Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 100 "Kemunculan Gamma"


Ketika Iloania mengangkat tangannya untuk melemparkan serangan, Hisso terlebih dulu mengeluarkan lidahnya yang memanjang dan menghancurkan kristal yang menjebak dirinya. Ketika Iloania melemparkan sihirnya, Hisso sudah melepaskan diri dan menghindar. Perutnya memiliki lubang yang ia tutupi menggunakan sebelah tangannya. Darah mengucur deras dari perutnya, tetapi dia tidak mati bahkan setelah organ tubuhnya terkoyak.


Hisso meringis dan menatap bengis pada Iloania yang berhasil melukainya.


"Lukanya sangat lama untuk tertutup." Batin Hisso saat merasakan perutnya lama untuk kembali pulih.


Sebagai iblis, Hisso dan Eavy memiliki tubuh abadi. Selama mereka tidak tersegel atau tertusuk dijantungnya, mereka tidak akan mati. Karena itu, bahkan meskipun lehernya terpisah dari tubuhnya atau bahkan tubuhnya terbelah menjadi dua, selama jantungnya tidak terluka oleh senjata yang telah diberkati dengan air suci dari kuil, mereka tidak akan mati.


"Pengguna elemen kristal adalah yang paling menyebalkan." Desisnya sembari meludahkan darah pekat dari bibirnya.


"Haha!! Ayolah! Menyerah saja dan terimalah untuk menjadi bonekaku."


Ketika telinganya menangkap suara Eavy, otak Lasius langsung memerintahkannya untuk memasang ekspresi penolakan yang kentara. Lasius mengangkat pedangnya dan tak menyerah untuk menyayat boneka mayat yang mencoba menyerangnya.


Brak!


Mendengar suara ledakan dari arah Iloania, Lasius menoleh. Merasakan kekhawatiran mengalir didadanya. Ia menyentuh kalung penyimpannannya.


"Hallias, keluarlah!"


Sedetik kemudian, sosok Hallias yang berkali-kali lebih besar dari ukuran manusia muncul disamping Lasius. Lasius segera berkata disela kegiatannya menyerang boneka mayat Eavy.


"Katakan bagaimana keadaan Iloania disana."


"Baik tuan." Hallias memejamkan mata selama dua detik sebelum membukanya kembali. Sepasang manik itu kini menjadi permata aquamarine yang mempesona.


Dalam penglihatannya, Hallias berkata, "Keadaannya sulit ditebak. Keduanya berdiri berhadap-hadapan dan keduanya sama-sama terluka parah."


Lasius mengeratkan giginya sebelum menatap tegas Hallias. "Urus yang ada disini, Hallias. Bisakah kau?"


Hallias mengangguk. "Serahkan pada saya, tuan."


Lasius mengangguk dan segera mundur sebelum digantikan Hallias yang melebarkan sayapnya dan menyambar boneka mayat didepannya menggunakan sihir elemen cahayanya. Bahkan meskipun boneka itu telah terbakar dan melepuh, itu pulih perlahan dan kembali bergerak dengan ganas mencoba menyerang Hallias sesuai intruksi yang diberikan Eavy.


"Kau membuatku marah dasar burung jelek! Aku sangat benci burung!" Marah Eavy.


"Maaf saja, tapi aku juga membenci iblis." Ucap Hallias sembari menghalau serangan boneka mayat dengan sayapnya yang terlapisi oleh pelindung.


Iloania memunculkan tombaknya dan memegangnya menggunakan kedua tangannya. Kelebihan lain dari Mutiara Roh adalah mampu mengikuti setiap elemen sihir yang dimiliki pemiliknya. Bahkan jika itu adalah elemen yang bersebrangan, hanya akan menguras tenaga setiap kali pemakaian.


"Aku harus bisa mengalahkannya." Iloania bergumam sebelum ia mengayunkan tombaknya dengan gerakan cepat.


Tombak Siena miliknya sangat ringan, namun kekuatan dan ketahanannya melebihi beton. Bahkan dengan tumpukan batupun, tak akan mampu mematahkannya.


Ayunan tombaknya membawa amukan angin. Tanah terangkat dan pepohonan tumbang kemudian berterbangan. Iloania mengarahkan serangannya langsung kepada Hisso yang tetap bertahan ditempatnya, melindungi dirinya sendiri dengan sulur yang meluas. Meski Iloania dapat merasakan energi sihirnya semakin berkurang, ia tidak berhenti dan terus melayangkan serangan kepada Hisso.


"Kak Sius, sekarang!" Ia meneriakkan sesuatu bersamaan dengan munculnya Lasius dibelakang Hisso.


Lasius mengangkat pedangnya yang terlapisi sihir cahayanya dan mengayunkannya kearah Hisso. Membuat gerakan membelah yang cepat dan penuh dengan kekuatan. Hisso mengangkat sebelah tangannya dan melapisinya menggunakan sulurnya untuk menahan pedang Lasius.


Slap!


Pedang itu menembus setengah dari pertahanan Hisso, namun beberapa saat kemudian, sulur itu menjebak pedang Lasius dan mencengkramnya dengan erat.


"Kak Sius, menyingkir dari sana!" Iloania berkata lantang sembari sedikit merunduk, mengayunkan tombaknya dari belakang dengan kecepatan yang hampir tak terlihat oleh penglihatan manusia biasa.


Lasius hendak melompat menjauh sebelum sulur hitam itu menangkap pergelangan kakinya. Hal yang mengejutkan terjadi ketika tombak Iloania ditangkap bahkan sebelum berhasil melancarkan serangannya.


"Sudah cukup main-mainnya." Ujar Hisso.


Ia mengangkat tangannya dan menggunakan sulurnya untuk mencekik Lasius dan Iloania. Gerakannya cepat dan setiap gerakan yang dihasilkan keduanya, mengalirkan energi untuk diserap sulur. Sulur Hisso memiliki kemampuan menyerap energi. Gerakannya terlihat seperti ulat yang menggeliat, bergelung dan menghantarkan energi yang diserapnya untuk menyembuhkan luka diperutnya.


Lasius mengangkat tangannya dan bergumam, "Elemen Cahaya: Ledakan Cahaya!"


Bersamaan dengan itu, sebuah bola cahaya dengan cepat terbentuk ditangan Lasius dan sedetik kemudian melesat menuju Hisso dengan kecepatan tinggi. Ketika Hisso hendak melompat, itu terlambat ketika bola cahaya meledak dan mengenai sebagian tubuhnya.


"Arghh!"


Pandangan Lasius sedikit memburam, namun dia bangkit dan mengedarkan pandangannya kesekelilingnya mencari Iloania. Tatapannya terpaku kala melihat gadis itu terbaring tak bergerak didekat sebuah pohon. Lasius mengabaikan rasa sakit dibahu kanannya dan segera menghampiri Iloania secepat yang bisa. Ia berlutut disamping Iloania dan memposisikan Iloania terbaring menghadap langit.


"Ilo?" Memanggil sekali, Lasius mencoba mendapatkan respon Iloania dengan gerakan pelannya menepuk pipi Iloania.


Lasius mengecek nadi Iloania dan bernapas lega. Iloania hanya pingsan.


Tap!


"Kalian benar-benar menguji kesabaranku. Lebih baik aku berhenti bermain-main sekarang dan menghabisi kalian disini. Lord sudah menunggu, dan aku tak bisa membuat my lord menunggu lebih lama." Gumamnya.


Ia mendongak dengan wajah menyeramkan. Ketika dia mengangkat tangannya kesisi tubuhnya, ratusan sulur muncul dari punggungnya dan meliuk-liuk layaknya memiliki kesadaran sendiri. Aura yang dikeluarkannya sangat mengancam, dan Lasius berbalik, berlutut dengan sebelah kaki, memasang posisi bertahan.


"Wah~ Wah~ Nampaknya ada pertarungan sengit disini yang tidak kuketahui ya. Pantas saja angin dari selatan sangat tidak mengenakkan. Ternyata ini ulah kalian."


Suara itu tegas dan berani. Ketika Lasius mendongak, ada seseorang yang melompat dan mendarat didepannya. Helaian surai hitam itu berkibar diterpa angin. Baju setengah badan yang menampilkan perut berlapis lemak bayi tipisnya bergerak. Dan rok tutu setengah pahanya bergoyang ketika angin menyapanya.


Ketika ia menoleh, sepasang iris sewarna zamrud itu menatap Lasius selama dua detik sebelum teralihkan kepada Iloania, dan kembali kepada Lasius lagi sebelum ia menarik tatapannya.


"Biar kuberitahu padamu. Aku cukup terbuka dengan berbagai ras, bahkan pada iblis. Jika kau membuat keputusan untuk berhenti sekarang, aku akan membiarkanmu pergi dengan selamat. Tapi jika kau menolak, bersiaplah untuk rasa sakit."


Gambaran anak gadis berusia sepuluh tahun itu menyilangkan tangan didepan dada dan menatap tajam lurus kedepan. Ia memang nampak seperti anak kecil, namun Lasius tak bisa meremehkannya. Ia bahkan tidak bisa merasakan kedatangan anak itu.


"Bocah! Omong kosong apa yang kaukatakan?!" Kata Hisso.


Ia mengayunkan sebelah tangannya, dan separuh sulur dipunggungnya tergerak untuk menyerang gadis itu. Anak perempuan itu tidak bergerak, dan ketika sulur hendak mencapainya, anak itu melompat, mengepalkan tangannya dan menghantam perut Hisso setelah dia berlari diatas sulur menuju Hisso.


BUAGH!!


Pukulannya membuat Hisso terlempar hingga hampir duaratus meter jauhnya. Bahkan hingga mematahkan beberapa pohon yang dilaluinya. Lasius melebarkan sedikit matanya terkejut, hampir tidak percaya ada anak kecil yang memiliki kekuatan fisik sekuat itu.


"Tak perlu sihir untuk mengurus iblis sombong sepertimu." Gumamnya setelah mendarat dengan lembut ditanah.


Ia menoleh dan bertanya kepada Lasius. "Bagaimana keadaannya?"


Lasius terdiam terkejut. Dia menatap lurus kedepan, sebelum tersadar bahwa alasan mengapa anak perempuan didepannya sangat kuat mungkin bukan karena elemen tertentu. Namun karena nyatanya, yang ada didepannya adalah tujuan kedua mereka.


Gamma.


Ada tanda dilehernya yang sedikit tertutup helaian surainya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update:



02/07/2022


Jangan lupa dukungannya~


Salam hangat,


LuminaLux