
Sementara itu Pak Jemari di dalam kamar berlatih membaca kata sambutan. Dia berdiri di depan lemari besar yang ada kacanya. Di depan kaca lemari itu Pak Jemari berdiri tegak sambil membawa kertas yang sudah ada tulisan tangan Marginah. Pak Jemari membaca berulang ulang.
“Sepertinya sudah hafal aku, nanti tidak usah pakai kertas ini aku rasa aku sudah bisa. Kalau bawa kertas nanti aku bisa bisa dibully oleh anak anak dibilang menyontek.” gumam Pak Jemari lalu melipat kertas itu dan ditaruhnya di atas tempat tidur. Dia lalu mengemasi barang barangnya yang akan di bawa pulang besok.
“Kok bajuku jadi tambah banyak ya.. sekarang jadi satu tas besar dapat handuk baru pula dari Mas Budi.” gumam Pak Jemari saat memasukkan baju baju ke dalam tasnya. Dia memang mendapat banyak baju pantas pakai yang diambilkan oleh Mas Budi. Saat Pak Jemari masih meringkasi baju bajunya tampak Angga masuk ke dalam kamar.
“Pak.” ucap Angga.
“Ya Mas.” ucap Pak Jemari sambil menatap Angga.
“Terimakasih ya, nanti kalau Oma sudah kembali ke Indonesia dan sudah sehat akan aku ajak main ke rumah Pak Jemari, aku juga pengen main ke rumah Pak Jemari main ke gunung.” ucap Angga sambil mendekat ke Pak Jemari.
“Benar ya Mas, saya tunggu. Saya juga mengucapkan terimakasih, saya senang sekali bisa berkenalan dengan Mas Angga saya tidak punya anak laki laki pengen menganggap Mas Angga sebagai anakku tapi saya tahu diri Mas saya hanya orang kecil orang miskin.” ucap Pak Jemari, namun tiba tiba Angga memeluk Pak Jemari.
“Iya Pak tidak apa apa, aku dianggap anak oleh Pak Jemari, jadi aku punya dua bapak yang menganggap aku karena tidak ada Ibu yang mau menganggap aku.” ucap Angga dan membuat Pak Jemari sedih lalu Pak Jemari mengusap usap pundak Angga.
“Anggap Ibu Sari sebagai Ibumu, nanti kalau Mas Angga main ke rumahku ada Mak Dinah yang akan mau menganggapmu sebagai anak.” ucap Pak Jemari sambil terus mengusap usap pundak Angga.
“Iya Pak, ayo kita istirahat sebentar nanti malam kita akan senang senang. Pak Jemari sudah bisa pidatonya.” ucap Angga kemudian, dia teringat pesan Mbah Parjan kalau tidak boleh bersedih.
“Bukan pidato Mas, tapi kata sambutan. Sudah hafal di luar kepala... nanti tidak perlu lagi pakai ini.” ucap Pak Jemari sambil menunjukkan kertas yang sudah dia lipat.
“Keren, nanti sebelum keluar kamar latihan lagi Pak, gladi bersih.” ucap Angga lalu dia merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
“Pak aku nanti malam tidur di sini. Mengenang saat pertama tidur dengan Pak Jemari.” ucap Angga lagi
Waktu terus berlalu, malam hari yang dinanti pun tiba. Anak anak sudah mandi dan berdandan rapi mereka semua sudah berjalan menuju ke aula. Pak Jemari pun sudah sudah mandi dan memakai baju batik dan celana kain warna senada. Meskipun itu baju pakaian pantas pakai namun masih terlihat sangat bagus seperti baju baru. Angga juga sudah terlihat keren, dia nanti akan tampil untuk memberi hiburan.
“Mas Angga benar benar seperti artis artis di teve itu, keren jan bener bener top markotop.” puji Pak Jemari sambil menatap Angga.
“Pak Jemari juga keren, ayo Pak , gladi bersih di depanku.” ucap Angga.
“Selamat malam anak anak semua, selamat malam Ibu Sari dan pengurus panti lainnya....” ucap Pak Jemari lalu dia terdiam.
“Weh Mas kok saya lupa ya...” ucap Pak Jemari lalu dia menoleh ke tempat tidurnya untuk mencari keras yang sudah dia lipat.
“Lha kok baru berada di depan Mas Angga saja sudah hilang yang saya hafalkan. Untung pakai gladi bersih tapi ini namanya belum bersih Mas.” ucap Pak Jemari lalu dia mengambil lagi kertasnya. Angga hanya tersenyum. Selanjutnya Pak Jemari mencoba lagi sambil membaca.
“Sudah Pak, pakai kertas saja dari pada nanti lupa di atas panggung.” ucap Angga.
“Iya Mas, tadi saya kira sudah hafal di luar kepala padahal sudah seperti Pak Kades kalau bicara di atas panggung he... he.... Tapi baru di depan Mas Angga saja kok hilang semua kata katanya.. cuma hafal selamat malam.” ucap Pak Jemari sambil tertawa kecil. Dan tidak lama kemudian terdengar suara bel tanda anak anak harus segera kumpul karena acara akan segera dimulai.
“Ayo Pak, sudah ada bel.” ucap Angga sambil berjalan keluar kamar.
“Lah kok deg degannya muncul lagi.” gumam Pak Jemari sambil memegang dadanya. Dia lalu melangkah menuju ke pintu kamar, akan tetapi dia balik lagi untuk mengambil kertas yang ketinggalan.
“Seumur umur baru kali ini aku harus pidato eh memberi kata sambutan, demi anak... bismillah semoga Marginah menjadi orang nantinya.” gumam Pak Jemari lalu dia dengan mantap melangkah menuju ke aula.
Sesampai di aula terlihat anak anak sudah mulai duduk di kursi. Panggung juga sudah lengkap dihiasi dan sudah ada mikrofon di atas panggung.
“Pak Jemari duduk di depan di samping pengurus panti.” ucap salah seorang anak kepada Pak Jemari. Pak Jemari lalu berjalan ke depan, telapak tangannya kembali terasa dingin. Pengurus panti terlihat mempersilahkan Pak Jemari untuk duduk di kursi deretan paling depan, dan tidak lama kemudian Ibu Sari datang dan duduk di deretan yang sama.
Sesaat Pak Jemari kaget kala melihat anaknya Marginah maju ke atas panggung.
“We lha dalah lha kok Marginah sudah naik ke atas panggung, dia mau apa, apa mau ngasih sambutan kok membawa kertas segala.” gumam Pak Jemari saat melihat Marginah dan Mawarni naik ke atas panggung. Dan keterkejutan Pak Jemari semakin menjadi saat Marginah mulai berbicara di atas panggung, saat Pak Jemari sudah melihat dan mendengar Marginah bertugas menjadi MC bersama Mawarni.
“Weh kok pinter anakku.” gumam Pak Jemari sambil tersenyum bangga. Marginah dan Mawarni tetap berdiri di panggung, namun sekarang mereka berdua berada di sisi belakang samping. Dan selanjutnya Fadli yang naik ke atas panggung untuk membacakan doa. Setelah acara doa, sambutan dari Ibu Sari. Dan setelah Ibu Sari turun dari panggung. Mawarni yang bertugas sebagai MC memanggil Pak Jemari untuk naik ke atas panggung untuk memberikan kata sambutan. Pak Jemari lalu berdiri dia lalu menoleh ke arah pengurus panti dan menganggukan kepala. Dia tadi sudah dipesan oleh Angga agar melakukan hal itu.
“Kok aku seperti pejabat.” gumam Pak Jemari, dan dia terus naik ke atas panggung. Sementara Marginah yang masih berada di atas panggung dia berdebar debar dua kali. Berdebar debar karena tugas pertamanya sebagai MC dan berdebar debar karena bapaknya akan memberi sambutan. Dia kuatir kalau Bapaknya salah salah dan menjadi bahan tertawaan.