Bu... Ibu Sari sakit?” tanya Mas Budi sambil mematikan mesin motornya.