
Hari Kedelapan, Bulan Tujuh, Musim Panas
Gerombolan remaja itu berjalan dijalanan yang dipenuhi dengan debu, tentu saja, itu adalah jalanan tanah. Disekelilingnya, ada tanaman dan rumah-rumah yang berdiri dengan kokoh, dan jalanan terasa damai dan teduh. Sayang sekali, bahwa baju mereka, ternoda darah disetiap sisinya. Bau dan aroma anyir menyebar, sepanjang jalan mereka meninggalkan jejak merah basah ditanah kering.
Orang-orang mengintip dibalik jendela rumah mereka, dan bergetar dalam ketakutan.
Mereka memandang empat atau lima orang remaja itu dengan tatapan yang bahkan seperti dihadapkan pada harimau pembunuh setinggi sepuluh meter. Mereka bahkan sebisa mungkin menahan suara napas mereka, pelan-pelan meminimalkan gerakan mereka.
"Bawa semua binatang sihir yang ada disini, lakukan dengan cepat." Yang berambut ungu memerintahkan dengan nada dingin, dan yang lain menganggukkan kepalanya dengan suara samar.
"Baik."
Manik hitam keperakan itu melirik sekelilingnya dengan dingin. Membiarkan tiga bawahannya menghilang dari tempat mereka, dan bergegas menjalankan perintahnya. Untuk menangkap semua binatang sihir yang dimaksud. Orang-orang mengenal mereka sebagai penjahat, menangkap binatang sihir untuk diperdagangkan.
Falleren tidak memiliki pendapat, itu menyenangkan baginya.
"Bagaimana?" Ada suara dingin namun lembut dan tipis dibelakangnya, bertanya langsung keintinya.
Falleren berbalik dan menganggukkan kepalanya dengan tenang, hampir tidak dapat menemukan emosi disepasang manik gelap itu. "Saya sudah menyuruh mereka menangkap semua binatang sihir disini nona. Mereka akan kembali dalam 30 menit. Anda bisa yakin."
Bibir tipis itu menyunggingkan senyuman, menampilkan gigi susu yang tajam dan bertaring. "Kuharap kau tidak membuat masalah Falleren. Kau tahu, bahwa aku sama sekali tidak menyukai kesalahan sekecil apapun."
"Saya mendengarkan anda," Gumam Falleren melambat.
Ia sedikit menunduk, menatap sepasang manik merah muda yang dingin dan gelap. Menyimpan kekejaman dan kesenangan yang tak mendasar. Helaian benang biru sewarna air laut dangkal yang tersorot sinar mentari dipagi hari yang cerah, sangat kontras dengan kulit seputih salju itu. Tetapi sebuah senyuman dingin, menghiasi wajah kecil cantik itu.
"Nona Miaka."
...***...
"Ah! Jadi ada baiknya kita pergi kebarat?" Tanya Iloania pada Vissiara.
Gadis itu menganggukkan kepalanya, menjawab pertanyaan retoris Iloania. Menurutnya pribadi, barat adalah tempat yang cukup jarang penduduk, namun tanah disana memiliki kandungan sihir dari bebatuan sihir yang melebur menjadi satu dengan tanah yang berlapis. Iloania mendengarkannya, dan secara bertahap mengungkapkan senyuman.
"Itu ide yang bagus. Ayo pergi sekarang!" Ujarnya.
...***...
Jissiana memandang Belein dengan sepasang mata mati. Itu tidak memiliki ekspresi, ketika menyaksikan pria muda itu sibuk bergaya didepan para gadis dikota, menggoda mereka dengan kata-kata manis.
"Mulut sampah!" Dengusnya pelan.
"Ana, ada penjual camilan disana. Kau ingin makan?"
Ditambah keberadaan satu makhluk aneh ini, Jissiana mengurut keningnya dengan helaan napas. Sungguh berat!
"Ilo, Miaka, kenapa kita tidak sekelompok!" Batinnya meraung.
"Ana? Kau sakit?"
Jissiana mengaum geram, "Diamlah!! Aku tidak ingin makan apapun, aku hanya ingin ini cepat selesai dan segera berpisah dengan kalian!"
"Ana, kenapa kau berkata begitu? Bukankah baik jika kita bisa berkeliling bersama seperti ini. Cinta kita akan semakin membara dan kuat seperti akar!" Kata Dexelt.
"Huuu~" Jissiana benar-benar tak dapat menahan air matanya.
...***...
"Bagaimana?"
Lasius bertanya dengan nada suara datar ketika Hallias mendarat dibahunya dalam ukuran burung kecil.
"Benar-benar seperti mati bagi orang biasa. Tapi saya merasakan aura samar barrier diselatan kota ini. Tepatnya diwilayah pertambangan."
"Pertambangan?"
"Sepertinya kandungan batu sihir ditanah ini cukup baik."
Lasius menyeringai dingin, "Tikus-tikus selalu bergerombol. Kita harus segera menangkap pemimpinnya dan menghancurkannya secara langsung."
Terbang ketempat yang dimaksud menaiki Hallias, Lasius melihat tanah lapang luas dibawahnya. Dipenuhi bebatuan tajam dan pasir yang seperti bekas galian. Lasius mengernyitkan alisnya, memang merasakan keberadaan barrier raksasa ditempat itu. Nampaknya, barrier itu cukup kuat.
Mendengar ucapan Hallias, Lasius diam dan berpikir, sampai lengkingan kuat membuatnya mengernyitkan alis dan dengan segera bersembunyi dibalik batu.
Didepan sana, ada seekor kumbang yang memiliki perut berwarna kemerahan. Kumbang itu sangat besar, dan memiliki mata pekat tanpa kehidupan. Lasius jelas tahu bahwa itu adalah binatang sihir rendah, yang tidak memiliki kemampuan untuk bertarung dan dimanfaatkan sebagai binatang terbang pengantar.
Mereka yang membutuhkan kendaraan agar cepat sampai ditempat tujuan mereka biasanya menggunakan binatang terbang untuk mengangkut mereka. Dan kumbang itu, salah satunya.
Kumbang itu dengan mudah menerobos barrier karena telah dikenal oleh barrier itu. Lasius menyipitkan matanya.
"Kita ikuti kumbang itu setelah keluar dari barrier."
Hallias menjawab, "Mengerti."
Alasan mengapa Lasius menyuruh Hallias membawanya mengikuti kumbang itu adalah, karena Lasius memperkirakan bahwa kumbang itu akan mengangkut penumpang lagi untuk dibawa kebarrier. Dan benar saja, ada sebuah gua didekat perbatasan, disana, sekumpulan besar orang-orang berdiri dan berkerumun. Ketika kumbang datang, mereka menunggu angin mengangkat mereka untuk dimasukkan kedalam kumbang.
Hisapan itu kuat, dan satu demi satu orang yang dibawah segera dibawa menuju perut kumbang.
"Ayo." Perintahnya.
Lasius dengan segera melompat kedalam perut kumbang didetik terakhir perutnya akan menutup. Dengan Hallias dipundaknya, Lasius kini berdiri didalam perut lunak sang kumbang, hanya melihat kehampaan dan kegelapan. Serta, bau samar yang tidak enak dihirup. Kumbang itu melengking, sebelum mengangkat sayapnya dan mengepakkannya, terbang kembali menuju barrier besar dipertambangan tandus. Ada sedikit guncangan pada awalnya, namun setelah itu baik-baik saja.
Ditengah keramaian, Lasius menarik tudung jubahnya, menutupi wajahnya dan diam-diam menuju kebagian paling sudut. Tempat itu gelap, sangat membantu penyusup seperti dirinya.
Memasuki barrier, kumbang itu mendatat dengan sedikit guncangan. Pada akhirnya, perut kumbang itu kembali terbuka, dan semua dikeluarkan.
Lasius melompat keluar dan bersembunyi dibalik sayap kumbang tanpa diketahui, dan melompat turun ketika ia lepas dari pengawasan orang-orang didalam kubah pelindung itu.
Ada pemandangan coloseum besar didepan mata, mampu menampung ribuan orang dalam sekali waktu. Namun yang tidak menyenangkan adalah, keberadaan hawa binatang iblis yang melimpah. Bau darah dan bau kematian.
"Apakah ini.."
"Selamat datang diadu binatang sihir dan binatang iblis. Hari ini, ada sesuatu yang istimewa dan luar biasa! Binatang sihir level 8, putri bangsa rubah! Putri Kitsune!"
Bersamaan dengan ucapan lantang pembawa acara bertopeng, sebuah kain tebal ditarik oleh dua orang secara bersamaan. Ada kurungan besi sedang yang mengurung seorang rubah didalamnya. Rubah berekor sembilan berwarna perak itu kehilangan delapan ekornya yang lain, menyisakan satu ekor yang hanya cukup menunjang kehidupannya.
Mata rubah itu redup, namun berkilat tajam dan penuh kebencian ketika melihat keramaian diluar sana.
Hissss!!! Hissss!!!
Dia mendesis, melengkungkan tubuhnya dengan waspada, meskipun dalam keadaan lemah, dia tetap harus waspada, atau dia akan mati.
Sorakan terdengar, ketika pembawa acara keluar, rubah itu dikeluarkan, dan seketika ada dinding pelindung yang menjebaknya. Ketika rubah itu mencoba menerobosnya, dia tersengat aliran listrik kuat dan terpental kembali ketempatnya.
"Ini," gumam Lasius menahan kemarahannya.
Dia tidak boleh muncul begitu saja, dia bahkan belum mengetahui pemimpin dari pasukan ini. Jika dia muncul dan kekacauan terjadi, pemimpinnya akan lebih dulu melarikan diri dan rencananya menjadi kacau.
Tetapi rubah kecil itu.
Rubah itu bangkit, berbalik ketika merasakan keberadaan hawa berbahaya yang menyeramkan. Sepasang mata merah menatapnya ganas, gigi-gigi runcing dan air liur yang mengalir dari sela-sela gigi itu membuat siapapun akan merasa ngeri sekaligus merasa jijik.
Rubah itu bergetar, memandang takut kearah binatang iblis itu.
Seandainya dia tidak dalam kondisi lemah, dengan kekuatan kesembilan ekornya, rubah itu dapat mengalahkan binatang menjijikkan didepannya itu. Tetapi, kedelapan ekornya telah dipotong, dia hanya punya satu yang tersisa untuk hidup!
Ini dendamnya!
Apakah dia akan mati sebelum bisa membalaskan dendam?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
24/10/2021
Jangan lupa dukungannya~
Salam hangat,
LuminaLux