
Iloania tahu apa yang harus dia lakukan.
"Terima kasih banyak, Ree!" Berkata demikian, tubuhnya turut refleks memeluk tubuh gadis disampingnya.
Ree kebingungan, tetapi Iloania segera berdiri. "Aida Ree, dari Anaria. Aku tidak akan pernah melupakanmu!"
Setelah mengucapkan itu, Iloania berlari meninggalkan Ree yang menatapnya dengan jejak kebingungan sesaat. Sebelum menerbitkan sebuah senyuman.
"Sungguh bersemangat." Gumamnya.
Ia memandang kelangit dan menyunggingkan sebuah senyuman. "Ah, benar kan?"
Berlari, Iloania menyusuri jalan yang sama dilaluinya sebelumnya. Ada senyuman yang tersungging diwajahnya yang sedikit memerah karena ia berlari. Iloani tidak memikirkan apapun selain untuk menemui Lasius dan guru Gamma.
"Dimana Iloania?" Gumam Lasius setelah lama mencari keberadaan Iloania yang menghilang beberapa waktu lalu.
"Tidak mungkin APA menangkapnya, kan?" Lanjutnya membatin.
Meskipun begitu, Lasius tetap merasa was-was. Walaupun Iloania hebat menurutnya, namun dengan sekelompok pasukan APA yang memiliki bermacam elemen, Lasius tidak tahu apa yang bisa terjadi pada Iloania.
"Kak Sius!"
Begitu Lasius menoleh, ia menyaksikan Iloania berlari kearahnya dengan cepat. Begitu sampai didepannya, Iloania berhenti dan terengah sesaat. Melihat wajah cerah penuh senyuman itu, Lasius tahu bahwa nampaknya Iloania membawa kabar baik.
"Ayo pergi ke benua Zhoie!"
Lasius menerima pertanyaan Iloania dan bertanya, "Kamu ingin menemui suku Mue terlebih dulu?"
Iloania menganggukkan kepalanya. "Aku akan melihat kemasa lalu. Aku ingin tahu, mengapa guru tidak meninggalkanku meskipun tahu dia bisa mati."
"Apa itu bisa berhasil?" Tanya Lasius.
"Aku tidak yakin pasti, tapi tidak ada salahnya mencoba. Aku akan berusaha agar itu berhasil, kak!" Jawab Iloania.
Mendengar jawaban penuh tekad itu, Lasius hanya bisa menyunggingkan senyuman dan mengangguk. "Mari menulis catatan untuk guru Gamma. Kita pergi sekarang, ke Zhoie."
Apapun itu, Lasius akan mempercayai Iloania dan mengikutinya, kemanapun.
Iloania mengangguk.
Waktu mereka tidak tersisa banyak, sampai Langit Darah terjadi, hanya tinggal dua bulan. Perjalanan dari Anaria menuju Zhoie bahkan bisa sampai setengah bulan, bahkan dengan menunggangi Hallias. Dalam perjalanan, sesekali mereka berhenti untuk membiarkan Hallias beristirahat selama beberapa waktu.
Mereka tahu bahwa mereka diburu waktu, tetapi mereka tidak ingin membiarkan Hallias terluka dengan memaksakan diri.
"Ilo, apa kamu tahu dimana keberadaan suku Mue?" Tanya Lasius kala mereka tengah memanggang daging kelinci yang Lasius tangkap beberapa waktu lalu.
Belum Lasius berkata, Iloania melanjutkan. "Tapi aku bisa bertanya kepada nenek Sheo. Guru bilang nenek Sheo pada masa mudanya sama seperti guru. Suka berkeliling, jadi dia pasti tahu dimana keberadaan suku Mue."
"Lalu, apakah kamu masih ingat tempat nenek Sheo?" Tanya Lasius.
Iloania mengangguk. "Tentu! Tetapi tempatnya cukup terpencil dan hanya beberapa orang diluar suku yang tahu tempat ini. Jadi, jika kita sampai disana nanti, kak Sius jangan mengatakan tempat itu pada siapapun ya~"
"Um, baiklah." Jawab Lasius dengan dengusan lembut diawal.
Ditempat lain, Gamma melangkah mendekati sebuah meja yang ada dipondoknya. Tangan kecilnya terulur meraih selembar kertas yang disisipkan dibawah buku. Ada rangkaian kata-kata dilembar kertas itu.
[] Untuk guru Gamma,
Disini Iloania yang menulis. Aku minta maaf tidak berpamitan secara langsung, tapi kami akan pergi ke Zhoie untuk melakukan sesuatu. Aku akan mencari tahu siapa diriku, dan aku pastikan aku akan kembali setelah aku menemukan jawaban atas pertanyaan yang kau ajukan. Aku akan menghilangkan amarahku dan kembali untuk belajar darimu.
Salam, Iloania Rexelite.
Gamma menatapnya sebelum bergumam samar. "Tidak ada lagi yang bisa kulakukan setelah itu. Ikuti takdirmu, Iloania."
Jika Jissiana dapat mengeluh, dia akan mengatakan bahwa dia mungkin akan mati. Ia membanting tubuh letihnya keatas ranjang asramanya. Berjam-jam berlalu, berhari-hari berlalu, berminggu-minggu berlalu. Dengan pernyataan perang yang akan dilakukan dalam waktu kurang lebih dua bulan, Dragonia Academy memaksimalkan kondisi muridnya, mendorong mereka yang ingin bergabung dalam perang untuk berlatih bersama dengan pasukan APA yang didatangkan berduyun-duyun disemua kerajaan yang ada diseluruh benua untuk menghadapi perang.
Latihan bersama mereka itu seperti neraka.
Setiap hari, mereka harus bangun pagi, kemudian berlari mengelilingi Dragonia Academy satu kali. Kemudian setiap mereka sudah mulai terbiasa, jarak akan dilipatkan. Tetapi berlari mengelilingi Dragonia Academy sama saja berlari maraton. Itu gila bahkan untuk Deltain.
Jika seperti itu, Jissiana benar-benar memilih berlatih bersama dengan Iloania.
Ah, wajah Jissiana langsung berubah.
Ia memandang langit-langit dengan tatapan sendu dan sedih. "Ilo, kak Lasius. Semoga kalian berdua baik-baik saja, dan bisa segera kembali. Banyak orang mengkhawatirkan kalian."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
23/07/2022
Jangan lupa dukungannya~
Salam hangat,
LuminaLux