Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 133 "Kegelapan Yang Menjaga Kerlip"


Melangkah dengan ekspresi dingin diwajahnya, Hesian penuh dengan aura pembunuhan untuk pertama kalinya.


Orang-orang dari kelompoknya bahkan menahan napas dan buru-buru memberinya jalan ketika melihanya dengan penampilan seperti itu. Mereka takut, namun mereka diam-diam mengikutinya, sampai mereka menemukan Hesian melangkah tepat menuju Laisen yang tengah duduk membaca sebuah buku di dekat air mancur ketika dengan tiba-tiba Hesian mengangkat tangannya dan mencekik Laisen dengan kekuatan yang tidak main-main.


Laisen yang berada dicengkraman Heisan memandang pemuda itu dengan senyuman dimata dan bibirnya, meskipun wajahnya bahkan hampir membiru karena cekikannya yang kuat.


"Katakan, apa yang kau lakukan padanya?"


Dia mengacu pada Luce. Hesian memandang tajam Laisen yang dengan tenang mengangkat kedua tangannya. Suaranya tercekat karena tenggorokannya tercekik, namun Hesian dapat mendengar apa yang dikatakannya. "Aku tidak melakukan apapun padanya."


"Sebenarnya, kau sendiri yang mencelakainya, kak Sian."


Hesian mengeratkan cekikannya. "Apa maksudmu?!"


"Ugh!" Mendesis kesakitan, Laisen berkata, "Kamu sudah sadar siapa dia sebenarnya, namun tidak sadar akan keadaannya? Ahaha! Kak Sian yang malang."


Ia dengan baik hati menjelaskan. "Sebagai penyihir dengan kekuatan suci tertinggi sepertinya, para penatua dan orang-orang licik dari kerajaan pasti menyuruhnya melakukan sesuatu untuk menjaga kerajaan ini tetap subur dan melimpah dalam sumber daya. Bisakah kakak menebak apa yang akan dia lakukan?"


"Inti sihir." Hesian bergumam tanpa sadar, dan cekikannya melemah.


Laisen melanjutkan kata-katanya, namun sebenarnya, Hesian tidak mendengarkan sama sekali karena pikirannya sudah menebak dengan jelas apa yang terjadi. Namun Laisen masih menjelaskan. "Ritual Pemanggilan Bencana perlahan namun secara efektif merusak inti sihirnya. Itulah mengapa dia sering merasa kelelahan. Sayangnya, sudah terlambat bagi kakak bahkan untuk menyadarinya."


Hesian melemparkan Laisen dan dengan cepat bergerak menuju aula. Namun Laisen yang memandangnya hanya tertawa. "Bahkan dengan kekuatanmu, kau tidak akan bisa menghentikan ritual yang sudah dilaksanakan, kak. Dan dengar satu hal lagi."


"Sebenarnya, orang-orang bodoh itu dengan mudahnya dapat kuperdaya. Hanya dengan mengatakan satu kata tentang persembahan akan menyelamatkan kerajaan, mereka berdiri dibelakangnya, bergandengan tangan dan memutuskan sesuatu dengan mudah. Seharusnya sudah mereka lakukan, sekarang."


Brak!


Tubuhnya melayang tinggi dan dibanting ke lantai, Darah terciprat kemana-mana, namun bersamaan dengan langkah tegas Hesian keluar, suara tawa yang melengking itu benar-benar menjadi pengantar yang menyedihkan sekaligus benar-benar menggambarkan, betapa kejamnya dia, Laisen Hivano.


Sementara disisi lain, Luce memandang langit cerah yang membawa nostalgia baginya. Disaat seperti ini, dia justru ingin melihat Hesian.


Orang-orang berkerumun untuk menyaksikan ritual pengorbanan yang dikatakan akan menangkal bencana dan wabah yang sudah diramalkan. Semua orang memandang Luce dengan air mata, mereka tidak bisa menahan kesedihan mereka. Luce adalah pelindung, penyelamat dan simbol dari kesucian kerajaan Amalox. Namun karena wabah bencana yang diramalkan akan menghancurkan kerajaan, Luce berani mengambil tanggung jawab untuk mengorbankan dirinya.


Orang-orang melemparinya dengan bunga.


Gadis itu tersenyum, dan untuk terakhir kalinya, mengangkat tangannya, melepaskan sihir yang meluncur seperti kembang api dan meledak dilangit kerajaan seperti sebuah bunga raksasa, bersamaan dengan bercak merah yang mengotori kelopak bunga yang tergeletak ditanah.


...***...


Jeritan dan tangisan rakyat tidak membuat langkahnya terhenti. Ia mengangkat tangannya, menggunakan sihirnya untuk mendorong semua orang yang menghalanginya segaris lurus dan membuat orang-orang mengalami kepanikan karena luka yang mereka derita.


Para penyihir putih segera memasang posisi siaga mereka, merasakan ancaman besar dari Hesian yang melangkah dengan lambat di jalan yang ia buat sendiri. Ia melihat gadis itu. Wajah akrab yang ia ingat, ditempatkan diatas sebuah bantal merah dengan tutup kaca yang berkilau indah. Ia bahkan bisa melihat senyuman diwajah itu.


Hesian bergumam lirih, mengabaikan penyihir putih yang menanyakan sipa dirinya. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah untuk menjangkaunya.


"Posisi siaga!"


Hesian mengerutkan bibirnya, mendesis dan mengangkat tangannya. Asap kehitaman muncul ditangannya, menyerang dan menelan penyihir-penyihir cahaya itu. Dalam waktu singkat, hanya tersisa penatua yang memandang syok Hesian dengan keringat dingin yang meluncur disepanjang garis wajahnya. Hesian memandang lurus kedepan dengan dingin, dan ketika ia melewatinya, penatua itu menjatuhkan dirinya dengan gemetar.


Selangkah, dua langkah, tiga langkah, empat langkah.


Hingga ia tepat berdiri didepan kotak kaca itu.


Tangannya dengan hati-hati mengangkatnya, merengkuhnya dalam pelukannya, sebelum dia berbalik meninggalkan tempat itu, bersama dengan kerlip cahayanya.


...***...


"Kau dan prinsip bodohmu."


"Aku melakukan apa yang hatiku inginkan, SIan. Aku tidak mengatakan ini sebagai sebuah keharusan, aku menginginkannya."


"Dari awal, apakah kamu benar-benar menyukaiku?"


"Aku, benar-benar mencintaimu, aku ingin berada disisimu, aku ingin selalu ada didekapanmu, tapi, aku tidak bisa."


"Aku tidak akan pernah mengerti."


"Kamu hanya tidak ingin untuk mengerti, Sian. Jika kamu membuka matamu, kamu akan melihat dan merasakannya."


"Selamat tinggalmu tidak akan berarti apa-apa untukku."


"Pft, ironis bukan?"


"Sangat egois."


"Kamu boleh mengataiku dengan sesuka hatimu. Tapi Sian, aku benar-benar ingin tahu bahwa aku hanya mencintaimu. Selamat tinggal, Sian."


"Sekarang kamu sudah mati. Dulu, kamu bertanya apa keinginanku bukan? Sebenarnya sejak mendengar jawabanmu, aku mengubah pikiranku. Kini, aku benar-benar akan menjadi kegelapan. Aku akan menyapu bersih dunia dengan kebencian dan penderitaan. Semuanya, akan kujadikan dunia tanpa cahaya."


"Sehingga, aku bisa menjaga kerlip cahayamu dalam dunia gelapku."