Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 31 "Sepotong Ingatan Iloania"


Hari Kesepuluh, Bulan ketiga, Musim dingin


Menginjakkan kakinya didesa kecil ini, Iloania berkeliling selama beberapa saat. Namun, tidak ditemukannya satu orangpun. Desa ini cukup besar, dengan rumah-rumah terbuat dari bebatuan dan beratapkan jerami. Yang sekarang tertutupi oleh salju, termasuk jalanan yang sepanjang mata memandang hanya berwarna putih dan dingin. Tapi dimana semua penghuninya?


Iloania berjalan dengan balutan mini dress berwarna putih yang tebal yang berbulu dengan lapisan mantel bulu bertudung yang melindunginya dari udara dingin. Langkahnya yang terbebani sepatu tinggi dan berat itu tak membuat langkahnya menjadi sulit.


"Apa ada orang disini?" Suara halusnya keluar dari bibirnya.


Iloania baru berumur 7 tahun. Setelah meninggalkan rumah Jissiana, Iloania berada didesa ini. Setidaknya ingin berkenalan dengan teman baru, namun tak tampak sama sekali satupun orang disana.


Brugh!


Mendengar suara sesuatu jatuh, Iloania berbalik dan mendapati seorang wanita tua tergeletak diatas salju dengan pakaian tipis. Dengan wajah pucat dan napas yang tersendat-sendat.


"Nenek!"


Memekik, Iloania segera mendatanginya. Membantunya duduk dan menyelimutinya dengan mantelnya sendiri, Iloania melakukannya dengan cepat. Tak membiarkan nenek itu terlalu lama kedinginan.


Iloania menggerakkan tangannya, "Nenek, nenek bangun?"


Iloania tersentak kecil ketika merasakan cairan panas meleleh dilehernya, dan dalam beberapa detik membeku. Iloania bergerak refleks kebelakang ketika wanita didepannya menggerakkan kuku-kukunya yang runcing untuk menyerangnya. Namun meskipun berhasil menghindar, lehernya sedikit tergores dan mengeluarkan cukup banyak darah yang langsung membeku.


"Ah, sakit." Gumamnya.


Ia memandang kedepan, wanita tua itu perlahan bangkit. Menjatuhkan mantel karena gerakannya yang agresif. Nampak seperti boneka tangan yang bergerak tanpa tulang dan hanya mengandalkan beberapa sendi kecil dibagian tertentu. Suara deritan tulang itu terdengar nyaring, terdengar menyakitkan dan membuat bulu kudung Iloania sedikit meremang.


"Vleia, apa itu?" Tanya Iloania.


"Aku tidak tahu."


"Kamu tidak tahu?" Beo Iloania.


Vleia menjawab lagi, "Aku tidak tahu. Semua ini cukup asing bagiku. Tapi lihat dengan lebih serius disekitar tubuhnya. Selesaikan sendiri, ya?"


Iloania mengangguk. "Mengerti, selamat tidur~"


"Jangan terluka lagi." Bersamaan dengan ucapan Vleia, cahaya keemasan menyelimuti luka dileher Iloania dan perlahan sembuh dengan sendirinya.


"Mengerti~".


Wanita itu bergerak dengan cepat dan menyerang kearah Iloania. Namun dengan gerakan yang lebih cepat, Iloania menghindari tiap serangan agresif dari Iloania. Kecepatannya bahkan dengan hitungan detik dapat memberikan 2 kali serangan besar yang membahayakan dan mengancam.


"Bagaimana serangannya makin lama makin meningkat, hm?" Gumam Iloania sembari menghindari serangan wanita tua itu.


Dilihat dari dekat, wajah wanita tua itu menjadi jelek. Matanya kosong dan darah menetes membentuk garis disepanjang hidung, bibir dan lehernya. Wajahnya menampilkan kengerian, tapi juga kesedihan, rasa sakit dan keputusasaan. Iloania seakan jatuh, menopang tubuhnya dengan satu tangan yang menolak, dan melayangkan tendangan berputar yang membuat wanita itu terdorong beberapa meter dari tempatnya berdiri.


"Aarrggghh!!!" Wanita itu menjerit dengan suara keras dan kembali bangkit, menyerang Iloania jauh lebih brutal.


"Paranada penjerat." Gumam Iloania sembari melompat menghindari wanita itu cukup jauh.


Piringan hitam ditangannya berputar dan menghasilkan paranada yang dengan cepat menjerat wanita itu. Wanita tua berteriak dan meraung-raung. Meski tidak merasakan rasa sakit dari paranada itu, namun teriakannya begitu keras. Nyaris memenuhi tempat itu.


"Kumohon tenanglah," ucap Iloania sembari mendekat kearah wanita tua dengan perlahan.


Ketika wanita itu memberontak terus menerus, paranada pecah dan hempasan aura gelap yang kuat membuat Iloania sedikit terlempar. Ketika hendak berdiri, wanita tua itu sudah melompat kearah Iloania yang benar-benar belum siap. Namun sebelum menyentuhnya, kepala wanita tua itu telah terputus dari badannya dan berguling diatas salju. Darah merah begitu kontras dengan salju yang putih. Sementara percikan darah mewarnai wajah cantik Iloania dengan sedikit kejutan.


"Ini .." gumam Iloania.


Ketika menoleh, seseorang menatapnya dengan tatapan datar dan kosong. Menampakkan ketidakpeduliaannya terhadap dunia dan kehidupan.


...***...


"Jadi, apa yang ingin kakak tanyakan?" Tanya Iloania.


Clareon melirik Iloania, "Mendengar pertanyaanmu, sepertinya kau sudah tahu maksudku. Langsung saja, siapa kau?"


Iloania tersenyum. "Iloania Rexelite."


"Siapa .. kau?" Clareon mengulang dan menekan kembali pertanyaannya ketika mendapatkan jawaban yang bukan maksud dari pertanyaannya.


"Menurut kakak siapa?"


Clareon mengangkat tangannya dan memberikan serangan kepada Iloania yang menghindarinya dengan gerakan refleks.


Maniknya tersenyum, "Sangat cepat."


"Katakan." Clareon mendesak Iloania.


Sementara si gadis tetap tenang. "Aku Iloania Rexelite, siswi biasa dari kelas 1-4 dan memiliki elemen angin dan api. Juga, level jiwaku merah."


"Iloania Rexelite," gumam Clareon.


Maniknya menatap datar Iloania yang senantiasa tersenyum. "Aku akan mengingatmu. Dipertandingan bulan depan, aku akan mengalahkanmu. Pastikan kau, mengikuti turnamen ini."


Iloania sebenarnya tidak tahu turnamen apa itu, namun dia mengangguk. "Baiklah, aku akan ikut serta."


Mendengar jawaban Iloania, Clareon menaiki pedangnya dan menghilang dari pandangan Iloania. Tatapannya beralih memandang sekelilingnya. Pemandangan Dragonia Academy dari kepala naga ini sangat bagus. Maniknya dan bibirnya melengkung menerbitkan senyuman.


...***...


"Ilo! Bagaimana ini? Aku masih belum memiliki binatang sihir~" Kata Jissiana dengan wajah cemas.


Lane mengerang kesal, "Aku juga! Semua binatang sihir sepertinya pemalu dan pengecut! Ketika aku mendekati mereka, mereka justru lari dan bersembunyi seperti tikus! Menyebalkan~"


Lane Hourisin, adalah kembaran dari Kane. Surainya berwarna merah dengan manik senada. Membuatnya nampak kuat dan arogan dengan sifatnya yang keras kepala dan memiliki jiwa seorang pejuang. Jissiana dan Lane sama-sama belum memiliki binatang sihir, dan keduanya bingung ketika minggu depan adalah penilaian kekuatan binatang sihir masing-masing pemilik.


Iloania, Kane dan Miaka berjalan disamping, didepan dan belakang mereka. Iloania nampak memikirkan sesuatu sebelum tersenyum lebar.


"Jie, Lane. Sepertinya aku tahu dimana kalian bisa mendapatkan binatang sihir." Kata Iloania.


"Benarkah?" Tanya Jissiana dan Lane bersamaan.


Iloania mengangguk, "Apa kalian tahu kota Neredith distrik 7?"


Mereka terpekur. Kota Neredith terdengar sangat asing ditelinga mereka. Secara alami menggeleng, Iloania sendiri sama terkejut dan kebingungannya.


"Erm, bagaimana dengan kota Mire didistrik 7?" Tanya Iloania.


Mereka kembali menggeleng.


"Kota Neredith. Kota yang ada dikaki gunung Vest?" Tanya Iloania lagi.


"Apa ada yang bilang kota Neredith?" Sebuah suara membuat mereka menoleh dan mendapati Lasius dan Zalion berjalan kearah mereka.


Mendapati sosok Lasius, wajah Kane memerah dan dengan cepat menundukkan kepalanya dengan senyuman diwajahnya. Debaran jantungnya membuatnya tak bisa menahan senyuman.


"Sa-Sangat tampan !" Batinnya.


"Ah, kak Sius? Kak Lion. Apa kak Lion tau dimana kota Neredith?" Tanya Iloania berharap bahwa Zalion tahu.


Zalion menganggukkan kepalanya. "Aku pernah kesana satu kali bersama Lasius. Ada apa memangnya?"


"Kami mencari binatang sihir! Dan Iloania bilang kami bisa mendapatkannya disana." Kata Lane tiba-tiba.


"Benar. Disana memang ada banyak binatang sihir yang kuat. Tapi bagaimana kau bisa tahu tentang kota itu?" Tanya Zalion pada Iloania.


Kota Neredith. Sebuah kota yang ada dikaki gunung Vest, sebuah pegunungan yang dikenal berbahaya. Banyaknya binatang sihir disana membuat kota ini dilindungi dengan sebuah array yang membuatnya tampak seperti kota mati. Kota ini bahkan tak ditemukan dipeta, karena keberadaan binatang sihir kuat yang mungkin dapat disalah gunakan, hanya mereka yang mendapat izinlah yang dapat memasuki kota ini. Kedatangannya bersama Lasius saat itu tak lebih karena adanya sekelompok pemburu binatang sihir yang menyusup kedalam kota itu dan dengan sesuka mereka mengambil dan menangkap binatang sihir untuk dijual dan dijadikan ajang taruhan binatang sihir.


"Masa bodoh tahu darimana. Cepat katakan bagaimana kami bisa kesana?!" Kata Lane dengan nada memerintah.


"Kalian bisa menggunakan fasilitas Pintu Dimensi di pintu masuk dan keluar. Mereka harushnya tahu kota Neredith. Itu bisa membawa kalian ke kota Neredith dengan menggunakan satu batu roh." Kata Zalion.


"Batu roh?" Beo mereka.


Zalion menunjukkan satu batu pipih yang memancarkan cahaya dan dipenuhi aura sihir yang kuat. "Satu batu bernilai 100 koin emas. Kalian bisa menukarnya digerbang masuk dan keluar."


Jissiana menganga. Satu batu roh senilai 100 koin emas sungguh mahal baginya!!


"Temani kami!" Perintah Lane membuat Zalion sedikit mengernyit tertekan.


Ketika Lane dan Jissiana menyeret Zalion kearah gerbang, yang lain mengikuti mereka dengan tenang dibelakang.


"Bagaimana kelasmu hari ini?" Tanya Lasius pada Iloania.


Iloania menjawab dengan senyuman, "Sangat baik. Bagaimana dengan kakak? Bukankah kakak hanya mengambil satu kelas karena tidak ada pengguna elemen sihir cahaya disini selain kak Sius?"


"Tidak apa. Aku bisa berlatih sendiri," jawabnya membuat Iloania mengangguk mengerti.


"Kamu lapar?" Tanya Lasius.


Iloania menggelengkan kepalanya. "Tidak lapar."


"Kamu belum makan siang. Makan malam harus banyak." Kata Lasius.


Iloania terdiam selama beberapa detik. "Sepertinya aku tidak bisa makan malam. Ada sesuatu yang harus kulakukan. Dan akan kembali besok pagi."


"Kemana?" Tanya Lasius.


Iloania tak menjawab dalam beberapa waktu. Sementara, Kane melirik keduanya dengan tatapan rumit.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update


11/7/2021


Jangan lupa dukungannya~


Salam hangat,


LuminaLux