Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 102 "Pernyataan Delt Dan Kembalinya Penglihatan"


Hari Kedua, Bulan Keempat, Musim Semi


Iloania bergelung dihamparan bunga bersama dengan Vleia yang tengah ada dalam wujud manusianya. Meskipun Vleia nampak acuh, sebenarnya dia sangat menjaga keamanan Iloania yang sibuk mencabut dan merangkai bunga menggunakan tangan-tangan gemuknya setelah sibuk bergulung-gulung diatas rumput yang lembut.


Iloania memberikan mahkota bunganya pada Vleia yang nampak malu tetapi juga senang saat Iloania memakaikannya padanya.


Meskipun kata-kata yang diucapkannya nampak tidak menyukainya, orang bisa melihat bahwa dia suka dari sepasang manik yang bersinar cerah.


"Dia anak yang kau temukan?" Gamma duduk diatas batu disamping Delt.


Pria muda itu mengangguk. "Ya, dia Iloania. Yang kuceritakan waktu itu."


"Kau sudah mencari kebenaran tentang dirinya?" Tanya Gamma membuat Delt diam selama beberapa saat sebelum menganggukkan kepalanya.


Ia berkata, "Perlu waktu cukup lama untuk mencaritahu identitasnya. Awalnya aku tidak yakin darimana dia berasal. Tapi dengan segel yang tertanam ditubuhnya, aku akhirnya bisa menemukan identitasnya."


Ia menunduk dan mengusap lengannya. "Aku cukup terkejut dengan identitasnya. Itu tidak pernah kubayangkan, guru."


Gamma meliriknya sebelum mengalihkan tatapannya kembali pada Iloania dan Vleia yang nampak asyik dengan kegiatan mereka. "Mungkinkah sesuatu yang berbahaya?"


Delt menggeleng. "Tidak, hanya saja .. aku tidak tahu."


"Yah, lakukan apapun yang kau ingin lakukan." Ucap Gamma membuat Delt menatapnya sebelum menganggukkan kepalanya.


Setelah keheningan sementara diantara mereka berdua, Delt kembali berujar, "Guru."


"Apa?"


Delt menyatukan kedua tangannya dan berkata dengan suara yang sedikit pelan. "Aku akan mati guru."


"Semua orang akan mati, Delt." Ucap Gamma.


"Suku Mue, kepala desa mengatakan kepadaku bahwa aku akan mati, melawan Raja Iblis." Ucap Delt membuat Gamma menoleh. Apa yang mengejutkan dari kebangkitan Raja Iblis yang telah tersegel ribuan tahun lalu?


"Dalam tiga tahun. Aku hanya bisa menghindari kematianku, jika aku menjauh darinya. Tapi, dia dititipkan padaku. Mungkin itu memang menjadi takdirku untuk menjaganya. Bahkan jika itu hanya 3 tahun, cukup untuk mengajarinya cara bertahan hidup setelah kematianku." Katanya.


Delt melanjutkan, "Aku tahu guru tidak ingin menerima seseorang untuk ada disamping guru. Maka dari itu, aku tidak akan menitipkannya pada guru. Tapi jika suatu saat dia datang kepada guru, aku harap guru bersedia membantunya."


Gamma melirik Delt sebelum mendongak menatap langit dan terkekeh. "Ucapanmu membuatku ingin tertawa."


"Tapi kau juga mengerti aku. Aku tidak bisa menerima sesuatu dengan mudah, jika dia tidak memenuhi syarat." Lanjutnya.


Delt tersenyum lebar dan berkata, "Terima kasih, guru!"


Ketika mereka tidak menyadarinya, Iloania yang tengah berdiri dibelakang Vleia menoleh menatap keduanya. Sebelah tangannya tertarik mendekat kedadanya dan terkepal dengan erat. Sepasang manik emas berkilau itu sedikit bergerak sebelum tertunduk menatap kebawah. Iloania memeluk Vleia dari belakang, menenggelamkan wajahnya dibahunya.


"Hei, bocah. Ada apa?" Tanya Vleia.


Iloania diam selama dua detik sebelum bergumam dengan suara yang pelan, "Vle .. aku siapa, ya?"


Terbangun dari ketidaksadarannya, Iloania menatap langit-langit yang cukup rendah. Ketika Iloania menoleh, wajah rupawan Lasius terpampang dihadapannya. Mungkin itu hanya berjarak lima centimeter ketika Iloania bahkan bisa menyadari bahwa dikelopak mata kanan Lasius, ada sebuah tahi lalat kemerahan.


Saat ini, Iloania benar-benar menyadari betapa tampannya Lasius.


Alisnya yang rapi dan melengkung tajam. Hidungnya yang mancung dan tajam. Bulu matanya panjang dan lentik, dan dibawah sinar mentari pagi yang menyorot dari jendela, bulu matanya hampir memiliki kilau. Bibirnya tipis, tetapi berwarna kemerahan dan cukup kontras dengan kulitnya yang putih.


Iloania mengulurkan tangannya, menempelkan ujung jari telunjuknya keujung hidung Lasius yang bengir.


Tepat ketika Iloania hendak menarik tangannya, tangan besar nan hangat Lasius menangkap tangannya. Membawa jemarinya kebibirnya dan mengecupnya lembut.


Sepasang manik sewarna anggur itu menatap Iloania dengan sedikit terkulai.


"Selamat pagi."


Semburat kemerahan langsung memenuhi wajah Iloania bahkan hingga kepangkal lehernya. Jemarinya sedikit gemetar sebelum Iloania menyapa balik Lasius.


"Se-Selamat pa-pagi~" Balasnya dengan gugup.


Iloania langsung bangit berdiri, menatap sekelilingnya dengan panik, hingga mengundang tawa rendah dari Lasius. Pemuda itu turut mengambil posisi duduk.


"Apakah masih ada yang sakit?" Tanya Lasius.


Iloania memeriksa tubuhnya yang terlilit perban dibeberapa bagian, terutama lengan dan bagian lehernya. Iloania hendak mengatakan tidak meskipun dia merasa sedikit sakit dilehernya, namun ketika mengingat perkataan Lasius untuk berbagi keluh kesah, Iloania mengangguk sembari memegang pelan lehernya.


"Leherku sedikit sakit dan sedikit panas." Jawab Iloania.


Lasius mengulurkan tangannya dan mengelus lembut leher jenjang yang terbalut perban putih itu. Ada cahaya kebiruan lembut yang memendar dari tangannya dan membawa rasa dingin dan rasa nyaman bagi Iloania.


"Lebih baik?" Iloania menganggukkan kepalanya dan menjawab, "Rasanya nyaman dan lebih baik. Terima kasih, kak~"


Lasius mengangguk dan meneruskan menggunakan sihir esnya untuk mendinginkan sekitar area leher Iloania sembari sesekali memijatnya dengan gerakan lembut yang penuh dengan kehati-hatian. Nampaknya benar-benar tidak ingin sampai menyakiti Iloania bahkan jika itu adalah ketidaksengajaan.


"Lalu, kita dimana kak?" Tanya Iloania.


Lasius menurunkan tangannya dan mulai bercerita. "Setelah kamu pingsan, seseorang datang dan membantu kita. Salah satu dari iblis yang kita lawan berhasil terbunuh, dan salah satu yang lain melarikan diri."


"Dia memiliki tanda itu Ilo, guru Gamma." Lanjutnya membuat manik Iloania sedikit melebar.


"Berarti kita sudah berhasil menemukannya?" Tanya Iloania girang, berharap segera bisa memulai latihannya.


Lasius mengangguk. "Sayangnya, dia mengatakan sesuatu."


"Untuk bisa berlatih padanya, kamu harus menghilangkan semua emosi dihatimu, Ilo."


Perkataan Lasius membuat Iloania perlahan kehilangan senyumnya. Semua emosi? Apakah itu perasaan amarah yang dirasakannya? Semua kemarahan yang dipendamnya?


Apakah artinya,


"Bagaimana aku bisa?" Beo Iloania.


Lasius menangkap tangannya. Membawanya kegenggaman yang kuat. "Kamu bisa Ilo. Kamu pasti bisa."


Kedua pasang mata berbeda warna saling bertatapan. Apa yang dilihat Iloania hanya keseriusan dimata Lasius.


Detik berikutnya, Iloania membeku.


"Eh?" Kejutnya.


Lasius mengangkat alisnya dan bertanya, "Ada apa?"


Iloania mengulurkan tangannya dan menyentuh sebelah matanya. "Aku bisa melihat?"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update:



08/07/2022


Jangan lupa dukungannya~


Salam hangat,


LuminaLux