Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 113 "Sebuah Permainan"


[Satu minggu perjalanan]


Satu minggu berlalu tanpa terasa. Perang benar-benar ada didepan mata. Semua orang bekerja keras demi kelancaran perang yang mungkin pasti akan terjadi. Berita akan persiapan perang telah tersebar keseluruh pelosok negeri. Semua orang telah tahu peringatan perang, dan tata cara bagaimana mereka bisa menyelamatkan diri saat tiba-tiba terjadi serangan.


Dimasing-masing kerajaan, dibangun sebuah kubah raksasa dibawah tanah sebagai tempat perlindungan. Kubah raksasa itu hampir bisa menampung seluruh orang yang ada dikerajaan.


Tetapi dalam pembuatannya, penyihir putih benar-benar menguras tenaga mereka hingga bahkan setelah kubah selesai, mereka terbaring tak berdaya diranjang masing-masing karena kekurangan mana.


Kemudian untuk akses masuk, disinilah penyihir dimensi berperan penting untuk mengevakuasi penduduk.


Sungai mengalir, riak bunyi air menyapa. Matahari siap untuk mengucapkan salam perpisahan ketika Iloania menapakkan kakinya turun dari kudanya. Ia memandang kedepan, kehamparan pegunungan yang menjulang tinggi. Gunung tertinggi menggapai awan, tertutupi salju abadi yang tidak meleleh sepanas apapun musim panas.


"Benar disini?" Tanya Iloania.


Olena turun dari kudanya. "Benar, ini tempatnya. Tapi aku tidak bisa mengantar kalian sampai memasuki wilayah ini. Tetapi tempat ini benar-benar adalah tempat dimana suku Mue berada."


Iloania tersenyum. "Terima kasih sudah mengantar kami, Le."


Melihat senyuman Iloania, Olena bergegas memeluknya dengan erat. "Ahh! Kamu harus kembali dengan keadaan baik-baik saja! Jika sampai kamu terluka sedikit saja, aku akan mematahkan leher kekasihmu karena tidak becus menjagamu!"


"Dengar itu?!"


Lasius menatapnya, bersungguh-sungguh berkata. "Aku akan menjaga Iloania."


"Tentu kau harus menjaganya!" Tegas Olena menatap bengis Lasius.


Beberapa waktu kemudian, Olenea sudah menunggang kudanya dan menatap keduanya. "Aku akan pergi."


Iloania mengangguk sembari menampilkan senyum khasnya, membiarkan Olenea berkata, "Ketika semuanya selesai, kalian harus kembali ke Lavia."


Dan pergi.


Perjalanan memang terlihat tenang. Lasius menduga besar kemungkinan pasukan APA tak terlihat lagi adalah karena pernyataan perang yang telah disebarkan beberapa hari lalu. Pasukan APA tidak hanya mementingkan misi pencariannya dan Iloania, tetapi dengan kerjasama antar kerajaan dibenua, mereka pasti sedang mempersiapkan keperluan untuk menghadapi perang.


Setidaknya Lasius dan Iloania bisa sedikit bernapas lega.


"Ada sesuatu yang berbahaya tidak ya, disana?" Iloania memiringkan sedikit kepalanya dan bergumam.


Tetapi kemudian dia menggeleng, dan menoleh kearah Lasius. "Ayo, kak!"


Hutan, pedalaman dan nyanyian rumpun bambu yang menari bersama dengan angin. Seruan binatang hutan yang bermain dengan riang sedikit teredam riak air terjun megah yang menjulang dari puncak pegunungan. Berbeda dengan pemandangan mempesona penuh warna hijau itu, suasana ditempat antah berantah ini begitu ramai. Tetapi hampir tidak ada yang bisa dimengerti dari obrolan-obrolan pengunjung bar berbangunkan bahan kayu dan batu kokoh.


Tuk!


"Beri aku yang terbaik disini." Ia meletakkan sekeping koin emas diatas meja bartender yang tengah menyeka tangannya.


"Segera datang." Sembari berucap, tangannya meraih koin emas itu dan memasukkannya kedalam laci, membiarkan seseorang berjubah itu mendudukkan dirinya dibangku terdekat.


Manik merah mudanya mengawasi sekelilingnya. Mengabadikan tiap pergerakan sekecil apapun dalam penglihatannya. Jika kalian bisa menebaknya dengan mudah, ia adalah Miaka. Meski dia menutupi penampilannya dengan jubahnya, namun nampak jelas bahwa itu adalah dirinya.


"Ini minumanmu."


Kinerja bartender sangat cepat. Dia cekatan dalam membuat jenis minuman racikan, dan segelas cairan berwarna kebiruan dengan gelembung samar didasar gelas itu terlihat menarik minat siapapun yang melihatnya.


"Nampaknya kau bukan berasal dari sini." Pertanyaan yang terdengar seperti pernyataan itu dilontarkan begitu saja oleh sang bartender.


Miaka menggoyangkan gelas ditangannya dan menenggaknya sedikit sebelum berkata, "Rasanya enak."


Bartender yang sibuk mengelap gelas mengangguk sekali. "Terima kasih untuk pujiannya."


"Tempat ini begitu ramai." Bartender menyetujui dengan anggukan. "Ya, kau hanya perlu menoleh kekanan dan menemukan sebuah warna biru untuk menyegarkan mata. Tidak perlu terkejut sebenarnya."


"Hei, Cam! Bicara dengan siapa kau?" Seseorang datang, menepuk meja dan bertanya pada sang bartender yang melirik meja kosong dan menggeleng.


"Bukan siapa-siapa."


Sepasang manik dingin itu mengawasi dengan tajam. Hawa keberadaannya hampir tak bisa dirasakan, dan angin menyibakkan setitik jubahnya, membiarkan wajahnya bermandikan cahaya rembulan. Ia berdiri diatas sebuah menara, menatap kebawah, menyadari sekelompok kecil pasukan bayangan menggeledah seisi kota. Ia jelas tahu bahwa yang mereka cari adalah dirinya.


"Permainan ini cukup menyenangkan, kau tahu. Kau, atau aku yang akan menang." Gumamnya samar sebelum menghilang, meninggalkan jejak samar terpaan dedaunan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update:



14/08/2022


Jangan lupa dukungannya~


Salam hangat,


LuminaLux


Ps: Maaf karena sebelumnya aku telat update. Aku punya beberapa urusan mendesak, tentunya saat itu aku tidak sempat menulis. Jadi sebagai gantinya, hari ini aku akan update 2 bab. Satu bab di pagi ini dan satu lagi disore nanti karena yang satu sedang dalam proses menulis. So, maafkan aku ya🙏


(ಥ ͜ʖಥ)