Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 18 "Tes Masuk Tahap Kedua"


"Berhenti menghina distrikku!"


"Kau yang diam! Dasar mulut besar!"


Orang-orang diruangan itu tak berhenti melemparkan sihir. Untungnya, tiap sihir yang mengenai dinding akan langsung terserap. Dinding tak hancur karena dilapisi bebatuan khusus yang dapat menyerap sihir dasar. Seperti sihir air, api, petir dan beberapa lainnya. Bebatuan Marbruser. Bebatuan yang hanya dapat diremukan dikerajaan Nosthen, dipertambangan distrik 5. Tempat yang berbahaya dan cukup terpencil dan sulit diakses alat pengankut. Jadi, kerajaan Nosthen benar-benar mengandalkan penyihir untuk menciptakan jalan yang aman, barulah alat pengangkut bisa mengangkut bebatuan.


Iloania memandang mereka dengan tenang diatas piringan hitamnya yang bergerak lincah menghindari serangan yang datang dari orang-orang dibawahnya. Senyum tipis dibibirnya mengembang.


"Hm, apa masih lama ya?" Gumam Iloania dengan nada kecil.


Ia menyangga tubuhnya dengan 2 tangan kebelakang. Surai panjangnya bergerak kekiri dan kekanan bergerak mengikuti gerakan kepalanya. Kaki rampingnya bergerak mengayun. Iloania nampak seperti anak kecil. Ketika manik emasnya bersinggungan dengan manik sewarna lautan, ia menyunggingkan senyuman dengan manik menyipit.


Pria dengan bibir berwarna merah bersemu warna oranye alami itu menatap Iloania dan membatin, "Gadis itu terlihat lemah. Tapi sepertinya, dia tak bisa diremehkan."


"En?" Gumamnya ketika menangkap kupu-kupu berwarna putih dan nampak bercahaya samar terbang disekitarnya dan mendarat diujung jarinya yang ia ulurkan.


Iloania berbinar, "Hey, apa kamu tersesat, hm?"


"Sangat cantik." Gumamnya mengagumi kupu-kupu yang indah baginya itu.


"Semuanya berhenti!!!" Teriakan melengking dan menggema itu membuat orang-orang berhenti saling melempar sihir dan menatap kearah pintu.


Dimana seorang wanita dengan paras seksi dan galak itu berdiri sembari berkacak pinggang. "Semuanya diam! Jangan ada yang bergerak!"


Manik hitamnya menatap tajam kesekelilingnya. "Baru mengikuti ujian tes saja kalian sudah berkelahi. Bagaimana jika kalian sudah menjadi murid di Dragonia Academy? Sungguh! Orang-orang seperti kalian benar-benar tidak dibutuhkan di Dragonia Academy!!"


Semua orang menciut. Hanya beberapa yang nampak tenang dan tak merasa tertekan. Salah satunya Iloania. Iloania telah menghilangkan sihirnya dan mendudukkan dirinya dibangku awalnya. Menatap wanita bersurai abu dan berkulit tan itu dengan senyuman.


"Semuanya duduk atau aku akan menggagalkan kalian dalam ujian tes kedua! Dan kalian akan pulang kembali seorangtua kalian masing-masing tanpa memiliki kesempatan mendaftar kembali!" Ancaman wanita bernama Nialla itu semua orang langsung duduk.


Nialla melangkah menuju podium dan berdiri didepan mereka.


"Namaku Nialla, dan kalian bisa memanggilku miss Niala. Hal pertama yang ingin saya tekankan, saya paling tidak menyukai orang-orang yang tidak memiliki keinginan serius dalam hidupnya. Tindakan kalian barusan mencerminkan betapa mudahnya kalian terprovokasi satu sama lain. Dengan alasan yang tidak jelas, kalian saling melempar sihir yang dapat membahayakan orang lain." Kata Nialla.


Ia melipat tangan didepan dada, "Tes kedua adalah ketrampilan dalam menggunakan sihir. Sekarang kalian akan dites satu persatu melawan Rippey, boneka sihir yang diciptakan penyihir elite untuk melawan bayangan. Tugas kalian adalah mengambil lencana yang ada didada Rippey dan kalian dianggap lolos untuk ke tes selanjutnya. Tes ketiga akan diadakan besok pagi. Jadi, malam ini kalian diizinkan keluar dari Dragonia Academy dan diharapkan kembali pada pukul 10 pagi."


"Paham?"


"Paham, miss!" Jawaban mereka membuat Nialla tersenyum puas.


Ketika dia menjentikkan jari, ruangan menjadi seperti ruang hampa. Menyisakan segala berwarna putih dan kosong tanpa apapun. Bahkan ketika orang-orang meraba sekitarnya, meja dan kursi yang mereka duduki menghilang. Menyisakan mereka yang terduduk dengan pantat menghantam lantai-lantai putih itu.


"Ini adalah ruang dimensi yang diciptakan oleh penyihir perak. Sekarang ketika mulai, orang pertama maju, setelah itu boleh pergi keluar. Tapi ketika kamu terkena serangan dan sampai terjatuh dan keluar dari garis barrier, kalian dianggap gagal." Kata Nialla.


Seorang pria mengangkat tangannya. Maju dengan angkuh dan percaya diri kedepan mendekati Rippey. Sebuah garis hitam muncul. Membentuk tanda lingkaran dibawah kaki mereka dan membentuk barrier pelingung trasnparan.


"Siapa namamu?" Tanya Nialla.


Pria itu tersenyum miring, "Yueran Lamnoie."


"Rippey, mode menyerang dan menjaga diri. Pertahankan." Kata Nialla.


Rippey: [Perintah dikonfirmasi. Mode menyerang dan perlindungan.]


Pria bersurai hitam itu tersenyum miring. Begitu tanda pertarungan dimulai dari Nialla diberikan, pria itu mengangkat tangannya dan mulai melancarkan sihir untuk Rippey. Pria itu memiliki sihir tanah, gumpalan tanah terbentuk ditangannya dan dilesatkan dengan cepat kepada Rippey yang menghindarinya dengan mudah.


Pria itu, salah satu dari orang-orang yang mengacau diruangan tadi.


Rippey membalikkan serangan pria itu. Dan dengan mudah mengendalikannya, mengenai perutnya dan membuat pria tadi tersungkur kebelakang garis barrier dengan kesakitan yang tercetak jelas diwajahnya.


"Ughh! S-Sial!" Gumamnya.


"Kau gagal! Keluar dan pergilah dari Dragonia Academy." Kata Nialla sembari menjentikkan jarinya.


Membuat pria tadi menghilang dari ruangan itu. "Selanjutnya!"


...***...


Satu persatu orang mulai maju. Menunjukkan kekuatan masing-masing. Dimata Iloania, Rippey itu ... seperti mesin pencopy. Setiap mengeluarkan sihir air, Rippey juga mengeluarkan sihir yang sama. Setiap mengeluarkan sihir khusus seperti kertas, herannya Rippey juga mengikuti. Kini Iloania makin yakin, jika Rippey telah mencopy sihir yang dikeluarkan saat masa ribut diruangan tadi dan menggunakannya untuk menyerang balik pemilik sihir yang asli.


Boneka berentuk beruang dengan telinga kelinci dan badan panjang itu nyatanya sangat licik~


Atau pemiliknya?


"Selanjutnya!" Ketika orang-orang mulai banyak digagalkan, kini hanya tinggal beberapa orang didalam ruangan hampa. Dan kata 'selanjutnya' masih terus diucapkan Nialla.


Kini giliran gadis bersurai biru cerah bermanik merah muda melangkah maju dengan malu-malu.


"Siapa namamu?"


Gadis itu menunduk dan menjawab dengan lirih, "M-Miaka Lisita."


"Baik, Miaka? Mulai pertandingannya." Kata Nialla.


Ketika kata pertandingan diucapkan. Gadis yang menunduk itu nampak terdiam selama sepersekian detik. Maniknya yang berwarna merah muda yang terlihat penuh kelembutan dan kepolosan terlihat berwarna merah terang dan seakan menampakkan kobaran api.


Iloania membulatkan bibirnya dan kemudian menggulung senyuman, "Oh~"


"Tanah penjebak!" Ucap Miaka mencengkram tangannya yang diselimuti cahaya kecoklatan.


Lantai dibawah kaki Rippey terangkat dan mencengkram tubuhnya dengan erat. Membuatnya tak bisa membalas serangan Miaka. Melangkah mendekat, tangan ramping Miaka terulur meraih lencana berbentuk bros bulan sabit itu dan menggenggamnya. Sampai maniknya kembali menjadi merah muda.


"Miaka Lisita, berhasil lolos. Selamat untuk tes berikutnya." Katanya kemudian membiarkan Miaka yang nampak malu-malu menghilang.


"Selanjutnya."


Iloania melangkah terlebih dahulu. Rasanya dia terlalu lama. Pasti Jissiana dan Lasius telah menunggunya. Iloania sudah memberi mereka waktu mengobrol. Pasti sekarang mereka sudah dekat dan menjadi teman.


...***...


Di depan ruang tes Bulan, Lasius nampak berdiri bersandar didinding sembari melipat tangan didepan dada. Posenya yang luar biasa membuat para penyihir perempuan yang melihatnya terpana akan ketampanannya yang luar biasa. Namun karena pandangan dinginnya yang mengintimidasi, mereka semua hanya berani melirik dan tak berani mendekat. Sedangkan, Jissiana nampak meringkuk disamping Lasius namun cukup jauh.


Jissiana juga terintimidasi akan aura kuat dari Lasius.


"Ilo! Cepatlah keluar !!" Batin Jissiana.


Iloania melangkah memasuki garis barrier dan berhadapan dengan Rippey. "Siapa namamu?"


Menoleh, Iloania tersenyum manis. "Iloania Rexelite."


Membuat Nialla tertegun dengan wajah Iloania. Namun ia segera menepisnya dan mengatakan pertandingan telah dimulai. Iloania memandang Rippey dengan senyuman lebar.


"Boneka yang imut~" gumamnya.


"Tapi kita tak bisa bermain lama-lama, temanku menunggu." Gumamnya lagi.


Ia mengangkat tangan kirinya. Dan cahaya keemasan memendar pelan, cahaya itu merambat dan mengelilingi Rippey. Sosok Rippey limbung dan terlentang dilantai. Sementara Nialla sedikit terkejut ketika kilatan benang tipis dijemarinya yang ia taruh dibelakang punggungnya menjadi lemas.


"Bagaimana bisa ?" Batin Nialla


Iloania melangkah dengan ringan dan mencabut lencana dengan pelan. Bibirnya menyunggingkan senyuman.


"Terima kasih," ucapnya ringan.


Pasang mata memandang Iloania dengan tatapan beragam. "Apa sihirmu?"


Iloania menatap Nialla dan tersenyum samar. "Kenapa guru bertanya? Sihirku hanya sihir dasar."


Tak lama, tubuhnya memendar dan menghilang. Menyisakan Nialla yang nampak terdiam. Ditempatnya, Iloania muncul diruangan tadi yang pada awal. Ruangan itu sepi dan hanya ada dirinya. Melangkah keluar, Iloania mendapati sosok Lasius dan Jissiana menatapnya.


Ia melebarkan senyumnya. "Kalian sudah menunggu lama?"


"Ilo, bagaimana? Apa kamu berhasil?" Tanya Jissiana.


"Akhirnya kamu datang Ilo! Tidakkah kamu tahu betapa aku tertekan ?!"


Iloania mengangguk, "Tentu. Bagaimana denganmu? Dan kakak, bagaimana dengan kakak?"


"Aku berhasil. Untung saja aku bisa mengecoh Mippey tadi." Kata Jissiana.


"Mippey?" Beo Iloania.


"Boneka kelinci tinggi." Kata Jissiana.


Iloania mengangguk, "Ohh~ Kakak, bagaimana denganmu?"


Lasius mengangguk dan bergumam dengan samar, "En."


Lasius menatap keduanya, "Kalian akan kemana?"


Iloania terdiam sesaat, "Penginapan?"


"Kurasa semua penginapan kali ini sudah penuh. Pendaftar kali ini sangat banyak. Dan tidak banyak penginapan disini. Tapi dimana kita akan tidur?" Gumam Jissiana.


"Bagaimana dengan membuat tenda dan tidur dibukit. Lagipula aku memiliki beberapa barang didalam cincin dimensiku untuk menjadi alas yang lembut~" Kata Iloania.


"Bagaimana menurut kakak?" Tanya Iloania.


Lasius menatap Iloania. Tidak mungkin baginya membiarkan 2 gadis terlelap dibukit. Walaupun ia tahu Iloania kuat, namun dia tetap seorang gadis.


"En." Gumam Lasius dengan nada halus.


"Baiklah~ Ayo kita kebukit." Kata Iloania sembari menarik Jissiana ditangan kanannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Udate:


17/05/2021


Jangan lupa beri dukungan tiap sudah membaca chapter~


Makasih banyak...