
Melangkah dijalan yang ramai, Lasius menyembunyikan penampilannya dengan menggunakan jubah hitam selutut. Dia melirik sekelilingnya, berjaga-jaga jika ada pasukan APA yang sedang beroperasi.
Dia mengenal Agara. Sebagai komandan pertama pasukan khusus APA, wanita itu bisa membuat keputusan tanpa harus menjalani rapat yang berbelit-belit. Hak khusus yang dimilikinya langsung diberikan karena kecerdasannya dalam menganalisis dan menentukan strategi melindungi Altas dari serangan dan gangguan kerajaan dari benua lain.
Dia mengakui bahwa Agara adalah wanita yang hebat, tetapi dia tidak akan pernah setuju dan menerima bahwa Iloania adalah dalang dibalik kemunculan Raja Iblis.
Semisterius apa Iloania, Lasius yakin bahwa Iloania bukan orang jahat.
"Ayam panggang! Ayam goreng! Ayam bakar! Semua jenis ayam!! Ayo beli!" Seorang pedagang berteriak, menarik perhatian Lasius.
"Dua, goreng dan panggang." Katanya.
Pria itu menyeka tangannya setelah menyentuh air dan tersenyum ramah. "Apakah pedas atau tidak, tuan?"
"Tidak." Lasius menjawab dengan dingin, mengambil tempat duduk yang disediakan didekat kios itu untuk menunggu.
"Silakan minumannya, tuan." Salah satu pegawai dari kios makanan itu menyerahkan segelas minuman kepada Lasius dan meletakkannya diatas meja.
"Terima kasih." Respon Lasius dengan nada dingin andalannya.
Pria itu berkacak pinggang dan mengangguk. "Sama-sama tuan!"
"Hey, mereka datang lagi." Ada suara dari beberapa pembeli yang sama menunggu seperti Lasius di kedai itu.
Yang lain menyambung, "Aku cukup heran dengan seberapa gigihnya mereka. Apakah itu benar-benar penjahat berbahaya?"
"Entahlah. Berhati-hati saja."
Lasius memperhatikan segerombolan penyihir yang mengenakan seragam yang sangat dikenalnya. Di APA, ada unit yang bekerja langsung dilapangan. Mereka muncul dipermukaan dan tugas mereka untuk mencari dan menyelidiki sesuatu secara terang-terangan. Dan tujuan utamanya adalah mendapatkan informasi dari penduduk.
Lasius tidak yakin, tetapi ia merasa bahwa keberadaan mereka adalah untuk mencari keberadaannya dan Iloania. Ia sedikit menundukkan kepalanya, berusaha bersikap senatural mungkin dan mencoba memastikan bahwa hawa keberadaannya menipis.
Lasius melihat mereka mengecek seluruh kedai. Memeriksa dari antara orang-orang yang ada disana. Benar saja, mereka membaya potret dirinya dan Iloania. Sembari bertanya kepada pengunjung. Lasius merasakan untuk pertama kalinya rasa gugup. Jika dia pergi, mereka akan menghadangnya dan identitasnya akan ketahuan saat itu juga. Tetapi jika dia menunggu, itu sama saja saat mereka memeriksanya.
"Cucuku, berapa lama lagi ayamnya akan matang? Kakek sudah sangat lapar menunggu. Kita juga harus segera mengirimkan dagangan kekota sebelah." Seorang pria tua duduk disamping Lasius dan bertanya kepadanya.
Wajahnya memiliki sedikit banyak keriput, tetapi dapat diyakinkan bahwa pada masa mudanya, kakek itu pastilah tampan. Dia mengenakan
"Haish, mereka benar-benar lama sekali. Tuan, mana pesanan kami?!" Tanyanya.
Yang sedang memanggang ayam menjawab, "Tunggu sebentar pak! Pesanan anda hampir matang!"
Seorang dari anggota APA berhenti mendekat. Nampaknya mengubah pikirannya bahwa yang disana hanyalah pedagang. Lagipula, jika mereka pedagang, mereka pasti akan melakukan pemeriksaan untuk melewati kota. Dan bahkan jika Lasius benar-benar ada diantara mereka, dia pasti akan segera ketahuan. Jadi, daripada membuang waktu untuk mereka yang bukan, lebih baik memeriksa yang nampak lebih mencurigakan.
Jadi dalam diam, Lasius menyaksikan pemuda itu berbalik memeriksa seorang pemuda bertopi yang sedang menikmati sepiring ayam.
Beberapa saat setelah mereka pergi, Lasius menoleh kepada pria tua disampingnya dan hendak membuka bibirnya, sebelum tersela.
"Oh, ternyata kamu bukan cucuku? Maaf, maaf .. Aku salah mengenali orang." Pria tua itu berbicara dengan sepasang mata yang melengkung dan senyuman ramah.
Lasius menganggukkan kepalanya menghindari wajahny terekspos secara langsung. Pria itu bangkit dan berjalan pergi sebelum berhenti ditengah jalan dan berbalik.
"Oh, nak. Lalu, berhati-hatilah." Tukasnya sebelum pergi ketika Lasius terhanyut dalam keterkejutannya.
"Tuan, ini pesanannya. Harganya 5 koin emas," ujar pemilik kedai itu.
Lasius tersentak dari keterkejutannya dan menoleh untuk melihat dua bungkus makanan hangat didalam kantung plastik. Lasius mengeluarkan lima keping koin emas dari kalun penyimpanannya dan mendorongnya kearah pemilik kedai.
Tangannya meraih pesanannya dan mendengar pemilik kedai itu berbicara. "Terima kasih, tuan! Silakan datang lagi lain kali~"
"Berhentilah dulu. Sebentar lagi makanan akan datang." Ozzo menginterupsi Iloania untuk berhenti seaat dari latihannya.
"Baik, Ozzo!" Jawab Iloania sembari melangkah menuju tempat dimana Ozzo duduk.
Gadis itu mendudukkan dirinya, dan tak lama berselang untuk Lasius datang dengan beberapa kantung makanan ditangannya. Iloania menatapnya dan sedikit terkejut. Pemuda itu turut duduk dan menyerahkan ayam dan anggur kepada Ozzo.
"Sesuai keinginanmu." Dinginnya.
Ozzo terkekeh dan menerima pesanannya dengan puas. "Sangat lengkap! Kau sangat handal melakukan pekerjaan ini, Nak!"
Manik Lasius menyipit. Apa maksudnya? Dia adalah seorang pangeran!
Memilih mengabaikannya, Lasius menyerahkan sekotak kue kepada Iloania, tak luput sebotol air minum. "Untukmu, makanlah."
"Terima kasih, kak!" Menerimanya, Iloania menenggak air dan menikmati potongan demi potong kue kering. Makanan apa yang paling disukai Iloania?
Tentu saja kue kacang!
"Aku .. sudah mencari tahu tentang Malam Bulan Darah." Kata Lasius membuat Iloania menghentikan gerakan makannya, sama halnya dengan Ozzo.
Beberapa waktu lalu, Lasius mendapatkan kabar dari sang kakak tentang buku yang dia lihat dalam mimpinya. Setelah kakaknya membongkar perpustakaan pribadi milik sang ibunda, Legarion menemukan buku itu berada disalah satu kotak penyimpanan. Memang memakan cukup waktu lama karena komunikasi mereka hanya menggunakan burung pengantar surat. Tetapi setidaknya mereka bisa mendapatkan informasi yang dibutuhkan.
Lasius membuka bibirnya dan berkata, "Tiga bulan lagi. Langit darah akan terjadi."
Iloania terkejut. "Tiga bulan?!"
"Itu tidak akan lama lagi," gumam Ozzo.
"Dalam tiga bulan kamu harus benar-benar bisa membangkitkan Vleia dan menguatkan sihirmu. Dalam tiga bulan juga, tidak bisa dihindari perang akan terjadi." Kata Lasius.
"Semua penyihir harus bersiap-siap dengan kemunculan iblis dan Raja Iblis. Kita tidak akan bisa tahu berapa banyak korban yang akan kehilangan nyawanya dalam peperangan ini. Atau bahkan, jika dunia manusia hancur." Lanjutnya dengan tangan terkepal.
Merasakan keseriusan Lasius dan kecemasan didalam hatinya, Iloania menurunkan bulu matanya sebelum menenggak airnya hingga habis dan bangkit berdiri. "Aku akan kembali berlatih."
Dia ingin menjadi kuat. Cukup kuat untuk melindungi mereka yang disayanginya dan ingin dilindunginya. Jadi dia harus menempa dirinya lebih dan lebih keras. Bahkan jika tubuhnya hancur, dia tetap harus berusaha untuk semuanya.
Lasius tertegun, mengangguk sembari berkata. "Aku akan pergi mencari informasi tentang keberadaan guru Gamma." Katanya juga turut bangkit berdiri.
Melihat keduanya yang penuh dengan tekad, Ozzo tak bisa menahan senyuman di wajahnya. Anak-anak muda memang memiliki semangat masa muda yang luar biasa. Mereka sangat berani.
"Apapun yang mereka ingin raih, nampak seperti bukan hal mustahil untuk dicapai." Gumamnya pada dirinya sendiri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
30/05/2022
Jangan lupa dukungannya~
Salam hangat,
LuminaLux