
"Kakak, aku menemukan gadis itu. Tapi dia tidak sendirian," suara itu memang terdengar manis, namun tak sekalipun bisa menyembunyikan ancaman didalamnya.
"Berapa?" Suara yang menanggapi lebih dingin dan menyampaikan rasa berbahaya yang kental.
Gadis itu memiliki rambut panjang berwarna merah dan bergelombang, sementara maniknya berwarna hijau berlingkar hitam, menandakan bahwa dia bukan manusia. Terlebih kulit putihnya yang bagaikan salju.
"Hanya satu orang."
Jawaban itu membuat sang kakak bangkit berdiri dari duduknya. "Kita pergi sekarang."
"Ya." Gumam sang gadis. Gadis itu mengangkat tangannya, dan membuka gerbang dimensi menggunakan sihirnya. Ketika keduanya melangkah masuk, portal itu perlahan menghilang.
"Kak Sius, apakah masih jauh untuk sampai?" Tanya Iloania.
Iloania menggelengkan kepalanya. "Tinggal beberapa kilometer lagi dan kita akan sampai. Apa kamu ingin beristirahat sebentar?"
"Tidak apa. Aku baik-baik saja, justru kak Sius sudah berkuda sejak tadi, apakah tidak lelah?" Iloania menjawab jujur dan menanyakan balik keadaan Lasius setelah mereka berkuda hampir setengah hari tanpa istirahat.
"Sebentar lagi akan sampai. Sangat menanggung untuk berhenti, terlebih, aku tidak lelah. Jadi, tidak perlu khawatir." Jawaban Lasius membuat Iloania.tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda bahwa dia mengerti.
"Ilo," panggil Lasius. Dia lanjut bertanya, "Bagaimana guru Gamma itu?"
"Emm, karena aku hanya bertemu dengan guru Gamma sewaktu aku masih kecil, aku tidak begitu tahu tentang guru Gamma. Guru mengatakan jika guru Gamma orang yang sangat galak dan memiliki tempramen yang sedikit pemarah. Dan itu memang benar." Iloania mengingat sembari.bercerita
"Tapi saat aku bersama guru Gamma selama beberapa waktu, dalam kesanku, aku bukannya tidak menyukai guru Gamma." Jelasnsya.
"Lalu, apa kak Sius juga punya guru?" Tanya Iloania balik.
Lasius menggangguk dan menggeleng. "Aku punya beberapa guru. Banyak diantara mereka adalah orang kuat, namun yang lain hanya ada untuk memanfaatkan situasi yang ada. Maksudku, begitulah."
Iloania memiringkan kepalanya, namun detik berikutnya terkikik. "Pasti keluarga kak Sius sangat kaya, ya?"
Lasius tersenyum dan membatin. "Aku adalah pangeran, bagaimana aku tidak kaya, hm?"
"Tentu saja sih, kak Sius kan seorang pangeran. Bagaimana tidak kaya." Ucapan Iloania selanjutnya membuat Lasius tersentak dan menoleh, hampir kehilangan kendali kudanya.
"Ka-Kamu tahu aku seorang .. pangeran?" Tanya Lasius.
Iloania menaikkan alisnya dengan senyum geli. "Pengawal mana yang memanggil rajanya sendiri dengan sebutan kakak? Lagipula, dari yang kubaca, pengguna sihir cahaya di Alete hanyalah keluarga kerajaan. Jadi kak Sius, identitasmu sudah lama terbongkar~"
Lasius mematung. Apa? Sudah terbongkar sejak lama?
Setelah menetralkan ekspresinya, Lasius.menghela napas dan bertanya. "Apakah kamu, kecewa aku membohongimu?"
"Tidak," Iloania menggeleng. "Buat apa aku kecewa? Kak Sius pasti memiliki alasan mengapa menyembunyikan identitas kak Sius sebagai pangeran didepan semua orang."
"Aku hanya tidak suka bagaimana orang-orang memandangku semata-mata hanya karena aku seorang pangeran. Aku memutuskan merahasiakan identitasku, memulai dari awal dan melakukan perjalanan untuk meraih apa yang bisa kuraih sekarang ini. Ketenaran karena kekuatanku diakui, bukan hanya karena statusku," jelas Lasius.
"Kak Sius sebenarnya hanya harus lebih percaya diri. Siapapun kak Sius, bagaimanapun kak Sius, baik pangeran atau bukan, Ilo hanya akan menyukai kak Sius. Yang sekarang ada dihadapanku," ujar Iloania tulus.
Mendengar itu, Lasius mengungkapkan senyuman. Sebuah kehangatan meresap kedalam hatinya. Lagi dan lagi, gadis itu mampu membuatnya jatuh hati.
Ketika ia hendak membuka mulutnya, Lasius dikejutkan oleh serangan tiba-tiba yang diarahkan pada mereka. Tubuh Lasius bergerak sesuai naluri, mengangkat pedang berselimut sihirnya, dan menjaganya didepannya, tepat pada jalur serangan yang datang dalam sekali kedipan mata itu.
TRANG!
Suara yang ditimbulkan memekakkan telinga. Tidak hanya suara yang dihasilkan yang besar, Lasius bahkan sampai terkena tolakan itu. Pedangnya terpental kedadanya dan sedikit menyisakan rasa sakit.
"Ugh!" Rintihnya.
Iloania dibelakangnya bertanya dengan panik. "Kak Sius, apa kak Sius terluka?!"
"Tidak Ilo, tidak perlu khawatir." Ucapan Lasius tidak menyurutkan kekhawatiran Iloania. Gadis itu memejamkan matanya dan memfokuskan semua indranya.
"Disana?"
Lasius mengikuti arah jari Iloania dan melihat sebuah portal yang memperlihatkan kegelapan. Sepersekian detik kemudian, sesuatu melesat secepat kilat dari dalam portal dan menyerang kearah Lasius. Pemuda itu bereaksi secara naluriah, mengangkat kedua tangannya menyilang untuk melindungi dirinya.
Tetapi hanya ketika Lasius sudah yakin akan merasakan rasa sakit ditangannya, seseorang itu membelokkan arah lesatannya melewati Lasius.
DEG!
"Ilo!" Pekiknya sembari berbalik, namun langkahnya terlambat ketika melihat Iloania tertolak jauh kebelakang saat seseorang itu menyerang barrier pelindung yang dipasang Iloania.
Brak!!
Gadis enambelas tahun itu menghantam sebuah pohon hingga hampir menumbangkannya akibat kuatnya hantaman barrier Iloania. Ia terduduk dan terbatuk darah. "Cough! Cough!"
Lasius bergerak hendak menuju Iloania, namun sebuah serangan dilayangkan kepadanya. Lasius mengangkat sebelah tangannya dan menahan sebuah tendangan itu. Gadis iblis itu menyeringai lebar kala Lasius meringis kecil, merasakan betapa kuatnya tendangan gadis iblis yang kemudian mendarat beberapa meter darinya.
"Ugh!"
"Kak Hisso! Dia sangat tampan. Bolehkah aku membunuhnya dan menjadikan wajahnya sebagai salah satu dari koleksiku?" Tanya gadis iblis itu.
"**Eavy, lakukan sesukamu**." Hisso menjawab pertanyaan Eavy dengan datar, dan membuat Eavy tersenyum makin lebar.
Sementara Hisso melangkah mendekati Iloania, ia mengangkat kedua tangannya seakan membentuk gerakan memainkan tuts piano. Dalam beberapa saat, ada boneka-boneka muncul dihadapannya.
"Lawanmu adalah aku~" Kata Eavy.
Ada total lima boneka didepan gadis iblis yang hanya mengenakan bra merah darah senada dengan rok rumbai sebatas pangkal pahanya. Kulitnya benar-benar pucat dan bahkan memiliki garis-garis gelap dibeberapa tempat tertentu. Penampilannya menakutkan, tetapi tidak lebih menakutkan dari boneka yang ada didepannya.
Potongan tangan manusia disatukan dengan potongan tubuh yang nampak berbeda dengan potongan tangan itu. Kulit yang kontras. Sama halnya dengan kakinya. Ada senyum mengerikan yang menghiasi boneka mayat itu. Senyumnya hingga kepipi, hampir jelas untuk memperlihatkan bagian dalam tenggorokannya.
"Berbanggalah untuk terpilih menjadi salah satu bonekaku. Kau tahu, aku mencintai mereka seperti mencintai hal berharga dalam hidupku, khekhe~" Tawa Eavy.
"Meski aura kegelapannya lebih rendah daripada milik Raja Iblis, namun kekuatannya, sama sekali tidak bisa diremehkan." Batin Lasius.
Ia menatap lurus kedepan, tetapi berusaha menenangkan tangan kirinya yang sedikit gemetar. "Tendangannya cukup membuat tanganku mati rasa."
"Kupikir dengan serangan jarak dekatnya yang kuat, sebisa mungkin aku harus menggunakan pertarungan jarak jauh."
"Tetapi aku masih belum melihat kemampuan boneka-bonekanya. Bagaimana dia bisa menyerang menggunakan mereka?" Batinnya kala menatap lima boneka mayat didekat Eavy.
"Ahh, aku bisa membaca semua yang ada dipikiranmu. Itu tercetak jelas diwajahmu, dan tubuhmu, haha!" Kata Eavy.
Ia melihat tangan Lasius yang sedikit disembunyikan dari pandangannya. Namun ia bisa menebak bahwa tangannya mati rasa karena ia bau saja menendang Lasius. Serangannya tidak pernah lemah, dan dia membanggakan serangannya.
"Kita mulai saja!" Lantangnya sebelum jemarinya bergerak seakan menekan tuts piano, bergerak liar seakan memainkan sebuah shymphony yang luar biasa cepat.
Bersamaan dengan itu, boneka-boneka mayat itu membuka mata mereka, sebelum memancarkan cahaya merah pekat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
26/06/2022
Jangan lupa dukungannya~
Salam hangat,
LuminaLux