Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 93 "Lambang Bunga Oleander"


Dalam cincin dimensi Iloania, ada beberapa rumah pohon atau pondok yang dibangun. Selain untuk menyimpan barang-barang penting, pondok itu digunakan untuk menyimpan perkamen dan buku-buku yang ditulis oleh Delt atau yang didapatkannya dari berbagai wilayah. Lima pondok yang ada disana bisa Iloania masuki secara bebas. Iloania bisa membaca buku apapun dan Iloania bebas mencoba barang apapun disana. Tetapi ada satu rumah pohon yang Iloania tak bisa masuki karena dilarang Delt.


Entah apa yang tersimpan didalamnya, tetapi pria itu mengatakan bahwa Iloania tidak boleh masuk kesana sampai waktunya datang, yakni saat lingkaran pelindung itu hilang. Sampai sekarangpun, Iloania masih tidak berani memasuki tempat itu, karena merasa bahwa dia belum diperbolehkan masuk dan tahu sesuatu yang ada didalam sana.


"Aku ragu, tetapi sepertinya selain aku, yang lain bisa melewati dinding pelindung ini," kata Iloania sembari menyentuh dinding pelindung hangat berwarna kemerahan dengan tangannya.


"Aku akan mencoba." Tegas Lasius.


Ia melangkahkan kakinya dan berjalan menuju dinding pelindung. Sebelum ia menembusnya dengan tanpa halangan.


Iloania mengangguk dan berpesan saat dia mengingat sesuatu. "Guru pasti menyembunyikan sesuatu tentangku didalam sana. Dan sampai aku sendiri yang mengetahuinya, aku tidak ingin mendengarnya dari siapapun. Dan aku juga tidak ingin melanggar janjiku pada guru. Jadi, jika kak Sius menemukan sesuatu tentangku, berjanjilah kak Sius tak akan mengatakan apapun padaku. Apapun keadaannya."


Lasius menyunggingkan senyuman lembut dan mengangguk dan berkata, "Aku berjanji."


Setelah melihat senyum Iloania, Lasius melangkah menaiki tangga kayu melingkar menuju rumah pohon. Sesaat sebelum membuka pintu, Lasius menghela napas dan menatap Iloania yang berdiri dibawah. Kemudian dia masuk. Lasius langsung disuguhi pemandangan ruangan yang tidak begitu luas, dan ruangan itupun tidak memiliki banyak barang didalamnya. Ada satu rak yang dipenuhi buku, dan ketika Lasius masuk, hanya ada aroma bunga wisteria disana.


"Aku harus segera menemukannya, aku tidak bisa membuang banyak waktu." Gumamnya sembari melangkah menuju meja disana.


Itu nampak seperti meja kerja, dengan berlembar-lembar kertas diatasnya dan beberapa barang lain seperti kuas dan batang arang. Lasius bergumam dalam hatinya, meminta maaf dan meminta izin untuk menyentuh dan menggeledah ruangan ini, untuk kelangsungan hidup semua yang hidup didunia.


Memindahkan lembaran demi lembaran kertas setelah membacanya sekilas, Lasius mengalihkan perhatiannya ke laci dan membukanya. Ada beberapa perkamen tua yang digulung dan beberapa buku. Dia mengambilnya dan membukanya.


"Bukan juga," gumamnya setelah selesai membaca.


Melihat sekelilingnya, Lasius merasa akan memakan waktu lama jika dia memeriksa sendiri. Jadi dia memanggil Hallias.


"Hallias," panggilnya.


Dalam wujud burung kecil, Hallias menjawab, "Tuan."


"Bantu aku memeriksa apapun informasi tentang seseorang bernama Gamma diruangan ini. Bahkan jika itu adalah informasi sederhana, tidak apa untuk mengambilnya." Perintah Lasius.


Tubuh Hallias memancarkan kilau cahaya yang memendar dan melebar. Sedetik kemudian, yang dihadapan Lasius adalah pria muda yang memiliki wajah rupawan. Ia menganggukkan kepalanya.


"Baik, tuan!" Jawabnya kemudian memulai pencariannya dari rak buku paling atas.


Lasius sendiri membuka kabinet lain yang ada disana dan menemukan gulungan-gulungan juga buku tua yang kertasnya sudah menguning. Tetapi meskipun begitu, tulisan yang tergores diatasnya masih terjaga sempurna. Waktu berjalan, itu sudah lama sejak mereka memulai. Tetapi mereka masih belum menemukan petunjuk apapun.


Sampai, suara Hallias terdengar. "Tuan," panggilnya.


Hallias memiliki selembar kertas ditangannya dan beberapa bagiannya nampak sudah usang. Ia memberikannya pada Lasius.


"Saya menemukannya terselip disebuah buku kosong," tuturnya.


Lasius menerimanya dan memperhatikan detail lukisan itu. Meskipun hanya goresan tinta hitam, namun nampak jelas dan bahkan fiturnya terlihat jelas. Dia adalah seorang wanita muda yang memiliki sepasang mata tajam dan bibir tipis. Hidungnya tajam dengan alis yang membentuk segaris bulan sabit. Dia wanita yang cantik dilihat darimanapun.


Tetapi bukan itu yang menjadi fokus Lasius.


Alisnya mengernyit dan dia bergumam, "Simbol ini .. apakah Iloania tahu sesuatu?"


Ia memandang Hallias dan mengangguk. "Cukup Hallias, kembalilah."


Hallias segera mengubah bentuknya kembali menjadi burung kecil, sebelum melesat masuk ke kalung dimensi Lasius. Sebenarnya Lasius juga menemukan sesuatu. Dikabinet, ada sebuah buku yang disimpan dengan baik. Ketika membukanya, Lasius terkejut saat menyadari bahwa buku itu sebenarnya bukan buku. Dan justru adalah wadah penyimpanan. Ada cekungan persegi didalamnya, dan disana, terdapat tiga potongan kecil kristal yang berbeda warna.


Potongan pertama berwarna ungu. Yang kedua berwarna merah, dan yang ketiga berwarna emas. Lasius menyentuh kristal yang berwarna emas, dan merasakan bahwa kristal itu memiliki energi sihir Iloania. Dan nyatanya, kristal itu sama persis seperti yang dimunculkan Iloania saat melawan Raja Iblis waktu itu. Jadi mungkin dua yang lainnya adalah milik guru Iloania dan yang satunya lagi, mungkin milik orang lain.


"Seharusnya ini berguna." Batinnya.


Lasius hendak melangkah pergi, hendak menunjukkan temuan itu kepada Iloania, sebelum sepasang maniknya tak sengaja menangkap sesuatu didalam peti yang setengah terbuka.


Rasa penasaran mendorong Lasius untuk menahan sesaat keperluannya menanyakan gambar itu pada Iloania. Dia berjalan mendekat kepeti, dan mengambil buku itu sebelum membukanya. Lasius terus membalik lembaran, sebelum pupilnya menyempit karena keterkejutan.


Setelah membaca ini, ia mungkin tahu, darimana Iloania berasal.


"Ilo, aku juga tidak akan melanggar janjiku padamu," gumamnya dengan suara rendah yang sedikit bergetar.


Gruluuu!!!


Perhatian Lasius teralihkan oleh gemuruh dan getaran yang dirasakannya. Ia bangkit dan segera berlari keluar hanya untuk menemukan sesuatu yang membuatnya terkejut.


Setelah Lasius masuk, Iloania mendudukkan dirinya diatas rerumputan. Ia memandang lurus kedepan dengan tatapan gelap yang hanya bisa disaksikannya. Ia mengangkat tangannya dan mencoba-coba menggunakan elemen kristalnya. Ia nampak menggerakkan jemarinya.


Ada serpihan kristal emas semi transparan yang muncul ditangannya. Semakin lama partikel yang muncul makin menebal dan menebal.


Menyentuh kristal ditangannya, Iloania entah mengapa teringat bagaimana dulu gurunya mengajarinya menggunakan elemen sihirnya. Menggunakan elemen kristalnya. Ketika memikirkan gurunya, Iloania selalu memiliki kemarahan dihatinya. Dia tidak marah atau membenci Delt, tetapi Iloania benci dan marah saat mengingat bahwa Delt tak lagi ada disisinya. Ia telah direbut darinya, oleh orang itu.


Kemarahannya meningkat, dan ketika Iloania menyadarinya, ada gemuruh hebat yang membuatnya tertarik dari bayangannya. Ketika Iloania membuka matanya, dia tidak bisa menahan perasaan terkejut ketika merasakan gelombang angin menyapunya sekilas.


"Ilo!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update:



11/06/2022


Jangan lupa dukungannya~


Salam hangat,


LuminaLux