
Melihat bahwa orang-orang diluar barrier besar telah dilindungi oleh barrier yang lebih kecil, Lasius menajamkan matanya. Sepasang manik sewarna anggur itu berkilat sesaat, sebelum Lasius mengangkat tangannya, memunculkan gambaran sosok phoeniks putih seputih salju dibelakangnya. Tetapi lebih cerah dari apapun. Lasius menyatukan tangannya, mengalirkan cahaya itu pada satu titik, dan memadatkannya menjadi bola kecil. Mengalir dan mengalir dengan lembut.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, pria berjubah itu datang dengan serangan sihirnya. Iloania segera memasang pelindung didepan Lasius, menahannya dari gelombang sepekat malam itu.
"Ughh!" Kembali terbatuk, Iloania mengabaikan rasa sakit yang terasa menyayat diperutnya. Menggigit bibir bawahnya dan memberi waktu untuk Lasius.
"Cukup Ilo!" Kata Lasius membuat Iloania menghilangkan dinding pelindung didepan Lasius, dan membiarkan Lasius membuat gerakan meremas tangan kanannya.
Bersamaan dengan gerakan itu, bola cahaya didepannya retak, dan hancur untuk menjadi kilau cahaya yang melebar menerangi seluruh tempat itu. Para penyihir hitam yang tak bisa menggunakan sihir pelindung tersapu oleh cahaya dan lenyap seperti debu. Sementara mereka yang mampu menggunakan pelindung, berusaha bertahan dari cahaya itu.
Pria berjubah yang sepertinya pemimpin itu menggunakan pusaran hitam untuk menjaga dirinya. Namun, terkikis dan terkikis oleh kekuatan Lasius. Ia menambah jumlah kekuatannya.
"Ini tidak akan berhasil untuk itu!" Batin Lasius.
Tap..
"Butuh bantuan?" Suara Legarion terdengar, tanpa menoleh, Lasius tersenyum kecil.
"Mohon bantuannya, kak." Kata Lasius membuat Legarion tersenyum.
Legarion mengubah wajahnya menjadi serius, menyalurkan kekuatannya kepada Lasius. Karena sihir mereka sama, Lasius dapat mengendalikan sihir Legarion untuk dijadikan sihirnya sendiri. Perubahan intensitas sihir itu dapat dilihat dengan mata telanjang, pelindung yang melindungi penyihir hitam makin lama menipis, dan mengalami keretakan, hingga pecah berkeping-keping dan menghanguskan sang penyihir hitam. Hanya satu yang tersisa dari mereka, bertahan dengan kekuatan hitamnya.
Lasius mengangkat tangan kirinya, memunculkan gelombang cahaya yang lebih kuat untuk menyerang gelombang sihir hitam itu. Pertarungan sengit terjadi, dua kekuatan yang saling berbenturan saling melawan. Tolak menolak terus terjadi.
"Hyaaaa!!" Teriak Lasius, disusul meledaknya kekuatannya.
Gelombang cahayanya membesar dan menguat, mengikis cepat gelombang hitam si pemimpin jahat. Pria itu cemas, ketika kekuatannya makin tertelan cahaya. Dan meraung saat sihirnya benar-benar menghilang, dan dirinya terdorong ketanah hingga hancur.
"Arghhhhhh!!!" Jeritnya.
Dilangit, Lasius sedikit terengah. Namun dalam hatinya begitu puas saat melihat penyihir hitam itu terkapar ditanah dengan kondisi yang tak bisa dikatakan baik.
"Kamu berhasil, Sius." Kata Legarion.
Ia menatap kebawah dan berkata lagi, "Iloania juga berhasil."
"Iloaniaaa!!" Iloania terkejut mendengar suara itu. Menoleh untuk mendapati sosok Jissiana berlari kearahnya sambil menangis saat ia sudah menghilangkan pelindung dan melayang kemudian turun dari atas piringan hitamnya. Gadis bertubuh agak gempal itu kemudian memeluk Iloania dan menangis.
"Itu tadi sangat berbahaya! Mengapa kamu begitu hebat?!!" Tangisnya.
Iloania menepuk punggung Jissiana dan menenangkannya. "Jangan menangis. Kamu sudah aman bukan?"
"Apakah semua orang baik-baik saja?" Tanya Legarion.
Gheorn datang dengan luka dibeberapa tubuhnya. "Semuanya, sepertinya tidak banyak orang yang terluka."
"Ini kelalaian kami. Seharusnya kami memeriksa lebih ketat mereka yang memasuki Dragonia Academy. Tetapi kesalahan ini benar-benar terjadi. Sungguh memalukan bagi kami," kata Gheorn penuh penyesalan.
"Apakah ini firasat yang kurasakan waktu itu? Tetapi, mengapa aku merasa semua bahkan belum dimulai?" Batinnya.
Ditengah keramaian penduduk. Ditengah sorak sorai dan kegembiraan mereka, tak ada yang sadar bahwa sepasang mata merah sang penyihir hitam melotot. Menatap Lasius dengan kebencian, mengangkat tangannya dan mengumpulkan energi hitam meruncing disana.
"Ma .. ti .. lah!"
Setelah mengucapkan kata-kata itu, dan melesatkannya, pria itu kehilangan kesadarannya. Lasius bahkan tak sempat bereaksi ketika seseorang berdiri dengan cepat didepannya, menahan serangan itu.
"Ughh!"
"Ilo!" Pekik Lasius ketika melihat Iloania menerima serangan itu menembus perutnya.
Untuk Iloania sendiri, ketika dia melihat penyihir hitam mengarahkan serangan pada Lasius, sebelum semua terjadi, tubuhnya bergerak tanpa dia sadari untuk menghalangi serangan itu. Bahkan ketika dia tersadar, hal yang pertama dipikirkannya bukanlah kebodohannya, tetapi apakah Lasius terluka.
Iloania terduduk ditanah sembari memegangi perutnya. Darah mengalir tanpa henti dari sela bibirnya. Iloania merasakan tubuhnya menjadi dingin, tetapi perutnya terasa terbakar. Ia gemetar, perasaan itu, sensasi itu. Sama persis seperti yang pernah terjadi dulu.
Bibirnya kelu untuk berbicara, "Vle .. Vle .. Se-Segelnya .."
"Ahhhhhhhhh!!" Didalam ledakan energi itu, Iloania menjerit sembari memegangi kepalanya.
Rasanya menyakitkan!
"Ilo!" Lasius memanggilnya, mencoba menembus ledakan energi itu, tetapi bahkan untuk mendekat saja tubuhnya seakan tertimpa beribu-ribu ton batu sihir padat. Sangat berat hingga bernapas pun sulit.
Tak tinggal diam, Jissiana, Kane, Lane, bahkan sampai Eleanor turut berteriak memanggil namanya. "Iloania!!"
Clareon memandang pemandangan didepannya sembari mengepalkan tangannya, "Kenapa jadi seperti ini?!"
Dari cincin yang dikenakan Iloania, Vleia muncul dalam bentuk manusianya.
Brugh!
Terduduk selepas berhasil melarikan diri dari tekanan luar biasa itu. Semua orang tak bisa tak terpana dengan kekuatan Iloania, namun yang lebih mengejutkan bahwa ledakan energi itu tak kunjung berhenti.
"Vleia, apa yang terjadi dengan Ilo?!" Tanya Lasius dengan cemas.
Tubuh Vleia tak bergerak. Memandang nanar Iloania dan bergumam dengan samar. "Dia terbangun."
...***...
Jauh ditempat sana, didalam gua, sebongkah kristal bercahaya. Pria didalamnya nampak tak bergerak, tampak seperti patung. Sebelum bibirnya menyeringai dan sepasang manik merah darah tercetak jelas dikegelapan gua itu.
"Aku kembali. "
\=•\=•\=•\=•\=•\=•\=
Penulis ingin mengatakan sesuatu:
Halo pembaca tercinta. Sudah lama sekali aku menulis LBK, karena update yang tidak menentu, sebanyak chapter ini terasa begitu lama. Ini adalah bab akhir dari Volume 1 LBK.
Ah, apakah akan ada volume lainnya?
Jawabannya .. Tentu saja ada!
Volume satu ini baru bercerita sedikit tentang Iloania dan kehidupannya. Masih banyak yang belum terungkap, bahkan keberadaan Miaka belum diketahui.
Maka dari itu, aku akan kembali dengan LBK volume 2.
Kapan LBK volume 2?
Pasti ada pertanyaan seperti ini. Untuk menyamankan pembaca dimasa depan, aku akan melanjutkan LBK dibulan April nanti. Eh, tenang saja. Awal April tepat tanggal 1. Jangan sampai lupa, dan taruh difavorite kalian agar akan ada pengumuman seandainya kalian lupa dengan ceritaku.
Jadi, jangan sampai melewatkan LEGENDA BULAN KRISTAL VOL 2 yaaa~
Ingat, 1 April 2022!!!
Sampai berjumpa dengan LuminaLux divolume selanjutnya. Jangan lupa baca cerita yang lain juga yaa.. Love You All~
END VOLUME 1
16/01/2022
LEGENDA BULAN KRISTAL
VOLUME 2
↓↓
Coming Soon