
Lasius merasakan tubuhnya benar-benar kotor. Hampir setengah minggu ia dan Iloania tidak mandi karena tidak menemukan mata air atau sungai. Iloania berkata bahwa air di cincin dimensinya mengering karena kekurangan mana dari Vleia, yang benar-benar mempengaruhi situasi didalam cincin dimensi.
Hanya dengan energi sihir Iloania saja tidak mencukupi, karena cincin dimensi itu hampir tidak terbatas luasnya.
Bangkit dari tempat duduk diruang utama, Lasius berjalan menuju kamarnya yang adalah kamar Lasius. Orena mengatakan bahwa rumahnya kecil dan hanya tersisa satu kamar. Sebenarnya Lasius berniat untuk tidur diluar, namun Orena melarangnya, mengatakan bahwa saat malam diluar sangat dingin dan banyak nyamuk. Dan Iloaniapun tidak keberatan bahwa jika mereka harus sekamar.
Lasius berjalan kekamar mandi didalam kamar seluas lima kali empat meter itu dan bergerak membuka pintu. Tetapi ketika pintu terbuka dan ia mendongak, Lasius membatu dan tak bisa bergerak.
"Kyaaaaa!!!!!"
TAK! BRAK!!
Orena sedang memetik tomat ketika dia mendengar jeritan yang berasal dari dalam rumahnya. Dia membawa keranjangnya dan bergegas kembali kedalam rumahnya. Begitu dia membuka pintu, ada sosok Lasius yang berdiri tegap didepan pintu kamar tamu dengan wajah bak kepiting rebus. Bahkan ada memar didahinya dan ada jejak aliran darah dihidungnya.
"Heh? Apa yang terjadi?" Tanya Orena
Bukankah yang menjerit adalah Iloania, mengapa yang terluka Lasius?
Orena menatap pintu dibelakang Lasius, bersamaan dengan terbukanya pintu itu secara perlahan dari dalam. Lasius segera berbalik dan membungkuk dalam-dalam. Tetapi disaat bersamaan, Iloania juga membungkuk.
"Maafkan aku!" Ucap mereka bersamaan.
Iloania berkata, "Maaf karena aku membuat dahi kak Sius memar. Aku sungguh tidak bermaksud!"
Lasius segera berkata, "Maafkan aku juga karena tidak sengaja melihatmu telanjang!"
Pernyataan Lasius membuat wajah keduanya kembali memerah. Bahkan wajah Iloania hampir berasap. Orena mendengar jelas alasan mengapa ia mendengar jeritan Iloania, dan mengapa keduanya berperilaku aneh. Anak-anak yang polos ini.
"Jangan bilang, kalian belum pernah berciuman?" Candanya.
Lasius mematung, sementara Iloania terdiam. Saat itu, Orena berkedip, sebelum mencap mereka dengan satu pertanyaan.
Benarkah?!
Keduanya berbaring diatas tempat tidur dengan menghadap langit-langit kamar. Iloania mengenakan pakaian yang dipinjamkan Orena, sementara Lasius mengenakan kemeja hitam dan celana panjangnya.
Suasana hening untuk beberapa alasan. Tidak ada satupun diantara mereka yang ingin membuka suara, dan terlarut dalam pikiran mereka masing-masing.
"Ciuman? Apa itu harus? Jika benar, bagaimana cara memulainya, ahh?!" Batin Iloania.
Lasius memandang langit-langit kamar, tetapi pikirannya berkelana. Bukannya Lasius itu mesum, tetapi ingatannya terus berputar pada gambaran sosok sempurna ditengah kabut tipis air panas. Bagaimana tetesan air mengalir dari helaian rambut pirang semata kaki yang tersanggul, menuju leher jenjang dan punggung tipisnya. Kemudian, ah, Lasius berusaha menepis ingatannya!
Betapa memalukannya jika mereka tahu bahwa ketika dia mimisan adalah bukan karena lemparan sabun, tetapi karena tidak sanggup menahan pemandangan didepannya saat itu.
"Hentikan Sius. Hentikan. Ingat pesan ibunda, jaga kesucian dan kehormatan wanita." Batin Lasius.
"Kak Sius?" Panggilan Iloania membuat Lasi menoleh, "Huh?"
Iloania berbaring miring kearahnya dan menatapnya. "Mn, seperti apa .. ibu kak Sius?"
Setelah sekian lama, suasana menjadi serius. Lasius menatap Iloania dalam diam selama beberapa waktu, sebelum menarik simpul dibibirnya.
"Ibunda?" Tanya Lasius.
Iloania mengangguk, "Mn."
"Beliau orang yang penyayang. Kamu tahu, dia memiliki senyuman yang mirip dengan kakakku. Jadi, jika kamu melihat kakakku, kamu akan tahu seperti apa ibunda." Ucap Lasius.
"Berarti beliau orang yang sangat baik~ Aku tidak perlu khawatir beliau tidak merestui hubungan kita." Gumam Iloania.
Ia memejamkan matanya dan mendekat kearah Lasius sebelum memeluknya. Menyamankan dirinya untuk menuju alam mimpi.
Lasius terdiam, sebelum menyunggingkan senyuman lembut. "Selamat malam, Ilo."
Malam berlalu dengan cepat. Keesokan harinya, ada keributan yang membuat Iloania dan Lasius terusik dari tidur lelap mereka setelah melalui perjalanan jauh tanpa istirahat tenang yang mencukupi.
"Ilo! Sayangku! Keluar, ahh!"
"Kau tidak mau bertemu denganku? Tidakkah kau merindukanku?"
"Le, jangan keras-keras. Iloania mungkin masih tidur. Nanti dia akan bangun sendiri."
"Stt, jangan menggangguku untuk bertemu dengan Ilo~"
Tok! Tok! Tok!
Dengan wajah bantalnya, Iloania mencoba bangun dari tidurnya. Lasius melihat betapa mengantuknya Iloania, dan menyadari bahwa gadisnya itu benar-benar kelelahan setelah memaksakan keadaannya untuk melakukan perjalanan secepat mungkin. Lasius menahan Iloania.
"Lanjutkan saja tidurmu, aku akan keluar." Ucapnya.
Iloania mengeram samar sebelum bergulung kembali kedalam selimut, membiarkan Lasius melangkah keluar dengan wajah datar andalannya, meski sedikit berubah dengan gaya rambutnya yang berantakan.
"Ilo ka-!!"
"Hah? Siapa dia?! Dimana Ilo?!" Gadis bersurai kemerahan itu menatap Orena dan Lasius.
Orena menunjuk Lasius dan berkata, "Dia adalah Lasius. Kekasih Iloania."
"Dan Ilo masih tidur. Tolong berikan dia sedikit waktu untuk tidur lebih banyak. Dia benar-benar butuh istirahat," timpal Lasius.
Orena mengangguk, "Tentu. Dia pasti kelelahan setelah perjalanan panjang dari Atlas kemari."
"Pukul berapa dia akan bangun?"
Lasius menerka, "Mungkin dua atau tiga jam lagi."
"Kalau begitu aku akan mencari ikan disungai dan beberapa sayuran untuk dijadikan sup untuk sarapan." Ujar Orena.
Lasius menyela. "Biar aku saja yang mencari ikan disungai. Kau bisa menyiapkan kebutuhan lain."
"Apa kau tahu dimana letak sungai?"
"Mn."
"Oh, baiklah. Terima kasih jika begitu."
Olena Lativia menatap keduanya cengo sebelum mengerutkan alisnya. "Re, kau tidak mengatakan kalau mereka tidur bersama sekamar?!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
01/08/2022
Jangan lupa dukungannya~
Salam hangat,
LuminaLux