
"Ilo, kenapa dikelas api kamu membolos? Tidak baik membolos." Kata Lasius, ketika kelasnya telah berakhir.
Berjalan disekitar koridor disamping halaman yang luas, Iloania menyatukan tangan dibelakang punggungnya dan memiringkan kepalanya. "Aku tidak membolos, sebenarnya. Guru kelasku mengusirku karena tidak puas dengan sihir apiku. Keluar, ya sekalian berkeliling saja sampai aku teringat kelas kak Sius."
Lasius terkejut. "Guru kelasmu mengusirmu dari kelas karena tidak puas dengan sihirmu? Bagaimana mungkin?"
Iloania mengedikkan bahunya. "Yah, anggap saja diliburkan dari kelas. Oh, ya. Jam berapa kita akan menonton bintang, kak? Sekarang saja, eum?"
"Baiklah."
...***...
Iloania memandang kagum langit malam yang dihiasi milyaran bintang. Seberapa kecil keberadaannya didunia ini, dibandingkan dengan bintang-bintang diluaran sana? Kadang Iloania berpikir, apakah kehidupan diluar sana ada. Kehidupan yang jauh dari bumi, disemesta yang tak terhitung betapa luasnya. Apakah manusia memang sekecil dan sekecil itu, sampai seperti tidak terlihat?
"Apa yang kamu pikirkan?" Suara Lasius membuat Iloania ditarik kembali kesadarannya.
"Kak Sius, apa mungkin diluaran sana ada kehidupan lain selain kita, dibumi?"
Pertanyaan Iloania membuat Lasius bungkam selama beberapa saat. Sebelum dengan tenang tersenyum dan mendongak menatap langit. "Mungkin saja Ilo, mungkin saja."
"Ilo, apa kamu tahu. Katanya, setiap orang yang meninggal akan menjadi bintang." Kata Lasius.
"Ah? Benarkah? Siapa yang mengatakannya?" Tanya Iloania dengan penasaran.
Lasius tersenyum, "Ibuku."
Tertegun, Iloania mendongakkan kepalanya dan kembali memandang milyaran bintang dengan sang rembulan yang memantulkan cahaya sang mentari. Iloania menatapnya dengan dalam, sebelum bergumam dengan halus. "Berarti guru adalah disalah satu bintang itu."
Iloania melihat cincinnya dan berbicara dengan Vleia dengan ikatan bati. "Vleia, yang mana menurutmu?"
"Mungkin, yang paling redup." Jawaban Vleia membuat Iloania mengernyit.
"Mwo? Kenapa yang paling redup?"
Suara Vleia tidak terdengar sampai beberapa detik. "Karena pria itu pemalu Ilo. Tidakkah kamu mengingat jika dia sering mengenakan topeng saat hendak keluar, dan berkata jika dia malu orang akan menatapnya?"
"Itukan karena guru tampan, dan guru tidak nyaman saja dengan tatapan orang lain." Kata Iloania.
"Guru seharusnya adalah bintang yang paling terang, karena guru sangat baik."
Suara Vleia terdengar lagi. "Baik? Heh, aku mengingat bagaimana dia dengan tegas memaksaku memakan sayuran. Akankah itu disebut baik?"
Iloania memiringkan sedikit kepalanya. "Gurukan ingin kamu sehat dan bertambah gemuk."
"Aku adalah binatang sihir, bagaimana bisa aku akan gemuk dengan memakan makanan manusia!"
"Ilo." Panggilan Lasius membuat Iloania mengalihkan pandangannya dengan cepat, dan berhadapan dengan kilau singkat sebuah kalung indah. Liontinnya adalah sebuah permata ruby berwarna merah cerah berbentuk sayap kupu-kupu kecil. Terlihat sederhana dengan rantai setipis benang berbahan perak yang ringan namun kuat. Iloania tertegun dan menatap sepasang manik dalam milik Lasius.
"Kak Sius?"
Lasius menggulung senyuman. "Terima kasih telah datang dihari itu. Dan terima kasih, telah bertemu denganku, Ilo."
...***...
Dikamar asramanya, Zalion merebahkan dirinya dengan wajah gelap. Dibawah penerangan lampu meja yang temaram, nada-nada dan kata-kata itu diucapkan berulang.
"Dasar menyebalkan. Dasar arogan. Dasar menyebalkan. Dasar arogan. Dasar menyebalkan. Dasar arogan."
Berjam-jam yang lalu, dengan seenaknya Lasius menyuruhnya. Bahkan membiarkannya membolos dikelas pertama untuk mencari sebuah kalung. Hanya sebuah kalung yang harus dia temukan ditoko kerajinan aksesoris terbaik dikota Pierst, timur laut Dragonia Academy. Harus mengurus dengan penuh hati-hati dan benar-benar dipaksa mencari kalung yang paling indah. Sungguh, jika bukan karena laki-laki itu adalah seorang pangeran, sudah dipastikan Zalion akan menendangnya sampai tersungkur didepan publik.
Sebuah kupu-kupu putih yang memancarkan sedikit cahaya mengepakkan sayapnya dan hinggap disekitar Zalion. Pemuda itu terkejut dan melihatnya.
"Sebuah pesan?" Beo Zalion.
...***...
Remaja laki-laki itu berlari menembus kerumunan dengan cepat. Didalam kantin yang luas, bergabung dengan segerombol besar penyihir tahun pertama dan menaeik napas dalam, sebelum memotong obrolan seluruh gerombolan siswa tahun pertama dengan suara nyaring.
"Apa?!"
"Benarkah? Darimana kau mendapatkan kabar angin itu?"
"Ini bukan sekedar kabar angin! Aku tidak sengaja mendengar perkataan salah satu guru dengan yang lain saat aku kekantor guru! Malam Hari Ketujuh benar-benar dikatakan akan diadakan diistana!" Keras pria tadi merasa pernyataannya memang benar.
Beberapa gadis saling bertukar pandang. "Kya! Kalau benar, apa kita bisa melihat Yang Mulia Raja Legarion?!"
"Aaa!! Yang Mulia Pasti sangat tampan dilihat secara langsung!"
"Jika benar, itu akan luar biasa!"
Kebisingan dikantin dengan cepat menyebar. Dan bahkan beberapa siswa tingkat dua dan tiga juga mendengarkan dan menjadi sedikit penasaran. Sekelompok kecil duduk dimeja tengah, suara obrolan mereka tidak keras, dan dengan cepat mendengar suara obrolan kelompok lain dikantin.
"Woah, benar juga. Bukankah awal tahun pertama di Dragonia Academy akan diadakan Malam Hari Ketujuh?" Kata Jissiana.
Lane menggebrak meja. "Sialan! Aku tidak sabar menantinya."
"Iya, apalagi jika itu benar diistana, bukankah akan sangat menarik. Aku penasaran, apa saja yang akan kita lakukan disana." Tutur Kane dengan wajah sama semangatnya.
Zalion yang duduk diujung bertanya. "Kalian sepertinya semangat sekali. Apakah menurut kalian ini seperti liburan?"
Jissiana menggeleng. "Bukan seperti itu juga. Tetapi, tetap saja menyenangkan bisa berkunjung keistana. Siapa aku orang biasa yang diizinkan keistana, jika itu benar Malam Hari Ketujuh dilakukan diistana, itu mungkin akan jadi satu-satunya kesempatanku melihat istana!"
"Benar, apalagi bisa bertemu Yang Mulia Raja!" Ucap Kane.
Iloania bertanya kepada Vleia dengan pikirannya. "Vleia, apa kamu tahu apa itu Malam Hari Ketujuh ?"
"Aku seperti pernah mendengarnya. Oh benar, sepertinya pria itu pernah mengatakan beberapa hal yang sedikit berhubungan dengan ini. Ingat setiap tahun munculnya tujuh bintang jatuh?"
"Oh, aku ingat-aku ingat. Lalu ada apa dengan Malam Hari Ketujuh ?"
"Sepertinya orang-orang disini menganggap itu fenomena yang istimewa. Dan setiap pecahan bintang pasti jatuh diarea yang memiliki banyak sihir. Dan tugas mereka mungkin berhubungan dengan mencari serpihan batu bintang itu." Jelas Vleia.
"Batu bintang itu, bukannya yang sering kita temukan itu ya ?" Beo Iloania.
Vleia terdiam selama dua detik sebelum membalas. "Sepertinya."
"Oh Ilo. Aku bertanya-tanya apa yang berubah darimu. Hey, sejak kapan kau menggunakan kalung?" Ungkap Jissiana akhirnya menemukan perbedaan pada Iloania.
Kalung perak dengan kupu-kupu kecil melingkar dilehernya dan sedikit tersembunyi dibalik helaian rambutnya. Perkataan Jissiana meski dengan suara normal mengundang yang lain untuk merasa penasaran dan menoleh pada Iloania yang memang memiliki kalung dilehernya. Itu kontras dengan kulit putih bayi miliki Iloania.
"Darimana kamu mendapatkannya, Ilo? Kalungnya sangat indah!" Puji Jissiana.
Entah kebetulan atau tidak, hanya Kane yang memperhatikan lengkungan tipis dibibir Lasius yang sejak awal diam menikmati makanannya. Kane membungkam mulutnya dan tidak bisa membantu, tetapi merasakan perasaan yang sangat tidak nyaman didadanya.
Jika itu benar ..
Iloania tidak menjawab, namun secara alami melirik Lasius yang menatap lurus kearahnya. Iloania tidak bisa membantu, tetapi merasa cukup bahagia didalam hatinya. Sayangnya tidak ada diantara mereka yang mengetahui dan menyadari, bahwa wajah Zalion telah menghitam dan menatap Lasius kejam seakan ingin mengunyahnya. Benar-benar rasa asam yang membuatnya harus membolos.
Dewa, Zalion bahkan belum pernah melakukan ini kepada seorang gadis!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
20/09/2021
Jangan lupa dukungannya~
Salam hangat,
LuminaLux