
Menyesap supnya dengan perlahan, Lamona memandang hujan diluar sana dengan sepasang maniknya yang berair. Wajahnya memerah, hidungnya memerah karena dia demam. Baru kemarin malam dia merasakan tubuhnya begitu lemas dan kepalanya berdengung pusing, sehingga dia tidak bisa datang menemui Asyra hari ini.
Dia bahkan terlalu lemah untuk berjalan ketika dia membuka matanya setelah bangun tidur.
"Hujannya deras sekali ya, paman!"
Menanggapi perkataan Nai, Lamona menganggukkan kepalanya, mengusap surainya dan dengan lembut tersenyum. "Maka dari itu, Nai tidak boleh berjalan-jalan atau bermain dibawah hujan, atau Nai akan sakit seperti paman, mengerti?"
Anak perempuan itu dengan wajah manis menganggukkan kepalanya, menuruti perkataan dan nasihat dari Lamona agar dirinya tidak bermain hujan-hujanan atau dirinya akan sakit seperti pamannya hanya untuk seharian penuh hanya bisa terbaring ditempat tidur tanpa bisa berbuat apa-apa apalagi berangkat bekerja.
Nai adalah anak penurut, jadi dia sama sekali tidak membantah dan mendengarkan dengan baik sebelum ia berlari keluar untuk menemui ibunya yang tengah membersihkan rumah.
Memandang keluar, Lamona tiba-tiba kehilangan senyumnya. Ekspresinya sedikit sulit digambarkan, dan dia dengan samar menyentuh dadanya. "Perasaanku tidak enak. Semoga Asyra tidak menunggu terlalu lama dan kembali. Aku harus menemuinya besok dan meminta maaf kepadanya karena membuatnya menunggu."
Jauh ditempat lain, bisikan dan teriakan kekaguman itu terdengar dari waktu ke waktu. Orang-orang berkerumun didalam restoran dan memandang kearah sosok yang terikat didalam sebuah jala, dan terus memberontak, sampai beberapa orang muncul dan mengangkatnya dengan mudah bersama-sama, memaksanya untuk masuk kedalam sebuah kandang besi besar yang biasanya digunakan untuk menjebak serigala atau menjebak kijang dihutan.
"Siii!!"
Asyra mencoba memberontak dan melepaskan diri, dia berusaha mencakar pelat besi yang menjebaknya, namun karena luka yang dideritanya akibat pukulan manusia-manusia itu, Asyra menjadi lemah dan kekuatannya untuk memecahkan pelat besi berkurang. Jejak kepanikan melintas dimatanya, dan suara serta tawa orang-orang disekelilingnya membuat Asyra menjadi panik, cemas, takut dan merasa dalam bahaya.
"Mona, tolong aku!" batinnya menjerit.
...***...
Dalam semalam, Lamona sudah sembuh dari sakitnya. Karena dirawat dengan baik, Lamona sudah bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Ia tengah menggendong dan bermain dengan keponakannya ketika suara arak-arakan nampak terdengar didepan rumahnya. Suaranya nampak begitu meriah, gendang ditabuh, seruling ditiup dan suara tawa yang menggema.
Mengerutkan keningnya, ia menurunkan Nai ketika kakaknya melangkah mendekatinya. "Ada apa didepan itu?"
Lamona menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu, kak. Aku baru mau melihatnya."
Melangkah keluar bersamaan, Lamona membuka pintu dan melebarkan matanya mendapati beberapa orang nampak mendorong sebuah gerobak berisikan kandang dimana Asyra terbaring tak berdaya didalamnya. Asyra melihat banyak pergerakan, dan dengan lemah dia mendongak ketika maniknya bersitatap dengan tatapan Lamona yang melebar. Asyra dengan cepat meraih besi dan membantunya untuk duduk. Ia memandang kearah Lamona dengan manik yang melebar dan berkaca-kaca. Ada darah yang menghiasi wajahnya.
"Oh, monster itu sudah bangun, rupanya!"
"Beri kami pertunjukan ikan!"
"Dia sangat cantik, tapi dia monster! Menjijikkan sekali!"
"Huaaa! Ayah, aku takut!"
"Hei, Momo! Kami mendapatkan tangkapan bagus kali ini! Betapa lucunya dia datang kemari sendiri, haha! Kupikir dia tersesat atau mungkin memang mencari kematian!"
Lamona hampir tidak merespon perkataan orang lain dan tatapannya terpaku pada Asyra yang memandangnya, mengulurkan tangannya seolah meminta bantuan kepadanya. Tatapannya penuh permohonan dan harapan.
"Apa yang coba dia lakukan?"
"Hei, apakah dia mencoba menyihir Momo?!"
"Apa? Hei! Jangan biarkan dia melakukan apapun!"
Lamona dengan cepat berkata, "Apa yang kalian lakukan sampai bisa menangkapnya? Ini ... menakjubkan!"
Pria yang akan memukul Asyra teralihkan dan dengan senang hati berkata, "Dia menyamar menjadi manusia dan pergi kerestoran saat hujan kemarin siang. Kami menangkapnya dengan jala dan membuatnya tidak bisa berkutik sedikit dengan obat pelumpuh dan listrik. Sekarang kami akan mengaraknya dan memamerkannya keseluruh kota!"
"Lalu?" Tanya Lamona dengan wajah yang sulit digambarkan.
"Lalu apa lagi? Kami akan membangun sebuah sumur dan memasukkannya kesana agar semua orang yang penasaran dan tidak percaya pada monster bisa melihatnya." Ucap pria itu.
Lamona memandang Asyra yang juga memandangnya dengan air mata dan dengan perlahan menyunggingkan senyuman. "Itu ide bagus."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Lamona, jantung Asyra seakan tertikam oleh sesuatu. Maniknya melebar, tangannya jatuh dan dia tidak bisa merespon dengan apapun selain air mata yang semakin deras membasahi kedua pipi pucatnya.
"Ayo lanjut pergi!"
Gerobak bergerak. Namun sepasang manik biru itu tidak bisa berpaling dari Lamona yang juga tidak bisa memalingkan sedikitpun wajahnya dari Asyra. Asyra tidak bisa mengerti apapun dari tatapan Lamona, namun, hatinya begitu sakit dan dia serasa hancur.
"Mo .. na?" lirihnya setipis angin.
...***...
Berbaring dikandang besi dengan tatapan sendu dan kosong, Asyra tidak bisa berhenti menitikkan air mata. Bahkan, air matanya serasa mengering sama seperti tubuhnya yang berteriak membutuhkan air secepatnya. Udara dingin menyapanya meski dia berada didalam sebuah gudang, dengan ekor terikat rantai besar yang berat yang melukainya.
Asyra tidak mengerti mengapa manusia bisa begitu kejam, padahal dia sama sekali tidak melakukan kejahatan apapun.
Dia menyesal telah datang kedaratan. Dia menyesal telah mengabaikan larangan kakaknya, dan dia menyesal telah bertemu dengan Lamona. Pria itu yang membuat hatinya nyaman, pria itu yang memaksa akal sehatnya menjadi gila sehingga dia berani datang kedunia manusia sendirian yang bahkan dia tidak ketahui bagaimana dunia manusia itu. Pria yang membuatnya jatuh. Jatuh hati.
Tap .. Tap .. Tap ..
Mengangkat kepalanya dengan waspada ketika mendengar suara langkah kaki ringan mendekat, Asyra hendak memasang pose pertahanan ketika dia tertegun mendapati wajah familiar didepannya. Lamona memandangnya, menurunkan jubah yang dikenakannya dan dengan tanpa suara berjongkok didepan kandang tempat Asyra dikurung dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.
Sebuah kunci.
Cklek!
Asyra tidak bisa merespon selama beberapa waktu bahkan setelah rantai diekornya terlepas. Ia memandang Lamona dengan tatapan berkaca-kaca dan dengan bibir yang bergetar.
"Kemarilah."
Lamona mengulurkan tangannya, membukanya dan memberikan tanda bahwa Asyra harus memeluknya. Menitikkan air matanya, Asyra menerjang Lamona dengan pelukan, bersamaan dengan tangan kanan Lamona yang menyelinap dibawah ekor Asyra, menggendongnya ala pengantin dan berdiri. "Aku akan membawamu keluar dari sini."
"Jangan takut." Bisiknya menenangkan membuat air mata Asyra semakin meluruh.
"Kupikir kamu ..." Asyra tidak mampu melanjutkan kata-katanya.
Dia pikir Lamona meninggalkannya.
Lamona mengeratkan pelukannya dan dengan suara lembut berbisik, "Maaf aku melakukan dan mengatakan hal mengerikan itu sebelumnya. Jika aku mencoba menolongmu didepan mereka, mereka justru akan mencegahku mendekatimu. Aku harus berbaur dengan mereka untuk mencuri kunci dan membebaskanmu. Maafkan aku. Maafkan aku untuk yang selalu terlambat. Maafkan aku tidak datang menemui waktu itu sampai membuatmu mencariku. Maafkan aku."
Asyra menggelengkan kepalanya dan mengeratkan pelukannya pada leher Lamona, mencegah isakannya keluar dari bibirnya.
"Jangan minta maaf."
Permintaan maaf hanya membuat perasaan Asyra semakin buruk, merasa bahwa keduanya, tidak akan pernah bertemu lagi.
Sepuluh menit berjalan dengan Asyra digendongannya, keduanya tiba ditepi pantai. Membawa Asyra lebih jauh ke pantai, Lamona tidak peduli jika air dingin menembus pakaiannya. Ia hanya perlu membawa Asyra kedalam air yang bisa membuat Asyra berenang. Setelah mencapai pahanya, Lamona menghentikan kakinya dan dengan perlahan menurunkan Asyra kedalam air.
"Pergilah." Perintah Lamona.
Asyra hendak mengatakan sesuatu ketika Lamona kembali berkata, "Dan jangan pernah kembali kesini lagi."
Asyra tertegun. "Apa? Me-Mengapa?!"
Lamona memandang Asyra dengan tatapan tidak percaya. "Kamu tidak menyadari apa yang baru saja kamu alami dan tidak tahu apa yang bisa terjadi padamu dimasa depan jika kamu tertangkap lagi, huh?!"
"Dunia manusia terlalu berbahaya bagimu. Aku tidak ingin kamu terluka, jadi aku mohon jangan pernah kembali lagi kesini ataupun muncul dipermukaan!"
Asyra memegang tangan Lamona dan menggeleng. "Tapi aku tidak ingin meninggalkanmu. Aku ingin bertemu denganmu setiap hari, aku ingin bersama denganmu, hiks!"
Lamona memandang Asyra dengan tatapan yang sulit diartikan. Lamona juga sama. Dia nyaman dan bahagia bisa bersama dengan Asyra. Interaksi mereka selama ini membuat Lamona sadar bahwa dia mencintai Asyra karena gadis itu begitu apa adanya. Begitu ceria, cerah dan indah sampai Lamona tidak ingin dia terluka sedikitpun. Namun kejadian ini membuat Lamona sadar, bahwa dunia manusia bukanlah tempat untuk Asyra. Dunia manusia berbahaya baginya.
Lamona menarik napasnya, menarik Asyra kepelukannya ketika gadis itu balas memeluknya dengan erat. "Kamu ingat permintaan yang belum aku sebutkan, kan?"
Mendengar apa yang dikatakan oleh Lamona, Asyra melebarkan matanya. "Tidak! Tolong jangan katakan apapun! Aku akan mengabulkan apapun, tapi jangan menyuruhku pergi!"
Lamona mengucapkannya dengan jelas namun pelan. "Permintaanku, kembalilah ke laut, dan jangan pernah datang ke daratan lagi, ya?"
"Pergilah."
Melepaskan pelukannya pada Asyra, Lamona tersenyum memandang Asyra. "Aku tidak akan meninggalkanmu. Kamu yang harus meninggalkanku, Asyra."
Air mata mengalir dari sepasang manik Asyra, dan dia memejamkan mata dan terisak. "Aku ... hiks! Aku ... aku suka kamu! Hiks!"
Lamona memandangnya dengan tatapan sedih, namun dia berusaha mengulas senyuman. "Pergilah, Asyra. Aku sudah mengucapkan permintaanku. Jadi, selamat tinggal."
Asyra melihat Lamona masih tetap berdiri ditempatnya, mengawasinya. Air mata dan isakan tidak berhenti. Bahkan ketika dia membelakangi Lamona dan mulai berenang menjauh, ia tetap menangis dan menangis. Ia hendak menoleh kebelakang ketika Lamona berkata, "Jangan menoleh kebelakang, Syra. Tidak apa, kamu melakukannya dengan baik. Berenanglah."
"Hiks! Hiks!"
Bahunya bergetar, hatinya seakan tercabik-cabik. Asyra tidak menghapus air matanya dan dengan cepat berenang dan melompat kedalam air sebelum meninggalkan jejak gelombang air. Ia berenang dengan cepat turun, tidak menoleh kebelakang meskipun dia terus menangis dan terus menangis. Lautan turut merasakan kesedihannya, begitu juga dengan langit yang turut menangis melihat kejadian yang baru saja terjadi.
"Hiks, hiks! Permintaan konyol!"
...***...
Berdiri memandang pantai dan ombak yang menyapa, Lamona tidak bergerak bahkan ketika hujan membasahi seluruh tubuhnya. Lamona memandang lurus kedepan dengan pandangan yang tertutup oleh poni panjangnya. Tidak tahu apa ekspresinya, namun detik berikutnya, sebuah gumaman terdengar lirih dari bibirnya.
"Aku mencintaimu."