Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 87 "Sebuah Kisah Dari Dunia Yang Berbeda"


Kota Ribnon secara alami adalah kota yang padat karena merupakan ibukota sebuah kerajaan yang besar. Meski tidak sebesar kerajaan Alete, kerajaan Thopaz termasuk kerajaan besar dibandingkan dengan beberapa kerajaan lain. Tegnologi disini tidak semaju kota Thaha. Binatang sihir tak jarang ditemukan sedang bekerja menarik kereta kuda atau mengantar penumpang mereka yang hendak pergi jauh. Banyak orang terlihat beraktivitas menggunakan sihir, dan bahkan untuk hal kecil seperti memindahkan air atau barang.


Jemari itu saling tertaut erat, menyelimuti satu sama lain dan menjaga dalam satu simpul yang sama. Lasius menjaga Iloania agar tetap berada disekitarnya dan tidak tersesat ditengah padatnya kota ini. Menuntunnya sembari bergandengan tangan. Terlebih dengan keadaan Iloania saat ini, meskipun tahu bahwa Iloania pasti akan baik-baik saja, Lasius tetap merasakan kekhawatiran dihatinya.


"Kota ini ramai sekali, ya~ Aku bahkan tidak bisa mengira-ngira berapa banyak orang disini. Langkah kaki mereka seperti tidak akan pernah berhenti." Kata Iloania.


"Ini adalah ibukota. Jadi adalah hal wajar jika kota yang dijadikan ibukota kerajaan akan sangat padat. Sebagai ibukota kerajaan Alete, kota Shie juga sangat padat. Tetapi karena itu, ada banyak sekali tempat menarik yang bisa dikunjungi. Salah satunya Menara Biru. Aku akan membawamu kesana setelah semua ini selesai." Kata Lasius dengan suara lembut.


Dibelakangnya, Iloania menatap kearahnya, meskipun yang bisa dilihatnya hanyalah kegelapan yang dingin. Tetapi, hatinya terasa sangat hangat mendengar ucapan Lasius.


Dia menjawab, "Mn! Baiklah."


Fluu— Suara seruling terdengar merdu ditelinga siapapun yang mendengarnya. Langkah Iloania terhenti seketika, membuat Lasius turut berhenti dan menoleh kebelakang. Ia mendapati Iloania memandang kosong kearah suara seruling. Mengikuti arah pandangnya, ada kerumunan orang yang nampak duduk mengitari seorang pria setengah baya yang memiliki topi anyaman bambu lebar dikepalanya. Pria itu nampak serius dan tenang meniup serulingnya.


Untuk sesaat, Lasius turut terhanyut mendengar permainan seruling pria itu yang memang sangat luar biasa.


"Cinta adalah eksistensi yang paling sulit dimengerti didunia. Bahkan diantara para dewa sekalipun, mereka tak dapat menebak bagaimana hati mereka akan berlabuh." Dia membuka suaranya, dan lantunan bernada lembut namun tegas itu terdengar oleh setiap pendengar disana.


Debu pasir didepannya terbang dan mengambang, berpadu dan bergerak membentuk dua rupa yang begitu menawan. Keduanya nampak agung dan megah, berdiri diatas awan. Cakrawala bergelung ketika sosok laki-laki menggerakkan tangannya, dan aurora indah menghiasi angkasa, menari-nari ketika sang perempuan melambaikan selendangnya.


"Sang putri dan sang pangeran, terlahir dari cahaya dan kegelapan yang sama. Mereka telah berbagi waktu, berbagai segalanya. Dan bahkan, berbagi perasaan. Mereka jatuh kedalam dosa dan kesalahan fatal. Apa kalian tahu apa itu?" Tanyanya.


Seorang anak perempuan yang sedang menyimak mengangkat tangannya dan menjawab dengan pertanyaan. "Apa mereka jatuh cinta?"


Pria itu menganggukkan kepalanya, dan gemerincing suara lonceng disekeliling topinya terdengar berdenting. "Ya, cinta. Cinta diantara mereka melebihi cinta persaudaraan, dari darah yang sama, dari asal yang sama, mereka tidak akan pernah ditakdirkan untuk bersama."


"Pangeran dan putri tak bisa menyembunyikan masalah ini selamanya dari sang penguasa. Sang Kaisar Dewa, Dewa matahari dalam sekejab mengetahui tentang hubungan terlarang yang mereka miliki."


Dia meniup kembali serulingnya, dan debu pasir bercahaya didepannya segera terangkat dan bergerak dengan gerakan yang tertata, membentuk wajah, tubuh dan penggambaran lingkungan sekitar yang luar biasa. Ada sekelompok orang yang mengenakan kain melilit tubuh mereka, memisahkan secara paksa seorang gadis bersurai panjang dari seorang pemuda nan tinggi. Itu adalah sang pangeran dan sang putri.


"Mereka dipisahkan, dilarang untuk saling bertemu dan berkomunikasi sampai mereka mampu merenungkan kesalahan mereka. Mereka tidak tahu kapan itu akan berakhir, tetapi itu mungkin bisa selamanya." Katanya.


Debu pasir kembali bergerak seiring tiupan seruling dari pria itu. Kini membentuk dua insan yang saling berpelukan dibawah pohon ditepi danau yang luas.


"Pada malam itu, keduanya memutuskan untuk bertemu di danau, tempat dimana mereka biasanya bertemu tanpa sepengetahuan orang lain. Tetapi Dewa Matahari mengetahui hal itu dan murka." Pria itu bercerita dengan suara lembut dan halus, tetapi memiliki nada yang jelas dan menyenangkan.


Dia melanjutkan. "Dewa Matahari yang murka kemudian berseru dengan suaranya yang membawa keagungan dan kemuliaan diseluruh semesta, 'Aku akan menghukum kalian!'. Saat itu, langit terbelah dan kilat menyambar-nyambar. Kemurkaan Dewa Matahari pada keduanya yang melawan takdir hampir mempora-porandakan dunia."


"Ada sebuah ramalan yang merupakan hukuman dari Dewa Matahari." Dia berkata.


"Animae nodatae duae rubrae." Mendengar bahasa itu, Lasius mengerutkan kening bingung. Tetapi Iloania segera mengartikannya setelah mendengarnya.


"Dua jiwa bersimpul merah." Gumam Iloania.


"Tujuh kelahiran dan tujuh kematian."


"Clades, modo viator sisistur." Mengikutinya, Iloania menerjemahkan. "Bencana, hanya dapat dihentikan oleh sang pengelana."


Iloania tidak bisa membantu, tetapi mengerutkan keningnya. Cerita itu sangat familiar. Dimana dia pernah mendengarnya, ya?


"Apa mungkin dari guru?" Batinnya.


"Ilo," Panggilan Lasius menyadarkan Iloania dari lamunannya.


Iloania sedikit terkejut, "Ah? Apa?"


Lasius menatap pria yang sedang berjalan perlahan dengan bantuan tongkat kayu. Dia pria buta.


"Mungkinkah, dia yang dimaksud oleh Vleia? Dia pendongeng, dia buta dan dia meniup seruling. Dan lebih kebetulan lagi, dia ada dikota ini. Maksudku, tidakkah itu sudah seperti mendeskripsikan dirinya?" Tanyanya. Iloania tidak bisa melihat, tetapi dengan ciri-ciri yang dideskripsikan oleh Lasius, Iloania merasa bahwa itu bisa saja dia.


Pria itu berjalan perlahan menaiki jalan setapak menuju gunung. Sisi kanan dan kirinya hanya bisa ditemukan pepohonan, dan jauh dibalik pepohonan disalah satu sisi jalan itu adalah kota Ribnon yang luas dan padat. Langkah kakinya berhati-hati dan seakan dia bisa tersandung apapun dan kapanpun itu.


Iloania dan Lasius mengikutinya. Sembari menuntun Iloania, Lasius mengulurkan tangannya hendak menggapai bahu pria setengah baya itu, sebelum ia dikejutkan oleh gerakan pria setengah baya itu. Dia merunduk dan langsung memutar tubuhnya dengan satu tumpuan kaki. Dengan gerakan secepat angin, dia menyandung kaki Iloania dan Lasius, membuat keduanya yang tak siap nyaris terjatuh mencium tanah bila saja Lasius tak segera bertahan menahan Iloania agar tidak jatuh.


Ia hendak menoleh, sebelum gerakannya berhenti kala bilah pisau tajam diujung tongkat pria buta itu teracung didepan matanya.


"Katakan, siapa kalian? Dan kenapa kalian mengikutiku?"


Kini keduanya sama-sama yakin bahwa yang ada didepan mereka saat ini adalah pendongeng yang dimaksud Vleia. Iloania hendak membuka bibirnya sebelum pria itu menyelanya.


"Warna ini—!" Pria itu menatap lurus kearah Iloania dengan sepasang manik abu-abu kosong.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update:



24/05/2022


Jangan lupa dukungannya~


Salam hangat,


LuminaLux