
Pagi pagi setelah sembahyang pagi anak anak dan Mbah Parjan segera berkumpul di halaman untuk menampilkan kebolehannya dalam ilmu bela diri.
“Bu kita buat sarapan?” tanya Emak Baru sambil mengendong Abi saat keluar dari ruang doa bersama Ibu Sari.
“Hari ini merdeka lagi Mak, nanti bus pariwisata datang sudah membawa sarapan buat peserta piknik.” Jawab Ibu Sari sambil tersenyum menatap Emak Baru.
“Wah sedap ya Bu.. anak anak juga masih menyimpan snack tadi malam karena belum termakan sudah kenyang makan sate he... he...” ucap Emak Baru sambil tertawa kecil dan mata berbinar binar, membayangkan naik bis pariwisata bersama anak anak dan temanteman pegawai panti sambil makan makan di dalam bis..
Akan tetapi binar di mata Emak Baru mendadak sirna, dia lalu menunduk melihat wajah Abi yang masih tertidur di dalam gendongannya. Lalu diusap usap kepala Abi.
“Sudah tidak usah sedih, Abi memang lebih baik di panti saja tidak usah ikut.” Ucap Ibu Sari sambil menatap Emak Baru yang paham perasaaan Emak Baru tidak tega meninggalkan Abi sementara dia senang senang rekreasi.
“Ayo kita buat susu untuk anak anak.” Ucap Ibu Sari kemudian, mereka berdua lalu berjalan meninggalkan tempat ruang doa saat berjalan mereka melewati Nyonya Naura yang sedang terpesona melihat aksi gerakan anak anak dan Mbah Parjan. Sedang kan Sandra gadis berkaca mata tebal ikut di barisan belakang anak anak panti. Dia terlihat mengikuti gerakan anak anak panti.
“Bu, saya tadi tanya pada Bunda Naura, Kak Sandra itu apanya dia.” Bisik Emak Baru pada Ibu Sari saat mereka sudah berjalan agak jauh dari Nyonya Naura.
“Emak kok berani tanya tanya. “ ucap Ibu Sari sambil tersenyum.
“Iya Bu, saya itu kepo sepertinya bukan siapa siapa nya, Bunda Naura penampilan sudah terlihat seperti orang kaya juga cantik putih bersih apalagi agak bule bule gitu sementara Kak Sandra seperti orang biasa biasa saja.” Ucap Emak Baru sambil terus berjalan di samping Ibu Sari.
“Terus dijawab apa?” tanya Ibu Sari
“Katanya dia nemu di jalan terus dititip di sini dulu habis itu biar berkerja, biar mandiri biar bisa lebih baik hidupnya.”
“Di jalan jalan memang banyak anak anak yang sebenarnya baik tetapi jadi korban oleh lingkungan ya Bu, apa lagi di ibu kota.” ucap Emak Baru selanjutnya dan mereka kini sudah masuk ke dapur untuk membuatkan susu buat anak anak. Ibu Sari hanya diam saja setelah mendapatkan keterangan dari Emak Baru. Nyonya Naura sendiri malah belum cerita apa apa pada dirinya tentang Sandra.
Beberapa menit kemudian susu yang mereka buat untuk anak anak sudah selesai mereka lalu menaruh dua tempat super jumbo berisi susu itu ke dalam ruang makan.
“Emak boleh minum dulu susunya, habis itu Emak bersiap siap dan kasih asi Abi sampai kenyang. Jadi saat bis sudah datang Emak sudah siap.” ucap Ibu Sari pada Emak Baru. Emak Baru terlihat sangat senang lalu dia minum satu gelas susu yang tadi mereka buat.
“Enak Bu, pasti butuh dana banyak ya Bu untuk membuat susu sebanyak ini.” ucap Emak Baru setelah selesai menegak satu gelas susu sampai tuntas.
“Iya Mak, tapi ada rejeki, anak anak kan juga butuh susu agar pertumbuhan dan perkembangannya bagus tidak kalah dengan anak anak yang lain.” Ucap Ibu Sari lalu mereka berdua berjalan meninggalkan ruang makan. Ibu Sari lalu mengambil alih Abi dari gendongan Emak Baru dan kembali ke halaman untuk melihat anak anak sedangkan Emak Baru pergi ke kamar mandi untuk mandi sebelum anak anak selesai latihan bela dirinya.
Beberapa menit kemudian anak anak sudah selesai dan mereka berhambur ke ruang makan dan setelah nya mereka semua bersiap diri untuk pergi berekreasi. Wajah wajah mereka semua terlihat sangat senang dan ada satu orang anak pun yang terlihat bersedih. Wajah mereka semua memberikan senyuman cerah dan mata yang berbinar binar apalagi setelah tahu nanti sarapan di dalam bis pariwisata mereka semua sudah menebak nebak menu sarapan pagi nya nanti.
“Seperti nya nanti ayam goreng dengan sambel dan lalapan Nes.” Tebak Marginah saat mereka bersiap siap di dalam kamar.
“Asyikkkk.” Teriak Nita dan Vany secara bersamaan.
“Kurang nendang Kak he..he..” saut Marginah.
“Aku ga begitu suka burger.” ucap Nesya.
“Apa pun makanannya harus diterima dengan senang hati dan disyukuri. Masih banyak di luar sana yang tidak mendapatkan makanan secara layak.” ucap Mawarni ikut nimbrung.
Dan beberpa menit kemudian terdengar suara mobil masuk dengan sangat jelas dan tidak seperti mobil mobil biasanya.
“Itu bis nya sudah datang.” teriak Marginah. Lalu Marginah dan Nesya segera menyambar tas nya dan berlari ke luar dari kamar.
“Mbakkkk tungggu.. “ teriak Nita dan Vany yang masih sibuk memasang tali sepatunya. Sungguh benar benar heboh. Akhirnya mereka berdua berlari dengan tali sepatu yang masih menjuntai belum diikat. Sedangkan Mawarni dan Fatima berjalan menuju ke kamar tamu untuk memgambil bingkisan yang akan dibagikan saat acara di tempat rekreasi.
Emak pun masih sibuk menciumi Abi yang akan dia tinggalkan untuk pergi berekreasi. Sementara itu Sandra yang juga ikut pergi berekreasi saat melihat tali sepatu Nita dan Vany masih menjuntai dia segera berjalan mendekati Nita dan Vany.
“Dik, aku ikatkan tali sepatunya.” ucap Sandra lalu dia jongkok di depan Nita dan Vany, untuk mengikat tali sepatu mereka.
“Terima kasih Kak.” ucap Nita dan Vany bersamaan. Lalu Sandra mengandeng dua bocah itu untuk naik ke dalam bis.
Terlihat anak anak sebagian besar sudah masuk ke dalam bis. Angga sudah duduk di samping Mbah Parjan. Dua ibu pegawai masak pun sudah duduk di bangku belakang pak sopir.
“Bu, titip Abi ya..” ucap Emak Baru saat akan naik ke dalam bis. Ibu Sari menganggukkan kepalanya.
“Titip anak anak juga Mak.” Ucap Ibu Sari selanjutnya dan Emak Baru pun menganggukan kepalanya, dia orang yang terakhir naik ke dalam bis itu.
Bis lalu berjalan pelan pelan meninggalkan halaman panti. Ibu Sari dan Nyonya Naura melambai lambaikan tangannya. Yang di dalam bis pun melambai lambaikan tangannya hingga hilang dari pandangan.
Kini tinggal Ibu Sari dan Nyonya Naura yang berada di panti. Mereka berdua lalu berjalan menuju ke ruangan Ibu Sari.
“Terima kasih Nyonya sudah membuat bahagia anak anak dan pegawai panti.” ucap Ibu Sari saat membuka pintu ruangan nya sambil tersenyum.
“Sama sama Bu, saya juga senang dan bahagia jika bisa membuat anak anak bahagia.” ucap Nyonya Naura sambil masuk ke dalam ruangan Ibu Sari.
“By the way saya juga lebih senang kalau Ibu Sari juga memanggil saya, Bunda .” ucap Nyonya Naura kemudian sambil tersenyum. Mereka berdua lalu duduk di kursi tamu di ruangan Ibu Sari. Abi masih tertidur nyenyak di dalam pangkuan Ibu Sari. Mereka berdua lalu terdiam suasana hening.
“Ehmm.. hmmm.” deheman Nyonya Naura kemudian akan mengawali pembicaraannya. Ibu Sari hanya diam dengan sabar menunggu