
"Sudah dua minggu kak Rema menghilang." Ucapan itu terlontar dari bibir si albino yang tengah menatap dingin Rusfeli yang tengah menyesap wine kesukaannya.
Diantara semua wine, dia paling suka wine yang ada ditangannya. Pemberian dari seorang klien yang beberapa bulan lalu puas akan pelayanan organisasinya. Selliev mengabaikan tata krama, membanting vas bunga yang ada disampingnya hingga hancur berantakan. Rusfeli memicingkan matanya, menatap datar Selliev.
"Lalu apa yang bisa kulakukan?"
Perkataan Rusfeli membuat Selliev terbungkam. "Jika gadis itu ingin menghilang, dia bisa menghilang kapanpun tanpa diketahui siapapun. Jika dia menghilang, berarti dia sedang menenangkan dirinya. Dia butuh mengintrospeksi dirinya bahwa apa yang dilakukannya adalah tindakan yang bisa membahayakan kelompok."
Selliev menyela. "Darimana dari tindakannya yang bisa membahayakan kelompok?"
"Sudah bertahun-tahun kak Remaja hidup seperti itu. Dan sudah sebulan dia menggunakan caranya sendiri. Apakah dia pernah ketahuan? Semua jejaknya tidak mengarahkan organisasi pemburu kesini karena buktinya mereka bahkan tidak pernah ada yang menginjakkan kakinya puluhan kilometer dari tempat ini, Ibu!"
"Bahkan jika mereka muncul detik ini, yang membuat Ibu berpikir bahwa kita akan kalah adalah kelemahan Ibu sendiri. Apakah Ibu takut pada pemburu?"
Rusfeli meluruskan bibirnya. "Tutup mulutmu, Selliev."
Selliev menggeleng pongah. "Penakut seperti Ibu tidak berhak mengatur hidupku."
"Selliev!"
"Ibu hanyalah penakut! Dan Ibu tidak akan bisa mengelak dari fakta itu! Jika Ibu tidak mampu, biarkan aku yang menggantikan posisi Ibu! Turunlah dari posisi Ibu sebagai ketua kelompok dan bersembunyilah selamanya didalam kamar Ibu seperti yang kakak lakukan sampai kematiannya!"
Napas gadis itu memburu. Sepasang manik itu memerah, dan hidungnya kembang-kempis mencoba mengatur napasnya. Emosi yang dia pendam selama ini hampir sampai diubun-ubunnya, dan Selliev hampir tidak bisa menahannya. Rusfeli memandang Selliev dengan dingin. Kedua pasang manik itu saling bersitatap dalam situasi yang tegang. Jika ada orang lain disana, mungkin mereka bisa menemukan percikan listrik diantara keduanya.
Selliev menarik napas panjang dan berkata dengan gigi setengah terkatup. Mendesis, "Jika aku menemukan Ibu bersikap seperti ini lagi, jangan salahkan aku jika aku melakukan sesuatu yang tidak akan Ibu bisa pikirkan seburuk apa dampaknya."
"Ingat, Ibu. Aku tidak pernah main-main dengan perkataanku."
Brak!
Ia membanting pintu sesaat setelah dia selesai mengatakan apa yang ingin disampaikannya. Rusfeli memandang datar lurus kedepan. Entah apa yang ada dipikirannya, namun yang pasti, itu terlihat sangat jauh dan terasing.
...***...
"Hei, tolong kembalikan keranjangnya. Aku harus segera mengumpulkan tanaman obat dan kembali."
Pemuda itu—Asta, mengulurkan tangannya kearah dimana dia merasa keranjangnya ditarik. Tangannya melambai, mencari benda yang tak bisa dilihatnya karena kekurangannya. Ada suara yang menyapa pendengarannya. Suara paling dingin dan menyeramkan yang pernah dia dengar dan rasakan, namun juga merupakan suara yang menyimpan sejuta rasa sakit dan ketakutan.
"Keranjang ini sudah usang."
Asta mencebikkan bibirnya. "Sudah lima kali kamu mengatakannya. Rema, tolong kembalikan."
"Rema? Suara tadi ... kamu melemparnya kedanau?" Suara Asta terdengar sedikit ragu, namun keterdiaman Rema membuat Asta menjadi yakin bahwa keranjangnya telah dilemparkan oleh gadis yang dikenalnya hampir dua minggu yang lalu itu.
Asta tidak bisa berkata-kata. Namun dia juga tidak bisa melakukan apapun. Kemudian, gadis itu menghilang. Hanya ada kesunyian yang terpecah oleh suatu angin dan suara binatang kecil di padang yang jauh dari permukiman penduduk itu.
Asta menghela napas. Sudah seminggu penuh dia berusaha mendekati gadis itu untuk berteman. Namun, entah mengapa rasanya sangat sulit. Gadis itu sangat tertutup, misterius dan hampir tidak berperasaan. Ketika dirinya mendengar suara burung mencicit lirih, nampak kesakitan, gadis itu menunjukkan dengan kata-katanya, bahwa burung itu sekarat. Dia menjelaskan dengan sangat detail bagaimana ciri-ciri burung itu. Bagian dimana yang terluka, bagaimana posisinya, bagaimana dia berekspresi ketika mencicit kesakitan.
Gadis itu menjelaskan lebih rinci lagi, hingga bagaimana napas terakhir burung itu.
Perkataannya membuat Asta merinding dan terbawa sampai ke mimpinya malam dihari dia menemukan burung itu.
Itu benar-benar mimpi buruk yang menakutkan.
Menghela napas, Asta menyerah pada pemikirannya dan mulai memikirkan bagaimana ia harus mendapatkan keranjangnya kembali. Mungkin ini salah satu kejahilan gadis itu, karena nyatanya gadis itu memang selalu jahil. Menyembunyikan keranjangnya, menyembunyikan tongkatnya, bahkan kadang menyembunyikan tanaman obatnya.
Asta meraih tongkatnya, berjalan perlahan menuju kearah danau. Ada air terjun kecil yang tercipta dari anak cabang sungai yang mengalir menuju danau disela bebatuan. Suara yang ditimbulkan oleh air terjun kecil itu membuat Asta tahu dimana letak danau itu. Pun, padang itu sudah menjadi tempat Asta bekerja mencari tanaman obat selama hampir dua tahun lamanya. Dia sudah hafal betul tempat dimana dia bisa menemukan tanaman obat dan tempat-tempat berbahaya yang tidak boleh dideketinya.
Merasakan rumput yang basah oleh air, Asta yakin dia sudah ada di tepi danau. Danau itu menjorok kedalam selebar setengah meter. Dan setelah setengah meter itu, tinggi tanah berubah drastis. Bagian tengahnya, jika diukur bisa sedalam tinggi delapan orang dewasa.
Menggunakan tongkatnya, Asta mulai meraba air danau. Mencoba menemukan dimana keranjang rotannya. Meskipun memang sulit dan peluang menemukannya kecil karena kekurangannya, namun Asta masih berharap bahwa dia bisa menemukan keranjang kecilnya, agar dia bisa mengumpulkan tanaman obat dan menjualnya kepada pedagang untuk membeli makanan.
Berjongkok dipinggir danau dengan satu tangan berpegangan pada sebuah barang pohon kecil, Asta tidak behenti mengayunkan dengan perlahan tongkatnya.
Dimatanya, semua gelap. Dia tidak tahu dimana keranjangnya. Namun jika orang lain melihatnya, itu hanya berjarak beberapa centimeter dari ujung tongkatnya. Sedikit lagi, dan sedikit lagi saja untuk mengenainya.
Tuk.
Senyumnya terbit saat dia merasakan sesuatu mengenai ujung tongkatnya, dan air danau beriak samar. Itu pasti keranjangnya. Dia memajukan tubuhnya sedikit lebih kedepan, agar bisa meraih keranjangnya dengan tongkatnya, namun naas, tangannya terpeleset hingga dia terjungkal kedalam danau.
Byur!
Air menciprat, dan jatuhnya menciptakan gelombang yang cukup besar. Riak air tercipta didanau itu. Asta mencoba untuk berenang, namun dia tidak bisa menggerakkan kedua tangan dan kedua kakinya dengan baik didalam air danau. Dadanya terasa pengap dan telinganya tidak bisa mendengar apapun.
Pada saat ini, Asta merasa bahwa dia ada dalam kehampaan. Tidak ada yang bisa dilihat, didengar atau bahkan dirabanya selain rasa dingin yang menembus sampai ketulang belakangnya.
"Apakah aku akan mati seperti ini?"
Yogyakarta, LX