Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 106 "Sebuah Kisah Dari Penghuni Desa"


Berjalan disepanjang jalan setapak, Iloania menatap sekelilingnya dengan sepasang manik yang sedikit sembab. Langkah kakinya yang semula hanya disekitar pondok Gamma lama-lama tanpa sadar membawanya melangkah lebih jauh hingga kepermukiman yang ramai penduduknya.


"Halo,"


"Selamat pagi~"


Beberapa penduduk desa yang berpapasan dengan Iloania, dan Iloania membalas dengan senyuman khasnya. Suasana desa yang harmonis, suasana desa yang menyenangkan, suasana desa yang damai.


Bagaimana jika ini semua mengilang karena dirinya?


"Mengapa kamu merenung sendirian disini?" Ada suara yang membuat Iloania menoleh dari tatapannya pada pemandangan sungai jernih yang ada dihadapannya.


"Ah, hanya .. melihat desa yang indah ini. Menyenangkan untuk menetap disini." Jawabnya.


Gadis bersurai kemerah mudaan itu mendudukkan dirinya tak jauh dari Iloania dan nampak mengambil batu disampingnya. Dengan gerakan sederhana, ia memantulkan batu itu menyebrangi sungai sungai yang tenang itu.


Slap! Slap! Slap!


Batu itu memantul diair selama beberapa kali sebelum akhirnya bergabung bersama batu lain diseberang sungai. Iloania menatapnya kagum.


"Sangat hebat! Bagaimana kau melakukannya?" Tanya Iloania.


"Hanya melemparkannya, dan itu terjadi begitu saja. Ngomong-ngomong, namaku Aida Ree. Kau bisa memanggilku, Ree. Siapa namamu?" Tanya Ree sembari mengulurkan tangannya pada Iloania.


Iloania membalas jabatan tangan Ree. "Iloania Rexelite, cukup panggil aku Iloania."


"Baiklah, Iloania. Jadi, apa yang membuatmu termenung sendirian disini? Tidak mungkin bukan, hanya untuk menikmati pemandangan desa ini. Pasti ada alasan lain." Ucap Ree sembari memandang lurus kedepan.


Iloania mengalihkan tatapannya setelah memandang Ree selama dua detik. "Apa kau pernah marah?"


"Marah? Ya, pernah." Ia menopang tubuhnya kebelakang dengan dua tangannya. "Aku marah, mungkin setiap hari, haha."


Iloania bertanya, "Mengapa kau marah?"


"Mn, terkadang karena adikku nakal dan tidak mau makan. Itu membuat ibuku mengomeliku dan menceramahiku. Terkadang aku kesal, karena meskipun itu bukan kesalahanku, aku yang harus dimarahi." Jawab Ree.


Iloania memandangnya dengan ragu sebelum bertanya kembali. "Lalu, apakah kau pernah marah pada dirimu sendiri?"


Ree diam.


Iloania tidak yakin apakah pertanyaannya menyinggung Ree atau tidak, tetapi ketika dia hendak membuka bibirnya untuk meminta maaf, gadis beriris violet itu terlebih dulu berkata, "Aku pernah."


"Marah pada diriku sendiri, hingga rasanya aku ingin membunuh diriku sendiri."


"Mengapa?" Batin Iloania bingung.


Ree menatap Iloania dan berkata seolah bisa menebak apa yang ada dipikiran Iloania. "Sebelumnya, aku punya satu kakak laki-laki."


"Sebelumnya?" Beo Iloania.


Ree berkata, "Usia kami terpaut empat tahun. Saat itu aku baru berusia duabelas tahun, sementara kakakku sudah berumur enambelas tahun."


"Aku memaksanya pergi ke danau beku dimusim dingin. Aku berniat bermain seluncuran bersamanya. Kakak mengatakan tidak akan berseluncur, jadi aku membawa sepatu luncurku ketengah danau dan berniat bermain. Tapi begitu aku hampir sampai, es yang kuinjak berbunyi dan kemudian memiliki retakan yang panjang. Aku tidak tahu, dimusim itu, es tidak mencair sepenuhnya. Hanya sedikit dari lapisan yang membeku."


"Apa kau takut saat itu?" Tanya Iloania.


Ree mengangguk. "Tentu saja. Saat itu aku ketakutan, aku panik, aku cemas. Semua tampak berbahaya dan menakutkan dimataku saat itu."


"Kakak meneriakiku dari jauh, menyuruhku agar tidak membuat gerakan tiba-tiba. Aku mematuhinya, dan mengikuti arahannya bergerak sangat pelan menuju ketepi. Aku sudah berusaha, tetapi setiap gerakanku membuat es bergetar dan memiliki retakan yang panjang."


"Jangan lanjutkan. Jika kau tidak sanggup, tidak perlu bercerita." Ucap Iloania, namun Ree menggeleng.


"Tidak apa," katanya melanjutkan. "Aku melihat kakak perlahan berjalan kearahku. Aku mengikuti arahannya, berjalan perlahan kearahnya yang masih ditepi. Begitu aku sampai padanya, saat aku sadar, aku sudah melayang dan terlempar kepinggir. Sementara kakakku, tenggelam diair danau."


"Aku berlari kembali, menangis dan mencari pertolongan. Tapi begitu kakakku berhasil ditemukan, kakak sudah meninggal."


Ree tersenyum sedih. "Aku selalu menyalahkan diriku sendiri saat itu. Mengapa aku harus mengajaknya kesana. Mengapa aku sangat bodoh berlari ketengah danau. Mengapa aku tidak tahu bahwa lapisan es danau itu sangat tipis."


"Aku marah dan berulang kali ingin membunuh diriku sendiri."


"Lalu, apa kau masih memiliki kemarahan itu sekarang?" Tanya Iloania.


Ree menoleh dan menggeleng dengan senyuman mengembang diwajahnya. "Aku sudah memaafkan diriku sendiri."


"Meski butuh waktu lama, aku berhasil memaafkan diriku. Awalnya aku memang berpikir, bahwa akulah yang membunuh kakak. Tapi ibuku mengatakan padaku setiap harinya, bahwa kakak menyayangiku, dan akan selalu melindungiku. Diapun berkata begitu, bahkan jika itu keadaan berbahaya, mereka akan maju demi menyelamatkan orang yang mereka sayang. Bukan hanya aku, tapi siapapun itu. Jika kakakku melihat seseorang dalam bahaya, ia pasti akan membantu."


"Itulah tujuan kakak menyelamatkanku. Tetap berjalan kearahku, meskipun tahu bahwa dia bisa saja kehilangan nyawanya."


Ree menerangkan dengan jelas. "Setelah beberapa tahun, aku sadar bahwa bukan saatnya bagiku untuk selalu bersedih dan meratapi masa lalu. Sepertinya, itu menjadi giliranku untuk menjaga dan selalu melindungi keluargaku."


"Kemarin adikku baru saja diganggu teman sekolahnya, dan aku maju menghadapinya menggantikan kakak laki-lakiku. Walaupun aku mendapatkan satu pukulan diwajahku pada akhirnya, hehe~"


Saat itu, Iloania terdiam.


Bulan purnama benderang dengan mempesona. Riak air terjun terdengar lembut, dan suara nyanyian sang peri terdengar mengalun dari kejauhan. Suasana damai yang membawa ketentraman.


Dua insan itu duduk berhadapan disebuah bangku. Keduanya saling menautkan tangan mereka, menggenggam, menyalurkan kasih sayang dan kepedulian masing-masing.


"Re, ayo pergi."


Gadis berkepang itu menggeleng dan berkata dengan suara yang seakan tergandakan. "Tidak, aku tidak bisa pergi."


"Mengapa?"


"Jika kita pergi, baik aku maupun dirimu akan menghilangkan lebih banyak nyawa. Kumohon, jangan pergi."


"Aku hanya ingin bersamamu. Mengapa itu sangat sulit?"


Itu terdengar frustasi. Menyalurkan semua perasaannya yang nyaris seperti sebuah keputusasaan. Ia tahu bahwa ini salah, tapi ini adalah sebuah kutukan yang menempel layaknya parasit.


Tapi mereka tidak membenci parasit ini. Mereka tidak bisa, menyalahkan parasit seperti ini.


"Aku juga ingin bersamamu, meskipun aku tahu, konsekuensi apa yang mungkin terjadi."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update:


20/07/2022



Jangan lupa dukungannya~


Salam hangat,


LuminaLux