Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 32 "Dinding Pelindung Kota Neredith"


Hari Pertama, Dibulan Keempat, Musim Semi


Deru suara roda berputar terdengar disepanjang jalan diwilayah pedesaan dikota besar di distrik 7. Seorang kusir mengendalikan dua kuda yang menarik satu gerobak besar. Beberapa orang duduk didalam kereta yang membawa bahan-bahan makanan. Tidak hanya satu kereta, melainkan beberapa kereta yang berderet dibelakangnya dengan membawa kebutuhan pokok didalamnya.


"Bagaimana pesanannya?"


Pria yang menghentikan laju kereta yang secara bertahap melambat membuat masing-masing satu orang dari kereta turun dan memberi laporan kepada Cleus Natheon, salah satu asisten petinggi kota Neredith.


"Semua bahan pokok telah dipesan tuan. Komoditas beras adalah yang paling banyak. Sementara sisanya gandum, tepung dan beberapa peti rempah." Kata seorang pria disampingnya.


Cleus menganggukkan kepalanya. "Bawa semuanya kekota dan simpan semuanya kedalam gudang penyimpanan kota. Segera setelah itu data semua pedagang dan bagikan kemereka dengan bayaran seperti biasanya."


"Baik tuan."


Ditengah kesibukan mendata semua komoditas pangan yang masuk dari luar ke kota, suara bising membuat keadaan menjadi ricuh. Suara ringikan kuda dan teriakan orang terdengar ketika sekelompok orang berpakaian hitam muncul. Dengan topeng wajah diwajah mereka, sama sekali tak ada yang tahu wajah seperti apa yang ada dibalik topeng merah polos itu.


Cleus menatap mereka dengan dingin, "Siapa mereka?"


"Panggil bantuan sementara aku mengurus mereka." Kata Cleus membuat seseorang disampingnya menganggukkan kepalanya dan berlari pergi.


Cleus memandang sekelilingnya dan menghitung adanya lima orang berjubah hitam dan bertopeng merah yang sedang mengacaukan kereta mereka. Bahan pangan ini dirusak begitu saja, membuat Cleus meradang. Dengan marah cahaya keunguan muncul dikedua tangannya. Disiang hari yang cerah, suara petir bergemuruh dan cahaya patah-patah yang berkelip berkumpul ditangannya.


"Ledakan petir." Gumamnya dengan nada dingin.


Petir itu menyambar dengan cepat kearah seorang berjubah hitam. Namun cahaya pelindung menahan serangan itu dan terbelah tanpa melukai pria itu sedikitpun. Lagi dan lagi, ia mencoba menggunakan serangan yang sama.


Ketika sebuah tombak dari elemen air menyerangnya dari atas, ia menghindarinya dengan cepat dan membiarkan tombak itu menancap dalam ditanah dan meleleh kemudian. Manik ungunya terangkat dan mendapati sepasang manik biru yang memandang tajam dan merendahkan dirinya.


"Naga petir." Gumamnya.


Kumpulan petir yang menyambar ditangannya membentuk sesosok naga besar berkelip tajam dan memiliki arus yang tajam. Naga itu dengan sangat cepat meliuk diudara dan melesat menuju seseorang yang dengan segera menghindar. Namun karena terlalu cepat, naga itu berbalik dan hanya mengenai tepat dikaki seorang berjubah. Memekik, kaki seseorang itu mati rasa dan tak bisa digerakkan.


Dua orang dengan elemen tanaman menyerang Cleus. Memunculkan tanaman berduri yang mendesaknya terus menerus sampai sedikit menjauh dari pria yang terkena serangan dikakinya.


"Siapa kalian?!" Tanyanya dengan suara lantang.


Mereka bahkan tak menjawab dan terus melemparkan serangan. Cleus yang terus terdesak kehilangan ketenangan napasnya. Napasnya tersendat-sendat dengan luka yang didapatkannya karena serangan tanaman itu.


Siapa mereka?!


...***...


"Cantik~"


Suasana yang tegang terpecah ketika mendengar suara senandung anak kecil. Menolehkan kepalanya, Cleus mendapati seorang gadis perempuan duduk diatas atap kereta kuda tanpa kuda dengan balutan baju bunga putih dan transparan. Surai pirang panjangnya bergerak karena memiringkan kepalanya kekanan dan kekiri secara berulang.


Iloania menangkap kupu-kupu yang mendarat diujung jarinya. Menatapnya dari dekat dan tak bisa menahan senyumannya yang seindah musim semi. Tertegun sejenak, Cleus segera menjadi waspada. Sebab ia bahkan tidak menyadari keberadaan Iloania disana, seandainya dia tidak bersenandung.


"Apa kau anggota mereka?" Tanyanya pada Iloania.


Iloania melirik kearah Cleus. Mendorong tangannya secara vertikal keatas dan membiarkan kupu-kupu terbang menjauh. Dengan senyuman, Iloania menoleh menatap Cleus.


"Anggota apa?" Tanyanya dengan suara sehalus aliran air dipegunungan yang tenang.


Iloania memandang sekelompok orang berjubah hitam dan tersenyum. "Bukankah mereka keren?"


Cahaya keunguan memendar ditangan Cleus. Merasa yakin jika gadis cilik didepannya adalah anggota mereka. Namun sebelum melontarkan serangannya, Iloania berucap dengan nada tenang.


"Aku hanya diam. Jika ada yang menyerangku, maka dialah yang jahat." Kata Iloania pelan.


Mendengar itu Cleus tertegun dan secara tidak sadar menghilangkan sihir ditangannya. Cleus dikejutkan ketika dari bawah tanah tanaman muncul dan menyerang Iloania. Sebelum Cleus bisa bereaksi, gerakannya terhenti ketika melihat tanaman itu berhenti dan tak bisa menembus sesuatu yang melindungi tubuh gadis itu.


Sebuah barrier berwarna keemasan yang samar.


Iloania memiringkan kepalanya dengan senyum dibibirnya, namun tanpa senyuman dimatanya. "Anggap saja mereka yang jahat."


"Kau penyihir?" Tanya Cleus.


Iloania terkekeh kecil, "Sepertinya begitu. Atau harus dipanggil apa?"


Ketika sebuah tombak air melesat kearahnya, Iloania melompat tinggi menghindarinya dan mendarat dengan lembut ketanah. Manik emasnya menatap mereka dan dengan senyuman tipis diwajahnya, Iloania berlari memberi mereka pukulan dan tendangan. Tak memberikan salah satu dari mereka celah menggunakan sihir.


"Awalnya aku tak ingin menggunakan sihir. Tapi kalian menyerangku. Apa aku terlihat seperti musuh sejak awal? Padahal aku mengatakan kalian terlihat keren~" Tanya Iloania dengan nada sedih.


Ia mengerutkan alisnya dan bergumam ditengah pertarungan lima lawan satu itu. "Maka sekarang aku menjadi musuh kalian karena kesal, hmph!"


Tendangan terakhir Iloania membuat topeng salah satu dari mereka terlepas. Sepasang manik yang sebagian tertutup oleh helaian rambut hitam terlihat. Sebagian kecil wajah itu membuat Iloania berhenti bergerak ketika melihat sepasang mata yang dipenuhi kebencian terlihat disana.


"Hm?" Gumamnya.


"Kita mundur." Suara menginterupsi itu membuat mereka berlima segera menghilang ditempat ketika bantuan datang dan terlihat dari jauh.


"Kenapa tidak mengejar mereka?" Tanya seseorang yang kebetulan tiba lebih awal dan melihat mereka berlima mundur.


Cleus berdiri dan menatap datar kearah perginya kelompok itu. "Lupakan saja."


Manik ungunya mendapati sosok Iloania yang berdiri membelakanginya. "Siapa kau? Dan kenapa membantuku?"


"Aku tidak membantumu. Itu karena aku kesal saat mereka menyerangku lebih dulu. Ngomong-ngomong namaku Iloania Rexelite. Ini dimana?"


Senyuman secerah mentari itu membuat Cleus dan orang-orang yang disana sedikit tertegun. Bertanya-tanya, siapa gadis cilik itu.


...***...


"Kalian sudah mendapatkan binatang sihir yang kalian inginkan?"


Wanita bersurai biru dan bermanik senada itu bertanya dengan ramah. Jissiana dan Lane memandangi binatang sihir mereka. Dan Jissiana tak bisa menahan senyum ketika seekor kucing pohon dengan bulu hijau dan memiliki sepasang telinga daun.


Jissiana menganggukkan kepalanya. "Sudah nona Bell. Terima kasih telah menemani kami mencari binatang sihir disini."


Lane memandang wanita bernama Bellestine itu dan membuang muka. Lebih memilih melihat serigala yang mengikuti dibelakangnya. Serigala milik Lane berbulu merah dan bermata kuning. Itu adalah serigala api dengan level 6.


Bellestine menganggukkan kepalanya. "Sama-sama. Kalian dari Dragonia Academy dan tentu saja diizinkan masuk kesini."


"Dinding pelindung ini, apakah penyihir kota ini yang membuatnya?"


Kane mendekati Bellestine dan bertanya tentang sebuah barrier raksasa yang melindungi seluruh area pegunungan itu. Ia tak bisa tak kagum melihat pemandangan barrier yang samar berkilau ketika terkena sinar matahari.


Bellestine menggeleng dan memandang keatas. "Seseorang yang bukan dari kota ini yang membuatnya. Dia melindungi kota ini dari serangan iblis jahat yang berusaha mempengaruhi binatang sihir. Disini pula, orang itu menyelamatkan kami."


"Siapa orang itu?" Tanya Kane penasaran.


Bellestine tidak menjawab, namun hanya mengeluarkan senyuman tipis.


"Ah, ngomong-ngomong kenapa Iloania tidak ikut ya? Padahal tempat ini sangat bagus. Dia pasti suka," ucap Jissiana membuat Bellestine terhenyak.


"Iloania?" Gumamnya samar.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update


11/7/2021


Jangan lupa dukungannya~


Salam hangat,


LuminaLux