Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 97 "Sebuah Mimpi Ke Tempat Yang Dituju"


Duduk saling berhadapan, Ka dan Ra menghadap meja batu bundar berdiameter dua meter. Ditengah meja batu itu, ada potret Gamma, dan disekelilingnya tertuang cairan merah sepekat darah.


Keduanya saling menautkan tangan diatas gambar Gamma, menunduk dan menggumamkan sesuatu dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh Lasius dan Iloania yang duduk tak jauh dari keduanya. Suasana nampak misterius, penuh dengan aura asing yang membuat bulu kuduknya sedikit meremang.


Manik Ra dan Ka terbuka lebar, dan memancarkan cahaya putih yang membuatnya nampak kosong. Keduanya berkata dengan suara samar yang tidak berjiwa.


"Dari belahan bumi utara, Tundra Airia."


Ketika mereka selesai mengatakan itu bersamaan, mata mereka terpejam. Ra langsung tak sadarkan diri, dan hampir jatuh menghantam lantai jika Iloania tak refleks menangkapnya kala indranya merasakan keanehan dari Ra. Iloania segera menoleh kedepan dan bertanya.


"Apakah kak Ra baik-baik saja?" Tanyanya.


Ka berjalan mendekati Ra dan memindahkannya dengan lembut kepangkuannya. Ka mengangguk sembari berkata, "Ra tidak apa. Hanya sedikit kelelahan karena menggunakan banyak sihirnya. Kalian sudah mendengarnya, kan?"


Lasius mengangguk. "Tundra Airia, tempat itu nampaknya ada dikerajaan ini. Aku pernah mendengarnya."


Ka kembali berkata. "Kalian harus berangkat sekarang. Kalian mengatakan, waktu kalian tidak banyak. Ingatlah untuk saling menjaga, jangan pernah meninggalkan satu sama lain. Semoga kalian berhasil."


Wajah Lasius memerah. Mengapa ini terdengar seperti mereka mendapatkan restu?


"Terima kasih banyak, kak Ka. Sampaikan juga ucapan terima kasih dan maafku kepada kak Ra saat dia bangun nanti," ucap Iloania sembari berdiri, diikuti Lasius.


Iloania membungkuk setengah badan dan meraih tangan Lasius. "Ayo, kak Sius."


Lasius mengangguk. "Kami pergi, Ka-Ra."


Keduanya berbalik, melangkah meninggalkan Ka dan Ra untuk berangkat menuju Tundra Airia. Lasius tahu dimana harus menemukan tempat itu, setidaknya, dia pernah kesana sewaktu masih kecil bersama dengan ibunya.


"Berhati-hatilah, dan semoga berhasil." Gumam Ka ketika pintu tertutup rapat, meninggalkan dirinya dan Ra, yang mungkin tak akan mampu melihat cahaya kembali.


Ka mendekap Ra kepelukannya, berbisik dengan suara selembut sutra. "Kamu sudah berusaha dengan keras, Ra."


"Maafkan aku, maafkan aku karena tidak bisa menggantikanmu. Mulai sekarang, aku akan menjadi penglihatanmu, Ra. Aku tidak akan meninggalkanmu, sampai kapanpun." Ucap Ka dengan penuh kasih sayang.


Perjalanan dari Kota Besca menuju Tundra Airia yang berada di Kota Anaria tidaklah dekat. Dengan berkuda, mereka membutuhkan waktu hingga dua hari untuk sampai. Memang akan lebih cepat menaiki Hallias, tetapi Lasius takut orang-orang dari pasukan APA akan menemukan keberadaan mereka.


Jadi meskipun memakan waktu dua hari atau lebih, keduanya sepakat memilih mencari cara aman, yakni berkuda.


Ada tempat yang sangat luas. Sebuah padang yang dipenuhi dengan bunga dandelion. Sepanjang langit, hanya ada cakrawala biru yang membentang, cerah dengan sapaan angin yang lembut dan menenangkan. Kupu-kupu berterbangan, dan suara kicau burung terdengar dari satu pohon besar yang dipenuhi bunga berwarna merah muda.


Ada suara tawa khas yang menyenangkan, diikuti suara hentakan kaki ringan yang beriringan. Suara helaian kain yang bergesekan terdengar, dan senandung lembut mengalir dari bibir sewarna buah persik itu.


"Calisto, cepatlah !" Suaranya riang memanggil.


Ada seseorang dibelakangnya. Mengenakan kemeja putih panjang dan celana sewarna senada, sama halnya dengan sang gadis yang mengenakan balutan dress putih. Senyumnya merekah, ia nampak bak malaikat dengan surai pirang keemasan yang tergerai, bergelombang dan tersibak oleh angin yang menyapa hangat.


"Amore, jangan berlari. " Peringat si anak laki-laki itu peduli.


Gadis itu, tetap berlarian dengan riang. Hingga dia tersandung ketika melakukan gerakan memutar tubuhnya dan jatuh kebelakang. Langsung ditengah hamparan bunga yang lembut.


"Amore !" Anak laki-laki yang bernama Calisto itu terkejut, berlari menghampiri gadis bernama Amore itu dengan cepat.


"Amore! Kamu tidak apa-apa ?" Tanya Calisto.


Amore menggulung senyuman dan menarik Calisto untuk berbaring disebelahnya, memandang langit yang megah.


"Listo, " panggilnya.


"Mn ?" Balas Calisto ketika yakin jika Amore tidak terluka.


Gadis itu menoleh kearahnya, menyunggingkan senyuman dan berkata, "Tidak jadi, ah !"


"Loh? Kakak sudah penasaran dan kamu tidak jadi mengatakan apa yang ingin kamu katakan? Ayolah, katakan apa itu ?" Desak Calisto.


Amore tidak menjawab, tetapi justru tertawa dengan riang. Suasana menyenangkan, namun didetik selanjutnya, dress seputih salju itu ternoda cipratan darah. Api berkobar dimana-mana, dan jeritan keputusasaan terdengar disegala penjuru tempat. Dentingan bunyi pedang terdengar, dan pengguna sihir saling melemparkan sihir mereka. Menyerang tanpa memandang kawan ataupun lawan, untuk mempertahankan hidup.


"Hah! Hah !" Terengah, Amore bergerak memperhatikan sekelilingnya, kakinya bergerak kesana kemari.


"Listo! Calisto! Dimana kamu ?!" Panggilnya ditengah peperangan.


"Amore! Kenapa kamu ada disini ?!"


Tetapi ketika dia bergerak mendekat dengan cepat, darah terciprat tepat ketubuhnya. Dia membatu, menyaksikan tubuh Amore tertembus anak panah tajam, tepat didadanya. Gadis itu gemetar, tangannya bergerak kecil, terulur kearahnya seolah memanggilnya, sebelum dia limbung dan jatuh terduduk, diiringi jerit histeris Calisto.


"Amore !!"


"Hah!!" Terbangun tiba-tiba, Iloania merasakan tubuhnya begitu dingin.


Keringat tercetak jelas didahi dan lehernya. Napasnya tersengal dan detak jantungnya menggila. Iloania memegang kepalanya dan mencoba mengendalikan pernapasannya. Ilo tidak tahu apa yang dimimpikannya. Mimpinya membingungkan, dan bahkan wajah-wajah dimimpinya tidak terlihat jelas. Iloania tidak bisa mengingat seperti apa wajah mereka.


Siapa mereka?


Siapa Amore dan siapa Calisto?


Mengapa mereka hadir dimimpinya? Siapa mereka? Perang apa dan dimana itu?


"Uhh!" Kepala Iloania sakit, terasa seperti ingin meledak kala Iloania terus memikirkannya.


Beberapa jam yang lalu, setelah lewat beberapa waktu matahari tenggelam, Iloania dan Lasius memutuskan untuk beristirahat disuatu tempat. Mendirikan tenda dan tidur beralaskan tempat tidur yang dimiliki Iloania. Lasius yang selalu waspada ditidurnya segera terbangun ketika mendengar rintihan Iloania.


Dia mendekati Iloania dan bertanya. "Ilo? Ada apa?"


Iloania menggelengkan kepalanya, mencoba menarik kesadarannya. "Ti-Tidak apa. Maafkan aku membangunkan kak Sius."


Lasius mengerutkan alisnya, sebelum dengan lembut menangkup wajah Iloania dengan kedua tangannya, manariknya pelan untuk menghadap kewajahnya.


"Ilo, dengarkan aku." Dia berkata lembut.


"Siapa aku bagimu?" Tanyanya.


Iloania berkedip sebelum membuka bibirnya menjawab, "Kekasih."


"Apa kamu tidak percaya padaku? Kamu membenciku?" Tanyanya.


Iloania dengan cepat menyangkalnya. "Aku percaya kak Sius. Aku cinta kak Sius, aku tidak membencimu."


"Benar, aku adalah kekasihmu. Aku akan selalu ada disampingmu, mendukungmu. Jangan menyimpan semua beban dan pikiranmu sendiri, Ilo. Kamu bisa percaya padaku dan selalu bisa bercerita padaku. Walaupun aku tidak bisa banyak membantu atau bahkan tidak membantu menyelesaikan apa yang menjadi bebanmu, keberadaan tempat bercerita bisa membuat beban dipikiranmu berkurang. Itulah gunanya aku disampingmu."


Iloania mengerutkan bibirnya, dan sepasang manik itu sedikit berkilat oleh air mata. Iloania terdiam selama dua detik sebelum bercerita.


"Aku .. Beberapa waktu terakhir aku sering mendengar dan bahkan memimpikan sesuatu yang tidak pernah terjadi dalam hidupku." Kata Iloania.


Ia melanjutkan berkata, "Sejak segelnya terbuka, suara-suara dan mimpi yang kudengar dan kulihat itu, seakan bukan milikku melainkan milik orang lain."


"Aku baru saja memimpikan mereka lagi. Tentang Amore dan Calisto. Aku melihat mereka dimimpiku, tetapi aku tidak tahu wajah mereka dan siapa mereka." Ucap Iloania.


Lasius sedikit bereaksi ketika mendengar dua nama itu, tetapi ia tetap bungkam.


"Tidak apa. Itu mungkin hanya efek samping terbukanya segelmu. Kamu kelelahan, semua tekanan ini membuatmu lelah. Tidak apa, bersandarlah padaku dan beristirahatlah," suaranya lembut menenangkan Iloania dalam dekapannya.


Lasius mengusap lembut surai Iloania. Lasius sudah berjanji, dia tidak bisa mengatakan apapun, yang ditemukannya.


"Maafkan aku."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update:



23/06/2022


Jangan lupa dukungannya~


Salam hangat,


LuminaLux