
Iloania menatap dua kembar didepannya dengan tenang. Dua orang itu adalah satu wanita bersurai ungu gelap, dan yang lain adalah satu laki-laki bersurai ungu cerah. Mata keduanya sama-sama berwarna merah berbahaya. Iloania dengan jelas dapat merasakan energi gelap ditubuh mereka, dan Iloania tidak bisa mengontrol untuk tidak memandang mereka buruk. Iloania tidak menyukai energi buruk.
"Kakak, kelinci kecil itu cukup cantik. Bisakah aku mengoleksinya setelah membunuhnya?" Laki-laki itu bertanya dengan wajah yang nampaknya selalu merona.
Air liur tercetak disela giginya ketika dia membuka mulut, nampak menjijikkan diwajah yang sebenarnya tampan.
Guren menganggukkan kepalanya. "Silakan saja, bukankah kita juga sudah menemukan hartanya?"
Muren dengan merona lagi terkikik kegirangan. Iloania tidak membantu, tetapi berpikir bahwa laki-laki itu nampaknya cukup gila.
Tidak, tidak. Benar-benar gila.
Muren menarik tangannya dari belakang punggungnya, dan pedang hitam muncul ditangannya. Guren disampingnya juga mengeluarkan tombak hitam dengan nyala api ungu diujungnya. Nampak berbahaya. Tidak tinggal diam, Iloania mengeluarkan tombak kaca dari dalam cincin dimensinya. Tombak kaca itu panjang dan tajam. Dengan cincin melingkarinya dan lonceng tergantung dicincinnya.
Nampaknya, pertarungan kali ini akan lebih banyak menggunakan serangan fisik jarak dekat, terutama pria aneh itu.
Muren berkata, "Kelinci kecil~ Mari bermain~"
"Oh, kalau begitu mari~" Iloania menjawab tak kalah riang, membuat Muren makin tergila-gila untuk segera membunuhnya dan menjadikannya boneka koleksinya.
"Ahh~ Sungguh manis!!" Lantang Muren sembari melesat menuju Iloania.
Mengayunkan kedua pedangnya kepada Iloania, gadis itu menahannya dengan tombaknya dan tetap bertahan diatas piringan hitamnya.
"Tetap tenang Ilo. Usahakan gunakan fisik, jangan gunakan sihir. Mereka adalah penyihir hitam, tabrakan sihir bisa membuatnya terlepas!" Kata Vleia membuat Iloania mengerti.
Sudut matanya mendapati Guren datang mengayunkan tombak kearahnya, diikuti semburan api ungu yang panas. Iloania mendorong pedang itu dengan tombaknya dan melompat dari piringan hitamnya. Membiarkan piringan hitamnya melebur oleh panas. Sayangnya, mereka dan Iloania sama-sama tidak memberikan waktu untuk beristirahat. Ketiganya langsung melesat menuju satu titik dan saling melemparkan serangan menggunakan senjata mereka, dan beberapa kali pula sikembar menggunakan sihir untuk menyerang.
Iloania mengayunkan tombaknya ke Guren, tetapi wanita itu menghindarinya bersamaan dengan Muren yang mengarahkan pedangnya tepat kearah jantungnya. Iloania menggunakan piringan hitamnya untuk menahan tusukan pedang Muren, tetapi kembali teralihkan pada Guren yang setelah berhasil menghindari ayunan tombak Iloania, kini menggunakan sihir, memunculkan bola api ungu ditangannya dan melemparkannya kearah Iloania. Ketika Iloania hendak melompat, ia tertahan ketika sulur tanaman gelap melilit kakinya dengan erat. Iloania dengan cepat bereaksi.
"Pisau Angin." Gumamnya sembari menggerakkan tangannya dengan gerakan cepat.
Dalam pandangan mata, sulur itu tampak tercabik-cabik dan terpotong. Membiarkan Iloania bebas dan melompat. Tetapi karena sedikit terlambat, itu nyaris mengenai kakinya. Iloania mencoba sebaik mungkin menggunakan sihirnya, memecah tanah dan melesatkannya kearah sikembar. Dan mencoba menyerang satu lawan satu. Iloania melompat tinggi dan mengayunkan tombaknya untuk menusuk Guren, tetapi Muren yang entah sejak kapan tiba-tiba muncul didepannya dan menggunakan pedangnya menghalangi Iloania untuk menyerang Guren.
Laki-laki itu tersenyum merona. "Hahaha, kelinci kecil yang liar!! Aku benar-benar menyukai permainan ini."
"Oh, aku juga menyukainya~" Ujar Iloania tersenyum, tetapi tidak tersenyum.
Guren yang sebelumnya ada dibelakang Muren melompat dan mengibaskan tombaknya kepada Iloania. Iloania menghindarinya, tetapi dengan instingnya Muren menebaskan pedangnya, membuat kaki Iloania sedikit terkena ujung pedang. Menciptakan luka berdarah yang cukup besar dan panjang. Melihat cairan merah diujung pedangnya, Muren tidak bisa membantu tetapi makin tersenyum lebar dan merona. Lidahnya menjilat bibirnya sebelum tertuju pada besi hitam dan mencicipi darah segar diujung pedang.
Muren berkata, "Darah segar yang penuh vitalitas. Kelinci kecil akhirnya terluka~ Apakah sakit?"
Iloania memandang lukanya dan sedikit bergumam. Rasanya memang sakit, apakah pedang itu memang memiliki semacam kekuatan untuk membuat luka menjadi dua kali lebih sakit?
"Tidak masalah. Permainan masih berlanjut, luka ringan tidak masalah~" Ucap Iloania membuat Guren mencemooh.
"Kalau begitu lanjutkan."
Berujar dengan dingin, Guren kembali menyerang Iloania. Iloania akui jika melawan dua orang gila seperti ini membuatnya kesulitan. Ketika dia mencoba menyerang yang satu, yang lain diperkirakan selalu mematahkan serangannya dengan tangkisan atau serangan. Bila dia telah ditangkis atau diserang, yang lain akan ikut menyerangnya kembali. Menghindari dua serangan dalam sekali elakan, itu adalah situasi yang sedikit berbahaya. Dan terlebih, menyulitkan baginya untuk menggunakan sihir melawan mereka. Itu benar-benar tidak bisa sampai bertabrakan.
Puluhan menit berlalu dengan serangan dan serangan yang sama. Muren dan Guren berdiri ditempatnya dengan normal. Hanya ada sedikit lapisan keringat dan debu. Diwajah dan lengan Muren, setidaknya ada beberapa luka gores, sama halnya dengan lengan Guren. Guren menapakkan tombaknya ditanah dan Muren memangku kedua pedangnya dipundaknya dengan senyuman merona.
"Vleia, apakah ada cara untuk mengalahkan mereka?" Bisik Iloania.
"Aku tidak menemukan cara apapun, ahh! Biarkan aku berpikir, uh, sebenarnya jika kamu bisa memisahkan mereka, kekuatannya jelas akan berkurang setengah. Tetapi bagaimana memisahkan mereka?" Jawaban Vleia membuat Iloania menatap Guren dan Muren, serta memikirkan cara untuk memisahkan mereka.
Iloania menggerakkan jari tengahnya, cahaya keemasan samar yang tipis muncul dan mengendap bersembunyi. Melata ditanah dan sudut-sudut, untuk diam-diam mengalir keluar menuju lorong dan keluar. Menyebar kehutan dan hilang dengan jejak samar.
Iloania mengepalkan tangannya, dan berharap dalam hatinya.
...***...
"Vleia, dimana kak Sius?" Tanya Iloania yang baru saja tiba diruang dimensi tempat tinggal Vleia.
Dalam wujud anak kecil, Vleia menunjuk Lasius yang tengah melawan dua klon Vleia versi anak-anak. Keduanya bergerak dengan sinkronisasi yang luar biasa, dan benar-benar membuat Lasius kewalahan. Tetapi, diwajahnya terukir ketidakinginan untuk menyerah.
"Sepuluh menit kamu pergi, disini sudah sepuluh jam. Kamu tahu, sepertinya dia benar-benar serius ingin bertambah kuat. Tekadnya membuatku bergidik."
Iloania memandang Vleia dan bertanya. "Kenapa kamu membiarkannya berlatih dibawah pengawasanmu? Bukankah kamu mengatakan, jika kamu cukup merasa repot dengan hal seperti ini? Terlebih, kamu bilang tidak menyukai kak Lasius."
Vleia meliriknya acuh. "Hanya ingin saja. Lagipula, dia kekasihmu bukan?"
Mendengar ucapan Vleia, wajah Iloania memerah. "Ti-Tidak! Kak Sius itu temanku, bukan kekasihku."
"Baiklah, baiklah. Bukan kekasihmu, tapi seorang pria selain guru yang dekat denganmu. Jujur saja~" Goda Vleia membuat Iloania mengerucutkan bibirnya dengan kesal dan malu.
"Kenapa kamu hari ini sangat berisik?! Nakal, sangat menyebalkan!" Gerutu Iloania pada Vleia yang justru terkekeh dengan suara beratnya.
"Ngomong-ngomong, aku baru saja ingat. Bukankah dipondok guru ada buku tentang sihir elemen cahaya?" Tanyanya.
"Memang ada."
Iloania bergumam senang, berbalik dan berjalan dengan senang hati menuju rumah pondok milik sang guru yang dipenuhi buku-buku dan perkamen tua lusuh. "Kalau begitu akan aku ambil. Kak Sius bisa berlatih sendiri. Soalnya, tidak ada guru elemen cahaya diacademy."
Vleia menatapnya dan menggelengkan kepalanya sembari menghela napas.
Betapa pedulinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
15/09/2021
Jangan lupa dukungannya~
Salam hangat,
LuminaLux