Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 144 "Akan Baik-Baik Saja"


Mengumpulkan tekad dan keberaniannya, Zeron berdiri dihadapan gurunya yang tengah menata barang-barangnya kedalam tas.


Ia mengepalkan tangannya. Gurunya lagi-lagi akan berkelana, dan mungkin saja ia akan menemui mereka yang dikatakan oleh guru besar. Anorexa menyimpan barang terakhir kedalam tasnya ketika dia menyaksikan Zeron berdiri dibelakangnya dengan ekspresi aneh yang tidak pernah dilihatnya selama dia merawat Zeron.


"Zee, ada apa?" Tanyanya khawatir.


Zeron menarik napasnya dalam dan mengeluarkannya dengan tegas sebelum sepasang maniknya mendongak, memandang tepat pada iris matahari terbenam yang selalu membuatnya terpana dan makin dan makin jatuh hati.


"Guru!" Panggilnya. "Sudah sejak lama aku memikirkannya. Dan aku tidak akan pernah salah dalam menilai perasaanku kepada guru."


"Aku mencintai guru melebihi perasaanku sebagai murid kepada guru."


Ketika dia mengatakan hal tersebut, Zeron tidak goyah sedikitpun. Dia sudah siap dengan segala kemungkinan yang bisa dia hadapi dan dia tidak bisa mundur setelah ia mengucapkan kata-kata yang baru saja dia lantangkan. Ia menunduk, tidak berani memandang wajah kecewa gurunya, namun dia tidak bergerak seinchipun.


"Zee."


Ia mendengar suara Anorexa yang tegas. "Guru tidak bisa menerima perasaanmu."


Anorexa tidak mencoba menyangkal perasaan yang dimiliki oleh Zeron kepadanya. Dia tidak mengkonfirmasi bahwa perasaan itu adalah sebatas rasa kagum atau sejenisnya, dan dia benar-benar menolaknya. Meski Zeron sudah menyiapkan dirinya, namun dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa dia ingin menangis dan menjerit saat itu juga.


Zeron membuka bibirnya dan mengeluarkan suara bergetar. "Ke—Kenapa? Apakah karena aku terlihat seperti anak kecil dimata guru?"


Tidak ada tanggapan dari Anorexa selama beberapa saat sebelum suaranya terdengar, membalas perkataan Zeron. "Karena kita memang tidak bisa bersama, Zee. Aku tidak bisa menerima perasaanmu, dan kamu harus menyingkirkan perasaan itu. Masa depanmu masih panjang, dan suatu saat nanti kamu akan mengerti bahwa itu hanya keinginanmu yang bersifat sementara."


Zeron mengepalkan tangannya dan berkata sembari menyunggingkan senyuman. "Maafkan kelancanganku, guru. Anggap saja aku tidak pernah mengatakan apapun barusan. Saya permisi."


"Zee."


Tanpa mendengarkan panggilan Anorexa, Zeron melangkah keluar begitu saja dan melangkah kemanapun kakinya membawanya melangkah. Dia sudah siap, dia sudah mempersiapkan diri dan mentalnya, dia sadar bahwa gurunya tidak akan pernah bisa bersama, namun dia tetap menyampaikan perasaannya agar perasaannya tidak menumpuk dan menjadi obsesi seperti yang dikatakan oleh Velesa--adik seperguruannya. Namun pada akhirnya, dia tetap tidak bisa menahan kesedihan dihatinya karena penolakan sang guru.


Tidak semudah itu menerima kenyataan pahitnya penolakan cinta.


Mengusap air mata yang luruh diwajahnya, Zeron pada akhirnya berhenti dan terduduk di tepi danau. Memandangi dirinya dipantulan air danau, sebelum hilang karena riak yang tercipta oleh tetesan air matanya.


"Rasanya sakit." Gumamnya dengan suara serak.


"Apakah kamu benar-benar menginginkannya?"


...***...


Anorexa memandang keluar jendela dengan cemas. Muridnya belum kembali bahkan ketika matahari sudah tenggelam sejak berjam-jam yang lalu.


Pada akhirnya setelah menunggu selama beberapa saat lagi, Anorexa tidak sabar dan segera mengambil jubahnya untuk melangkah keluar mencari Zeron. Belum ia melangkah jauh, ia melihat ledakan muncul di balik hutan yang lebat, dan berada di gunung berapi.


Ledakan itu mau tak mau membuat Anorexa berprasangka bahwa Zeron berada disana, karena elemen sihir Zeron adalah bara api. Ia khawatir terjadi sesuatu dengan muridnya, sehingga ia bergegas menaiki seluncuran esnya dan menghilang secepatnya menuju tempat Zeron berada. Atau tepatnya, asal ledakan tadi berasal.


Anorexa menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh pada tubuh Zeron. Ada benda kehitaman yang menjalar disebagian tubuhnya dan hampir menutupi separuh wajahnya. Sepasang matanya menggelap, dan tidak ada ekspresi apapun diwajahnya. Anorexa tahu apa yang terjadi.


Konon katanya memang ada Binatang Iblis yang menyerupai bayangan yang sangat senang memanipulasi dan mengendalikan tubuh manusia untuk dijadikan tubuh sementaranya. Namun karena tubuh manusia tidak bisa menanggung kekuatan bintang iblis yang begitu gelap, inti jiwa mereka perlahan bisa tergerus dan jika dibiarkan, ia bisa membahayakan dirinya sendiri dan orang lain disekitarnya ketika dia mengamuk.


"Zee!!"


Ia mencoba memanggilnya, mencoba mencari kesadaran Zeron meski hanya sedikit.


"Haaaaa!!!" Tidak ada jawaban yang berarti, remaja laki-laki itu justru meraung dengan suara yang setengah bercampur dengan suara dalam yang melengking tajam, hingga membuat Anorexa mau tak mau menutup telinganya dan mengerutkan keningnya.


Ia menyaksikan dengan cepat Zeron mengangkat tangannya dan melemparkan bara api seukuran bola sepak yang melayang kearahnya. Anorexa mengangkat tangannya, mengayunkannya dengan cepat untuk menciptakan dinding pelindung dari es yang langsung menenggelamkan bara api itu kedalamnya, dan hancur berkeping-keping ketika Anorexa mengepalkan tangannya.


"Zee! Sadarlah! Dia adalah binatang iblis yang mencoba menguasai pikiranmu! Lawanlah!!"


Zeron tidak mendengarkan apapun, dan dengan tegas melemparkan bola api berulang kearah Anorexa yang terus menerus menahannya dan menghindarinya.


"Gu .. ru, gu .. ru, aku .. cinta .. cin .. ta."


Seketika, Anorexa tertegun.


Wanita itu tidak sempat bergerak ketika sebuah bola api meluncur kearahanya. Ia menghindarinya, namun lengan kanannya terluka oleh bola api, membuatnya melepuh dan berubah menjadi kemerahan gelap.


Anorexa meringis, dengan cepat mendinginkan lengannya menggunakan es yang ia bekukan disekeliling lengannya selama beberapa detik.


Sepasang maniknya memandang kearah Zeron. Meski tidak ada ekspresi diwajahnya, namun ada kilatan jejak air mata dikedua pipinya. Murid kecilnya pasti menderita, ketika dia merasa bahwa penolakannya menyakiti hatinya, Binatang Iblis itu segera memanfaatkan kelengahan hati Zeron dan mencoba menguasai tubuhnya.


"Zee."


...***...


Ketika kesadarannya berangsur-angsur kembali, Zeron menemukan pemandangan yang membuat maniknya melebar dengan sempurna.


Gurunya mencoba mempertahankan posisi berdirinya meski darah mengalir dari bahu dan perut bawahnya yang terluka. Lubang-lubang besar tercipta di dekat gunung, yang membuat gunung memiliki bumbungan awan tebal berwarna hitam yang menandakan erupsinya.


Dia hendak memanggil nama gurunya ketika dia menyadari bahwa tubuhnya terasa begitu sakit untuk setiap gerakan yang dia buat, bahkan jika itu hanya gerakan kecil.


"Gu .. ru?" Panggilnya.


Anorexa mendongak, sebelum dengan tenang menyunggingkan senyuman diwajahnya yang ternoda darah. "Tidak apa, Zee."


"Kamu akan baik-baik saja."