Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 147 "Ancaman"


Lima tahun kemudian**.


Hari Kelima, Bulan Keempat, Musim Panas**


Anak perempuan itu berjalan dengan riang hati disepanjang lorong yang terbuat dari zamrud murni yang menawan. Pintu-pintu dengan ukiran yang menawan tidak menghentikan langkahnya barang untuk sebentar saja. Ia melangkah dengan riang, diikuti pengasuh dan beberapa pengawal yang senantiasa mengikuti sang putri untuk mengawalnya.


Amore mengedarkan sepasang manik birunya, guna mencari ruangan dimana seseorang yang dicarinya berada.


"Amore akan mengejutkan kak Listo dengan mendatanginya. Kakak pasti akan terkejut dan akan meluangkan waktunya untuk bermain dengan Amore."


Ia bergumam disepanjang jalan. Langkahnya ringan hingga dia sampai di depan sebuah pintu. Dengan gerakan perlahan anak perempuan itu membuka pintu dan mengintip. Menyembulkan kepala kecilnya kedalam dan memeriksa seluruh ruangan untuk menemukan bahwa ruangan itu kosong. Ia membuka pintu lebih lebar dan menoleh kekanan dan kekiri untuk mencari sosok yang dimaksudkan untuk dia temukan.


"Ung? Kak Listo dimana?" Amore bergumam.


Ia hendak melangkah ketika dalam sekejab dia merasa tubuhnya menjadi ringan. Ia menatap kebawah dan menemukan sepasang tangan berada dipinggangnya dan mengangkatnya kedalam gendongan. Amore menoleh menatap sang penggendong dan mengerucutkan bibirnya. "Padahal Amore mau mengejutkan kak Listo. Tapi malah kak Listo yang mengejutkan Amore."


Anak laki-laki sepuluh tahun itu dengan tenang menyunggingkan senyuman dan dengan tenang membawa Amore untuk duduk disebuah bangku dimeja kecil dikamarnya. Ia membuka sebuah wadah penutup disebelahnya dan menyuguhkan sajian kue dan kue kering yang menjadi kesukaan Amore. Biasanya Callisto memang selalu menyiapkan kudapan untuk sang adik tersayang yang memang selalu mendatanginya.


"Amore mau yang jeruk, kak!"


Tanpa diminta dua kali, Callisto dengan sabar mengambil sepotong kue berbentuk jeruk berwarna oranya samar. Kue itu begitu lembut ketika Amore menerimanya dan menggigitnya. Ada krim lembut berwarna merah didalamnya yang merupakan cream stroberi kesukaan Amore. Ketika gadis itu mengunyah, wajahnya jelas menunjukkan seberapa besar dia menyukainya. Wajahnya yang ayu semakin menggemaskan ketika dia tidak bisa menutupi betapa dia menyukai apa yang dimakannya pada saat itu, yang membuat Callisto dengan gemas mencubit lembut pipi tembamnya.


"Kakak, jangan cubit!"


Amore memberengut kesal ketika dia diganggu ketika dia sedang makan. Bahkan bersama dengan kakak kesayangannya, dia masih tidak suka dicubit dipipi ketika dia sedang makan.


Callisto menyunggingkan senyuman. "Maaf ya~ Habisnya Amore manis sekali sih!"


Amore bukan anak yang pendendam. Dia hanya anak yang jujur dengan emosinya. Ketika dia suka dia akan tersenyum dan ketika dia kesal dia akan cemberut. Amore memang kesal jika dicubit saat makan, namun kemarahan itu lenyap seketika setelah dia mendapatkan permintaan maaf. Keduanya mengobrol kembali setelah beberapa lama dan dengan tenang kembali mengobrol dan bercanda ria kembali sembari menikmati jamuan yang ada.


...***...


Jauh disebelah barat Istana pangeran, diruangan itu terjadi perdebatan antara dua orang yang berbeda usia tak jauh. Raja Archles menatap sang kakak dan dengan tegas menolak gagasan dari sang kakak mengenai kerjasama dengan kerajaan lain.


"Aku tidak akan menyetujuinya, kakak. Kerajaan itu sudah terkenal dengan kelicikannya, dan kita tidak tahu apa yang bisa mereka lakukan dimasa depan kepada kerajaan kita jika kita lengah."


Max, sang kakak menjawab dengan nada yang tidak senang, namun masih mencoba meyakinkan Archles. "Mereka memang licik, namun jika kita berhati-hati, mereka adalah kerajaan yang berani memegang janji mereka. Kita hanya butuh kecerdasan untuk mengimbangi kelicikan mereka, Yang mulia, dan anda punya itu. Kerajaan kita harus bekerjasama dengan kerajaan Meron untuk mendapatkan sumber daya mereka yang melimpah dibidang bahan pangan sementara kita hanya perlu mengirimi mereka permata kita. Itu sebanding."


Archles menggeleng dan tetap teguh pada pendiriannya. "Tidak kakak. Aku sudah dengan jelas mengatakan bahwa kita tidak akan berkerjasama dengan kerajaan Meron."


Archles menutup perbincangan ketika dia melangkah pergi, meninggalkan Max yang meraung dengan penuh emosi setelah beberapa waktu Archles meninggalkan ruangan. Tatapannya menatap nyalang pada foto Archles yang menawan dengan jubah merahnya. Mahkota dikepala Archles membuat pandangan Max semakin meradang oleh kemarahan.


"Ayah, bisa-bisanya kau memberikan kerajaan ini kepada orang yang bermental lemah sepertinya? Tahta ini seharusnya menjadi milikku, namun kenapa kau memberikannya kepada Archles yang bahkan adalah anak bungsu?! Kenapa?!"


"Oh, mohon tenang pangeran."


"Apa yang kau lakukan disini?" Max memincingkan mata menatap Hison.


Hison diam selama dua detik sebelum menyunggingkan seringaian lebar. "Saya memiliki sebuah penawaran untuk yang mulia pangeran."


...***...


Dua tahun kemudian.


Hari keenam, Bulan Kedua, Musim Semi


Ada tempat yang begitu luas. Cakrawala biru yang membentang luas diatas permadani dandelion yang menawan meskipun hanya sebuah bunga liar yang rapuh. Namun berani dan bebas dalam mengikuti sang angin yang dengan lembut membawanya berkelana. Kupu-kupu cantik terbang bebas diantara bunga dan menyapa cahaya lembut sang mentari dan suara kicau burung tertangkap dengar berasal dari sebuah pohon besar yang dipenuhi oleh bunga merah muda. Satu-satunya pohon yang ada ditengah padang bunga dandelion.


Suara tawa yang khas itu terdengar mengiringi hentakan kaki yang lembut menyapa tanah berumput. Helaian kain lembut yang bergesekan membawa nuansa yang halus dan senandung lembut mengalir dari bibir sewarna buah persik itu.


"Callisto, cepatlah!"


Seseorang dibelakangnya mengikuti dengan senyuman lembut. Kemeja putih bersih yang membuatnya tampak seperti seorang pangeran melekat ditubuhnya dengan warna celana panjang yang senada. Senyuman tersungging dibibir yang gadis, bak malaikat dengan surai pirang bergelombang yang tersibak oleh angin yang menyapa.


"Amore, jangan berlari."


Callisto mengingatkan Amore karena kepeduliannya agar sang adik tidak terluka. Namun anak perempuan berusia tujuh tahun itu tetap dengan riang berlarian disepanjang padang dandelion hingga ia tidak sengaja tersandung ketika melakukan gerakan memutar tubuhnya dan jatuh kebelakang. Jatuh tepat diatas hamparan bunga dandelion yang tertiup angin.


"Amore!" Kepanikan melintas dimata Callisto ketika remaja itu segera berlari dan memeriksa keadaan Amore yang masih terbaring ditengah hamparan bunga. "Amore, kamu tidak apa-apa?"


Amore menggulung senyuman dan menarik Callisto untuk berbaring disebelahnya, memandang langit yang tinggi dan megah.


"Listo." Amore memanggil dengan suara lembut ketika Callisto merespon dengan senandungan hangat. "Mn?"


Amore terdiam selama beberapa waktu sebelum menoleh menatap Callisto yang turut menatapnya. Keduanya bertatapan selama beberapa waktu sebelum dengan senyuman Amore berkata, "Tidak jadi, ah!"


"Loh? Kakak sudah penasaran dan kamu tidak jati mengatakan apa yang ingin kamu katakan? Ayolah, katakan apa itu?" Desak Callisto.


Amore tidak menjawab, tetapi dia justru tertawa dengan riang. Suasana yang menyenangkan tercipta, meski Callisto merasa penasaran, ia hanya tersenyum dan turut tertawa bersama dengan Amore. Sang adik tercinta.


...***...


"Kita akan menyerang besok." Suara itu begitu dingin, "Kita akan menghancurkan Emerald Kingdom!"


Pria itu berdiri ditengah ruangan gelap. Seringaian melebar ketika dia menatap anak buahnya. Dalam kegelapan, cahaya matanya memendar kemerahan. Seolah, dia adalah perlambangan dari iblis yang kelam.