
"Yang mulia, apakah kita benar-benar akan berperang dalam tiga bulan kedepan?"
Stora bertanya kepada Legarion, memastikan untuk terakhir kalinya bahwa perang melawan Raja Iblis akan terjadi dalam 3 bulan. Bohong jika dia mengatakan dia tidak takut. Dia tidak takut dengan kematian, tetapi Stora takut dengan Raja Iblis. Berhati kejam, dan mengerikan. Ia tak masalah jika mati, tetapi bagaimana jika manusia hanya dijadikan budak dari iblis? Bagaimana jika mereka dipaksa bekerja dan akan disiksa seperti yang ada didalam-dalam dongeng untuk menakut-nakuti anak-anak didesanya dulu?!
Legarion membalik lembar kertas berisikan informasi penting dari Lasius dan menganggukkan kepalanya. "Kita akan berperang dalam 3 bulan kedepan. Saat Langit Darah, aku yakin kekuatan dari Raja Iblis akan dipulihkan. Apalagi dengan sihir yang dicurinya dari Iloania, kekuatannya akan berlipat ganda. Kita harus menyiapkan kekuatan dengan semaksimal mungkin."
"Bagaimana dengan bayangan put—, maksudku bayangan merah?" Tanya Stora dengan suara yang lebih pelan.
Legarion mengangkat wajahnya dan menekuk tangannya didepan wajahnya. Ia menyentuh bibirnya dengan punggung jari telunjuknya dan berkata, "Kita harus merahasiakan ini untuk sementara waktu."
"Kemungkinan terburuk jika sampai berita bahwa bayangan putih sebenarnya adalah bayangan merah yang merupakan abdi Raja Iblis, adalah bayangan merah memunculkan jati diri mereka yang sesungguhnya. Dan aku yakin, akan ada banyak korban untuk itu." Tegas Legarion memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi.
"Dari informasi yang kuterima dari Elleanor, ia mengaku jika ia tahu dari Iloania bahwa bayangan mereka lebih ganas daripada yang dia bayangkan. Bayangan merah adalah mesin pembunuh sejati. Tidak takut pada kegelapan dan tidak melemah dihadapan cahaya."
Ia bergumam, "Itu buruk."
"Namun dari informasi yang kudapatkan dari Lasius, ia memberitahuku jika bayangan merah takut kepada kristal. Ia mengatakan jika elemen kristal adalah elemen yang murni dan berasal dari esensi hidup. Bayangan merah adalah kematian, mungkin kontras menyebabkan bayangan merah lemah atau bahkan mungkin takut," kata Legarion menerka-nerka.
Stora dibelakangnya mengerutkan kening dan memijat pangkal hidungnya. Terlalu banyak informasi berat yang memaksa untuk dicernanya hingga dia merasa pusing. Bagaimana kehadiran bayangan merah bisa ada didunia? Bukankah mereka terlalu mengerikan untuk ada?
Elemen kristal? Apakah itu sebuah candaan? Pengguna elemen kristal hanya dapat dihitung menggunakan jari, dan bahkan entah masih ada atau tidak!
Bahkan jika ada, apakah jumlah mereka sebanding dengan bayangan merah yang bahkan hampir menyamai populasi manusia didunia?
Legarion menghela napas sebelum berkata, "Kita akan memikirkan tentang bayangan putih nanti, sembari kita menentukan strategi untuk perang. Kita benar-benar akan sibuk."
Stora menangis tanpa air mata dibelakangnya. Oh, dia tidak akan bisa tidur dalam beberapa hari kedepan!
"Baik, Yang Mulia.." Lirihnya menahan ratapan hatinya.
Apa yang mengejutkan bagi Lasius terpampang jelas dihadapannya. Ketika dia membuka pintu, ada gelombang kristal yang nampak menjebak pepohonan yang patah dan miring didalamnya. Bahkan beberapa pohon hancur karena tertusuk kristal. Tinggi kristal hampir mencapai puluhan kaki dengan cakupan luas belasan meter. Ia memandang Iloania yang terduduk direrumputan dan segera menghampirinya tanpa halangan. Ia berjongkok disamping Iloania bertumpukan sebelah kaki dan memeriksa Iloania.
"Apakah kamu terluka? Apakah ada yang sakit? Apa yang terjadi? Bagaimana kristalmu bisa menelan pepohonan seperti itu? Apakah ada sesuatu?" Tanya Lasius beruntun.
Iloania menggelengkan kepalanya. "Aku tidak terluka."
"Aku mencoba menggunakan sihir kristalku. Tetapi aku teringat sesuatu dan saat aku menyadarinya, hal ini terjadi," jawabnya sembari meremat kedua tangannya.
"Kamu teringat akan gurumu?" Tanya Lasius kala berpikir bahwa guru Iloania juga menggunakan elemen kristal.
Lasius menggenggamnya dan menenangkan sembari berpikir. Ada kemungkinan emosi Iloania mempengaruhi sihir elemen kristalnya. Mengingat kristal yang ditemukannya, tebakannya, Iloania teringat akan gurunya, dan mungkin dia merasakan emosi negatif ketika mengingat bahwa Raja Iblislah yang membunuh gurunya. Dan kemarahan itu membuat sihirnya meningkat dan tak terkendali ditingkat tertentu.
"Bukan salahmu Ilo. Tidak apa, kita akan segera menemukan guru Gamma dan memintanya untuk melatihmu," kata Lasius membuat Iloania menganggukkan kepalanya dengan senyuman yang perlahan terbit dibibirnya.
Senyuman yang selalu bisa membuat hati Lasius berdebar karena bahagia.
"Pimpinan, kami mendengar dari beberapa penjaga bahwa ada gadis yang memiliki ciri-ciri sama dengan buronan."
Pria itu berkata kepada Zalion yang berdiri lengkap.dengan jubah dan pedang dipinggangnya. Ia menyipitkan matanya.
"Kapan?" Tanyanya.
"Bergegas kedesa selanjutnya!" Kata Zalion memerintahkan kepadanya untuk mempercepat pengejaran mereka.
"Baik, pimpinan!" Kata salah satu anggota dari pasukan khusus itu.
Zalion mengepalkan tangannya. Beberapa waktu lalu dia mendapatkan kabar bahwa Dragonia Academy telah diserang. Bukan oleh penyihir biasa, tetapi oleh Raja Iblis!!
Zalion tidak dapat membayangkan bagaimana pertarungan yang terjadi. Dia mendapatkan kabar dari Legarion yang mengatakan jika Iloania dan Lasius dikabarkan menghilang dan dianggap sebagai buronan. Tetapi Legarion menambahkan bahwa dia tahu kemana mereka akan pergi, dan apa tujuan mereka. Yakni untuk membangkitkan kembali binatang sihir Iloania, Vleia. Beberapa hal penting disampaikan, dan Zalion secara garis besar memahami masalah yang terjadi. Terlebih tentang perang.
Pada awalnya Zalion ingin kembali, tetapi Legarion mengatakan untuk tetap mencari keberadaan Miaka. Sebab penyihir hitam yang menyerang Dragonia Academy memiliki kaitan dengan Kelelawar Hitam.
Dan Miaka adalah, anggota dari kelompok itu.
"Semoga semuanya baik-baik saja," gumamnya dengan suara pelan.
Dikegelapan gua, entah bagaimana singgasana batu megah itu berdiri. Pria itu duduk bersandar dengan wajah tertumpu dengan satu tangan. Kain hitam yang digunakannya sedikit tersibak, menampilkan otot dada yang bidang dan sepucat mayat. Wajahnya yang rupawan nampak dingin, tanpa senyuman.
Ketika sepasang kelopak mata itu terbuka, sepasang iris darah yang dipenuhi dengan kebencian dan kematian terlihat.
Ia menjentikkan jarinya, dan sedetik kemudian beberapa siluet muncul dihadapannya. Berlutut dan membungkuk dengan penuh hormat. Seseorang diantara mereka mewakili yang lain untuk menjawab. Ditengah kegelapan, hanya terlihat samar helaian surai merahnya.
"Selamat datang kembali, Lord! Kami, Empat Iblis Darah, siap melaksanakan perintah anda." Katanya dengan suara berat.
Raja Iblis menatap mereka dan sepasang iris darah itu menyempit dan menggelap. Ada ingatan aneh yang muncul dikepala mereka. Gadis cantik bersurai emas panjang dan bermanik emas kristal——Iloania.
"Bawa dia hidup-hidup, kepadaku." Kata Raja Iblis membuat mereka menganggukkan kepala mereka mengerti.
"Juga," katanya. "Carikan aku obat untuk menstabilkan tubuhku."
"Baik, Lord!" Jawab mereka.
Ketika mereka menghilang dalam sekali kedipan mata, Raja Iblis menatap lurus kedepan dengan sepasang manik dingin. Ada aura mencekam disekitarnya, dan pandangannya semakin mendingin penuh ancaman.
"Aku akan segera kembali," desisnya sebelum memejamkan matanya kembali.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
14/06/2022
Jangan lupa dukungannya~
Salam hangat,
LuminaLux